
Titik-titik cahaya perlahan menjauh. Jendela bundar memperlihatkan pemandangan itu pada Sai yang duduk terikat di sebelah Sanubari.
Kesempatan pelarian kian mustahil bagi mereka, setidaknya sampai Sanubari sadar. Sai menoleh cemas pada Sanubari yang terbaring. Bau anyir masih tercium jelas. Bekas darah pun terlihat dalam keremangan bohlam kekuningan. Rambut tebal Sanubari tampak lengket akibat darah mengering.
Sai sudah mencoba memanggilnya berulang kali. Namun, Sanubari sama sekali tidak menyahut. Sai berharap Sanubari akan baik-baik saja walau keadaannya saat ini jelas memperlihatkan bahwa dia tidak baik-baik saja.
Kemudian, datanglah tiga orang pria. Seorang mendekati Sanubari. Sementara seorang lagi menaruh dua roti dan dua botol air mineral pada Sai.
"Makanlah! Berikan yang satu padanya kalau dia siuman nanti!" Pria itu menunjuk pada Sanubari yang lukanya sedang dibersihkan.
Dokter kapal itu lalu mengeluarkan peralatan jahit medis. Ada luka terbuka yang masih mengucurkan darah setelah darah yang mengental disingkirkannya. Namun, ketika ia mulai menusukkan jarum, sesuatu yang tidak lazim mengherankannya. Dia berulang kali mencoba menusuk, tetapi gagal. Ketika ia menambahkan tenaga, jarumnya patah.
"Apa-apaan ini?"
"Kenapa?" tanya seorang pria yang menemaninya.
"Aku tidak bisa menjahit lukanya."
"Kau lupa cara ...."
"Tidak, tapi kulitnya terlalu keras."
Lance belum pernah menangani pasien seperti Sanubari. Itu pasien yang merepotkan. Dia bisa mendapatkan luka menganga lebar di kepala seperti itu, tetapi kulitnya tidak bisa ditembus benda tajam.
"Tubuh yang aneh," pikirnya. Diam-diam, dia mencoba menusukkan jarum pada tangan sendiri. Jarum itu menembus lapisan kulitnya. Lance jelas tahu bahwa bukan jarumnya yang bermasalah.
"Mungkin jarummu yang tumpul karena tidak pernah dipakai. Seharusnya, kau asah dulu sebelum kemari, Lance!"
"Jarumku tidak tumpul. Kalian mau coba?" Lance menatap tajam pada dua rekannya.
Mereka seketika menggeleng dan menjawab kompak, "Tidak."
"Dia masih hidup. Tapi, bila lukanya terus mengucurkan darah seperti ini, entah bagaimana besok.."
Lance membebatkan perban. Kain itu langsung merah. Tidak ada yang bisa mereka perbuat. Setelahnya, mereka pergi begitu Lance membereskan peralatannya..
Sai senang mendengar Sanubari masih hidup. Meski memiliki kemampuan regenerasi yang cepat, sensitivitas jaringan menjadi masalah Sanubari sekarang. Hal itu pula yang membuat kemampuan regenerasi Sanubari masih labil.
Untungnya, Sai membawa obat Sanubari. Dia lekas mendekati Sanubari sambil membawa sebotol air mineral. Meski tangan dan kakinya diborgol, Sai masih bisa bergerak.
__ADS_1
Dia bisa saja memotong borgol dengan silet yang tersimpan di sepatu jika mau. Namun, Sai tidak melakukannya. Dia harus menunggu waktu yang tepat untuk itu.
Sai mengambil satu kapsul. Dia membuka kapsul dan mulut Sanubari, lalu menuangkan isinya. Khawatir membuat Sanubari tersedak, kulit kapsul dilarutkannya di tutup botol dengan sedikit air. Begitu larut, dia menuangkan setutup botol air itu ke mulut Sanubari.
Sai pernah membaca label yang direkatkan pada botol. Jadi, dia tahu bahwa kulit kapsul terbuat dari bahan yang mudah luruh bila terkena air. Protokol kesehatan yang disampaikan Kelana pun telah dihafal semua teman Sanubari kecuali orang-orang baru. Konselor itu secara rutin mengirimkan pesan pada mereka, mengingatkan mereka tentang obat Sanubari.
Wajah Sanubari tampak pucat. Sai berharap pemulihan Sanubari bisa lebih cepat sebelum kehabisan darah.
Sai membenarkan posisi tidur Sanubari. Selanjutnya, dirinya sendiri mencari posisi nyaman untuk berbaring. Tidak ada kasur maupun selimut di sana. Mereka tidur beralaskan lantai geladak.
Hari berikutnya, Sai terbangun karena silau sinar matahari yang menerobos masuk. Tepat saat itu, suara perut keruyukan terdengar. Namun, Sai sadar itu bukan darinya. Begitu menoleh, dia mendapati Sanubari sedang memasukkan potongan terakhir roti ke mulut.
"Kak Sai, maaf, rotinya kuhabiskan. Habisnya aku lapar."
Pagi ini, Sanubari terbangun hanya karena perutnya melilit. Saat melihat dua botol air mineral, dia langsung menenggak habis yang tersisa setengah botol, lalu menyambar sebungkus roti di sebelahnya.
Kondisi terborgolnya tidak menjadi masalah. Urusan perutnya lebih utama. Dia nyaris mati lemas karena kelaparan.
Satu bungkus saja tidak cukup. Perutnya masih seperti lengket. Jadi, satu botol air mineral yang tersisa dia habiskan dalam sekali angkat.
Sai memperhatikan bekas luka Sanubari. Tidak ada lagi darah yang mengalir.
"Lukamu, apa masih terasa nyeri?" tanya Sai memastikan.
"Kepalamu."
Mendengar itu, Sanubari menyentuh kepala. Dia menemukan sesuatu melingkar.
"Apa ini?"
Sanubari melepaskannya. Diperhatikannya kasa putih bernoda merah. Sementara tangan kanannya menyugar. Ujung-ujung jarinya menyentuh kulit kepala. Tidak ada bekas luka sama sekali. Diciumnya kasa itu.
"Amis," katanya, "Ini rambutku kok lengket? Berapa hari aku tidak keramas?"
"Kau tidak ingat kenapa bisa terluka? Semalam, darah banyak mengucur dari kepalamu." Sai mengernyit.
Sanubari menggeleng. "Aku hanya ingat semalam aku mencari tahu di mana Kyai Samad, lalu kepalaku seperti tertimpa benda yang sangat berat. Bangun-bangun sudah di sini dengan tangan dan kaki terborgol. Eh, tapi semalam 'kan jalan sendiri. Kenapa sekarang Kak Sai bersamaku?"
"Kita sudah ketahuan sejak memasuki wilayah itu semalam. Mereka membawaku kemari setelah kau hilang dari radar pemantauanku."
__ADS_1
"Jadi, polisi menangkap kita karena penguntitan itu?"
"Bukan, tapi komplotan Kyai Samadlah yang melakukannya. Aku melihatnya," kata Sai.
Saat Sanubari hendak mengatakan sesuatu, pintu menjeblak terbuka. Sai dan Sanubari menatap pintu. Seseorang meletakkan roti dan air sambil terus memperhatikan mereka, khawatir kedua tawanan akan menyerang.
"Sarapan untuk kalian!"
Usai mengatakan itu, dia melangkah mundur. Sanubari melirik sejenak roti sobek yang tergeletak, lalu berujar, "Bisa tolong tambah dua porsi nasi lauk porsi jumbo? Roti saja tidak mengenyangkan."
"Kau pikir ini warung makanan?" bentak orang itu, lalu menutup dan mengunci pintu.
Sai mengambil roti dan minuman yang ada di tengah ruangan, lalu merangkak kembali ke posisi semula. Dia menyerahkan semua roti pada Sanubari.
"Makanlah semua bila kau masih lapar!"
"Tidak bisa seperti itu! Kak Sai juga harus makan! Aku akan menunggu mereka membawakan nasi dengan mujair goreng atau ayam bakar."
Buah pikiran Sanubari itu tak ayal membuat Sai membatin, "Apa Sanu benar-benar menganggap ini sebagai warung makan?"
Sanubari terlihat sangat santai. Dia bahkan seolah tak acuh dengan borgol yang membatasi pergerakannya.
"Setelah kenyang nanti, ayo pulang! Aku tidak ingin terlalu lama main culik-culikan dengan mereka."
"Tengah malam nanti, kita kabur dengan salah satu sekochi mereka," tutur Sai.
Siang harinya, pintu dibuka lagi. Anak buah kapal kali itu hanya melempar dua bungkus roti.
"Mana nasi kami? Kenapa roti lagi?" tagih Sanubari. Sejak tadi, dia menantikannya, tapi nasi dengan lauk itu tidak kunjung datang.
"Itu cukup untuk kalian!"
"Sebagai penculik, seharusnya kalian memberikan makanan lezat pada kami. Sate, ayam bakar, rendang ...."
"Untung apa kami menuruti permintaan tawanan? Seenaknya Minta ini/itu, kau pikir kami ini pelayanmu apa?"
"Dasar penculik pelit! Seharusnya, kalian meneladani Kak Penculik Baik Hati! Dia itu penculik terbaik sepanjang masa!" teriak Sanubari.
"Sejak kapan penculik itu disebut baik?" Anak buah kapal itu tertawa.
__ADS_1
"Sudahlah, Kak! Otaknya mungkin agak konslet gara-gara pukulan semalam. Ayo pergi saja!"
Pintu ditutup kembali. Keduanya mengolok-olok Sanubari sambil lalu.