Santri Famiglia

Santri Famiglia
Kemajuan


__ADS_3

Kegelapan tiada ujung masih berlanjut dalam hari Sanubari. Kegelisahan kian mengguncang tubuhnya. Sanubari menggigil di tengah dunia tanpa cahaya.


Mental dan fisiknya lelah menjalani perputaran peristiwa yang serupa. Begitulah yang dirasa Sanubari, meski sebenarnya luka dan sakit itu hanya datang dari pikirannya. Namun, kesadarannya menganggapnya itu semua nyata. Hantu-hantu itu masih mengejarnya. Mereka bisa muncul dari mana pun, dari tempat-tempat yang tidak bisa Sanubari lihat.


"Sanu ...."


Lamat-lamat suara terdengar. Suara yang tampaknya dikenali Sanubari. Namun, remaja itu menolak untuk mendengarkannya. Dia menutup rapat telinga dengan kedua telapak tangan, menyembunyikan wajah di antara kaki yang tertekuk.


Dengan tidak melihat, dia berharap hantu-hantu itu juga tidak menyadari keberadaannya. Dia tidak ingin mengalami penyiksaan tidak terperikan lagi. Jiwanya sudah cukup menderita.


"Sanu, sampai kapan kauakan mendiamkan aku seperti ini?"


Suara itu lembut memohon, tetapi Sanubari tetap bungkam. Sanubari takut. Takut jika dirinya menjawab, hantu itu akan menyerang seperti sebelum-sebelumnya. Dia terus menggelengkan kepala.


"Mimpi seperti apakah yang kaulihat sekarang?"


Suara itu datang lagi, membawa kabut gigil yang perlahan menyelubungi Sanubari. Pori-pori di sekujur tubuhnya mengkerut hebat, tertusuk ribuan jarum dingin yang menimbulkan sensasi panas, gatal, nyeri layaknya digigit semut api. Semua terasa perih. Tangannya tidak bisa menahan untuk menggaruk, mencakar-cakar kulitnya sendiri dengan kasar.


Gerakan itu terbawa dalam alam sadar raga Sanubari, meski dari luar tubuh Sanubari terlihat baik-baik saja. Canda yang menyaksikannya langsung memegangi dua tangan Sanubari.


"Jangan! Itu bisa melukaimu. Apa yang kaurasakan?"


Namun, suara itu tidak sampai pada Sanubari yang jauh berada di dalam. Tangan Sanubari kaku, seakan hendak memberontak. Canda terus menahannya, terus berbicara, sampai kalimatnya kembali terdengar oleh Sanubari.


"Jika itu mimpi indah, jangan berlarut-larut sendirian di sana! Kami di sini merindukanmu."


Sanubari kian menekan telinganya. Suara itu sok tahu. Andaikan bisa tidur dan bermimpi indah, Sanubari lebih memilih untuk melakukannya sekarang, lalu tidak pernah bangun selamanya.


Namun, kegelapan tidak ubahnya kafein bagi Sanubari, hingga menyebabkan insomnia entah berapa lamanya. Sanubari tidak bisa menghitung waktu.


Kabut kian menebal, menghalangi suara-suara dari luar, hingga akhirnya suara hilang sama sekali. Kesunyian membuat suasana kian mencekam dengan suhu yang terus menurun.


"Sakit." Kata itu terus terulang dari bibir Sanubari.


Dia terisak. Satu tangan turun, memegangi perut yang melilit nyeri. Rasa sakit luar biasa membuatnya berkeringat dingin dan tambah menggigil. Di antara kesakitannya itu, Sanubari menyebut-nyebut ibunya.

__ADS_1


Sebuah tangan teramat dingin tiba-tiba menyentuh tangan Sanubari. Saat mengangkat kepala dengan susah payah, Sanubari menemukan sosok Idris dan Rudy.


"Jika itu mimpi buruk, mari kita hadapi bersama! Mereka akan terus menghantuimu jika tidak dilawan."


"Dunia memang kejam dan penuh tipu muslihat."


"Ikutlah bersama kami."


Tidak jelas siapa yang berbicara. Meski didekatnya ada orang, tetapi suara-suara itu terasa mengawang bagi Sanubari, seperti diucapkan dari jauh. Sampai akhirnya, satu tangan lain menyentuh pipinya.


"Sanu, tinggalkan semua ini! Mari kita bersama lagi!"


Itu ibunya. Ibunya tersenyum, menunjuk ke atas. Sanubari mendongak. Tampak pemandangan indah di sana.


Pepohonan warna-warni berdiri tenang. Kupu-kupu, burung, dan hewan lainnya hilir mudik. Seorang bayi mengejar-ngejar mereka. Itu adiknya.


Balita itu tertawa riang berlarian ke sana ke mari. Tawa itu, bahkan gemericik air sampai ke telinga Sanubari. Panorama di atas bagaikan oasis di tengah kabut keputusasaan. Itu ketenangan yang Sanubari harapkan.


Sanubari bangkit. Keindahan itu memberikan kekuatan pada tubuhnya yang sesaat lalu terpuruk kesakitan.


Sayang, ketika mulai melangkah, panah raksasa sebesar cangkul menjebol perutnya. Kabut terbagi menjadi dua sisi—terang dan gelap. Rantai yang terhubung dengan anak panah itu menariknya ke sisi gelap.


"Kau tidak pantas di sana."


"Api penebusan adalah rumahmu!"


Suara-suara lain bergaung. Sanubari menoleh. Rantai itu sangat panjang, terjuntai ke bawah jurang penuh kobaran api. Di dasar sana, orang-orang menariknya.


Sanubari tidak ubahnya ikan yang terjerat kail pemancing. Tubuhnya terus diseret. Sanubari histeris, meraung-raung.


"Tidak! Tidak mau!"


Suaranya sampai serak. Tenggorokannya terasa kering. Sanubari tidak ingin merasakan panasnya terbakar.


Di luar alam bawah sadar Sanubari, Canda mencoba menenangkan. Dia memeluk Sanubari yang hendak lari entah ke mana.

__ADS_1


Namun, alam bawah Sanubari menyadari perlakuan itu sebagai sesuatu yang lain. Jauh di dalam sana, Sanubari ditindih batu besar yang membuatnya tidak bisa melarikan diri. Sementara tubuhnya terus diseret ke ujung jurang.


Canda tidak menyerah begitu saja. Dia terus berusaha menjangkau Sanubari yang tanpa sadar membentengi dirinya sendiri dari dunia luar. Canda terus melontarkan kalimat-kalimat menenangkan, meski sebagian besar sampai pada Sanubari dalam wujud lain.


"Jika ada sesuatu yang membebani hatimu, maka ceritakanlah! Cerita akan menjadi kekuatan bagimu." Canda tidak memaksa, tetapi ingin Sanubari membuka hatinya supaya ganjalan di hati bisa terasa lebih ringan.


Lelaki itu tidak melepaskan pelukannya. Entah kali ini ucapannya bisa sampai ke Sanubari atau tidak.


"Cerita?" Satu kata itu akhirnya terucap dari bibir Sanubari


Canda tersenyum. Respons yang dinantikan akhirnya tiba juga. Canda yakin delapan puluh persen—kali ini, kalimatnya sampai dengan benar pada Sanubari, tidak seperti sebelum-sebelumnya yang entah menjadi apa dalam pikiran Sanubari.


Canda memanfaatkan celah gerbang yang terbuka sedikit itu. Dia menyuntikkan hal-hal positif selagi Sanubari belum memasang benteng kokoh lagi.


Setelah itu, Sanubari merasa kelelahan. Dia tertidur. Canda mengembalikan posisi tempat tidur yang semula di tegakkan. Dia menyamankan posisi Sanubari sebelum keluar.


"Kakek, bagaimana keadaan Sanu?" Zunta langsung berlari ke depan Canda saat melihat lelaki itu membuka pintu.


"Kalian boleh melihatnya, tetapi jangan berisik! Biarkan Sanu istirahat dengan tenang!" Canda tersenyum.


Zunta yang paling pertama masuk ruangan dengan semangat. Aeneas sengaja membiarkan para anak muda itu mendahuluinya. Saat dia dan Kelana hendak menyusul, Canda menghampirinya.


"Kita bicara di sini dulu saja!" Pria tua itu duduk di sebelah Aeneas.


"Jadi, bagaimana keadaan Sanu?" tanya Aeneas.


"Dia sudah mulai merespons percakapan."


Jawaban itu seketika membuat Aeneas dan Kelana terpukau. Selama masa tunggu, psikiater rutin menerapi Sanubari, tetapi tidak ada perkembangan sama sekali sampai Canda tiba. Namun, Canda bisa membuat kemajuan hanya dalam satu kali tatap muka. Itu luar biasa.


"Sanu sudah kembali seperti semula?" Sebagai seorang ayah, kebahagiaannya meningkat tiada terkira setelah mendengar kabar baik itu.


"Belum, tapi kusarankan untuk rawat jalan di rumah saja. Itu akan mempercepat kesembuhannya."


"Tapi tuan muda enggan pulang ke rumah sejak ibunya meninggal," timpal Kelana.

__ADS_1


"Aku khawatir dia akan ingat tragedi malam itu dan membenciku lagi." Aeneas tertunduk.


"Apa kalian bertengkar atau ada masalah?"


__ADS_2