Santri Famiglia

Santri Famiglia
Terkungkung Perairan Gelap


__ADS_3

Kelana menajamkan pandangan ke perairan yang teramat gelap. Hanya ikan-ikan aneh seperti memiliki lampu pada sungut yang menjadi sumber penerangan. Ikan-ikan itu berenang ke sana kemari.


Dalam keremangan itu, Kelana menangkap pergerakan ikan yang sangat besar, begitu besar, yang diperkirakannya lebih besar dari rumahnya. Kelana ternganga. Dia teringat salah satu buku dongeng yang menampilkan ikan sebesar itu.


"Paus."


Ikan membuka lebar mulut. Kemudian, sebuah gelembung keluar. Kelana mengamati lekat-lekat gelembung itu. Di dalamnya, ada dua manusia.


Ikan itulah yang dianggap Kelana memuntahkan Aeneas. Paus itu pergi. Suaranya mencipta horor. Namun, fokus Kelana kecil hanya pada gelembung yang memerangkap manusia dewasa bersama seorang anak kecil.


"Mereka terikat."


Kelana celingak-celinguk. Lorong tempatnya berada sangat sunyi, jauh di bawah permukaan bumi yang diketahuinya. Untuk mencapai tempat ini saja Kelana membutuhkan tiga jam. Bila dia pergi ke permukaan untuk mencari bantuan, kemungkinan dua orang itu akan hilang terbawa arus bawah.


Kelana berpikir keras. Sisi lain dari pikirannya mengatakan, "Ah, apa yang aku pikirkan? Mereka bisa mati kehabisan napas kalau aku kelamaan berpikir!"


Kelana teringat burungnya yang dia jeburkan ke akuarium. Batu dia ikatkan pada kaki si burung. Jadi burung tidak bisa naik ke permukaan. Kala itu, Kelana hanya ingin burumgnya berteman dengan ikan-ikan kecilnya. Siapa sangka, si burung malah mati.


"Tidak semua makhluk itu bisa hidup dalam air, Lan. Hanya makhluk berinsang yang bisa. Ada juga sih yang bisa bernapas dengan kulit atau paru-paru. Tapi, organ manusia dan makhluk darat lain tentunya diciptakan berbeda dengan mereka yang bisa hidup dalam air. Manusia dan makhluk darat lain tidak bisa. Makhluk darat seperti kita mungkin bisa menahan napas selama beberapa waktu. Tapi, bila terlalu lama, cadangan oksigen di paru-paru kita pasti akan habis juga."


Setelah dijelaskan oleh sang kakek buyut, barulah Kelana paham. Dia tidak lagi sembarangan memasukkan binatang ke akuarium. Karena itu pula, Kelana memutuskan dengan mantap.


"Aku harus menolong mereka!"


Dia menjauhkan diri dari kaca, berlari ke arahnya datang. Kelana ingat seperti melewati kolam saat kemari. Kolam itu begitu dalam, seolah tak berujung. Kelana pikir, "Itu mungkin jalan ke luar sana."


Dia berlari sambil melihat dua manusia yang terapung-apung. Dalam kepalanya, hanya ada bagaimana menyelamatkan mereka. Tidak ada sedikit pun pemikiran tentang kemungkinan mereka bisa saja sudah meninggal.


Kelana memastikan sekali lagi posisi dua manusia itu sebelum menceburkan diri ke air. Dia berenang tanpa memikirkan kemungkinan adanya bahaya. Lampu dari lorong menjadi sumber penerangannya. Saat keluar dari gedung, dia tanpa sengaja menyenggol ikan yang dianggapnya aneh. Kelana tersentak. Ikan seramping bagong itu mendadak menggelembung, sangat bundar, sebundar bola basket, sebesar kepala kelana. Bedanya, bola ikan bisa bersinar.

__ADS_1


Matanya terbelalak terinspirasi. Karenanya, dia menyambar satu ekor, lalu mengikatnya pada kerangka jendela yang pecah. Kemudian, dia terus sengaja menyentuh ikan aneh sepanjang perjalanan. Perairan gelap pun mendadak terang benderang.


Kelana menyentuh gelembung yang mengurung dua manusia. Dahinya mengerut. Jarinya melesak. Benda itu elastis seperti balon, tidak bisa meletus ketika ditusuk. Alhasil, dia mendorong gelembung ke jalan yang dilaluinya.


"Gawat!"


Napasnya hampir habis. Kelana memperingatkan diri untuk bertahan sebentar lagi. Beruntung, otak kreatifnya memudahkannya menemukan jalan kembali. Dia melepaskan ikan sebelum melanjutkan perjalanan.


Melihat permukaan yang bersinar dekat, Kelana meninggalkan gelembung. Dia tidak tahan lagi. Kelana lekas menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, lalu kembali turun untuk mendorong gelembung.


Sesaat setelah gelembung mencapai permukaan kering, benda itu meletus layaknya gelembung sabun. Tidak banyak genangan air di sekitar mereka. Hanya ada sedikit percikan air, menunjukkan bahwa gelembung tidak memerangkap air. Gelembung itu yang memberikan oksigen sehingga kedua manusia di dalamnya tetap bisa hidup.


Kelana membangunkan mereka. Yang dewasa sadar terlebih dahulu, disusul si bocah.


"Terima kasih sudah menolong kami!" Pria dewasa itu melepaskan ikatan si bocah.


"Nama saya Kelana. Paman siapa?"


"Lalu, kamu?" Kelana beralih melihat bocah pria sepantaran.


Anak kecil dari gelembung itu beriris mata hijau. Rambutnya pirang. Bocah itu mirip dengan si pria dewasa. Dia hanya bermuka masam tanpa menjawab Kelana.


Akhirnya, si pria dewasa yang menjawab sebagai perwakilan. "Ini Aeneas, putraku."


Kelana paham sekarang mengapa mereka berdua sangat mirip sampai ke mata hingga rambut. Itu tidak mengherankan karena mereka memang memiliki ikatan darah. Bedanya, Gafrillo masih bisa tersenyum, sedangkan Aeneas tetap bermuka jutek walau Kelana tersenyum lebar padanya dan mengucapkan salam hangat perkenalan.


"Aeneas, tersenyumlah! Tidak mungkin anak kecil akan berbuat jahat padamu, kan? Kau tidak akan pernah bisa mempunyai teman kalau selalu memberikan tatapan permusuhan seperti itu pada setiap orang," tegur Gafrillo.


Namun, Aeneas melengos. Dia malah menatap ke luar kaca. Begitu banyak titik-titik cahaya seperti kunang-kunang raksasa dalam air.

__ADS_1


Gafrillo ikut melihat keluar. Lipatan pada kening nya bertambah seketika.


"Jadi, bagaimana Paman Gafrillo dan Aeneas bisa dimakan paus, lalu membuat paus itu memuntahkan kalian?" Itu sangat membuat Kelana penasaran. Dia tidak mmpermasalahkan sikap tak bersahabat Aeneas.


Dia paham. Karakter manusia itu berbeda-beda. Ada yang bisa langsung akrab dalam sekali pertemuan. Ada yang malu-malu. Ada pula yang butuh beberapa waktu untuk mengakrabkan diri. Pemahaman itu dia peroleh dari buku-buku dongeng pengantar tidur yang sering diulang.


Ayah dan anak itu menoleh pada Kelana. Aeneas tetap dengan muka dinginnya yang sama sekali tidak sedap dipandang, sdangkan Kelana masih mempertahankan senyuman ramah.


"Paus?" Gafrillo memperjelas.


"Um," Kelana mengangguk, "saya melihat paus memuntahkan kalian."


Aeneas tidak ingat apa-apa. Seingatnya, dia dipukul sampai pingsan di atas sebuah kapal. Dia sendiri masih bertanya-tanya mengapa pakaiannya bisa basah dan mendadak berada di tempat yang dikelilingi perairan aneh.


"Aku sendiri juga tidak yakin bagaimana. Aku menyusul setelah Aeneas dilempar ke laut. Arus yang kuat hampir membuatku gagal. Tapi, syukurlah, aku berhasil meraihnya tepat waktu." Gafrillo memegang puncak kepala Aeneas.


Saat itu, Kelana tidak bisa membayangkan peristiwa apa yang menimpa Aeneas. Dia masih belum punya banyak pengalaman, kecuali pengalaman di lingkungan keluarga dan pertemanan. Kelana harus menunggu Aeneas melunak, lalu hubungan mereka cukup akrab untuk mengetahui detail potongan detail masa lalu itu.


Hobinya menekuni psikologilah yang semakin mendekatkannya dengan Aeneas. Kelana mampu menciptakan zona nyaman bagi Aeneas sehingga mau sedikit terbuka dengannya. Kesetiaan dan tingginya kemampuan pemahaman Kelana membuat Aeneas sangat mempercayai Kelana lebih dari apa pun di masa depan.


Gafrillo terkekeh, lalu mengalihkan pembicaraan. "Daripada memikirkan itu, bagaimana kalau kau jelaskan di mana ini?"


"Saya rasa lantai bawah tanah. Tadi, kami terus berjalan ke bawah." Kelana berusaha mengingat jalan yang dilewatinya.


"Kau bersama orang lain?"


Kelana berpikir sejenak, tidak yakin harus menjawab apa. "Dibilangsendiri, tidak juga sih. Soalnya, tadi, saya membuntuti kakek buyut diam-diam." Kelana menyengir.


"Baiklah, bisa kau tunjukkan di mana jalan keluarnya?" pinta Gafrillo.

__ADS_1


"Sayangnya, tidak. Saya terpisah dari kakek buyut, dan saya di sini sedang tersesat."


__ADS_2