
Fakta bahwa dirinya memiliki adik lagi selama terpisah dari keluarga membuat Sanubari senang. Dia sangat ingin bertemu mereka. Namun, keadaan membuat keinginan itu terhalang.
Orang-orang yang berusaha menyakiti mereka mungkin saja masih berkeliaran di sekitar sana. Aeneas tidak ingin ambil resiko. Sanubari harus menunggu kondisi dinyatakan aman oleh Aeneas jika ingin bertemu dengan adik-adiknya.
Dia tidak suka itu. Bahkan, menelepon pun tidak diperbolehkan. Kehidupan ini menyebalkan bagi Sanubari. Tidak dahulu, tidak sekarang, semua sama saja.
Sanubari menghela napas, menatap langit-langit sambil berbaring memeluk guling di ranjang. Pikirannya mempertanyakan, sampai kapan dirinya akan hidup dalam bayangan ketidaktenangan.
Realitas itu mengingatkan perjanjiannya dengan Abrizar. Dia makin yakin bahwa famiglianya harus segera dibentuk.
Eiji sudah menjadi teman mereka. Satu target telah tercapai. Dia hanya perlu merekrut beberapa anggota lagi, dan beberapa di antaranya sudah ada di kepalanya. Dia ingin mendiskusikan semua ini dengan Abrizar.
"Benar juga! Aku bisa ke rumah kak Abri sekarang."
Sanubari bangkit. Dia berlari menyambar jaket yang tergantung, memakainya sambil berjalan ke pintu keluar. Saat dia melewati pintu, seseorang menghentikannya.
"Mau ke mana, Sanu?"
Pertanyaan itu dari Reste. Dua penjaga itu masih saja siaga di dekat kamar Sanubari. Padahal, Sanubari menyuruh mereka untuk tidur di tempat yang semestinya.
"Ke rumah kak Abri."
"Ini sudah malam. Sebaiknya, kaukembali tidur," ucap Reste.
"Benar. Bukankah mereka selalu datang tiap akhir pekan? Untuk apa malam-malam ke rumah pria tuna netra itu? timpal Bio.
Dia, Reste, dan satu penjaga lain sudah diwanti-wanti untuk tidak membiarkan Sanubari pergi sembarangan. Apa pun yang terjadi, mereka harus menahan Sanubari supaya tetap di rumah.
Sementara Sanubari risih diawasi setiap saat. Meski mereka tidak mengganggu, tetapi Sanubari merasa aneh selalu saja menjumpai mereka setiap keluar kamar.
Alih-alih menjawab, Sanubari malah balik bertanya, "Kalian sendiri, kenapa masih saja di sini setiap malam??"
"Seperti yang selalu kami katakan, untuk menjagamu," jawab Bio.
Keduanya lantas mendorong Sanubari kembali ke kamar. Sanubari mengentak kesal. Dia berbalik badan. Namun, tersenyum ketika melihat gorden yang tertutup rapat.
Dia berlari ke gorden tersebut, cepat-cepat menyibak. Sayang, pintu tidak mau terbuka saat Sanubari berusaha menggesernya.
Pintu itu terkunci dan kuncinya disimpan Aeneas. Aeneas tahu putranya suka kabur dengan melompat dari beranda. Oleh karena itu, kuncci beranda kamar Sanubari diambilnya sejak dia dibawa pulang.
__ADS_1
Sanubari tidak bisa ke mana-mana. Malam itu, dia terpaksa tidur.
Satu bulan setelah kesembuhan Sanubari, Canda dan Zunta pulang. Aeneas mengizinkan Sanubari keluar, tetapi dengan dikawal Reste dan Bio. Sanubari mau tidak mau menyetujui syarat itu.
Pagi-pagi sekali, Sanubari sudah menjajah dapur. Dia menguliti singkong, lalu memasaknya. Dia sudah meminta pelayan membelikan bumbu-bumbu yang dibutuhkan hari sebelumnya. Dia mengolah singkong-singkong itu sendiri tanpa membiarkan koki atau siapa pun membantu.
Koki dan para penjaganya mengawasi dengan was-was. Mereka tahu bagaimana Sanubari bersikap di dapur selama sakit, dan ini kali pertama Sanubari menyentuh dapur pasca kesembuhannya.
Sanubari mencoba abai terhadap kehadiran mereka. Menurutnya, mereka hanyalah orang-orang aneh. Ayahnya terlalu berlebihan, menyuruh orang untuk melihatnya setiap saat.
Selesai memasak, Sanubari bergegas mandi, kembali ke dapur untuk mengemas singkongnya, lalu berangkat ke rumah Abrizar. Reste menyetir, Bio duduk di sebelahnya. Sanubari duduk sendiri di kursi tengah.
Keluar mobil, Sanubari menaikkan kerah jaket sampai menutupi mulut. Setelah sakit, dia makin tidak tahan dengan hawa dingin. Dia tersenyum, menatap halaman rumah yang lama tidak dia kunjungi.
Sambil menenteng kotak berisi singkong keju hangat, dia mengetuk pintu. Tidak berselang lama, sesosok gadis berambut panjang berdiri di hadapan Sanubari. Dia tampak kebingungan karena wajah Sanubari tidak terlihat.
"Aku membawakan singkong keju untuk semuanya."
Suara itu, Anki mengenalinya. Seharusnya, dia bisa menduga ini dari iris mata hijaunya.
"Sanu?"
"Bagaimana aku bisa mengenalimu kalau wajahmu setengah tertutup seperti itu? Ayo masuk!"
Anki menarik Sanubari, lalu menutup pintu lagi. Sanubari tertawa kecil.
"Maaf, di luar dingin. Ngomong-ngomong, di mana kak Abri?"
Sanubari mengamati sekitarnya. Rumah ini masih sama seperti dahulu. Tidak banyak ornamen yang membuat rumah ramai. Hanya ada satu kaligrafi Arab di ruang tamu depan dan sebuah jam digital berbentuk masjid di ruang tengah.
Dia mendengar jika Anki dan yang lain tinggal di sini. Akan tetapi, dia tidak melihat siapa-siapa, kecuali Anki. Rumah ini sangat sepi, sesepi ketika hanya dirinya dan Abrizar yang menempatinya.
"Sebentar kupanggilkan. Duduklah!" ucap Anki yang langsung ke kamar Abrizar.
Sanubari meletakkan kotak singkong ke atas meja. Dilepasnya jaket, lalu menyampirkan ke lengan sofa. Tidak lama kemudian, Abrizar dan Anki bergabung di ruang tengah bersama Sanubari. Sanubari menyuruh mereka memakan singkong selagi hangat.
"Hm, ini enak," komentar Anki setelah menelan satu gigitan.
Tekstur luarnya sangat garing dan renyah. Sementara bagian dalam sangat lembut. Rasa gurihnya pun tembus merata sampai bagian terdalam. Ditambah lelehan keju, saus pedas manis, dan mayones membuat cita rasanya makin kaya.
__ADS_1
Abrizar pun mengakui kelezatannya. Dia makan dengan cepat. Saat hendak mengambil potongan lain, Sanubari membantunya.
"Benarkah? Sudah lama aku tidak melakukan ini. Kupikir rasanya tidak akan begitu enak."
Terakhir kali Sanubari mencoba membuat mungkin sekitar lima tahun yang lalu seingat Sanubari. Padahal, aslinya lebih dari itu. Orientasi waktunya agak kacau. Sebab, waktu seolah membeku bagi Sanubari selama sakit.
Sekitar usia dua belas tahun, Sanubari tidak benar-benar sendiri membuatnya. Selalu ada Sanum yang mendampinginya. Saat di Indonesia pun terkadang Sanubari merusuhi ibunya yang memasak. Ini kali pertama dia membuat sendiri.
"Kapan kamu jadi mengajariku?"
Anki mencomot sepotong lagi. Singkong di hadapannya seperti candu. Sekali gigit, mulut tidak henti-hentinya meminta lagi dan lagi.
Sebenarnya, mereka sempat akan memasak bersama. Namun, Sanubari selalu saja mendadak histeris setiap kali memegang perkakas dapur selama sakit. Pada akhirnya, mereka lebih sering menghabiskan waktu berkebun saat berkunjung. Selama itu pula Sanubari dilarang memasuki dapur.
Anki senang melihat perkembangan Sanubari. Remaja beriris hijau itu sepertinya sudah normal kembali.
"Nanti kalau kalian main ke rumah lagi. Di rumah masih banyak singkong, meski sebagian sudah dijual. Ah, tapi aku juga bisa membawanya ke mari. Kita bisa membuatnya di sini."
"Itu ide yang bagus."
Anki mengacungkan jempolnya. Itu lebih baik. Masih lama jika Anki harus menunggu yang lain libur kerja sampai akhir pekan.
Di antara mereka semua, hanya Anki dan Sanubari yang menjadi pengangguran. Anki mencurahkan kekesalannya dilarang bekerja oleh sang kakak. Keduanya saling memahami. Abrizar bagaikan patung di antara keduanya. Dia hanya makan dan menyimak. Sampai pada satu titik, Sanubari melibatkannya dalam obrolan.
"Kak Abri, ayo mulai langkah berikutnya!"
Ajakan random itu membuat bingung Abrizar. Anki juga penasaran. Namun, mulutnya masih penuh singkong untuk bertanya.
Sebagai respons, Abrizar pun bertanya, "Langkah apa?"
"Membuat ma—"
Abrizar buru-buru memotong, "Kita bicarakan ini di kamarku saja! Anki, kamu tetap di sini, ada yang ingin kubahas berdua hanya dengan Sanu!"
Menurutnya, Anki tidak perlu tahu perihal ini. Dia khawatir gadis itu akan salah paham. Beruntung, dia lekas sadar saat Sanubari hendak menyebut mafia.
"Dasar pria! Selalu saja sibuk dengan urusannya sendiri," batin Anki melihat keduanya pergi. Dia melampiaskan gerutuannya dengan memakan singkong.
Abrizar mengunci kamarnya. Mereka duduk di karpet.
__ADS_1
"Sanu, kurasa kita tidak perlu lagi meneruskan ini. Kauaman di sini. Lupakan rencanamu untuk mendirikan mafia!"