
"Capres dan cawapres nomor dua mengunjungi salah satu pasien terjangkit wabah. Mereka memberi semangat tanpa takut tertular. Keduanya juga memberikan santunan penuh kepada keluarga korban yang tergolong kurang mampu."
Seorang reporter membawakan berita tersebut dalam televisi. Ditampilkan wajah-wajah tokoh politik yang sedang hangat diperbincangkan. Kedua pria itu tersenyum ramah. Dengan pelindung modern lengkap, mereka berjalan di koridor rumah sakit, memasuki kamar kelas bawah.
"Alhamdulillah, berkat Pak Sutarman dan Pak AB, kami bisa membawa putra kami berobat. Mereka benar-benar calon pemimpin yang merakyat," ucap ibu pasien di televisi.
Berita terus berlanjut. Pemilu yang telah direncanakan tidak akan ditunda pelaksanaannya hanya karena wabah yang mendadak melanda negeri. Panitia akan menyesuaikan pelaksanaan dengan menerapkan anjuran kesehatan.
"Dua terus yang muncul. Yang nomor satu ke mana, ya Yah?" tanya Aradia.
Wanita itu sesekali menoleh ke televisi sambil menyuapi putrinya. Hufaira yang masih sembilan tahun pun jadi ikut menonton.
"Entahlah."
Dana mengedipkan bahu. Dia mengganti saluran. Namun, acara yang muncul tetap saja berita serupa. Jikapun tidak, topik yang dibahas tidak jauh dari pandemi. Pandemi ternyata telah menyebar sampai ke luar negeri. Negara yang terjangkit di antaranya Australia, Filipina, dan Jepang.
"Apa mereka tidak punya uang untuk kampanye, ya? Wah, kalau seperti itu sih bisa dipastikan nomor dua menang mutlak dalam pemilu nanti," komentar Aradia.
"Sudahlah, Bu! Untuk apa mengurusi politik? Terserah mereka mau apa sekarang. Yang penting saat jadi presiden nanti kebijakannya tidak menyulitkan rakyat kecil. Syukur-syukur kalau mereka bisa membersihkan birokrasi yang kurang sehat."
Dana mengganti saluran lagi, tetapi tetap tidak menemukan acara bagus yang cocok untuk anak-anak. Televisi pun dimatikan.
"Loh, kok dimatikan?" protes Aradia.
"Tidak ada yang seru. Iya, kan Fai?"
Dana mengembalikan remot ke tempat semula. Kemudian, dia duduk di sebelah istri. Putri kecilnya tersenyum sambil mengunyah. Bocah yang sempat lumpuh beberapa hari yang lalu telah bisa bersuara kembali sekarang.
"Terus, Ayah menjago siapa?" tanya gadis kecil itu setelah menelan makanannya.
"Menjago ayam Pak Wir saja. Nanti dibikin balado sambal ijo," kekeh dana.
"Ih, Ayah! Fai serius."
__ADS_1
Hufaira mencubit lengan Dana. Dia gemas dibercandai seperti itu.
Dana tertawa. Dia berbalik mencubit kedua pipi Hufaira dan menggoyang-goyangkannya hingga kepala gadis itu tertoleh ke kiri serta ke kanan.
"Ayah juga serius. Ayamnya buat kamu makan biar tambah sehat, terus kita ke tempat Kak Abri," balas dana tersenyum lebar.
Dia sangat senang putrinya bisa sehat lagi, meski bayarannya sangat mahal. Akan tetapi, itu tidak masalah baginya. Uang tidak lebih berharga dari kesehatan.
"Ketemu Kak Abri? Kita semua akan ketemu Kak Abri?"
Mata Hufaira melebar ketika menyebut nama kakaknya. Dia sangat antusias dan diam-diam mengharapkannya. Harapan itu ditanggapi dengan anggukan oleh Dana.
"Iya. Faira mau, kan? Ayah yakin Fai Pasti kangen sama Kak Abri, kan?"
Hufaira mengangguk kuat sebaggai respons atas ucapan sang ayah itu. Sudah lama dia tidak bertemu dengan kakaknya.
"Tapi, bagaimana dengan sekolah Fai?"
Aradia mengkhawatirkan pendidikan putrinya. Tidak seperti Abrizar, Hufaira sejak kecil tumbuh di Indonesia dan dibiasakan berbahasa Indonesia. Kemampuan bahasa asing gadis itu sebatas apa yang dipelajari di sekolah. Pastinya, akan sulit bila mereka harus pindah ke luar negeri.
Dana sudah memikirkan permintaan Abrizar matang-matang. Dia akan sungkan bila harus meminjam uang lagi pada putra sulungnya itu. Untuk menghindari hal yang tidak dinginkan, mereka harus pindah untuk sementara waktu.
"Tapi Yah, Fai itu tidak bisa bahasa Italia. Mana bisa kalau dia harus masuk sekolah sana?"
"Kan sudah kubilang, ada dua pilihan yang belum kita coba. Kalaupun sekarang belum bisa, nanti pasti bisa. Seperti kamu dulu. Kamu dulu juga tidak bisa bahasa Indonesia waktu pertama kali pindah ke sini, kan? Sudah, jangan terlalu dipikirkan! Allah pasti akan memberi petunjuk dalam setiap langkah yang kita ambil."
Dana merangkul Aradia. Dia selalu yakin dengan langkah yang diambilnya.
Di sebuah laboratorium farmasi, beberapa ilmuan meracik ramuan untuk mengobati Sanubari. Dengan sampel seadanya, mereka menguji keefektifan ramuan masing-masing.
Kebanyakan dari mereka menyilang hampir semua resep. Tidak ada dari resep-resep itu yang bisa membunuh gen-gen penyakit buatan, meski dosis telah dinaikkan. Di antara mereka, ada pula Canda yang memeriksa hasil percobaan lainnya.
Dia duduk mengamati mikroorganisme yang telah diberi facikan herbal dengan mikroskop. Dia melakukan perbesaran maksimal. Dia memperhatikannya dengan sangat serius.
__ADS_1
Segalanya harus diperhatikan dengan cermat. Tidak ada waktu untuk menguji obat pada makhluk hidup sebelum digunakan. Jadi, mereka harus memastikan obat yang diciptakan bisa bekerja dan bebas racun.
Canda membelalakkan mata ketika melihat reaksi yang terjadi. Dia sampai menjauhkan mata dari mikroskop, mengerjap beberapa kali, lalu kembali mengintip melalui mikroskop. Dia tersenyum. Mereka tidak hanya mati, tetapi terurai sepenuhnya tanpa sisa.
Ketika yang lain sibuk membuang sampel ramuan tidak berguna, Canda bergegas berdiri. Dia mengambil tabung sampel bernomor seratus sebelas.
"Kalian semua, lakukan penelitian lanjutan dengan formula satu satu satu!" perintahnya kemudian.
"Apa itu bekerja?" tanya salah satu ilmuan.
Canda mengangguk. Dia tersenyum lebar.
"Ya, periksa saja! Tapi, aku tidak tahu apakah ini seratus persen aman diterapkan pada manusia."
Canda mengangkat tabung di tangannya. Kemudian, dia menatap jam dan tanggal yang ada di ruangan itu. Waktu mereka benar-benar menipis.
"Baiklah, kami akan mencari tahu."
Mereka menyingkirkan kertas-kertas lain yang dianggap tidak berguna, lalu mulai membaca salinan dari formula seratus sebelas. Semua orang cukup senang penelitian mereka mengalami kemajuan.
"Antar aku ke tempat Sanu dirawat. Kita harus segera mengantarkan ini pardanya!" pinta Canda.
"Biar aku yang mengantar! Aku pernah mengambil sampel ke sana. Jadi, aku tahu di mana tempatnya."
Garis merah meliuk-liuk tidak beraturan, acap kali menjadi garis datar, lalu naik turun lagi. Itu seperti sandi rumput yang mengatakan betapa lemahnya kondisi Sanubari sekarang. Bunyi pip pendek-pendek sudah menjadi bunyi familiar di telinga Aeneas dan Kelana dua hari ini.
Selama itu Sanubari tertidur dan belum sekalipun terbangun. Dokter mengawasi keadaannya dua puluh empat jam nonstop. Tidak ada yang keluar kecuali dokter pengganti telah datang.
Ketika Aeneas sedang menyantap makan siang, tiba-tiba bunyi pip panjang terdengar. Garis yang semula bergerigi, kini telah datar sempurna. Dokter dengan gesit melakukan tindakan. Dia harus bisa mengembalikan detak jantung itu.
"Sanu!"
Aeneas meninggalkan makanan begitu saja. Dia sangat berharap garis itu akan bergerak lagi. Bukan hanya garis, tetapi juga tubuh pemiliknya. Dia ingin Sanubari segera bangun.
__ADS_1
"Kumohon!"