Santri Famiglia

Santri Famiglia
Para Penggali Kubur


__ADS_3

Matahari sepenggalah tingginya. Tiga cangkul terayun mengoyak tanah, membentuk lubang persegi panjang. peluh merembes dari pori-pori tiga pria.


"Sanu, kurang satu centimeter."


Sai memegang meteran, membentangkannya dari ujung ke ujung pada lubang galian Sanubari. Lelaki keturunan Jepang tulen itu sudah bertanya banyak hal kepada warga. Sebagai pemula, tentu dia tidak tahu ukuran petak yang tepat.


Namun, kala itu warga hanya menjawab, "Yang penting pas panjangnya. Tidak sampai tertekuk."


Karena kurang paham, Sai sampai membaca peraturan tentang anjuran ukuran petak kuburan. Satu poin yang dia pahami—panjang dan lebarnya menyesuaikan besar jenazah. Meskipun begitu, rata-rata berukuran dua kali satu meter. Buku catatan Sai penuh dengan ***** bengek kuburan khas umat muslim.


"Yang benar saja, Sanu? Kau mengajak kami hanya untuk menjadi tukang gali kubur?" protes Renji.


Dia berdiri, mengusap peluh dengan kaos. Lubang galiannya baru setinggi perut.


Sanubari ikut menegakkan tubuh. Dia menoleh pada Renji yang berjarak satu lubang darinya.


"Ini cita-citaku. Salah satu hal yang memang ada dalam agenda kita."


Pemuda itu tersenyum, tidak peduli keringat sebesar biji jagung menuruni pelipis. Sengat matahari yang mendidihkan air dalam bak pun diabaikannya. Dia harus terus bekerja sampai lubangnya siap.


Lelah karena mengayun cangkul tergantikan dengan kebahagian terwujudnya cita kecil. Andai siang itu dia tidak berkunjung ke rumah kepala desa, mungkin kesempatan ini belum berada di tangannya.


Dua minggu penuh pasca kepulangannya dari Tanzania, Sanubari dikurung di rumah dengan pengawasan ketat. Setiap hari Canda memantau kesehatannya. Dia juga harus melakukan berbagai pemeriksaan dengan bermacam alat.


Aktivitasnya sungguh terbatas. Sanubari hanya bisa mengurusi kebun singkong dan merawat pemberian Fanon yang ternyata bibit kiwano. Salah satunya dia bawa ke Indonesia, ditanam di kebun belakang rumah.


Kini, lahan di sekitar rumah lama Sanubari sedang dalam proses pembangunan. Prosesnya sudah berlangsung selama sekitar satu bulan. Fanon sendiri yang mendesain serta meninjau proyek.


Meskipun kontraktor yang menangani proyek tersebut terkenal dengan kinerjanyanya yang memuaskan, Fanon tetap ingin memastikan dengan mata sendiri semua berjalan lancar, tidak ada unsur penipuan maupun korupsi yang bisa mengurangi kualitas bangunan.


Minggu ketiga berlangsungnya pembangunan, Sanubari diizinkan ke Indonesia. Anki ikut ke Indonesia. Mereka semua tinggal di kos-kosan tiga lantai dekat kampus ternama. Bangunan tersebut merupakan bangunan yang didapatkan Sanubari berkat konstribusi ayah Abrizar.

__ADS_1


Sanubari juga memperoleh bangunan khas Belanda yang sudah dirobohkan dan dibangun kembali menjadi rumah berkafe. Kafe tersebut dipegang Anki, dibantu Aradia dan Dana. Hufaira yang masih kecil juga sering datang membantu sepulang sekolah.


Rumah keluarga Abrizar tepat di depan salah satu sisi kafe. Jadi, mudah bagi mereka untuk menjangkaunya. Minggu pertama sejak dioperasikannya kafe, bisnis berjalan sesuai harapan.


Kafe laris meski menu utamanya singkong. Mahasiswa yang kesulitan mencari makanan di masa liburan segera menyerbu. Kafe sibuk dari pagi hingga sore.


Kemudian, Sanubari memutuskan untuk melihat perkembangan pembangunan di kabupaten Blitar. Sai, Eiji, Renji, dan Abrizar ikut bersamanya. Mereka telah berdiskusi di malam sebelumnya. Proyek kecil akan dimulai dari sana.


Mereka singgah ke rumah kepala desa. Sanubari membawakan singkong keju andalannya. Ketika asyik berbincang, seorang warga tiba-tiba tergopoh berdiri di depan pintu.


"Pak Kades, gawat! Gawat! Gawat, Pak Kades!"


Pria itu terengah-engah. Dadanya kembang kempis seperti baru berlari mengelilingi desa seratus kali. Peluh pun bercucuran, membasahi dahi, leher, dada, punggung, dan ketiak.


"Apanya yang gawat?" tanya kepala desa. Wajahnya serius seketika. Obrolan santai pun terhenti.


"Itu, anu, em, itu keluarga Kirman meninggal semua."


Kematian adalah hal yang wajar. Meskipun Sanubari sendiri terguncang ketika mendengar kematian sang ibu, tetapi dia tidak berpikir itu peristiwa yang tergolong digawatkan.


"Masalahnya, itu satu keluarga meninggal. Tidak ada harta yang ditinggalkan sama sekali. Bagaimana mau menguburkannya? Biayanya pasti lima puluh juta lebih untuk tiga jenazah," terang pria itu.


"Anu, kuburkan saja di lahanku! Bratis. Aku memang menyediakan lahan yang rencananya akan dijadikan pemakaman umum. Jika perlu, kami juga akan membantu menggali kuburannya," tawar Sanubari.


Dia tahu betapa mahalnya jasa penggali kubur. Jadi, dia sengaja mengajukan diri supaya mereka tidak repot-repot mencari penggali kubur.


"Alhamdulillah. Kumpulkan warga untuk mengurus jenazah segera! Sementara saya akan mengurus tanah kuburan bersama Sanu dan yang lain. Nanti, saya akan ke rumah duka begitu kuburan siap."


"Baik, Pak."


Pria itu pergi lagi. Kepala desa meminjam dua cangkul lain dari tetangga. Dia juga membawa tiga embr. Barang-barang tersebut dinaikkan ke mobil. Kepala desa mengikuti mobil dengan mengendarai motor bebek.

__ADS_1


Setibanya di lokasi, mereka kebingungan, tidak tahu seberapa besar lubang yang harus digali. Sanubari berbaring ke tanah, meminta yang lain mengukur lubang sesuai tingginya.


"Kau pikir tinggi dan besar semua orang sama? Bagaimana kalau kesempitan?" ujar Abrizar.


"Bukankah sama saja kalau sudah jadi abu, ya?" interupsi Renji.


"Jenazah orang muslim tidak dikremasi," jawab Abrizar.


Tidak ada di antara mereka yang berpengalaman dalam hal semacam itu. Alhasil, Sai ikut kepala desa menuju rumah duka. Sementara itu, Sanubari dan yang lain membersihkan lokasi.


Pohon-pohon telah ditebang dari jauh hari. Tunggul-tunggul pun telah dicerabut sampai akar. Tanah itu cukup lapang. Mereka berdiskusi akan mulai menggali dari mana supaya terlihat rapi.


Tidak lama kemudian, Sai kembali sambil membawa meteran dan catatan. Dia menjelaskan bahwa lubang harus memanjang dari Utara ke Selatan.


Selagi kepala desa pergi lagi, para penggali kubur amatir itu mulai menggali. Oleh sebab itulah, ketiganya berakhir memegang cangkul di bawah terik siang. Sai membantu mereka mengeluarkan tanah dari lubang dan memastikan ukurannya sudah tepat. Dia bahkan menggambar garis di tanah supaya tidak melenceng.


"Apa kau bercanda? Cita-citamu itu sungguh konyol, Sanu! Aku tidak mau menjadi mafia penggali kubur selamanya. Mafia macam apa itu?" Renji berkacak pinggang.


Sanubari hendak menanggapi. Namun, Eiji lebih dahulu menegur, "Ren, jaga bicaramu! Ini tempat terbuka."


Bunyi cangkul beradu dengan tanah terus terdengar. Eiji yang berada di tengah mereka terus menggali, mengisi ember kosong dengan tanah galian.


Sanubari kembali menggali. "Aku hanya ingin meringankan beban mereka. Itu saja. Jika Kak Ren keberatan melakukan ini, Kakak bisa berhenti. Ini memang bukan kegiatan utama kita. Selebihnya, mungkin kita bisa menyerahkan kepengurusannya pada warga," jelas Sanubari.


"Di desa ini, seseorang harus memiliki setidaknya sepuluh juta untuk memanggil penggali kubur. Hanya orang berada saja yang mampu memenuhi semua pengurusan pemakaman sampai tuntas. Aku tidak ingin menambah kdzulitan dalam hidup mereka yang sudah sulit," lanjutnya.


"Anggap saja kita sedang melakukan kegiatan sosial, Ren! Bukankah Onyoudan dulu juga melakukan hal semacam ini? Yeah, walau bentuk ya berbeda." Eiji berusaha menengahi.


"Yeah, mungkin kau benar." Renji menunduk.


"Kembalilah ke pekerjaanmu supaya ini cepat selesai!" ucap Eiji.

__ADS_1


Renji kembali memegang cangkul. Mereka menggali dalam diam. Tiada suara kecuali bunyi tanah terhantam dan dikeruk. Pepohonan pun hening. Angin seolah tidak bergerak, turut serta dalam kesunyian yang tercipta.


__ADS_2