
"Kakak ini terlalu berlebihan. Tidak baik loh berprasangka buruk seperti itu!" Sanubari malah terkekeh.
"Percaya padaku! Aku yakin benda-benda itu tidak akan membawa sesuatu yang baik."
"Istighfar, Kak! Bukankah Allah memerintahkan kita untuk senantiasa berprasangka baik?"
"Baru dua kali ikut kajian Abi Jun saja sudah sok jadi pendakwah, kamu!" Abrizar kembali pada posisi duduknya, merasa percuma memberi tahu sang remaja.
Selama tinggal bersama Abrizar, Sanubari memang suka mengikuti pengajian yang diadakan setiap akhir pekan di masjid. Ia selalu mendengarkan ceramah Aljunaidi dengan seksama. Poin-poin penting yang menurutnya baik, ia simpan dalam otak. Ia juga sering bertanya sepulang dari masjid. Hal itu membuat ilmu dari Aljunaidi semakin tertancap kuat dalam ingatan.
"Ah, sudahlah! Daripada mendebatkan sesuatu yang tidak jelas, mending habiskan dulu makananmu! Mumpung masih hangat," tutur Abrizar yang kemudian kembali menyantap miliknya sendiri.
Sanubari memandang jam tangan dalam genggaman sesaat. Awalnya, ia memang sangat menginginkan jam tangan tersebut. Namun, Sanubari mendadak meragu setelah mendengar perkataan Abrizar. Akhirnya, ia letakkan kembali benda tersebut ke meja ABRIzar.
Sanubari melepas cadar yang menutupi separuh wajahnya, membuka pembungkus makanan, lalu memegang garpu dan pisau. Tangannya mulai mengiris daging di hadapan. Andai ada kobokan di sana, pastilah ia sudah memilih untuk makan dengan tangan.
"Ini enak! Empuk sekali, gurih, rasanya beda dengan daging ayam biasa," komentar Sanubari saat sepotong daging masuk ke mulutnya.
"Jelas saja! Ini 'kan daging bebek."
"Oh, baru kali ini aku makan bebek. Ternyata lebih lezat dari ayam, ya!"
Sanubari terus saja berceloteh tentang menu yang disantapnya selama makan. Ia sangat menikmatinya, sampai jarinya pun ikut terpakai. Ia mencolek sisa-sisa bumbu lalu menjilatinya. Rasanya ingin nambah porsi.
Selesai menghabiskan bebek, Sanubari membuka penutup krem brulee, lalu beralih memegang sendok. Kombinasi vanila, susu, dan buah-buahan sangat menyegarkan. Rasanya mampu menetralkan rasa pekat makanan utama sebelumnya.
Tepat ketika Sanubari memasukkan suapan terakhir, pramugari kembali datang. Wanita cantik itu menawarkan minuman, "Would you like to have more drinks, Sir?"
Abrizar menolaknya. Sanubari melakukan hal yang sama ketika ditanya. Ia lekas menenggak habis minumannya. Kemudian, pramugari itu pun mengambil nampan bekas makan mereka.
Melihat Sanubari dan Abrizar yang belum memakai pemberiannya, pramugari tersebut pun bertanya, "Why haven't you used our gift? The game is about to start."
__ADS_1
(Kenapa kalian belum memakai hadiah dari kami? Permainan sebentar lagi akan dimulai.)
Abrizar menjawab, "We are not interested."
(Kami tidak berminat.)
"We're not insisting, but it would be nice if you would use it now. We'd be happy if you would do it."
(Kami tidak memaksa, tetapi alangkah baiknya jika kalian memakainya sekarang. Kami akan senang jika kalian melakukannya.)
Abrizar tetap teguh dengan pendiriannya. Namun, ia membalas dengan hati-hati untuk menjaga perasaan sang pramugari, "Maybe later after getting off the plane."
(Mungkin nanti setelah turun dari pesawat.)
Pramugari tersebut mengambil sesuatu yang disembunyikan di atas troli. Ia melangkah lebih rapat ke Abrizar, menodongkan pistol pada pelipis Abrizar, lalu mengancam dengan suara lirih, "Use now or you know for yourself what will happen next!"
(Pakai sekarang atau kalian tahu sendiri apa yang akan terjadi berikutnya!)
Pramugari tersebut menyeringai. Sanubari terbelalak menyaksikannya. Ketakutan melanda seketika. Dengan buru-buru, ia ambil liontin dan memakainya.
Pramugari terus memaksa Abrizar untuk memakai hadiahnya. Namun, lelaki itu bergeming. Sanubari khawatir wanita itu akan melakukan ancamannya.
Dengan suara bergetar, Sanubari pun menyahut, "My husband is blind. I'll get it wear for him."
Sanubari menyamarkan suaranya menjadi mirip wanita. Ia segera memakaikan jam tangan ke pergelangan lengan Abrizar. Setelahnya, pramugari itu pun pergi.
"Syukurlah." Sanubari menghela napas lega.
Meskipun demikian, ia belum bisa sepenuhnya tenang saat mendengar pramugari tersebut belum jauh dari tempatnya. Jantung Sanubari berdebar hebat, bahkan tangannya yang mendingin belum berhenti gemetaran. Ia masih syok, nyawanya hampir saja berakhir dalam sebuah penerbangan.
"Ngasih hadiah kok maksa amat. Pakai ngancam segala pula.
__ADS_1
Tiga puluh menit kemudian.
Televisi di hadapan para penumpang mendadak menyala. Ada yang mencoba mematikannya, tetapi tidak bisa. Semua layar tersebut menampilkan gambar yang sama. Seseorang dengan seragam pramugara bertopeng hitam. Pada tengah topeng polos tersebut, hanya ada bulan sabit merah marun bersilang emas. Pria bertopeng tersebut berdehem, kemudian mulai berbicara.
"Selamat malam, para Penumpang yang terhormat! Apakah kalian semua menyukai hadiah dari kami? Kuharap kalian menyukainya. Hadiah tersebut didesain spesial untuk malam ini. Yang artinya kalian spesial!" ujar pramugara tersebut tertawa lepas.
Suaranya digemakan melalui pengeras suara sehingga para penumpang di semua kelas bisa mendengarnya. Ada pula tulisan tertera pada televisi yang bisa dibaca tuna rungu. Sebagian penumpang nampak antusias, masih berpikir bahwa ini adalah bagian dari rangkaian kejutan penerbangan. Pengumuman bahasa Indonesia terus dikumandangkan dalam tiga bahasa lainnya juga. Yakni, Inggris, Jepang, dan Perancis secara berurutan. Begitu seterusnya.
"Sekali lagi kuingatkan kepada kalian yang belum memakainya, harap segera dipakai! Jika tetap tidak dipakai, lima menit dari sekarang benda tersebut akan meledak. Bagi yang sudah memakai, jangan sekali-kali melepasnya! Karena benda tersebut juga akan meledak." Pramugara tersebut terus berceloteh.
Sanubari menegang, sesekali diliriknya liontin yang menggantung di depan dada. "Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Entahlah." Abrizar mengedikkan bahu.
"Kok Kakak kedengeran tenang-tenang saja sih?"
"Terus aku harus apa? Lapor polisi kalau pesawatnya dibajak, begitu?"
"Ide bagus!" Sanubari langsung mengambil ponsel pintar.
Namun, tidak ada jaringan. WiFi pesawat pun tidak aktif. Tidak ada yang bisa dia lakukan.
"Bagaimana ini? Sama sekali tidak bisa menghubungi siapa pun." Sanubari semakin gelisah, tubuhnya bergerak-gerak.
"Sepertinya persiapan mereka sangat matang. Aku yakin ini bukan pembajakan tunggal," batin Abrizar yang terlihat masih tenang.
Bertolak belakang sekali dengan Sanubari. Hanya mereka berdua saja yang menyadari ketidak beresan dalam pesawat, sedangkan yang lain masih termakan iming-iming permainan. Alih-alih mencurigai para awak pesawat, kebanyakan penumpang malah mengira mereka sedang bersandiwara.
Hingga akhirnya bunyi nyaring seperti sirine terdengar, disusul dengan ledakan memekakkan telinga. Sanubari terhenyak. Sumbernya berasal dari seberang kurssi mereka berdua. Sontak Sanubari menoleh. Pemandangan mengerikan menyambutnya.
Beberapa kursi hancur, darah menciprat kemana-mana. Empat orang nampak terluka. Entah masih hidup atau sudah mati, Sanubari tidak tahu. Orang-orang di sekitar korban histeris. Spontan mereka melepas sabuk pengaman dan menjauh.
__ADS_1
Bau anyir seketika menyeruak, memenuhi kabin pesawat. Muara ledakan menjadi pusat perhatian semua orang. Mereka yang tidak kuat pun langshung muntah-muntah. Banyak pula yang memilih memalingkan pandangan setelah mengetahui apa yang terjadi. Pemandangan tersebut terlalu menjijikkan.
Sanubari juga ingin muntah, tetapi ia tahan. "Aku harus kuat! Aku harus kuat! Ini lebih mengerikan daripada pembunuhan di bioskop itu, tetapi aku tidak boleh takut. Aku bukan anak kecil lagi!"