
Sanubari merasa Dejavu. Di masa lampau, seseorang menanyakan hal yang serupa. Jika waktu itu dia jujur dengan menjawab tidak tahu.
Maka kali ini, dia berbohong bila berkata, "Aku tidak tahu siapa itu bos besar Gafrillo."
Sanubari tidak ingin mengungkap identitasnya sekarang. Dia hanya ingin bergerak sendiri. Lagi pula, dia tidak tahu masalah apa yang akan menerpanya bila terang-terangan membeberkan jati diri.
Mengingat identitas ayahnya tidaklah biasa, pastilah akan mempersulit pergerakannya. Dia juga sudah mendengar rencana Abrizar terhadap Aeneas. Meskipun banyak figur yang segan terhadap Aeneas, Sanubari belum ingin memanfaatkan kedudukan ayahnya untuk keuntungannya sendiri.
Terlebih lagi, hubungan Sanubari dengan sang ayah tidak sedang baik-baik saja sekarang. Sampai sesaat yang lalu, dia masih memusuhi ayahnya. Ada keinginan untuk berbaikan setelah melihat Shima dan Kouhei. Namun, dia belum sepenuhnya yakin.
"Benarkah?" selidik Shima yang belum sepenuhnya percaya.
"Iya, aku memang pernah tinggal di Italia, tetapi aku tidak tahu organisasi yang Paman maksud."
"Lalu, bagaimana kau bisa tahu tentang Onyoudan?"
__ADS_1
"Kebetulan aku membaca sebuah majalah. Sepertinya menyenangkan bekerja di sini. Apalagi ketika membaca tentang profil dan keheroikan kak Eiji, aku makin ingin bekerja bersamanya," jelas Sanubari dengan sedikit grogi.
Alasan semacam ini sudah cukup sering Sanubari lontarkan. Saat bertemu Anki, juga wawancara masuk Onyoudan. Kebiasaan itu membuat Sanubari lebih mudah mengatakannya. Sedikit informasi dari Anki juga menumbuhkan keyakinan Sanubari.
"Membaca majalah?" batin Eiji menyadari keganjilan.
"Oh, majalah. Majalah kami memang sangat laris. Itu bahkan menjadi salah satu pendapatan utama terbesar organisasi." Shima tertawa.
Eiji meneguk sedikit tehnya, lalu meletakkan gelas kembali. Dia menyela, "Kau bilang membacanya?"
"Bagaimana kau bisa membacanya? Sementara mengerjakan tes tertulis masuk Onyoudan saja tidak bisa. Majalah kami memang diekspor, tetapi tidak ada yang dialih bahasakan. Tidak pula ada yang menggunakan romaji."
Editor Onyoudan selalu menyerahkan naskah kepada Eiji untuk ditinjau sebelum diterbitkan. Segala perizinan terkait penerbitan pun juga melalui Eiji. Dia tahu segalanya tentang bagaimana majalah-majalah tersebut didistribusikan.
Sanubari seperti mati kutu. Dia berhenti mengunyah. Tidak pernah terpikirkan sampai sejauh itu sebelumnya.
__ADS_1
Dia hanya pernah Mendengar tentang majalah dari Anki. Sementara isinya, Sanubari sekali pun belum pernah melihatnya secara langsung. Suasana terasa memanas bagi Sanubari.
Dirinya seperti sedang berada di tengah persidangan. Perasaan tertekan tidak bisa disingkirkannya begitu saja. Kepalan tangan kiri pun kian basah.
"Gunakan penerjemah! Untuk apa punya ponsel pintar tidak dimanfaatkan?" Kata-kata Abrizar beberapa hari yang lalu tiba-tiba terdengar dalam angan Sanubari. Itu adalah pencerahan baginya.
Sanubari menyeringai. Dia yakin jawabannya kali ini akan meloloskannya dari kecurigaan. Tanpa ragu, dia mengucapkan, "Aku memakai penerjemah di ponsel pintar. Jadi, aku bisa tahu isi majalah, meskipun tidak bisa membaca huruf Jepang dengan baik."
Pembicaraan yang berlangsung kian membuat Sanubari tersudut. Namun, dia berhasil berkelit dengan mengatakan beberapa kebohongan. Kecurigaan Shima terhadapnya pun melonggar.
Setelah urusan di kediaman Akamizu selesai, mereka menuju kantor Onyoudan. Keempatnya berjalan ke kedai tepat di sebelah kantor.
"Waktunya makan-makan! Sudah lapar berat dari tadi," ujar Renji mengelus perut di sebelah Sai.
Sanubari berjalan di belakang keduanya, sedangkan Eiji berada paling belakang. Dia memperhatikan Sanubari. Ada hal yang dipikirkannya tentang remaja di hadapannya.
__ADS_1
"Sepertinya aku harus memeriksa latar belakang bocah ini sekali lagi."