
Malam diculiknya Sanubari, Aeneas dan orang-orangnya berkumpul di kota yang berbeda.
"Bukan Bella pelakunya."
Ketua tim yang ditugaskan untuk menyelidiki kematian Sanum sekaligus penculikan Sanubari beberapa tahun silam melapor. Bella memang sempat dicurigai karena ia satu-satunya pelayan yang terakhir kali ke kamar Sanum waktu Aeneas tiba di rumah. Tidak ada barang bukti apa pun yang bisa mengarah pada tersangka sebenarnya.
Namun, setelah serangkaian pemeriksaan, ditemukan adanya obat tidur dalam tubuh Sanum, sedangkan Sanum tidak pernah mengonsumsi obat tidur. Berdasarkan keterangan Natasya, malam itu yang mengantarkan makanan untuk Sanum adalah Matilda. Tidak ada lagi seseorang yang ke kamar Sanum setelahnya, kecuali Bella yang membawakan jus lalu berpapasan dengan Aeneas.
Bella terbebas dari tuduhan karena fakta mengatakan bahwa Sanum telah meninggal sebelum Bella naik ke atas. Yang artinya bukti memberatkan Matilda.
Tim intelijen yang ditugaskan untuk mengusut tuntas kasus penculikan Sanubari juga menyatakan bahwa dalang penculikan lima tahun serta tujuh tahun silam adalah orang yang sama. Yaitu, Matilda. Termasuk kasus penembakan di Saugerties.
Mereka berhasil menangkap pelaku penembak jarak jauh dan menginterogasinya. Mantan presiden Israel—Barnabas Boas juga sukses dibuat membuka mulut sebelum menghembuskan napas terakhir.
Anehnya, hasil penyelidikan mengatakan bahwa pelaku peracunan Sanum tujuh tahun yang lalu adalah orang yang berbeda. Tim intelijen masih memiliki satu PR lagi perihal ini. Sampai detik ini mereka belum menemukan siapa yang telah membayar pria yang berpura-pura menjadi pegawai hotel waktu itu.
Aeneas nampak gusar setelah mendengar semua itu. Ia menyesal telah membiarkan Matilda masuk dalam keluarganya. Padahal ia menerima Matilda demi menghormati ibunya, tetapi malah petaka yang ia dapat. Istrinya terbunuh, putra sulungnya menjauh gara-gara wanita licik itu. Karena itulah, Aeneas sangat malas berurusan dengan makhluk yang disebut perempuan. Hanya ibunya dan Sanum yang berhasil mendapat ruang dalam hati Aeneas.
"Saya sudah menyuruh beberapa orang untuk menangkap Matilda di vila danau Garda," pungkas ketua tim intelijen mengakhiri laporan.
Di saat yang bersamaan, ponsel ketua tim dan Kelana berbunyi. Mereka langsung mengangkat ditempat.
"Apa? Matilda tidak ada di vila?" sentak ketua tim intelijen terkejut.
Bersamaan dengan itu, Kelana berseru panik, "Gawat, tuan muda Sanu diculik lagi!"
Kelana mengirim satu orang untuk mengawasi Sanubari ketika iklan viral yang memberitahukan keberadaan remaja itu sampai padanya. Dia juga mengirim orang tambahan ketika mendengar kabar Sanubari diserang. Namun, Sanubari berhasil menyelesaikan masalahnya sendiri sebelum bala bantuan datang. Mereka pun pada akhirnya hanya mengamati dari jauh.
"Apa? Jadi, Matilda menculik Sanu lagi?"
Begitulah pikir Aeneas. Matilda tidak ada di vila, mungkin saja wanita itu diam-diam mencari keberadaan Sanubari untuk menyingkirkannya. Aeneas tidak habis pikir, bagaimana mungkin wanita yang dianggap baik oleh ibunya bisa bertindak sejauh ini. Sebatas pengetahuan Aeneas, Matilda tidak pernah berhubungan dengan musuh-musuhnya. Aeneas sungguh tidak tahu apa tujuan Matilda ingin membunuh istri dan anak-anaknya.
"Tidak, bukan Matilda yang menculik tuan muda Sanu kali ini, tapi Pegagon. Tuan Aeneas tidak perlu khawatir! Malam ini juga saya akan menemui pemimpin Pegagon untuk membebaskannya," ujar Kelana.
__ADS_1
"Anak itu ... kenapa bisa sampai berurusan dengan Pegagon?"
"Sepertinya tuan muda Sanu masuk ke klub Infinity Heaven tanpa tahu tempat semacam apa itu," jelas Kelana sambil mendengarkan keterangan dari seberang telepon.
"Kalian cari Matilda sampai ketemu! Masalah Sanubari, aku sendiri yang akan mendatangi pria itu!" ucap Aeneas.
Semua orang langsung membubarkan diri, melaksanakan perintah Aeneas. Terkecuali Kelana. Sebagai asisten pribadi, Kelana yang akan menemani Aeneas menemui ketua Pegagon.
Aeneas beranjak keluar diikuti Kelana. Mendadak Aeneas berhenti. Ia teringat dengan Matilda.
"Ada apa, Tuan?" tanya Kelana ikut berhenti.
Aeneas melamun. Pikirannya menerawang jauh. Jika Matilda tidak mengejar Sanubari, itu berarti ada kemungkinan dia berada di rumah Asia. Prasangka itu datang begitu saja. Bagaimanapun juga, anak-anaknya yang lain ada bersama nenek mereka. Tidak menutup kemungkinan Matilda akan nekad membunuh mereka juga. Kehilangan Sanum dan UKA sudah cukup baginya. Tidak akan dibiarkannya lagi wanita itu mengambil satu per satu harta berharganya.
"Hubungi Elfata! Aku ingin bicara dengannya," perintah Aeneas.
Kelana langsung menelepon. Cukup lama ia menunggu jawaban. Waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam, wajar saja jika telepon tidak segera tersambung. Mungkin Elfata sedang tertidur. Kelana langsung memberikan ponsel kepada Aeneas begitu tersambung.
Ia mengembalikan ponsel kepada Kelana lalu melanjutkan perjalanan. Mereka bertamu ke apartemen pemimpin Pegagon tanpa peduli waktu. Bukannya tidak tahu tata Krama atau tidak ada hari esok, tetapi Aeneas tidak ingin putra sulungnya berakhir memiliki masa depan kelam bersama Pegagon.
"Signor Gafrillo, che succede a quest'ora della notte a casa mia?"
(Tuan Gafrillo, ada apa malam-malam begini Bertamu?)
Pemimpin Pegagon—Lucky mendadak grogi begitu tahu siapa yang telah mengusik jam istirahatnya. Ia sangat mengenal Aeneas. Tidak mungkin Raja Dunia itu mencarinya tanpa alasan.
"Libera mio figlio!"
(Bebaskan putraku!(
"Eh? Che cosa intendi?"
(Hah, apa maksud Anda?)
__ADS_1
"I tuoi uomini hanno catturato mio figlio, Sanubari. Se gli succede qualcosa o osi toccarlo, non esiterò a eliminare te e la tua organizzazione."
(Anak buahmu menangkap putraku—Sanubari. Aku ingin kau melepasnya. Jika terjadi apa-apa padanya atau kau berani menyentuhnya maka kau dan seluruh organisasimu akan lenyap.)
*****
Sementara itu di ranjang empuk kota tak jauh dari kediaman Asia, seorang pria setengah mengantuk sedang berusaha mencerna perintah cepat yang terucap dalam satu tarikan napas. Tak ada kesempatan untuk bertanya. Sambungan diputus begitu saja secara sepihak. Dia adalah Elfata.
Ditinggalkannya istri yang terlelap di sebelah. Tanpa mandi, Elfata langsung berganti baju dan meraih mantel. Tak lupa beberapa bawahan diajak serta sebagai pengawal.
Ia belum tahu kemana akan membawa keluarga bosnya, tetapi perintah kilat harus segera dilaksanakan. Tidak boleh ditunda. Perihal tujuan, akan ia pikirkan setelah menjemput mereka.
Sesampainya di rumah Asia, ia langsung masuk tanpa permisi. Para pengawal disuruh tetap di luar untuk berjaga-jaga. Demi keamanan, empat asisten pribadi Aeneas memang diberi kebebasan akses keluar masuk seluruh properti milik Aeneas. Oleh sebab itu, ia bisa masuk rumah tanpa harus menunggu sang empunya.
Elfata cukup hafal dengan rumah Asia karena dia juga yang membantu sekaligus mengawal anak-anak saat dipindahkan ke tempat Asia. Beberapa hari ini ia juga rutin mengunjungi mereka. Saat mencapai area dalam, Elfata melihat pintu kamar anak-anak terbuka. Dengan langkah senyap, Elfata mendekati kamar tersebut.
Dalam kegelapan ruangan, seorang wanita berdiri di dekat salah satu ranjang bayi. Wanita itu menggenggam pisau dengan ujung lancip mengarah ke bawah. Tiba-tiba pisau diayunkan.
"Apa yang Anda lakukan, Nona?" Elfata menahan tangan kanan Matilda.
Matilda terkesiap. Namun, segera dikendalikannya kegugupan. Ia menoleh pada Elfata sambil berdecak kesal. Sesaat kemudian, ekspresi kesal Matilda berubah menjadi senyuman kelicikan.
Elfata menyadarinya. Lekas dialihkannya pandangan pada tangan wanita itu. Tangannya terbegar, pisau di tangan terjatuh. Dengan sigap Elfata menangkap pisau tersebut.
Sejenak Elfata terperangkap dalam ketegangan. Telat sedikit saja maka pisau itu akan benar-benar menusuk putra bungsu Aeneas. untungnya ia berhasil menangkap pisau, meskipun ujung pisau sudah menyentuh baju bayi yang tengah terlelap. Karena itu, Matilda terbebas dari cengkeraman Elfata.
Ia buru-buru kabur dari tempat itu. Elfata tidak mengejarnya, tetapi ia menghubungi beberapa anak buah yang menyertainya untuk menangkap Matilda. Sementara Elfata sendiri harus memastikan bahwa anak-anak yang berada di kamar itu baik-baik saja. Itu hal terpenting.
Misinya adalah mengamankan anak-anak. Kecolongan satu saja maka bisa jadi nyawanya sendiri yang harus jadi penebus. Tentu ini adalah misi yang tak mudah.
"Syukurlah."
Elfata menganjur napas lega. Tidak ada yang terluka. Bergegas ia menuju kamar Asia. Ia tahu bahwa tidak sopan bertamu sedini ini, tetapi ini adalah perintah Aeneas.
__ADS_1