
Muktar hampir saja kehabisan napas ketika tiga orang masuk kamar. dua pria dan satu perempuan. Mereka adalah Kyai Samad, Fahri, dan Aini. Aini rupanya memanggil bantuan.
"Aini, bawa Ustaz Muktar keluar!"
Kyai Samad merenggangkan cengkeraman Irsyad. Dibantu Fahri, dia memegangi dan menjauhkan Irsyad dari Muktar. Kyai Samad tampak menyuntikkan sesuatu pada Irsyad. Muktar berpikir kemungkinan itu adalah obat penenang.
"Mari, Ustaz!"
Aini membantu Muktar berdiri. Mereka keluar kamar. Kemudian, Aini menutup pintu. Keduanya berjalan ke dapur.
"Duduk culu, Ustaz!" tawar Aini.
"Terima kasih, tapi saya harus siap-siap."
"Memangnya ada apa? Kok sampai ada bunyi gedubrak keras banget tadi?" tanya Raisha. Dia baru saja selesai mencuci perkakas.
Muktar tersenyum sambil menjawab, "Tidak apa-apa."
"Tidak apa-apa kok sampai membuat Aini lari-lari seperti sedang panik?" selidik Raisha.
"Cuma jatuh tadi. Saya pergi dulu, assalamualaikum!"
Mutar keluar. Saat berjalan menyusuri jalan setapak, Muktar sekali lagi menoleh ke meja yang terbuat dari Tunggul. Tidak ada apa-apa di sana.
Hari itu, usai jamaah Zuhur, Muktar kembali mencari di area masjid. Hasilnya nihil. Sekitar dua atau tiga minggu setelahnya, jam tangan itu kembali. Muktar menemukannya di loker.
Dia berpikir bahwa mungkin jam tangannya terjatuh di suatu tempat, lalu seseorang mengambil dan mengembalikannya. Kemudian, dia ke resepsionis untuk bertanya, "Mas, yang mengembalikan jam tangan ini siapa, ya?"
Dia menunjukkan jam tangannya. Penjaga itu mengernyit.
"Maksudnya, ada yang pinjam, lalu mengembalikan pada Ustaz? Bukannya Ustaz lebih tahu daripada saya? Kok malah tanya saya?"
"Jam tangan ini sudah lama hilang, Mas. Dan saya menemukannya tadi di loker. Jadi, saya pikir ada yang menitipkannya ke resepsionis."
"Dari pagi saya jaga, tidak ada yang menitipkan barang. Entah bagaimana dengan yang piket kemarin. Tapi, benda sebesar itu bisa langsung dimasukkan melalui lubang surat tanpa melalui kami. Tapi, nanti saya coba tanyakan pada yang lain."
"Terima kasih atas informasinya."
__ADS_1
Hari berlalu. Akan tetapi, Muktar tidak pernah mendapatkan kejelasan siapa yang telah mengembalikan arlojinya. Dia juga menitipkan bingkisan untuk penemunya di resepsionis. Bingkisan tersebut dipajang di resepsionis. Terpampang jelas di balik dinding kaca.
Minggu berganti bulan, tidak ada yang mengambil bingkisan itu. Muktar pun mengambilnya kembali. Bingkisan tersebut pun dibaginya menjadi dua, lalu diberikan pada Raisha dan Aini.
"Ustaz Muktar!" Panggilan itu terdengar setelah Muktar menyerahkan bingkisan.
"Bisa manjat?"
"Insyaallah, Pak Kyai."
"Bisa tolong petikkan kelapa muda? Sekalian belahkan nanti! Saya lagi kepingin minum air kelapa."
"Siap, Pak Kyai!"
Muktar mengambil golok. Dia memanjat pohon kelapa yang ada di dekat kolam. Sesampainya di atas, Raisha muncul dari dapur.
"Ustaz Muktar, tambah dua kalau ada, ya! Buat saya sama Aini. Sudah izin Pak Kyai tadi."
Raisha berteriak dari bawah. Muktar tidak menjawab. Dia menjatuhkan delapan kelapa muda, lalu turun. Dia juga membuatkan lubang pada kelapa.
Dari arah dapur, Aini membawa gelas besar. Yang pertama disuguhkan pada Kyai Samad yang sedang membaca kitab di rumah.
"Ustaz sudah menikah?" tanya Raisha sambil mengeruk kelapa muda dari batok.
Sementara Muktar membelah kelapa muda yang airnya telah dituang ke panci. "Belum."
"Kalau begitu, boleh saya daftar jadi jodoh Ustaz?" tanya Raisha lagi.
"Kalau memang berjodoh, suatu saat kita mungkin akan bersama. Tapi, sebaiknya kamu tidak mengharapkan saya."
Muktar sudah memiliki pilihan. Dia sudah berniat melamar gadis yang memberinya arloji setelah gadis itu lulus nanti. Saat ini, mereka hanya berteman, tetapi Muktar cukup puas dan rela bersabar menunggu sampai dia menyelesaikan pendidikan.
"Jadi, kesempatan saya setengah-setengah nih? Enggak enaklah, Ustaz! Rasanya tuh seperti digantung," ujar Raisha.
Muktar mengembalikan golok begitu selesai. Mereka menikmati es degan di teras dapur sembari melihat air mancur.
Tiba-tiba, Aini berlari meninggalkan mereka. Gelasnya ditinggalkan di kursi kayu begitu saja. Tatapan Muktar mengikuti kepergian Aini.
__ADS_1
"Kenapa Aini?"
"Mungkin masuk angin. Dari tadi pagi, dia muntah-muntah. Saya susul dia dulu, ya Ustaz!" pamit Raisha.
Itu adalah awal mula keanehan Aini. Di kelas pun Aini menjadi sangat pendiam. Dia tidak pernah aktif lagi. Hanya menjawab ketika ditanya.
Tiga hari berikutnya, jam tangan Muktar kembali hilang. Dia tidak bisa menemukannya di mana-mana. Dua hari selanjutnya, Raisha mulai menghindarinya.
Itu cukup terlambat andai diasumsikan penyebabnya merupakan penolakan tempo hari. Sebab, Raisha masih bersikap biasa tepat setelah penolakan dan beberapa hari berikutnya.
Kemudian, Aini tidak pernah lagi masuk sekolah. Tiga hari berturut-turut, dia absen. Di rumah Kyai Samad pun tidak terlihat.
Para guru memperbincangkan ketiadaan Aini. Mereka tidak menghubungi keluarga, melainkan melakukan penyelidikan di area pondok pesantren. Akhirnya, para ustazah memutuskan untuk mendatangi kamar Aini.
Mereka mengetuk pintu. Namun, tiada jawaban dari Aini. Mereka tidak mengerti alasan kaburnya Aini. Pasalnya, anak itu tergolong anak yang cerdas. Nilai akademiknya selalu menjadi nomor satu seangkatan.
Untuk mencari petunjuk lebih lanjut, Para Ustazah pun meminta petugas membuka kamar Aini yang terkunci. Bau bangkai seketika menguar ketika pintu dibuka. Mereka semua terkejut. Aini tergeletak tak bernyawa di ranjangnya.
Polisi pun dipanggil. Mereka keluar/masuk area pesantren, menanyai setiap orang. Di antara bukti yang ditemukan, ada jam tangan dan golok yang menancap di perut Aini.
Pada gagang golok, ditemukan sidik jari Muktar. Hudi pun bersaksi bahwa arloji yang ditemukan polisi di kamar korban merupakan milik Muktar.
"Jam tangan itu memang milik saya, tapi saya tidak membunuh. Demi Allah, Pak Polisi! Saya mohon, percayalah saya, Pak Polisi!"
Tidak peduli berapa kali pun Muktar memohon, mereka tidak menghiraukannya. Polisi menyeretnya ke kantor polisi.
"Tidak perlu mengelak! Bukti sudah jelas dan korban lain juga mengatakan bahwa Andalah yang melakukan perbuatan asusila terhadap mereka."
"Korban lain?"
Muktar semakin dibuat bingung. Dia tidak pernah melakukan tindakan tercela pada siapa pun. Bagaimana bisa mereka menuduhnya seperti itu? Begitulah hatinya bertanya-tanya.
Hari sidang pun tiba. Para saksi semua memberatkannya. Raisha hadir sebagai salah satu korban yang memberi kesaksian. Terjawab sudah mengapa sikap gadis itu mendadak berubah terhadapnya.
Tidak lain karena gadis itu bersaksi, "Setiap malam, beliau mendatangi saya dan memaksa saya untuk melakukan itu. Meski wajahnya ditutup dan suaranya dibuat-buat, tapi saya mengenali jam tangan beliau. Beliau selalu memeriksa jam dan keluar di jam yang sama setiap malamnya."
Lalu, Hudi memberikan kesaksian yang lebih memberatkan. "Malam itu, memang jadwal piket Ustaz Muktar untuk patroli malam. Kami harus memeriksa semua pintu penghubung asrama putra dan putri terkunci. Ustaz Muktar mungkin memanfaatkan jam patroli itu untuk mengunjungi asrama para santriwati. Dia juga sering mengeluhkan bahwa jam tangannya hilang, tapi kembali setelah beberapa waktu. Mungkin, jam tangan Ustaz Muktar tidak benar-benar hilang, melainkan lupa dipakai lagi setelah dilepas. Jadi, jam itu tertinggal Di kamar santriwati."
__ADS_1
Lengkap sudah tuduhan yang kian memojokkan Muktar. Bukti-bukti tersebut tanpa cela. Segala yang keluar dari mulut Muktar pun dianggap kebohongan belaka.