
Orang-orang dari Onyoudan beralih menanyai para perawat setelah gagal menemukan Anki. Para dokter pun tidak luput dari interogasi mereka.
"Maaf Tuan-tuan, Anda tidak boleh memasuki ruang operasi!"
Seorang suster menegur dengan bahasa Indonesia karena mereka tetap menerobos, meski telah diperingatkan dalam bahasa Jepang. Sudah menjadi pengetahuan umum bila seseorang tidak mengerti bahasa Jepang, maka mereka bisa memakai bahasa Indonesia sebagai gantinya.
Perkembangan bahasa Indonesia ini cukup pesat. Persebarannya pun merata sampai ke berbagai lapisan. Apalagi, dengan tingginya minat pelajar Jepang untuk melakukan pertukaran pelajar ke Indonesia sejak dahulu kala. Pun sebaliknya. Tidak mengherankan bila orang-orang terpelajar menguasai bahasa Indonesia.
Maka, ketika bahasa Indonesia diumumkan sebagai bahasa Internasional belum genap satu dekade ini, bahasa tersebut pun mudah diterima masyarakat. Ditambah dengan pengaruh Onyoudan yang cukup luas, tidak mengherankan bila bahasa tersebut langsung meroket.
"Tuan!"
Suster mencoba memegang lengan salah satu pria. Namun, pria itu mendorong suster sampai terjatuh.
"Berisik! Jangan mengganggu pekerjaan kami!" Pria itu tetap melangkah maju, mengabaikan suster.
Mereka benar-benar seenaknya, tidak sadar bahwa perbuatan mereka sendiri juga mengganggu. Pasien yang sedang berbaring di ranjang operasi menjadi panik setelah mendengar keributan tersebut.
Domter terus mengajaknya berbicara, mengatakan hal-hal yang menenangkan sambil bekerja. Bagaimanapun keadaannya, profesionalitas tetap harus dijunjung.
Salah satu rekan pria itu berjongkok di dekat suster. Dia tersenyum dan berkata, "Maafkan temanku. Kami sedang dalam kondisi terdesak mencari buronan. Jadi, terpaksa melakukan ini. Ini demi keamanan kalian juga."
Pria itu menawarkan diri untuk membantunya berdiri. Dia bersikap seramah mungkin.
"Bu-buronan?" Suster itu tampak gelisah ketakutan setelah mendengar satu kata itu.
Dia menjadi was-was. Dia tidak bisa tenang bekerja dengan pelaku kriminal berkeliaran di sekitarnya. Tubuhnya mendadak merinding.
"Iya, mohon pengertiannya! Mereka telah melakukan pembantaian yang menewaskan ratusan jiwa. Kami harus segera menangkap mereka," kalimat itu terucap dengan mulus dari mulut sang pria.
Suhu ruangan operasi sudah sangat dingin. Mendengar kejahatan mengerikan tersebut rasanya membuat suhu kian dingin berkali-kali lipat. Sang suster merasa seakan membeku dalam balok es.
Dokter dan asistennya tetap melaksanakan pekerjaan tanpa menghiraukan gangguan yang datang. Sesekali, dia menanyai pasiennya apakah sakit masih terasa atau tidak.
Sang asisten pun menuangkan cairan bius lokal tambahan ketika dokter meminta. Dokter dengan cekatan menyayat-nyayat daging dengan pisau bedah. Di tengah kesibukannya itu, selembar kertas disodorkan padanya.
"Apa kau melihat mereka?" tanya pria lancang itu.
__ADS_1
Dikarenakan pandangan terhalang, dokter pun menghentikan aktivitasnya. Dia melihat cepat pada foto, lalu menjawab, "Tidak."
Yang utama saat ini adalah pasiennya. Dia tidak ingin serius menanggapi orang yang tidak bisa membaca situasi kondisi, tidak peduli siapa pun itu.
Sang asisten melakukan hal yang sama. Orang-orang itu pun keluar.
"Beri tahu kami bila kau melihat salah satu di antara mereka!" Pria itu meninggalkan selembar kertas,lalu menyusul rekannya.
Yang lain pun melakukan hal serupa. Sebagian di antara mereka menuju pusat keamanan. Memeriksa rekaman kamera pengawas dari malam sebelumnya.
Mereka melihat Anki, Abrizar, Sai, dan Renji masuk ke elevator bersama seorang dokter. Mereka pun memeriksa rekaman yang memperlihatkan elevator dari lantai ke lantai.
"Aneh. Kenapa mereka tidak terlihat keluar sama sekali dari elevator?"
Tiga puluh menit berlalu, tetapi hanya tampak orang-orang berbeda yang berlalu lalang. Keganjilan itu pun dirasakan yang lain. Mereka memelototi layar dengan percepatan empat kali lipat
"Keluar! Ulangi-ulangi!" seru salah satu di antara mereka tiba-tiba.
Semuanya terperanjat. Video pun dijeda. Tempo diperlambat, lalu dimundurkan dan tombol putar ditekan. Mereka memperhatikan tayangan dengan seksama.
"Bukankah itu dokter tadi?"
"Kenapa hanya dokter itu?" Pria itu mengerutkan dahi.
Mereka mencoba menelusuri rekaman dari lantai ke lantai sekali lagi. Namun, hasilnya nihil
"Ke mana yang lain?" Pria lainnya mengangkat sebelah alis.
Anki dan yang lainnya lenyap tanpa jejak. Mereka seperti hantu. Sulit mempercayai apa yang mereka saksikan sendiri.
"Mungkinkah kamera pengawas di sini rusak?" Yang lainnya lagi mulai menduga-duga.
"Mungkin dokter ini tahu sesuatu."
"Benar. Kita harus mencarinya!"
Sementara itu, Fukai tampak risau setelah melihat orang-orang berpakaian hitam berseliweran. Lambang pada pakaian orang-orang itu sudah cukup mengatakan siapa mereka. Dia bergegas memasuki ruangannya.
__ADS_1
Menarik laci meja kerja, dia mengambil satu kartu yang tersisa. Dalam ruangan itu, Fukai telah menyiapkan ransel dan koper jinjing kecil berisi obat-obatan serta perlengkapan medis lainnya.
Dia buru-buru menyandang ransel dan membawa koper. Saat hendak keluar, dua orang memasuki ruangannya.
"Dare KA?"
Mereka tidak menjawab pertanyaan basa-basi Fukai tersebut. Salah satu dari mereka mengangkat kertas yang tergenggam di tangan kanan. Dia menunjukkannya pada Fukai.
"Aitsura o mita koto ba Aru?"
"Iie." Bohong jika Fukai menjawab tidak.
Dia jelas mengenal dan pernah bertemu dengan siapa saja yang tercetak dalam selebaran itu. Namun, dia terpaksa melakukannya. Dia harus melindungi keberadaan mereka.
"Iitai koto ga mada arimasu ka? Soro-soro kaeru jikan Na node, nakattara osakini shitsurei shimasu!" Fukai membungkuk hlrmat. Dia berpamitan untuk pulang bila sudah tidak ada lagi yang perlu mereka tanyakan.
Mereka masih berdiri di depan Fkai, hendak berbalik badan dan pergi juga. Namun, sebuah pengumuman terdengar melalui alat komunikasi yang tersemat di telinga.
"Buka pesan yang kukirim ke ponsel kalian xekarang juga! Korek informasi darinya bila kalian bertemu dengannya!"
Mendengar itu, mereka langsung membuka ponsel. Betapa terkejutnya mereka ketika melihat isi pesan. Itu foto dokter yang sekarang sedang berjalan ke pintu keluar.
"Usotsuki!" Teriak mereka yang geram telah ditipu.
Keduanya berlari, tetapi terlambat. Fukai telah meraih kunci ruangan dan mengurung keduanya. Mereka menggedor-gedor pintu, mencoba mendobraknya.
Tidak ada waktu untuk memedulikan mereka bagi Fukai. Dokter pria itu berlari menyusuri koridor, menuju elevator.
Pintu elevator terbuka. Namun, ada orang di dalamnya.
"Osaki ni, douzo!" Fukai tersenyum ramah, mempersilakan mereka memanfaatkan elevator terlebih dahulu.
Dia tidak bisa memakai elevator ketika ada orang. Sebab, tujuannya adalah lantai rahasia. Dia tolah-toleh waspada.
Fukai tidak tahu berapa lama pintu tadi bisa menahan mereka. Dia juga tidak tahu kapan komplotan mereka yang lain akan sampai ke tempatnya berpijak sekarang.
Baru saja Fukai berpikir seperti itu, elevator kembali terbuka. Kali ini, kotak berjalan itu mengangkut enam orang berseragam hitam-hitam. Satu orang menekan ombol supaya pintu tetap terbuka.
__ADS_1
Satu orang berjalan keluar dengan menodongkan pistol. Lima lainnya menyusul. Mereka mengelilingi Fukai, membentuk huruf u.
"Katakan di mana mereka!" perintah penodong tersebut.