
Keluar dari bandara, mereka menuju stasiun kereta bandara internasional central Nagoya, masih dalam area bandara. Ketiganya naik Meitetsu limited express selama tiga puluh lima menit. Turun di stasiun Nagoya, dilanjutkan berjalan kaki menuju kereta berikutnya. Mereka naik Higashiyama line.
Sepanjang perjalanan, Sanubari kebingungan menengok ke sana kemari. Jalannya begitu rumit, beruntung ada orang sepesawat yang bersedia membantu. Andai Sanubari sendiri, mungkin akan memakan waktu lebih banyak karena tersasar. Mereka juga dibantu membuat Manaca—kartu elektronik untuk transportasi umum sehingga tidak perlu bolak-balik membeli tiket selama saldo masih ada.
"Mamonaku Honjin. Honjin. Odeguchi wa migigawa desu."
Sebuah pengumuman kereta akan segera tiba di Honjin terdengar. Sanubari dan rombongan berdiri. Mereka mendekati pintu keluar di sisi kanan sesuai pemberitahuan.
Sanubari mengamati kereta. Di lawan arah juga ada pintu. Dia belajar hal baru. Di setiap kereta pasti ada pengumuman pintu mana yang akan terbuka. Dari stasiun Honjin, lagi-lagi mereka harus berjalan kaki naik turun tangga.
"Kalau begini terus, aku bisa kurus tanpa olahraga," batin Sanubari berusaha mengimbangi langkah lelaki itu sambil menuntun Abrizar.
Lelaki itu juga menjelaskan ada banyak pintu keluar masuk di setiap stasiun. Jika salah memilih, jarak yang seharusnya dekat bisa jadi jauh karena harus memutar. Dia sudah seperti pemandu wisata saja.
Sebenarnya ada pula elevator, tetapi lelaki itu mengatakan bahwa selagi masih bisa berjalan sebaiknya memanfaatkan kaki. Utamakan mereka yang lebih membutuhkan untuk menggunakan elevator. Sanubari hanya bisa menurut.
Keluar dari stasiun bawah tanah, mereka belok kanan. Kemudian, belok kanan lagi di persimpangan pertama, lurus beberapa meter. Mereka pun berhenti di depan bangunan kanan jalan. Bangunan tersebut berada di pertigaan.
Sanubari mengamatinya. Tidak seperti masjid. Begitulah kesan pertama Sanubari. Lelaki itu langsung berpamitan setelah mengantar Sanubari dan Abrizar. Setelah lelaki itu menghilang, Sanubari mendorong pintu kaca yang tidak terkunci.
Sanubari tersenyum lebar berdiri di dalam gedung. Mata remaja itu langsung memindai keberadaan toilet. Suasana bangunan begitu lengang, seperti tidak ada penghuni. Abrizar sudah duduk terlebih dahulu, melepas sepatu.
"Itu dia!" Kata Sanubari memandang tempat wudhu di seberang, lalu ikut melepas sepatu.
"Mereka tiba tepat saat azan Zuhur berkumandang. Sepertinya bangunan ini didesain kedap suara karena Sanubari tidak mendengar azan berlangsung dari luar sebelumnya. Berbeda sekali dengan Di Indonesia, Sanubari masih ingat dahulu ia bisa mendengar kumandang azan dari radius puluhan meter selama tinggal di tanah kelahiran. Mungkin suatu saat itu akan terjadi di Jepang juga.
"Ayo, Kak!" ajak Sanubari menggandeng Abrizar.
Ia menunjukkan tempat wudhu sebelum akhirnya masuk kamar mandi. Sanubari segera melepas baju kurung yang merangkapi pakaiannya, menyisakan kaos hitam lengan panjang dengan celana jin. Lagi-lagi ia tersenyum memandang pantulan wajahnya di cermin. Beberapa kali ia berdehem.
"Tes, tes, ah, leganya tidak perlu berpura-pura jadi perempuan lagi. Capek bersuara kemayu."
__ADS_1
Puas menyampaikan unek-unek, Sanubari lekas berwudhu. Setelahnya, mereka naik ke lantai dua. Lumayan luas. Di seberang tangga naik ada rak yang penuh dengan buku. Saat berbelok ke kanan, sebuah jam digital besar menempel di dinding, tepat di sebelah tempat imam.
"Fajar, subuh, duha, Zuhur, asar, Maghrib, isya." Sanubari mengernyit membaca jadwal salat pada jam digital.
Ada tujuh. Padahal biasanya hanya lima waktu. Duha, Sanubari bisa memahami. Ia sering melihat Abrizar melakukannya. Akan tetapi, baru kali ini Sanubari melihat tertulis waktu fajar sebelum subuh.
"Kok terselip jam Fahjar di antara waktu salat? Kupikir itu jadwal salat, tetapi kok lebih dari lima waktu, ya?" gumam Sanubari tidak mengerti.
"Wajibnya memang hanya lima waktu, tetapi sunnahnya lebih dari itu. Fajar itu salat sunnah sebelum subuh," jawab Abrizar.
"Oh, ada ya salat fajar?"
"Iya."
Mereka berjalan ke depan, memilih tempat menepi. Menyadari ada yang datang, seorang pria yang duduk di barisan terdepan pun menoleh. Pria Siria itu melihat Abrizar dan Sanubari yang sedang meletakkan barang masing-masing. Dibilang barang pun sebenarnya hanya dua tas kecil dan baju kurung yang sudah dilipat. Barang mereka yang lain terpaksa ditinggal di pesawat.
"Futari Domo, isshoni inorimasen KA?" tawar lelaki Siria itu mengajak salat berjamaah.
"Hai!" jawab Sanubari mengajak mendekat, "Kak, diajak jamaah. Ayo!"
Dia juga bercerita banyak. Kondisi masjid memang sepi di hari biasa. Ramainya hanya pada akhir pekan saja atau saat ada pelancong yang singgah beribadah. Di akhir pekan itulah kegiatan keagamaan diadakan, penyuluhan bagi mereka yang ingin masuk Islam, pengajian bagi mereka yang ingin mendalami Islam. Semua itu dilaksanakan tanpa pemungutan biaya sedikit pun. Namun, diperkenankan bagi mereka yang ingin menjadi donatur seikhlasnya.
Sanubari sangat kagum dengan kepengurusan kegiatan islami ini. Mereka benar-benar mengajar tanpa mengharapkan imbalan. Sanubari dan Abrizar bahkan mendapat buku juz Ama gratis, lengkap dengan arti dan tafsir dalam bahasa Jepang. Lelaki itu juga memberi minuman dan camilan sebelum pergi.
Sanubari menyimpan bukunya ke tas,, lalu melihat-lihat buku di rak. Ia penasaran sejak pertama kali masuk. Begitu banyak kitab dan literasi Islam berjajar rapi. Sanubari ingin membaca, tetapi urung. Matanya belum siap memahami huruf yang seperti mie. Tidak ada satu pun buku beromaji. Sepertinya buku-buku ini memang diperuntukkan bagi orang Jepang
Sanubari terus memperhatikan satu per satu buku. Hingga matanya menangkap sesuatu yang menarik perhatiannya. Cukup lama ia berdiri di tempat. Tatapannya tertuju pada sebuah buku bersampul sakura.
"Ini kok mirip kanji Shiragami, ya?" Tapi ini yang dua lagi apa?"
__ADS_1
Sanubari mengambil buku tersebut. Sanubari hafal kanji shiroi yang menjadi huruf pertama Shiragami karena bentuknya sederhana, seperti kartu domino tanpa angka berfatkah. Sedangkan kanji kami terlihat seperti sate bagi Sanubari. Ia suka kanji kami. Sanubari membuka buku tersebut.
"Hah, lagi-lagi mie keriting," keluhnya kesulitan membaca.
Namun, ia tidak mengembalikan buku tersebut. Ia berusaha keras untuk membaca. Kata Shiragami yang tertulis di sampul membuatnya ingin mengetahui isi catatan.
Tiba-tiba Mosan berbisik, "Butuh bantuan untuk membaca."
Sanubari langsung menjawab dengan antusias, "Iya."
Mosan pun membacakan hasil terjemahan. Dari awal sampai pertengahan terdengar seperti catatan biasa tentang dasar-dasar agama Islam. Sampai di suatu halaman, terdapat catatan yang terdengar seperti curhatan.
"Islam terdengar menyejukkan. Hatiku tersentuh. Aku ingin memeluk Islam, tetapi aku menikmati hari-hariku menjadi gadis kuil. Sungguh dilema bagiku. Makin aku mempelajarinya, aku makin ingin tahu lebih dalam. Aku ingin kakak mengetahui keindahan ini. Mungkinkah dengan begitu dia bisa berhenti dari dunia itu?"
"Kakak? Memangnya Shiragami Eiji punya kakak?" Sanubari menutup buku, "Penjaga Perkasa, baca nama yang tertera."
"Shiragami Anki."
"Oh, bukan Shiragami Eiji toh? Pantas saja menyebut dirinya sendiri sebagai gadis." Sanubari menguap.
Rasa kantuk mulai melanda. Ia mengembalikan buku catatan tersebut, tidak lagi menganggapnya penting. Di seberang, Abrizar duduk bersandar di bawah jendela. Tangannya sibuk memainkan ponsel, melacak keberadaan Aifka dan barangnya.
Pesawat yang dirampok itu sepertinya mendarat di sekitar Kagoshima. Mereka belum membongkar muatan. Abrizar juga mulai kelelahan setelah penerbangan sepuluh jam lebih tanpa istirahat. Ia memutuskan untuk melaksanakan misi nanti malam. Sekarang, ia hanya ingin memejamkan mata yang berat.
———©———
Catatan :
Di bawah ini kanji favorit Sanubari yang dibilang seperti sate :
__ADS_1
Beginilah cara menulis Shiragami Anki :