Santri Famiglia

Santri Famiglia
Saling Terhubung


__ADS_3

"Kami hanya ingin bertemu Sanu."


Terlepas dari apa yang pernah terjadi di antara keduanya, Aldin berusaha bersikap biasa.


"Oh, anak itu. Aku juga belum bertemu dengannya beberapa hari ini. Terlalu banyak kerjaan yang harus kurus."


"Sanu sibuk dengan urusannya sendiri. Dia juga mengingkari janjinya padaku. Ayo berangkat, Kak Jin!" ajak Anki.


Dia kesal. Satu jam sebelumnya, dia berusaha menelepon Sanubari, tetapi tidak diangkat. Beberapa hari ke belakang pun Anki melakukan hal yang sama. Namun, hasilnya nihil. Anki pun mendatangi rumah para pria. Yang ada hanya kakaknya, Abrizar, dan Akbar.


"Baiklah, ayo!" Jin melihat pada Anki. Gadis itu selalu berpenampilan sederhana, tetapi tetap menarik di mata Jin. Sungguh, Jin tidak pernah merasakan debar seperti ini sebelumnya. Demi melihat gadis ini, dia bahkan rela dimarahi King. Lebih tepatnya, dimarahi karena membiarkan Sanubari mengobrak-abrik tatanan yang ada.


Walau yang dirusak hanya sektor kecil yang tidak berdampak fatal untuk keseluruhan asosiasi, itu tetap tidak bisa diremehkan. Seharusnya, Jin melapor sehari setelah eksekusi atau selambat-lambatnya empat hari setelah hari yang ditetapkan. Akan tetapi, Jin tidak melakukan itu.


Akibatnya, pihak tak dikenal melakukan tindakannya pada King terlebih dahulu. Jin bersikap masa bodoh dengan pelapor itu. Jin masih bisa mengatasi masalah yang ditimbulkan hanya dengan berkata, "Mau bagaimana lagi bila yang melakukan ini adalah anak bos besar sendiri?"


"Sial! Ini sungguh menyulitkan! Cepatlah pulang! Kita harus membicarakan ini. Ini tidak bisa kita bicarakan lewat telepon."


Begitulah pemakluman yang akhirnya dia dapat. Keputusannya melepaskan Wongso pun tidak dipermasalahkan. Kebebasan Wongso tidak seberapa dibandingkan masalah yang ditimbulkan Sanubari. Kerusakan itulah yang menjadi fokus King saat ini.


Sebagai bayaran atas segala tanda keruwetan yang muncul, Jin harus meninggalkan Blitar esok pagi. Sebagian urusan yang belum terselesaikan dialihkan ke pihak lain. Dia harus memberikan kesan terbaik di hari terakhir ini. Entah kapan lagi, dia bisa bertemu dengan Anki.

__ADS_1


"Lanjutkan urusan kalian! Kami pergi dulu!" Jin tersenyum pada Aldin.


Anki berjalan mengikuti Jin. Bisa Aldin lihat, Jin mendorong pintu belakang yang dibuka Anki kembali tertutup. Mereka berdua tampak akrab.


"Jangan di belakang! Aku tidak mau kita terlihat seperti nona majikan dan sang sopir." Jin menggandeng Anki, mengajaknya melangkah ke pintu seberang, lalu membukakan pintu untuknya.


"Aku bisa membuka pintu sendiri."


"Akan tidak sopan bila aku membiarkanmu melakukan itu sendiri. Bukankah ini yang seharusnya dilakukan seorang pria?"


"Aku bukan bangsawan. Ini bukan pula era aristokrat."


"Tidak perlu menjadi bangsawan untuk mendapatkan perlakuan seperti ini, kan?"


"Sayang sekali, dia sudah jadi milik Kak Jin," batin Aldin kecewa.


Rasanya, baru saja, Aldin jatuh cinta pada pandangan pertama. Namun, tidak sampai bersemi, benih cintanya langsung diempaskan angin sekencang-kencangnya tanpa bisa menyentuh target. Benih itu pupus sampai ke akar yang baru saja muncul. Apalagi, saingan Aldin adalah Jin si dewa master berperang yang menjadi gurunya sendiri, jelas sudah Aldin tidak memiliki harapan sama sekali.


"Memangnya, Sanu janji apa padamu?" Jin berusaha menciptakan percakapan supaya mereka tidak saling diam sepanjang perjalanan. Kesunyian hanya akan mencipta kecanggungan di antara keduanya. Itu satu hal yang harus Jin coret dalam pembangunan kesan hari ini.


Bukan tanpa alasan, Jin memilih pertanyaan itu. Dia sejujurnya khawatir Anki ada rasa pada Sanubari atau malah keduanya lebih akrab dari yang Jin tahu walau Sanubari mengaku hanya berteman tempo hari. Jika itu terjadi, hubungan mereka bisa jadi segitiga setan yang merepotkan.

__ADS_1


"Dia bilang mau menemaniku jalan-jalan hari ini. Jadi, kita bisa pergi bertiga—aku, Sanu, dan Kak Jin. Tapi, dia malah pergi entah ke mana dan sampai hari ini tidak muncul."


"Oh.""


Diam-diam, Jin mensyukuri keputusan Sanubari. Jadi, dia tetap bisa berdua saja dengan Anki. Dia sungguh tidak menyangka bahwa Anki akan mengajak orang lain. Padahal, dia tidak memintanya membawa teman. Anki juga tidak bilang apa-apa setelah menyetujui ajakannya.


Namun, pengakuan Anki menimbulkan tanya dalam benak Jin yang langsung dia suarakan lantang. "Kamu suka dengan Sanu? Maksudku, kamu ingin menjadi kekasihnya?"


"Aku suka Sanu, tapi kurasa tidak sampai seperti itu. Dia lucu, baik, tapi sedikit ceroboh. Obsesinya terhadap singkong sungguh membuatku salut. Masak dia sampai rela pergi ke Jepang hanya untuk mengajak kakakku untuk bekerjasama dengannya dalam pengembangan bisnis singkong? Dia sampai terjun ke Onyoudan untuk mendekati Kak Eiji. Aku tidak suka organisasi Yakuza itu. Tapi, syukurlah Kak Eiji sudah keluar dari sana sekarang meski kami semua hampir mati karenanya," terang Anki.


Terbayang kembali masa-masa susah itu, seolah semua ada di depan pelupuk mata Anki. Peristiwa itu membuat Anki mengenal Abrizar yang luar biasa, mengetahui Sanubari yang bisa menjadi kuat dan senang membantu, tetapi memiliki kerapuhan serta mememendam luka batin yang sepertinya menggunung. Peristiwa itu juga membuat Anki merasakan ketakutan yang tidak ingin dia ulangi, mendekatkannya pada Renji dan Sai lebih dari sebelumnya hingga mereka berenam bisa seperti keluarga.


Keterangan Anki memberikan informasi segar bagi Jin. Onyoudan merupakan salah satu famiglia dalam naungan King. Jin pernah diminta untuk pergi ke Jepang untuk membantu Onyoudan menyelesaikan konflik yang terjadi, tetapi menolak. Bukannya takut, melainkan ada alasan lain yang lebih politis.


"King, kurasa akan lebih bijak bila kita tidak ikut campur dengan urusan ini. Aku pernah menyelidiki tentang keluarga Shiragami. Mereka pernah berjaya pada masanya. Namun, mendadak menghilang dari peradaban. Jika kita muncul di hadapan mereka sebagai lawan dan terbukyi mereka kuat, itu akan menjadi bumerang bagi kita. Kita tidak tahu seberapa kuat keluarga Shiragami yang entah mengapa mendadak muncul ke permukaan ini lagi."


"Maksudmu, kita harus menyelidiki lebih lanjut lagi tentang keluarga Shiragami ini, lalu merangkulnya bila memungkinkan?"


"Benar, tidak masalah satu cabang patah jika kita bisa memperoleh pengganti yang lebih baik, kan?"


"Hm, baiklah. Aku akan menyiapkan orang untuk menjalankan misi ini. Kerja bagus, Jin. Aku percaya setiap keputusan yang kauambil pasti baik untuk perkembangan famiglia kita."

__ADS_1


Memori tersebut mengalir begitu saja seiring berjalannya cerita Anki. Pikiran, mata, dan hati Jin seolah bekerja sendiri-sendiri. Matanya memperhatikan jalan supaya tidak menabrak, pikirannya mereka ulang kenangan yang terkait dengan cerita Anki, sementara hatinya mengolah rasa.


"Syukurlah, waktu itu aku menyarankan seperti itu. Apa jadinya bila aku sungguh pergi ke Jepang untuk membantai seluruh keluarga Shiragami, lalu tiba-tiba bertemu satu yang mencuri hatiku dan tidak ingin kubunuh? Selamat! Selamat!" batin Jin lega. Dia sampai sedikit grogi dan tidak berani melirik Anki karena fakta itu.


__ADS_2