
Di bawah temaram sinar rembulan, Sanubari berjalan melamun. Ia mulai mempertanyakan tindakannya sendiri, untuk apa ia melarikan diri dari sang ayah, memusuhinya seolah pria empat dekade itu adalah penjahat keji. Sanubari sadar bahwa pelarian ini sangat melelahkan.
Kelana pernah mengatakan padanya bahwa Aeneas tidak bersalah dalam kematian Sanum. Seharusnya tidak ada alasan lagi untuk membenci maupun mendendam kepada Aeneas. Namun, entah mengapa hati kecil Sanubari sulit untuk menghapus tuduhan pembunuhan itu.
Terlebih lagi ia juga pernah melihat anak buah Aeneas menghabisi nyawa Matilda tanpa ragu. Sisi lain dari hati Sanubari ingin memaafkan Aeneas. Ia ingin bersama Aeneas dan menyudahi pelarian ini. Di saat yang bersamaan, Sanubari terlalu takut untuk kembali ke sisi Aeneas.
Ia takut Aeneas akan mengangkat senjata di saat dirinya lengah. Berakhir sama seperti ibunya dan Matilda, tentu bukan hal yang diharapkan Sanubari.
Jauh di belakang, dua orang berjas hitam mengamati Sanubari. Mereka berdua terus bergerak dari jarak yang aman. Langkah cepat hanya mereka ambil ketika Sanubari menghilang di tikungan. Sebisa mungkin mereka menyusul tanpa menimbulkan bunyi berisik berlebih.
Penguntitan malam ini berujung di sebuah toserba yang buka dua puluh empat jam. Pemuda yang mereka buntuti memasuki toko. Mereka memutuskan untuk menunggu di luar.
Sanubari mengambil beberapa sandwich dan Air mineral. Sebenarnya ia ingin mengambil beberapa camilan, tetapi diurungkannya niat itu. Ia tidak memiliki banyak uang. Kartu debit memang di tangan. Sayangnya, ia belum tahu bagaimana cara memakai uang tersebut. Untuk saat ini, ia hanya memegang empat ribu euro—akumulasi gajinya bekerja paruh waktu.
*****
"Bagaimana caranya naik pesawat dengan kartu ini, ya?"
Sanubari memandang kartu persegi empat di atas meja. Ia mulai membuka bungkus sandwich dan mengunyah gigitan pertama. Jari telunjuk tangan kanannya berselancar, mencari tahu cara penggunaan kartu tersebut. Namun, hasilnya nihil. Ia beralih mencari tahu rute menuju bandara.
"Mungkin aku akan tahu besok jika bertanya di bandara. Hm, baiklah. Sepertinya aku harus bermalam di tempat ini."
Sanubari tersenyum. Ini bukan kali pertama ia tidur di sebuah toserba. Malam ini berbeda, Sanubari memutuskan untuk tetap terjaga.
Jam digital di ponsel menunjukkan pukul dua lebih empat puluh delapan menit. Andaikan ada bus atau kereta yang menuju bandara sedini ini, Sanubari pasti sudah pergi dari tempat duduknya sekarang. Sayangnya, bus terpagi berangkat pukul setengah enam pagi hari ini. Sedangkan jadwal kereta tidak jauh berbeda.
Sanubari mengunduh peta supaya bisa digunakan tanpa jaringan. Selama ini ia hanya memanfaatkan WiFi gratis untuk berkomunikasi dengan Zunta dan Canda. Tak terasa dua jam telah berlalu. Sanubari berangkat menuju stasiun terdekat.
Cukup lama Sanubari berdiri, mengamati orang yang berlalu lalang. Kini Sanubari mengerti cara pakai kartu transportasi elektronik pemberian Kelana. Sanubari manggut-manggut.
"Oh, tinggal tempel doang toh?" Caranya semudah itu, tetapi aku tidak tahu. Ah, ini memalukan," gumam Sanubari tertunduk sambil memegang tengkuk.
Sanubari sempat kesulitan menemukan peron yang tepat karena kurang pandai membaca petunjuk arah. Setibanya di bandara pun ia sempat tersesat. beruntung, ia bertemu dengan petugas keamanan yang bersedia mengantarnya ke tempat dimana bisa membeli tiket pesawat.
__ADS_1
"Posso aiutarla?"
(Ada yang bisa saya bantu?)
"Voglio comprare un biglietto aereo con questa carta, è possibile?"
(Saya ingin membeli tiket pesawat ke Indonesia dengan ini. Apakah bisa?)
Sanubari menyerahkan kartunya. Wanita itu menerima dan memeriksa kartu Sanubari. Ia membaca keterangan di belakang kartu kemudian mengetikkan sesuatu ke komputernya.
Wanita itu sedikit terkejut saat mengetahui kartu apa itu. Ia kembali memandang Sanubari yang tersenyum. Sanubari terlihat sangat muda. Dari kejauhan, wanita itu juga bisa melihat Sanubari yang berjalan tanpa alas kaki sebelum akhirnya berhenti di hadapannya.
Sekali lagi wanita itu menjatuhkan pandangan pada kartu. Ia mengerutkan alis, setengah tidak percaya pemuda seperti Sanubari bisa memiliki freepass langka kelas atas. Freepass ini awalnya hanya berlaku selama satu tahun. Namun, telah ditingkatkan menjadi penggunaan tak terbatas sesudah mendapatkan tambahan stempel emas permanen.
Pemegang kartu ini bisa mendapatkan pelayanan pesawat kelas satu tanpa membayar, diperbolehkan pula membawa satu rekan dalam perjalanan. Bagusnya lagi, kartu ini berlaku di semua maskapai ke berbagai tujuan Hanya ada empat orang yang memiliki kartu semacam ini. Dua di antaranya merupakan kartu terbatas yang ditingkatkan menjadi tidak terbatas. Termasuk milik Sanubari. Sedangkan dua lainnya kartu yang sejak semula tidak terbatas. Desain kartunya pun berbeda.
Wanita itu menjelaskan semua keunggulan kartu tersebut dengan ramah. Sanubari hanya bisa melongo mendengarnya. Tidak hanya bisa digunakan untuk pulang ke Indonesia, tetapi Sanubari bisa berkeliling dunia tanpa perlu mengeluarkan biaya pesawat dengan kartu tersebut. Apa lagi kartu berlaku selamanya.
Sanubari nampak berpikir keras sebelum akhirnya menjawab,
(Aku tidak tahu nama-nama bandara.)
(Kalau begitu, kota mana yang ingin Anda tuju?)
Lagi-lagi Sanubari membutuhkan waktu lama untuk menjawab. Ia memegang dagu, berpikir keras tentang nama-nama kota di Indonesia. Namun, ia tidak ingat satu pun. Bahkan nama kota kelahirannya pun lenyap dari kepalanya. Sanubari garuk-garuk kepala, sepertinya ada yang salah dengan ingatannya.
Baru kali ini wanita itu mendapatkan pelanggan merepotkan Sanubari. Namun, ia masih berusaha membantu. Ia bertanya tentang provinsi, pulau, tempat wisata dan semacamnya yang ingin dikunjungi Sanubari. Akan tetapi, jawaban remaja itu tetap sama—tidak tahu.
Setelah hampir satu jam bergelut dengan memori, akhirnya muncul bayangan tugu dengan sepiring es krim di puncak. Sanubari menjelaskan monumen terkenal itu kepada wanita yang melayaninya. Wanita itu langsung mencari tahu lokasi monumen nasional yang dimaksud. Beberapa saat kemudian, urusan tiket pun usai.
Saat Sanubari hendak memasuki loket check in, tiba-tiba saja seseorang menceka lengannya. Sanubari terpaksa menghentikan langkahnya. Ia bisa mendengar suara tak dikenal berbicara di belakangnya.
"Kau tidak boleh keluar dari negara ini."
__ADS_1
Sanubari menoleh. "Siapa kalian? Kenapa melarangku seenaknya."
"Kau tidak perlu tahu siapa kami. Yang jelas kau tidak boleh pergi kemana pun. Akan lebih bagus jika kau mau ikut kami dengan suka rela," kata pria berjas hitam yang mulai mengajak Sanubari beranjak, "ayo pergi!"
Benak Sanubari dihujani tanda tanya besar. Ia tidak mengenal orang-orang ini, tetapi mereka fasih berbahasa Indonesia. Kenyataan bahwa mereka mengajak Sanubari dengan bahasa Indonesia membuat remaja itu semakin penasaran.
Itu artinya orang-orang ini mengenalnya. Dari pengucapannya, Sanubari tahu bahwa mereka bukan orang Indonesia. Pikirannya mulai menerka-nerka siapa di balik orang-orang yang menangkapnya ini.
"Jangan bilang kalau mereka adalah ....," batin Sanubari.
Kedua orang yang mengiringinya terus saja memaksa Sanubari berjalan. Sanubari mau tak mau harus mengikuti mereka. Sanubari memberontak secara verbal sepanjang jalan, tetapi mereka tidak memedulikannya.
Sanubari pun menjegal satu per satu dari mereka dan mengeluarkan usaha terbaik untuk terlepas dari cengkeraman mereka. Selanjutnya, ia berlari ke sembarang arah. Kedua orang di belakangnya bangkit dan segera mengejar.
Sanubari menyeberang jalan tanpa pikir panjang. Beberapa kali ia nyaris tertabrak, bahkan sempat terjatuh karena ada pula mobil yang telat menginjak rem sampai bumper depan menubruk badan Sanubari. Pemuda itu syok, tetapi ia tidak mempunyai waktu menuruti rasa lemas akibat gelombang kejut itu.
Dua orang di belakang Sanubari terlihat masih mengejar. Mereka berlari sangat jauh sampai keluar dari wilayah bandara. Sanubari sesekali menoleh ke belakang. Ia tersenyum lega ketika mengetahui kedua pengejarnya tidak terlihat lagi.
Sanubari memelankan langkah, mengatur napas yang mulai memburu. Dari lawan Arah, terlihat sebuah mobil menepi. Orang-orang berjas hitam keluar dari mobil.
———©———
Episode berikutnya : Bertemu Jenius Buta
Terima kasih untuk semuanya yang sudah mendukung sejauh ini. Saya harap kalian semua akan tetap menemani Sanubari sampai ujung kisahnya.
Ikuti juga chonurv di Instagram bila berkenan!
Tetap jaga kesehatan dan semoga usaha kalian diperlancar!
Salam persaudaraan,
Chonurv
__ADS_1