Santri Famiglia

Santri Famiglia
Darurat


__ADS_3

Canda mencoba membuka pintu belakang. Namun, pintu terkunci. Ia menyingkirkan pecahan kaca lalu menekan tombol pembuka kunci. Tetapi pintu tetap tidak mau terbuka. Kuncinya macet.


Canda berlari ke pintu terdekat dengan kepala si bocah. Sekali lagi ia membersihkan kaca yang telah remuk dari daun pintu supaya tidak menggoresnya. Kemudian, ia memasukkan tubuh atasnya. Diulurkannya jemari ke lubang hidung bocah itu. Hembusannya sangat lemah tetapi dia masih bernapas.


Canda berlari lagi ke pintu lawan arah. Ia mengambil golok yang tersandang di Pinggangnya. Sekuat tenaga ia menghantamkan sisi tajam goloknya pada kuncian pintu. Jiwa sosialnya tidak bisa membiarkan nyawa seseorang melayang begitu saja tanpa usaha penyelamatan sedikit pun. Meskipun harapan hidupnya sangat tipis tetapi penangan medis harus tetap dilakukan.


Itulah prinsip Canda selama menjadi dokter bertahun-tahun. Seseorang tidak akan pernah bisa tahu kapan keajaiban itu datang. Oleh karena itu, manusia harus terus berusaha dan berharap sampai detik-detik terakhir. Canda percaya akan hal tersebut. Walaupun persentase kemunculannya satu banding satu juta tetapi patut dicoba.


Dentingan demi dentingan terus terdengar. Satu, dua kali bunyi Guntur menggelegar. Awan kelabu yang menggantung di langit pun mulai terkondensasi. Tetesan-tetesan air pun jatuh dari langit.


Zunta mengajak Canda pergi. Namun, Kini pria tua itu menolak ajakan Zunta. Ia tidak akan pergi sebelum berhasil mengeluarkan bocah itu.


Zunta berteduh Di bawah pohon rindang. Ia menyaksikan kakeknya yang dengan gigih menggolok ragangan besi. Beberapa dentingan kemudian, pintu berhasil dibuka. Canda mematahkan daun pintu tersebut.


Bergegas Canda memasuki mobil. Ia menggenggam payung yang menancap dengan tangan kirinya lalu memotong lebih dari setengah bagiannya. Ia memotong tali payung untuk mengikat bagian payung yang masih menancap lalu menyematkan golok Kembali pada tempatnya.


Dengan sangat berhati-hati, Canda memindahkan tubuh bocah laki-laki itu lalu mengajak Zunta pulang. Mereka berdua berlari di bawah guyuran hujan yang semakin deras. Beberapa kali Zunta tergelincir dan Canda nyaris tergelincir juga. Setelah perjuangan keras, akhirnya mereka sampai ke sebuah rumah kayu.

__ADS_1


Zunta membukakan pintu untuk Canda. Mereka berdua pun memasuki rumah kayu sederhana itu. Canda terus berjalan menuju dapur. Zunta mengikutinya. Sesampainya di dapur, Canda meminta Zunta untuk memindahkan pot bunga kecil di jendela ke salah satu sudut wastafel yang bergambar. Dengan berjinjit, Zunta memasukkan pot bunga kecil itu ke wastafel.


Tiba-tiba lantai dapur bergeser. Terlihatlah anak tangga menuju ke bawah. Zunta baru tahu di rumah yang selama ini ia tempati ternyata memiliki ruang bawah tanah.


"Turn on the lamp!"


(Nyalakan lampunya!)


Ruang bawah tanah yang tadinya tanpa cahaya mendadak terang benderang. Zunta membulatkan mulutnya kagum. Ia baru saja menyaksikan pemandangan ajaib.


"¡Zun, date una ducha y cámbiate de ropa! El abuelo quiere tratar a este niño primero."


"No. Quiero ir con el abuelo."


(Tidak mau. Aku mau ikut Kakek saja.)


Canda tidak mempunyai waktu untuk mendebat cucunya. Semakin lama ia terdiam maka semakin berkurang pula peluangnya untuk menyelamatkan nyawa yang masih memiliki kesempatan. Tidak ada pilihan lain. Canda mengizinkan Zunta mengikutinya.

__ADS_1


Keduanya menapaki anak tangga.


"Close the floor!"


(Tutup lantainya!)


Lantai dapur kembali menutup. Pot bunga di wastafel pun bergerak dengan sendirinya. Di lihat dari luar, rumah kayu tersebut terlihat seperti pos persinggahan biasa dalam jalur pendakian. Namun, siapa sangka di dalamnya ada markas rahasia yang dilengkapi dengan teknologi mutakhir. Semua dapat diaktifkan menggunakan perintah suara.


Mereka berjalan dengan langkah cepat lalu memasuki sebuah ruangan. Canda membaringkan bocah laki-laki ke atas brankar. Dengan cepat ia meraih sebuah baju, memberikannya kepada Zunta dan sekali lagi dia menyuruhnya mandi di kamar mandi tidak jauh dari sana. Gadis kecil itu melenggang pergi.


Berikutnya Canda sendiri yang melepaskan pakaiannya. Dia membersihkan tangan dan bagian tubuh lain di wastafel, memakai baju khusus, memasuki bilik desinfektan lalu mulai memasang alat untuk mendeteksi detak jantung, darah dan indikasi vital lainnya.


Canda menatap layar digital yang baru saja menunjukkan kode-korde dan angka yang hanya bisa dipahami seseorang yang mempelajari ilmu medis. Ia pun bergumam dalam hati, "¡Maldita sea! La sangre de este niño está lejos del volumen normal. A este ritmo, entonces él puede ..."


(Gawat. Darah Anak ini jauh dari volume normal. Kalau begini terus dia bisa ....)


Tentu ini bukan kondisi yang baik. Jumlah darahnya terus menurun secara drastis. Ia harus segera mendapatkan donor darah. Sedangkan tempat ini jauh dari pusat kota. Mustahil Canda bisa mendapatkan kantong darah tepat waktu jika harus pergi ke pusat kota terlebih dahulu.

__ADS_1


Ia juga melakukan tes golongan darah kilat. Bocah yang ditolongnya bergolongan darah A. Sementara Canda sendiri bergolongan darah B. Ingin menjadi pendonor pun Canda tidak bisa memberikan darahnya pada sang Bocah.


__ADS_2