
Kepala desa kembali bersama seorang warga. Parkir di dekat penggalian lubang, mereka menurunkan dua kardus air mineral dan sekantong makanan.
"Kalian istirahat dulu, makan siang! Biar kami yang melanjutkan," ucap kepala desa.
Sanubari tenggelam dalam lubang galian. Jika tidak berada dekat, seseorang tidak akan tahu Sanubari ada di dalam sana. Pemuda itu berdiri.
"Tanggung, Pak Kades."
"Astaga, Sanu, itu sudah cukup dalam. Tidak perlu diperdalam lagi. Kita tidak sedang menggali sumur. Sekarang, kamu gali liang lahat di sebelah timur!"
Kepala desa berjongkok di sebelah Sanubari. Dia melihat ke dalam lubang.
"Liang lahat sebelah timur?"
"Sudah, naik saja! Kutunjukkan langsung supaya paham. Saya tidak pernah menggali kuburan, tapi sering melihat proses pemakaman. Jadi, sedikitnya tahu," kata kepala desa.
Sanubari pun naik digantikan kepala desa. Pemuda itu memperhatikan. Kepala desa membuat ceruk menjorok ke dalam.
Dua orang lain datang. Mereka membawa berpapan-papan kayu. Eiji dan Renji ikut naik. Pekerjaan mereka diteruskan warga.
Tiba-tiba, Sanubari bertanya, "Mereka kecelakaan, ya? Kok meninggalnya barengan."
Dikucurkannya segelas air untuk mencuci tangan. Eiji dan Renji melakukan hal yang sama. Sementara Sai membagikan nasi bungkus.
"Kirman meninggal karena sakit, sedangkan istrinya sepertinya kena beban mental. Dia memasak tumis kecubung, lalu menyuruh putranya makan tumisan itu. Sebelum meninggal, istri Kirman menulis surat. Isinya pengakuan kalau dia sendiri yang meracuni anaknya," sahut seorang warga yang tidak menggali.
"Kecubung dimakan. Overdosis, ya jelas bakal bablas sowan malaikat maut. Racun alami yang tinggal petik di halaman."
"Yu Sukma takut tidak bisa menguburkan jenazah suami. Ditambah lagi, dia memiliki hutang di beberapa tempat. Termasuk di tempat juragan itu. Makanya, nekad mengajak sekeluarga bunuh diri."
"Nasib wong cilik."
"Tapi, yang namanya bunuh diri itu tetap tidak baik, apalagi sampai ajak-ajak. Dosa besar. Konomi minus bukan alasan untuk membenarkan mengakhiri hidup. Kalau mau usaha, rezeki pasti ada saja."
Sanubari makan sambil mendengarkan pembicaraan bapak-bapak. Awalnya, Sai, Renji, dan Eiji bingung mau makan bagaimana karena tidak ada sendok. Akhirnya, mereka mengikuti cara Abrizar dan Sanubari—makan pakai tangan.
__ADS_1
Itu kali pertama tiga orang Jepang tersebut makan nasi pecel dengan tambahan tumis nangka muda, empal daging sapi, bakwan, tempe goreng, dan rempeyek udang impun. Meskipun begitu, rasanya cukup bisa diterima lidah mereka.
Rasa daun jeruk pada rempeyek terasa unik bagi Eiji. Perpaduan labu Siam, mentimun, dan sayur bayam yang disiram sambal pecel pun lebih nikmat dari salad di toserba.
"Terus, hutang mereka bagaimana?" tanya Sanubari yang kemudian menggigit bakwan jagung.
"Warga yang memiliki piutang dengan keluarga almarhumah sepakat untuk mengikhlaskan. Yah, mau bagaimana lagi? Mustahil menagih ke mayat, kan? Daripada menjadi beban almarhum sampai akhirat, warga memutuskan untuk meringankannya," ungkap seorang warga yang sedang menggali.
Sai membolak-balik tempe sebelum memakannya. Benda pipih persegi panjang kecokelatan itu tampak baru di matanya. Dia sungguh menatapnya dengan sangat serius, seolah sedang mengamati keaslian emas.
Satu gigitan pertama membuatnya terpukau. Teksturnya sangat empuk. Gurihnya pas. Dia seperti sedang makan ayam goreng tidak bertulang. Dia pun mengira fermentasi kedelai itu benar-benar ayam yang dihaluskan. Padahal, sama sekali tidak terkandung daging di dalamnya.
"Masalahnya tinggal sama juragan itu," imbuh warga lain.
"Benar. Dalam surat wasiat yang dituliskan almarhumah, beliau mengharapkan warga desa bisa melunasi hutang tersebut untuknya."
"Rasanya kesal, tapi kasihan juga."
"Meninggal kok seenaknya melimpahkan hutang. Siapa yang enggak kesal?"
"Kalau bukan karena jiwa kemanusiaan yang masih kami miliki, mungkin sudah kami biarkan jenazahnya membusuk."
Pria paruh baya itu ikut menepi bersama Sanubari dan yang lain, duduk berteduh di bawah pohon. Penggalian dua kuburan lainnya pun usai. Mereka naik satu per satu.
"Man, kamu pergi ke rumah duka! Lihat pengurusannya sudah selesai atau belum! Kalau sudah, langsung berangkatkan habis zuhur saja. Kita semua yang di sini juga butuh ibadah, kan? Nanti kamu arahkan mereka ke sini!"
"siap, Pak!"
Pemuda bernama Iman meninggalkan lokasi. Berikutnya, yang lain menyusul, menyisakan tiga orang Jepang menjaga lokasi. Hanya tiga orang itu yang tidak perlu memikirkan waktu ibadah ketika azan telah berkumandang.
"Joglangan kanggo OPO Iki?"
Seorang pria tiba-tiba menghampiri mereka bersama sepuluh orang. Mereka berdiri di dekat galian. Cangkul dan ember masih di sana. Papan-papan kayu pun tertata rapi di dekat gundukan.
Sai, Renji, dan Eiji kebingungan. Orang-orang asing itu tampak tidak ramah.
__ADS_1
"Bahasa apa itu? Apa yang mereka katakan? Renji menyenggol Eiji.
"Joglangan kanggo OPO Iki?" ulangnya, "Duwe kuping OPO ora to? Ditakoki malah plonga-plongo."
Pria itu menatap geram pada Sai, Renji, dan Sai. Dia membentak-bentak karena ketiganya tidak menjawab. Di matanya, mereka seperti orang bodoh yang tuli.
"Koyoke wong-wong Iki ORA ISO boso Jowo," simpul pria lain.
Pria itu pun beralih dari bahasa Jawa ke Indonesia, menanyakan hal yang sama, "Lubang untuk apa ini?"
"Kuburan," jawab singkat Eiji.
"Siapa yang me gizinkan menggali kuburan di sini? Apa kalian sudah membayar untuk tiga kuburan ini?"
Intonasinya naik/turun, terdengar sanga galak. Lebih sering nada tinggi daripada rendah. Ekspresinya pun mengintimidasi. Namun, tidak mempan untuk Sai, Eiji, dan Renji.
"Sanu yang mengizinkan. Untuk apa kami harus membayar? Lagipula, ini tanah milik Sanu dan kami hanya membantu menggali. Tidak membelinya," jawab Sai.
"Kalian sepertinya pendatang yang tidak tahu apa-apa. Untuk membuat kuburan itu ada undang-undangnya. Wajib lapor dan meminta izin pihak yang berwenang, lalu membayar biaya administrasi. Jika tidak, kalian akan dikenai denda dua ratus juta per kuburan. Sekalipun kalian memakai tanah pribadi. Itu termasuk tindakan ilegal."
Pria itu menyeringai congkak. Dia sangat percaya diri dengan kalimatnya. Komplotannya pun membenarkan.
"Memangnya ada perundang-undangan yang mengatur tentang tanah makam?" bisik Renji pada Eiji.
"Entahlah. Aku belum pernah menjadi panitia pemakaman jenazah." Eiji mengangkat bahu dengan volume suara rendah.
"Kenapa hanya berbisik-bisik? Cepat bayar atau kalian ikut kami menghadap ke pihak yang berwenang!" perintah pria asing.
"Kami tidak akan tertipu kedok kalian. Kalian sama sekali tidak terlihat seperti aparat pemerintah," balas Eiji tanpa segan.
"Kalian belum pernah melihat polisi yang menyamar, ya? Kami adalah agen yang betugas memantau pelanggaran di kampung. Kami terpaksa meringkus kalian jika kalian menentang peringatan kami."
"Sampai kapan pun, kami tidak akan membayar kalian," tegas Eiji.
Menurutnya, perkataan mereka terlalu mengada-ada. Benar atau salah, Eiji tidak tahu. Yang dia tahu, pemilik bebas menggunakan sebagai apa pun properti pribadinya. Kalaupun harus membayar, maka itu kewajiban Sanubari.
__ADS_1
"Tangkap mereka dan Uruk kembali lubang-lubang itu!" titah Pria asing.
Mereka maju berpencar. Ada yang memegang cangkul. Ada pula yang mendekati Sai, Renji, dan Eiji.