
Dengan nada bicara yang kurang menyenangkan seorang wanita mengatakan, "Aeneas è con te, vero? Dov'è? Perché tutti gli incontri sono annullati? Non dirmi che vuole scappare?"
(Aeneas bersamamu, kan? Dimana dia? Kenapa semua pertemuan dibatalkan? Jangan bilang kalau dia ingin melarikan diri?)
"Signore Aeneas non è scappato. Hai frainteso."
(Tuan Aeneas tidak melarikan diri. Anda salah paham.)
"Hai frainteso quello che hai detto? Allora perché non si riesce a raggiungere il cellulare? È questo che si chiama non scappare?"
(Salah paham katamu? Lalu kenapa ponselnya sama sekali tidak bisa dihubungi? Apa ini yang disebut tidak kabur?)
"Non è come pensi. Il signor Aeneas voleva solo riprogrammare tutta la sua agenda. Quanto al numero di telefono che non può essere raggiunto, è perché ha spento il cellulare. Non voleva essere disturbato."
(Ini tidak seperti yang Anda pikirkan. Tuan Aeneas hanya menjadwalkan ulang seluruh agendanya. Perihal nomor teleponnya yang tidak bisa dihubungi itu karena beliau mematikan ponselnya. Beliau tidak ingin ada orang yang mengganggunya.)
"Digli solo che vuole scappare! L'ho confermato con Dantae. Ha detto che non c'è nessuna riprogrammazione per il nostro incontro. Ha cancellato completamente il nostro incontro. Faresti meglio a dargli questo telefono! Voglio parlargli."
(Bilang saja kalau dia mau kabur! Aku sudah mengonfirmasinya pada Dantae. Dia bilang tidak ada jadwal ulang untuk kami. Aeneas membatalkan secara total pertemuan kami. Sebaiknya kau berikan ponsel ini padanya! Aku ingin bicara dengannya.)
"Mi dispiace. Ma il signor Aeneas non risponde alle chiamate in questo momento."
(Mohon maaf. Tetapi tuan Aeneas sedang tidak bisa menerima telepon saat ini.)
"Non posso crederci. Devi essere in combutta con lui."
(Aku tidak percaya. Kau pasti sekongkol dengannya.)
"Mi dispiace. Stavo solo eseguendo gli ordini e trasmettendo il messaggio del signore Aeneas."
(Mohon maaf. Saya hanya melaksanakan perintah dan menyampaikan pesan tuan Aeneas.)
"Bene se è quello che vuole. Digli che se non mi vede nei prossimi due giorni allora dovrà subire le conseguenze della sua testardaggine!"
__ADS_1
(Baiklah kalau itu maunya. Katakan padanya bila dia tidak menemuiku sampai dua hari ke depan maka dia harus menanggung akibat dari kekeras kepalaannya!)
Nada bicara wanita itu tetap terdengar angkuh sampai akhir pembicaraan. Panggilan ditutup begitu saja. Kelana mengusap wajahnya dengan telapak tangan.
"Semoga aku tidak ikut terkena semburan ketika pulang nanti," gumamnya yang kemudian menghela napas, "kenapa pula harus aku yang selalu terlibat dalam percintaan bos irit kata itu? Kenapa tidak Dantae, Fauzio atau Elfata saja? Enak sekali pekerjaan mereka bertiga."
Dantae, Fauzio dan Elfata adalah tiga konselor lain Aeneas. Mereka bertiga memiliki peran sama seperti Kelana. Mereka berempat sama-sama asisten pribadi Aeneas yang tergabung dalam satu sekretariat. Namun, untuk hal-hal yang lebih pribadi, Aeneas lebih sering mempercayakannya kepada Kelana.
Seperti perihal pencarian Sanum dan Sanubari, Kelanalah yang mengurusinya dari awal hingga akhir. Sampai mereka benar-benar bisa bertemu dan berada di tempat ini. Semua itu berkat jasa Kelana.
"Huuuh haaaah huuuuuh haaaaah." Sanubari mendesah-desah dengan sesekali mendesis sambil menciptakan bunyi kriuk dari lembaran keripik yang digerus gigi-gigi gerahamnya.
Suara itu menyadarkan Kelana dari lamunan. Kelana melongokkan kepala. Dua orang berjenis kelamin pria mendekat ke arahnya. Salah seorang di antara mereka membawa kantung plastik besar berwarna hitam yang sepertinya terisi penuh. Mereka berdua adalah Sanubari dan Jin. Sementara yang membawa kantung plastik adalah Sanubari.
Keduanya sama-sama memegang sebungkus camilan keripik berukuran ekstra besar. Jin dengan ekspresi tenangnya seperti biasa. Sedangkan Sanubari dengan ekspresi yang berantakan. Muka dan bibir bocah itu cepat sekali memerah ketika menikmati sesuatu yang pedas. Keduanya berhenti di dekat Kelana duduk.
"Haman, inhi hengak oh. Haman hau?" tawar Sanubari dengan terengah-engah.
"Apa yang Anda katakan, Tuan Muda? Saya tidak mengerti," balas Kelana.
"Minum!" Sanubari tidak tahan lagi. Air liurnya menetes dari sudut bibirnya bersamaan dengan cairan bening dari pelupuk mata yang terjun bebas.
"Tunggu sebentar, akan saya belikan!" Kelana bergegas menuju ke stand minuman yang tidak jauh dari mereka.
Kelana kembali dengan lima botol air mineral enam ratus mililiter dan sebungkus tisu. Dia membukakan botol tersebut untuk Sanubari dan menyerahkan selembar tisu.
Sanubari meminumnya sampai tersisa setengah. Dia juga mengelap ingusnya dengan tisu pemberian Kelana. Akhirnya Sanubari bisa berbicara normal lagi setelah beberapa saat.
"Paman, keripik singkong super pedas ini enak loh. Paman mau coba?" tawar Sanubari lagi sambil menyodorkan sebungkus yang sudah dia buka lalu menunjukkan kantung hitam yang ia bawa, "tadi kak Penculik Baik Hati membelikanku buanyaaak."
"Seharusnya Anda tidak makan makanan pedas bila tidak tahan."
"Tapi ini enak. Aku suka. Ini masih ada sepuluh bungkus besar-besar di sini. Nanti buat papa satu, buat mamak satu, buat Paman satu," kata Sanubari sambil menyerahkan sebungkus yang belum dibuka kepada Kelana.
__ADS_1
"Jin, berapa uang yang kau keluarkan untuk semua ini?"
"Tidak banyak," kata Jin sambil mengunyah.
"Katakan saja! Akan kuganti."
"Tidak apa. Lagipula ini tidak seberapa daripada harga tiket kereta yang kalian belikan."
"Tadi kak Penculik Baik Hati mengeluarkan tiga lembar uang kertas gambar pak Soekarno," sahut Sanubari.
Kelana mengambil uang tiga ratus ribu rupiah dari dompetnya lalu memaksa Jin untuk menerimanya. "Pengeluaran tuan muda adalah tanggung jawabku. Jangan sungkan meminta uang ganti padaku bila kau membelikan sesuatu untuknya!"
"Baiklah. Akan kuanggap ini tips dari kalian." Jin mengantongi uang itu.
"Papa sama mamak lama sekali," ucap Sanubari yang mulai kepedasan lagi.
"Mereka sibuk kencan kali," celetuk Jin.
"Kencan? Apa itu kencan?"
"Jalan-jalan bersama. Itu yang dimaksud Jin," jawab Kelana.
Mereka bertiga duduk berjajar sambil menikmati balado keripik singkong pedas level sepuluh. Aeneas datang bersama Sanum dengan bergandengan tangan ketika mereka selesai menghabiskan satu bungkus keripik singkong. Tepat saat itu juga dua pesan masuk ke ponsel Jin.
Jin mengambil ponsel pintarnya lalu membuka aplikasi perpesanan. Di sana tertera dua pesan belum dibaca dari dua orang yang berbeda.
——: Beginilah isi pesan pada ponsel Jin :——
[Reon]
Jin, kami sudah di parkiran.
[Bas]
__ADS_1
Jin, kami sudah menemukan pelaku sabotase malam itu. Kau ingin mengeksekusinya sendiri atau kami yang harus turun tangan?