Santri Famiglia

Santri Famiglia
Mobil Terbang


__ADS_3

"Ren, kau uji sendiri saja! Aku akan memeriksa keberadaan Sanu." Eiji menutup pintu.


Renji memperhatikan Eiji yang berlari ke tempat Abrizar. Rekan Renji itu duduk di sebelah si pria tuna netra. Tangannya dengan cekatan menari di atas keyboard.


"Sendiri? Ma ii ya. Histori de mo ikou! Yahu!" Renji tertawa tergelak.


Mobil terbang vertikal, lalu melesat dengan kecepatan tinggi. Renji mengambil arah asal. Dia melayang di atas pesawahan, melewati sekolah dasar.


"Lihat! Ada mobil terbang!" Seorang anak mendadak berteriak.


Semua warga sekolah seketika berhenti bersenam. Mereka mendongak, ingin melihat mobil terbang. Para guru tidak terkecuali. Orang-orang dewasa itu seperti anak kecil yang antusias setiap kali mengetahui ada pesawat terbang rendah di mana mereka berada.


"Ini harus diabadikan!" Seorang guru berlari memasuki kantor.


Akan tetapi, saat dia kembali dengan membawa ponsel, mobil itu telah lenyap dari pandangan.


Langit biru menyisakan awan putih yang berarak. Hanya ada kawanan flamingo yang mengarungi udara.


Renji menaikkan ketinggian, menembus gumpalan awan. Dia berada dalam jalur pesawat sekarang. Ke mana pun dia memandang, hanya ada hamparan awan putih.


"Resistensi udara, oke. Guncangan teredam sempurna."


Dia bermonolog. Penyeka diaktifkan, membersihkan kaca dari embun yang menjadi titik-titik air.


Renji memejamkan mata sejenak. Setiap bunyi sampai detail terkecil, didengarkannya dengan seksama. Setiap mesin memiliki suara tersendiri. Montir sejati akan tahu ada sesuatu tidak beres pada kendaraan hanya dengan mendengarkan suara mesin dan setiap inci dari kendaraan.


"Sejauh ini, semua baik." Dia mengangguk puas. Renji mengaktifkan auto pilot. Dia mengatur supaya mobil kembali ke rumah dengan sendirinya. "Era mobil udara akan segera dimulai!


"Din, mobil terbang, Din! Apa aku baru saja berhalusinasi?" Kiki menepuk-nepuk pundak Aldin. Ekspresinya selugu balita yang baru pertama kali melihat pesawat terbang.

__ADS_1


Dia dan Aldin berdiri ternganga di depan gerbang proyek pembangunan kompleks perumahan Sanubari. Sebuah mobil sungguh baru saja terbang rendah di atas kepala mereka secara nyata.


"Mungkinkah itu UFO model terbaru?" terka Kiki asal-asalan. Mengingat benda terbang selain keluarga pesawat, Hanya itu yang muncul dalam benak Kiki.


"Teori dari mana itu?"


"Ya, kali aja aliennya bosan sama piring terbang. Makanya, bikin mobil terbang. Tapi, itu tadi kok kayaknya mendarat di dalam sana, ya?"


Keduanya masih menatap langit. Mobil telah lenyap di balik pepohonan. Aldin kian penasaran. Dilihat dari posisi menurunnya, mobil tersebut masih berada di perumahan Sanubari.


Teknologi telah berkembang pesat. Robot dengan kecerdasan buatan yang bisa mengikuti target dengan sendirinya pun telah tercipta. Pun satelit yang mampu menampilkan citra nyata tembus pandang seperti yang digunakan Eiji untuk melacak Sanubari.


Namun, yang mengetahui kemutakhiran tersebut hanyalah kalangan tertentu. Kalangan biasa yang tanpa sengaja melihat video demonstrasi atau iklan BGA, hanya menganggap semua itu berita bohong atau rekaan dengan sentuhan CGI. Padahal, teknologi yang pernah ada dalam kisah fantasi itu sungguh telah direalisasikan.


Aldin dan Kiki menjadi bagian yang tidak mempercayai hal semacam itu sampai melihat dengan mata sendiri hari ini. Ingin mengingkari pun mustahil. Pasalnya, bukan hanya Aldin yang melihat, melainkan Kiki juga. Yang artinya, itu bukan sebatas halusinasi.


"Kalian teman Sanu?" ucapnya setelah memberi salam, "maaf, orang yang tidak berkepentingan dilarang masuk."


"Kami berkepentingan. Di mana Sanu?" ujar Aldin.


"Perkenalkan! Saya perwakilan Sanu." Akbar mengulurkan tangan.


Kiki dan Aldin menyambutnya. Mereka melakukan perkenalan singkat—sebatas menyebutkan nama panggilan masing-masing.


Kemudian, Akbar melanjutkan, "Kalian tetap tidak diizinkan masuk ke sana tanpa seizin Sanu. Mari kita cari tempat untuk membicarakan keperluan kalian atau mau membicarakannya sambil jalan-jalan?"


Aldin yang dahulu mungkin sudah menghajar orang di hadapan dan memaksa untuk mempertemukannya dengan Sanubari. Aldin merasa sedikit kesal karena yang menemuinya bukan Sanubari sendiri. Dia merasa direndahkan.


Akan tetapi, Aldin tidak berani menunjukkan protes. Hidupnya dan keluarga berada di tangan Sanubari. Sanubari memiliki hubungan dengan Jin lebih darinya. Hal itu membuat Aldin takut untuk mengusik Sanubari.

__ADS_1


Selain itu, Sanubari telah menyelamatkan Aldin dari amukan Jin. Walau belum sepenuhnya mengakui, pandangan Aldin terhadap Sanubari mulai berubah. Sanubari bukan lagi anak miskin yang bisa dia rundung. Fakta itu masih membuat kebencian Aldin terhadapnya mengakar dalam hati. Namun, sisi lain darinya sudah mulai mengibarkan bendera perdamaian.


"Sanu menjanjikan pekerjaan, tapi sampai sekarang dia belum menemui kami lagi. Di mana dia?" ucap Aldin.


Dia dan Kiki mewakili yang lain. Wongso belum ada nyali untuk berhadapan dengan Sanubari. Pria itu takut Jin masih ada di sekitar Sanubari.


Sementara Aldin sendiri belum butuh pekerjaan di desa. Kesibukan sebagai mahasiswa membuatnya jarang Bulang. Pada hari efektif, Aldin biasanya kembali setiap satu bulan sekali. Itu pun hanya dari hari Jumat malam. Minggu sore, dia harus kembali ke perantauan.


Namun, dia tidak melewatkan kesempatan untuk menemui Sanubari. Ini adalah waktunya memperbaiki hubungan di antara mereka berdua. Itu demi prospek masa depan yang menjanjikan. Jika tidak ada untungnya bagi diri sendiri, Aldin tidak akan mau repot-repot melakukan ini.


Akbar tersenyum. Dia memang diutus menemui mereka untuk ini. Jadi, jawaban tanpa perlu membocorkan kondisi Sanubari sebenarnya sudah dia siapkan.


"Sanu sibuk mengurus bisnis di luar negeri selama beberapa waktu. Jadi, perihal ini diserahkan pada saya. Maaf, belum sempat menghubungi kalian karena ada hal lain yang harus kami urus." Semua yang dikatakan Akbar atas petunjuk Abrizar.


Lelaki itu enggan mengatakan kebohongan. Jadi, Abrizar mengajarinya memanfaatkan fakta untuk mengamankan apa yang ingin dilindungi. Kondisi Sanubari saat ini tidak boleh sampai bocor ke pihak lain. Bila sampai bocor, oknum-oknum yang telah berhasil ditaklukkan bisa jadi akan membelot. Sanubari adalah pion utama penentu keberhasilan proyek ini.


"Lalu?" Aldin mendengar dengan tidak sabar. Batinnya kian cemburu dengan kesuksesan Sanubari.


"Enak bener dia! Bisa jalan-jalan ke luar negeri berulang kali. Sedangkan aku? Sekali pun belum pernah. Sabar, Din, sabar! Kau akan segera ketularan bila berbaik-baik dengannya." Itu hanya Aldin simpan dalam hati.


"Besok, kumpulkan semua orang di balai desa! Saya akan memberikan penyuluhan. Insyaallah sekalian pembagian pekerjaan untuk sebagian orang."


Di tengah perbincangan itu, seorang gadis cantik muncul. Perhatian Aldin teralihkan. Dia melihat sang gadis yang meminta dibukakan pintu.


Sementara dari barat, sebuah mobil melaju. Klakson dibunyikan ketika mendekati tempat mereka. Aldin menoleh saat si pengemudi turun.


"Kak Jin." Anki dan Aldin berkata bersamaan.


"Ada acara apa ini? Kenapa pada kumpul di sini?" tanya Jin melihat pada Aldin setelah tersenyum pada Anki.

__ADS_1


__ADS_2