Santri Famiglia

Santri Famiglia
Bersama Anki


__ADS_3

Jalan kaki menjadi aktivitas pasti Sanubari dan Abrizar sejak menjejakkan sepatu di tanah Matahari Terbit. Disaksikan bulan sabit, kedua lajang itu mengikuti arahan kecerdasan buatan. Sedikit berputar namun akurat, sintesis wanita itu membimbing mereka menuju Bulan Bali—salah satu restoran Indonesia yang ada di Jepang.


Sanubari memperhatikan papan nama sepanjang jalan. Ada yang ditulis dengan alfabet. Namun, kebanyakan tidak Sanubari mengeti karena memakai aksara Jepang.


"Uwa, itu dia!" seru Sanubari saat melihat papan bertuliskan Bulan Bali.


Ia mengajak Abrizar berlari. Sesampainya di depan restoran, Sanubari langsung mendorong pintu kaca. Sayup-sayup alunan musik menenangkan pun terdengar.


"Irasshaimase!"


Seorang pria berudeng khas Bali serta memakai sarung seperti pendekar langsung mengucapkan selamat datang. Pria berbaju dan celana putih itu tersenyum. Bukan hanya penampilannya, wajahnya pun menunjukkan identitas.


"Wah, ada orang Indonesia juga di sini ternyata!" celetuk Sanubari secara spontan.


Sanubari seperti sedang reuni, meskipun tidak saling kenal. Sudah lama dia tidak melihat orang Indonesia yang wajahnya murni. Terakhir kali dia melihat orang yang kentara Indonesianya ketika di rumah kakek Canda.


Pria itu tersenyum. "Iya, saya orang Indonesia.


"Aku Sanu. Orang Indonesia juga."


Lagi-lagi Sanubari secara spontan mengulurkan tangan. Pria itu menyambutnya dengan ramah. Ia tidak menyangka Sorang pengunjung akan mengajaknya berkenalan.


"Yang di sebelahku ini namanya kak Abrizar. Aku tidak tahu dia ini orang Italia, Korea, atau Indonesia," lanjut Sanubari seenaknya mengenalkan.


Mereka terhenti di pintu masuk karena interaksi tersebut. Tidak ingin tertahan lama di depan pintu, pelayan pria itu pun lekas berkata, "Salam kenal! Oh iya, di lantai dasar sebentar lagi akan ada konser. Mungkin akan sedikit ramai. Kalian bisa menempati meja di lantai dua jika igin suasana lebih tenang. Apakah kalian ingin di lantai dasar atau di atas?"


"Atas saja," jawab Abrizar cepat.


"Mari ikut saya!"

__ADS_1


Pelayan itu pun mengajak mereka menaiki tangga. Sanubari dan Abrizar tiba sepuluh menit lebih awal. Sanubari membuka buku menu setelah pelayan pergi.


"Ada WiFi gratis juga di sini. Kakak masih butuh?"


"Iya, kita butuh mengunduh peta lagi kalau kau tidak hafal jalan yang kita lewati tadi atau dimana stasiun berada. Meskipun nanti bisa juga tanya Anki.


"Hm, Sanubari mengangguk-angguk, "Mau pesan makanan sambil menunggu? Ada tempe juga nih."


Tia puluh menit terlewati, tetapi Anki tidak kunjung terlihat. Sanubari pun memutuskan untuk menulis pesanan dan memanggil pelayan. Di saat yang bersamaan, Anki baru saja memasuki lantai dasar.


"Irasshaimase!" sambut pelayan yang sama.


"Ano, tomodachi o sagashiteiru no desu ga .... Hitori wa midori Na me ga atte ato hitori wa kuroi Megane o kakete ...," ucap Anki yang mengaku sedang mencari seseorang dengan ciri-ciri salah satunya memiliki mata hijau, sedang satunya lagi memakai kacamata hitam.


Mendengar ciri-ciru itu, pelayan pria teringat dengan Sanubari dan Abrizar. Dia pun langsung mengajak Anki ke atas. Anki sengaja datang terlambat karena lupa memberi tahu dimana pastinya mereka hwarus bertemu.


Jadi, dia memutuskan untuk membiarkan mereka menunggu. Kenudian, dia sendiri yang akan mencari kursi mereka. Mungkin akan lebih mudah bila mereka bisa saling komunikasi. Sayangnya, Anki lupa tidak meminta kontak pria yang satunya lagi. Padahal dia tahu ada WiFi gratis di Bulan Bali.


"Anki!" sapa Samubari berusaha bersikap biasa ketika melihat Anki datang.


Gadis itu terlihat anggun dengan kaos putih panjang setengah paha dengan celana jin biru. Rambut tetap dikuncir kuda seperti sebelumnya. Bedanya, poni yang tadinya dibiarkan menutupi kening kini dijepit k samping. Dia duduk di depan Sanubari dan Abrizar.


"Kok penampilannya beda?" komentar Sanubari makin mengagumi keelokan paras Anki.


Manis seperti boneka dan tidak membosankan. Pakai baju apa pun tetap terlihat pantas. Wajahnya pun selalu terlihat natural serta segar.


"Aku hanya memakai baju tradisional seperti tadi saat di kuil. Sehari-hari aku sama saja seperti kalian. Memangnya ada yang salah dengan penampilanku?" Anki melepas tas selempang, lalu dia letakkan di sebelahnya.


Sanubari menggeleng cepat. "Selalu cantik."

__ADS_1


Anki membulatkan mata. Dengan ketus, dia berkata, "Awas kalau berani macam-macam! Kupastikan kau akan mendekam dalam jeruji."


Sanubari terdiam. Sejujurnya, dia tidak keberatan meringkuk dalam jeruji hati Anki. Andaikan dia perayu ulung, kalimat semacam itu pasti sudah lolos dari bibir Sanubari. Sayangnya, Sanubari hanyalah remaja yang kurang pengalaman. Alih-alih menanggapi, Sanubari lebih memilih menunduk dan membelokkan topik.


"Kebetulan kami baru akan memesan makanan. Kamu mau pesan juga?"


Anki membaca menu sepintas lalu berkata, "Aku mau gado-gado dan es kelapa kopyor saja."


"Gadis Jepang ternyata suka masakan Indonesia juga, ya?" ucap Sanubari sambil menambahkan pesanan Anki.


"Asalkan enak, apa pun oke bagiku."


"Wah, sama. Kita cocok, ya!" sahut Sanubari.


Ia lekas memberikan pesanan pada pelayan yang sudah menunggu dari tadi. Pelayan tersebut mengulang pesanan sebelum pergi. Musik di lantai bawah terdengar sampai ke lantai atas, mendominasi keheningan sepersekian menit di antara mereka selepas kepergian sang pelayan.


"Kalian berhutang penjelasan padaku," ucap Anki kemudian.


"Penjelasan apa? Kita saja baru saling kenal. Apa yang harus dijelaskan?" Sanubari menelengkan kepala.


Tiba-tiba dimintai penjelasan seperti ini tentu membuatnya bingung. Sanubari merasa tidak pernah berurusan dengan Anki sebelumnya. Dia yakin interaksinya dengan Anki di kuil sore tadi adalah yang pertama.


"Apa hubungan kalian dengan kak Eiji? Apakah kalian ini temannya? Terus, kenapa tidak langsung menemuinya kalau memang begitu? Atau jangan-jangan kalian ini memang mata-mata?" tukas Anki dengan muka masam.


Ada hal lain yang ingin Anki minta pada mereka sebenarnya, tetapi dia belum bisa percaya sepenuhnya dengan Sanubari dan Abrizar. Anki tidak ingin gegabah. Dia tidak ingin terjebak dengan orang-orang yang mungkin saja memiliki maksud terselubung.


"Kenapa membahas ini lagi? Bukankah sudah kubilang kami ini bukan penguntit?" Sanubari memandang Anki, tatapan mereka saling bertemu.


Abrizar terdiam menyimak percakapan mereka. Padahal, Sanubari sangat berharap dalam hati supaya Abrizar mau membantunya mencari alasan untuk keluar dari tuduhan Anki ini.

__ADS_1


"Cukup katakan alasan yang logis! Mungkin dengan begitu aku akan percaya." Anki masih memaksa mereka untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Jika kalian tahu aku dari buku, aku masih bisa maklum. Tetapi waktu itu kalian membicarakan tentang kak Eiji. Jadi, tidak mungkin kalian datang ke kuil untuk mengembalikan buku ku. Iya, bukan? Satu lagi, di Jepang ini ada banyak kuil. Rasanya mustahil kalian berada di sana hanya karena kebetulan. Apakah dunia ini sesempit itu?" ujar Anki menjelaskan analisanya.


__ADS_2