
Kelana mendesak, "Susul dia!"
"Sudah sejak tadi siang. Kakek itu pasti sudah jauh."
"Coba tanyakan pada Kakek Fang! Mungkin beliau tahu tujuan Kakek Ansel. Pokoknya, kau harus mencarinya sekarang. Kami tidak ingin kehilangan jejaknya lagi."
"Aku bisa saja mencarinya. Tapi, bagaimana dengan Sanu?"
Hening sesaat. Sambungan belum diputus. Namun, suara dibisukan. Damiyan menatap layar ponsel.
"Siapa sih Kakek Ansel ini? Kenapa pula mereka mendadak menyuruhku mencarinya?"
Damiyan sama sekali tidak memiliki klu. Dia mengingat-ingat kembali tentang Anselmus. Ciri yang paling mencolok adalah alisnya yang memanjang. Damiyan belum pernah bertemu dengan manusia yang alisnya bisa panjang seperti itu.
Seluruh rambut Anselmus putih. Kumis dan jenggot menyamarkan bentuk bibir. Itu membuatnya terlihat sama saja seperti kakek-kakek berkumis dan jenggot pada umumnya. Iris matanya hijau jernih mirip Sanubari dan Aeneas. Namun, pemilik mata hijau di dunia ini bukan hanya mereka bertiga.
Berapa kali pun dipikirkan, tetap tidak bisa memberikan petunjuk pada Damiyan. Pria itu hanya bisa menatap layar ponsel, berharap notifikasi pesan dari Kelana masuk, lalu menjelaskan siapa Anselmus. Namun, bukannya pemberitahuan email masuk yang diperoleh, malahan tanda input suara yang berubah aktif kembali.
"Lakukan pengawasan jarak jauh seperti sebelumnya! Sanu bersama Kakek Fang saat ini. Jadi, tidak masalah kau hanya memantaunya. Sekarang, kau harus mengejar Kakek Ansel!" Suara Kelana terdengar kembali.
"Bagaimana dengan prioritas andai aku belum bertemu Kakek Ansel, tapi Sanu dalam bahaya?" Damiyan harus berhati-hati dengan ini.
"Kau harus kembali ke tempat Sanu. Kemudian, lanjutkan pencarian setelah Sanu sudah pasti aman! Kami yakin kau bisa mencapai tempat Sanu secepat mungkin."
"Baiklah."
Panggilan berakhir. Damiyan tidak jadi tidur. Dia bergegas memasukkan dua setel pakaian dan peralatan ke ransel. Baju ganti menurutnya perlu dibawa. Tanpa tujuan pasti, siapa yang tahu berapa hari yang diperlukan untuk menemukan Anselmus. Dengan menyandang ransel, Damiyan berdiri di jalan kosong. Dia menolah-noleh.
"Ke arah mana kakek itu pergi?"
Damiyan bingung. Dia tidak mengantarkan kepergiannya. Setelah berpikir sesaat, dia memutuskan untuk melangkah ke rumah Fang.
"Mereka sungguh tahu caranya mengeksploitasi orang. Mentang-mentang aku memiliki koneksi dengan militer Rusia dan organisasi bayangan di baliknya, mereka seenaknya menyuruhku pindah ke sana kemari. Seharusnya, mereka menciptakan alat teleportasi supaya tugasku lebih mudah."
Saat ini, Rusia memang memiliki helikopter dan jet tercepat. Namun, untuk memanggil mereka, tetaplah butuh waktu. Bagaimanapun, mereka bukanlah pengangguran yang bisa siap siaga mengekori Damiyan setiap detik. Satu-satunya kendaraan yang dimiliki Damiyan saat ini hanyalah sepasang kaki sendiri. Itu pun bila kaki bisa dikategorikan sebagai kendaraan.
__ADS_1
Dia mampu berlari dengan cepat. Tetapi, kecepatannya tidak lebih dari pesawat yang mampu menempuh jarak lima ribu kilometer per jam. Bahan bakarnya pun terbatas pada makanan dan tenaga fisik. Percuma saja bila dia bisa sampai tujuan, tapi kehabisan tenaga.
"Kakek Fang!" Damiyan berhenti di depan pintu. Dia menggedor keras.
Kepalanya celingukan. Malam sesunyi biasanya. Sanubari belum terlihat melewati halaman.
Anak itu masih di bawah tanah. Remot kontrol disakuinya ke celana. Tangannya menggenggam erat pemukul.
"Jalan bola ... aku harus bisa melihat jalan bola yang dimaksud Kak Dami."
Dia berkonsentrasi penuh memperhatikan bola-bola terbang. Pencontohan Damiyan sungguh membuatnya terpukul. Jika ingin merekrut Damiyan, dia harus bisa lebih hebat darinya.
Menoleh kembali ke belakang, Abrizar pun lebih jago bela diri meski penglihatannya terbatas. Lelaki itu mungkin akan sungguh mencampakan Sanubari bila pulang kelak, Sanubari tetap tidak bisa mengalahkannya. Eiji, Sai, Renji bisa kembali bekerja pada Aeneas kapan pun bila Sanubari tidak bisa memberikan kontribusi. Fanon pun bisa jadi akan kembali bercocok tanam di tengah hutan andai Sanubari hanyalah pembual tak berpotensi di matanya.
Seluruh anggota Sanubari sungguh bisa mandiri tanpanya. Sanubari harus cepat berkembang. Dia mengayunkan pemukul. Dua bola terpental, tetapi berkali lipat bola menimpuk tubuhnya.
"Aku tidak boleh berlama-lama meninggalkan mereka. Aku harus cepat, cepat menyelesaikan ini, cepat melunasi utang, cepat pulang!"
Matanya terus terfokus pada bola-bola yang menyerang. Hingga akhirnya, dia terbiasa. Matanya mulai bisa menyesuaikan dengan kecepatan bola. Dia masih kesulitan merangkum urutan bola. Namun, sedikitnya, Sanubari sudah bisa menyadari bola mana yang akan tiba lebih dahulu.
Gerakannya masih lambat. Kendati demikian, total bola yang bisa dipukul beruntun semakin bertambah. Dari empat, menjadi lima, enam, tujuh, delapan, sepuluh. Hingga akhirnya, hanya dua atau tiga bola yang menghantam tubuhnya sesekali. Dia terus mengayunkan pemukul tanpa tahu berapa lama waktu yang telah berlalu.
"Anak itu rupanya sudah terinspirasi." Fang tersenyum di belakang Sanubari. "Meski agak lambat, tapi dia sepertinya mewarisi matamu, Gafrillo Muda. Tidak diragukan lagi kalau dia ini memang putra kandungmu."
Fang lama terdiam sambil membawa senampan sarapan. Dia mengamati Sanubari lamat-lamat, mempertimbangkan harus atau tidaknya melanjutkan ke level berikutnya. Fang memegangi janggut.
"Tidak, tidak, tidak! Kecepatannya belum cukup. Dia belum siap ke tahap itu."
Fang melangkah ke meja tempat biasanya dan Damiyan mengamati Sanubari. Namun, remot tidak ada di sana. Dia meletakkan nampan, lalu mencari ke kolong-kolong. Remot tetap tidak ada. Seingatnya setelah mematikan tembakan bola semalam, Fang mengembalikan ke tempat semula.
"Mustahil Sanu bisa menyalakan secara manual tanpa remot. Mungkinkah anak itu yang membawanya?"
Fang berhenti mencari. Dia menyalakan interkom.
"Sanu, istirahat dan sarapan dulu!"
__ADS_1
Suara Fang mengejutkan Sanubari. Tak pelak, gerakan Sanubari mendadak melambat dan kembali kacau. Hanya satu bola yang berhasil dipukul sekali ayun. Belasan bola lagi-lagi merajamnya. Sanubari berhenti memukul. Dia menoleh ke belakang. Melihat Fang yang berdiri, Sanubari lekas mematikan tembakan bola.
Dia berlari keluar dari ruangan. Bajunya basah kuyup. Keningnya pun dialiri keringat. Tiba di sebelah Fang, Sanubari menjatuhkan diri. Dia duduk di lantai bersandar sofa. Napasnya tersengal.
"Apa-apaan tadi? Ritmemu sudah bagus. Kupikir kau sudah mengalami kemajuan. Tapi, penampilanmu yang terakhir tadi sungguh kacau, Sanu."
"Itu karena Kakek tiba-tiba mengejutkan." Suara Sanubari diselingi sengalan. Ditambah perut yang keruyukan, lututnya jadi ikut gemetar lemas.
"Begitu saja kehilangan konsentrasi. Fokusmu sungguh lemah, Sanu!" Fang duduk di sofa.
Sanubari tidak membalas. Kesadarannya hampir hilang beberapa detik ketika Fang mengejeknya. Rasa lelah yang tidak dirasa sebelumnya, sekonyong-konyong bergelayut ke sekujur tubuhnya, menyedot sisa kekuatan hingga habis sama sekali. Tangannya sampai terkulai tanpa bisa digerakkan.
"Kenapa? Lapar, ya?" Fang menatap Sanubari yang pucat pasi, "makanlah dulu!"
Sanubari tidak merespons. Anak itu malah memejamkan mata.
"Mau kusuapi?" lanjut Fang.
"Aku bisa makan sendiri. Sebentar. Aku hanya butuh istirahat sejenak untuk memulihkan energi." Suara Sanubari sangat lemah.
Fang mengambil satu gelas berisi cairan pekat. Dia berjongkok di sebelah Sanubari. "Minum ini!"
Fang mendekatkan mulut gelas ke bibir Sanubari. Hanya satu tegukan, tapi mata Sanubari spontan terbelalak. Pahitnya taktertahankan. Sanubai ingin menyudahi.
Namun, Fang tetap menuangkan air sambil mengatakan, "Kau harus menghabiskannya! Tidak boleh memuntahkannya. Jika tidak kau habiskan, kau akan mati."
Sanubari menggigit bibir gelas supaya air tidak masuk. Namun, tenggorokannya tiba-tiba terasa panas dan kering. Dia butuh air.
"Ayo minum!" Fang tersenyum.
Rasa itu semakin menyiksa Sanubari. Kerongkongan kian terasa gersang. Mau tidak mau, Sanubari meneguk juga air yang tersisa meski pahit. Tenggorokkan tersegarkan. Pori-porinya seperti ditusuk-tusuk jarum dalam sepersekian menit. Kepalanya berputar-putar.
"Ka ... kek ... Fang, apa yang kau minumkan ... pada ... ku?" Badan Sanubari ambruk ke lantai.
"Racun." Fang menjawabnya santai sambil tersenyum. Dia meletakkan gelas kosong ke atas meja.
__ADS_1