
"Ehi fratellino, non sono tuo padre!"
(Hai, Adik Kecil! Aku ini bukan papamu.)
(Papa.)
Elsa mencium pipi Sanubari. Gadis kecil itu nampak senang bisa digendong Sanubari.
"Oh, lo so. Vuoi giocare con la famiglia con me, vero?"
(Oh, apa kau ingin bermain keluarga-keluargaan denganku?)
Gadis itu menggeleng, tetapi mulutnya tetap memanggil Sanubari dengan berkata, "Papà! Papà Elsa vuole solo stare con papà."
(Papa! Papa! Elsa hanya ingin bersama Papa.)
"Ma sono al lavoro. Non ho tempo per giocare con te. Lascia che ti porti da tua madre!"
(Tapi aku sedang bekerja. Aku tidak punya waktu untuk bermain denganmu. Mari kuantar kepada ibumu!)
Andaikan saja Sanubari sedang menganggur, ia tidak keberatan bermain dengannya. Gadis kecil itu terlihat menggemaskan, mengingatkan Sanubari kepada adik kecilnya yang telah tiada. Sanubari merindukannya, momen-momen ketika ia bisa menjahili adiknya, mendengar tawa tangisnya, racauan imutnya serta nasihat-nasihat ibunya yang senantiasa menyuruhnya menjadi kakak yang bertanggung jawab—kakak yang baik dan bisa menjadi teladan. Namun, ibunya pun kini telah pergi.
Hati Sanubari mendadak melankolis. Meskipun begitu, ia tetap tersenyum. Ia tidak membiarkan hati mempengaruhi ekspresinya karena ada gadis kecil dalam pelukannya.
Baru saja Sanubari hendak berdiri dari tempatnya duduk, wanita yang baru saja menyelesaikan transaksi tergopoh-gopoh menghampiri sambil menenteng belanjaan. Wanita itu berkata, "Elsa, non scappare improvvisamente da mamma! Mi dispiace figlia mia!"
(Elsa, jangan tiba-tiba lari menjauh dari mama! Maafkan putriku!)
"Non importa"
(Tidak apa-apa.)
"Ora, Elsa torniamo a casa con la mamma! La spesa è fatta."
(Sekarang, ayo Elsa pulang sama mama! Belanjanya sudah selesai.)
"Elsa vuole tornare a casa con papà in braccio."
(Elsa maunya pulang digendong papa.)
Elsa merangkul Sanubari dengan erat. Ia tidak mau berpindah ke gendongan ibunya. Gapitan kaki pun ia kencangkan.
Wanita itu merasa sungkan dengan tingkah putri kecilnya. "Elsa, questa sorella non è il papà di Elsa."
(Elsa, kakak ini bukan papa Elsa.)
Wanita itu terus mencoba memberi pengertian, merayu putrinya supaya mau lepas dari Sanubari. Namun, gadis kecil itu tetap merekat erat pada Sanubari.
Beberapa perdebatan kemudian, dua orang pria mendekat. Mereka adalah karyawan toko dan ayah anak itu yang baru saja dari kamar mandi. Secara serempak keduanya berkata, "Che cos'è?"
(Ada apa?)
Wanita itu sedikit lega melihat suaminya datang. Sekali lagi ia merayu putrinya. "Cara Elsa, ecco che è arrivato il padre di Elsa. Andiamo a casa!"
__ADS_1
(Elsa Sayang, ini papa Elsa sudah datang. Ayo pulang!)
Namun, gadis kecil itu hanya melirik sekilas pria yang baru saja datang lalu berpaling kembali kepada Sanubari. "Questo è più papà che papà."
(Yang ini lebih papa daripada papa.)
Sanubari semakin bingung dengan keadaannya. Gadis kecil digendongannya masih saja tidak mau ikut dengan orang tuanya. Elsa juga masih saja memanggilnya papa, padahal ayah aslinya sudah di depan mata. Tidak mungkin balita ini tidak bisa mengenali orang tuanya sendiri.
"Apa maksudnya lebih papa daripada papa?" batin Sanubari tidak mengerti.
Tidak peduli seberapa keras ibu Elsa membujuk, Elsa tetap tidak mau dipisahkan dari Sanubari. Ia malah menangis ketika dipaksa sehingga kedua orang tuanya terpaksa mengalah supaya keributan tidak berlanjut. Mereka harus mencari cara lain untuk memenangkan hati sang putri.
Ayah Elsa pun tiba-tiba mencetuskan sebuah penawaran sambil menatap Sanubari. "Che ne dici se compro i tuoi vestiti?"
(Bagaimana jika kubeli saja pakaianmu?)
Sanubari memang sudah mendengar berapa harga setelan baju yang dipakainya, tetapi menjualnya bukanlah wewenangnya. Dengan sangat sopan, Sanubari berujar, "Scusa, questo non è mio."
(Maaf,ini bukan milik saya.)
Karyawan toko menyahut, "Signore, ma tutto ciò che indossa è un campione dell'ultimo design del nostro negozio. Sfortunatamente, l'ultimo stock che abbiamo è appena esaurito."
(Tuan, yang dia pakai hanya sampel desain terbaru dari toko kami. Sayang stok terakhir yang kami miliki baru saja terjual.)
"Ma c'è ancora qualcosa che indossa."
(Tapi masih ada yang dia pakai.)
(Tapi itu hanya sampel. Kualitasnya di bawah barang asli meski harganya lebih rendah.)
"Non mi dispiace comprarlo a un prezzo più alto di quello vero. L'importante è che me lo posso permettere."
(Aku tidak keberatan jika harus membayarnya sama dengan harga versi asli. Yang penting aku bisa membelinya!)
Ayah anak itu menunjuk Sanubari. Hanya cara itu yang bisa terpikir olehnya supaya sang putri mau ikut pulang. Sebisa mungkin ia harus mendapatkan baju yang dipakai Sanubari. Kemudian, ia akan berpura-pura sebagai Sanubari.
Awalnya karyawan pria itu sempat bingung menentukan harga karena pakaian sampel biasanya akan diberikan secara cuma-cuma kepada karyawan. Berhubung pelanggan sendiri yang menghendaki, karyawan pria itu pun tidak ragu lagi untuk memberi harga mahal. Mereka sepakat. Transaksi dilanjutkan ke meja kasir.
Setelah itu, ayah Elsa kembali menemui anak dan istrinya yang masih bersama Sanubari. Ia menutup telinga Elsa, lalu erbisik kepada Sanubari.
Mengerti dengan rencana ayah Elsa, Sanubari pun mengangguk. Ia berkata kepada gadis kecil itu. "Elsa, papà prima vuole andare in bagno. Elsa era qui con la mamma, eh?"
(Elsa, Papa mau ke kamar mandi dulu. Kamu di sini sama mama, ya?)
"Elsa vuole venire con papà."
(Elsa mau sama papa.)
"Nel bagno degli uomini, le ragazze intelligenti come Elsa non possono venire. Se continui, ci sarà un fantasma pirata calvo che catturerà Elsa, la terrà in un armadietto pieno di calzini marci immersi in una fogna che non ha è stato lavato per decine di milioni di anni... Ha un odore peggiore dei topi morti. Peggio ancora, Elsa non potrà mai vedere papà per sempre. Vuoi?"
(Di toilet laki-laki, gadis pintar seperti Elsa tidak boleh masuk. Kalau tetap masuk, nanti ada hantu bajak laut botak yang menangkap Elsa. Terus Elsa dimasukin ke loker berisi kaos kaki busuk habis tercelup comberan yang tidak dicuci selama puluhan juta tahun. Baunya lebih buruk dari bangkai tikus. Parahnya lagi, Elsa tidak akan pernah bisa bertemu papa selamanya. Mau?)
Sanubari bergidik menceritakannya. Mendengarkan penjelasan Sanubari yang menyeramkan, Elsa pun tidak lagi bersikukuh ingin menempel pada Sanubari kemana pun ia pergi. Setelahnya, Sanubari dan ayah anak itu pergi ke ruang karyawan. Ia berganti pakaian dengan miliknya sendiri, lalu memberikan pakaian yang ia kenakan sebagai manekin kepada ayah anak itu.
__ADS_1
Ayah anak itu keluar dengan pakaian Sanubari lengkap dengan masker dan kacamata hitam. Jelas iris dan wajah mereka berbeda, tidak mungkin ia terang-terangan kembali tanpa menutupi wajahnya. Awalnya, Elsa curiga karena suara Sanubari yang dipanggilnya papa memiliki suara yang berbeda dengan ayahnya. Namun, ayah Elsa beralasan mungkin karena efek mask3r. Elsa pun percaya, keluarga kecil itu pun meninggalkan area toko.
Sanubari bersembunyi sebelum mereka benar-benar pergi. Sanubari mengetahui alasan mengapa gadis kecil itu memanggilnya papa. Ketika sedang bertukar pakaian, ayah Elsa menjelaskan bahwa ini cukup sering terjadi. Sepertinya merepotkan jika memiliki anak yang suka menganggap pria tampan sebagai ayahnya. Andaikan Sanubari berada di posisi ayah Elsa, pastilah dirinya juga akan merasa cemburu. Sanubari berharap itu tidak akan terjadi padanya kelak.
"Già andato."
(Sudah pergi.)
Sanubari menghela napas lega. "Grazie al cielo. Scusa, ho mancato al mio dovere di manichino."
(Syukurlah. Maaf, aku gagal menjalankan tugasku sebagai manekin.)
"Al contrario. Grazie a te tutto lo stock è stato venduto. Fino ai campioni anche. Questo è per te. Il tuo lavoro è finito. Puoi andare a casa."
(Justru sebaliknya. Berkat dirimu semua stok terjual hari ini. Sampai sampelnya juga. Ini untukmu. Pekerjaanmu sudah selesai. Kau boleh pulang.)
Karyawan pria itu memberikan amplop putih kepada Sanubari. Sanubari terbelalak saat melihat isinya. Ada dua lembar uang kertas lima ratus euro di dalamnya.
"Non avevi detto che il mio stipendio era di soli venti euro con cento euro di bonus? Sono tanti."
(Bukankah Kakak bilang tadi gajiku dua puluh euro dengan bonus seratus euro? Ini kebanyakan.)
"Questo è per te. I campioni non avrebbero dovuto essere venduti, ma a causa dell'incidente precedente, sono stati venduti a un prezzo più alto."
(Itu memang untukmu. Sampel seharusnya tidak dijual, tetapi karena insiden tadi, sampelnya jadi ikut terjual dengan harga lebih tinggi.)
Karyawan pria itu senang dengan kehadiran Sanubari. Penjualan baju sampel tadi sepenuhnya menjadi miliknya, sedangkan Sanubari hanya diberi lima persen dari hasil penjualan. Sanubari cukup senang mendapatkan gaji pertamanya tanpa tahu kenyataan dia bisa saja mendapatkan lebih.
Seribu euro dalam beberapa jam itu sudah sangat banyak baginya. Di restoran Moreno saja ia harus menunggu satu bulan untuk mendapatkan gaji sepadan. Siang berganti malam, Sanubari dengan penug kewaspadaan menyusuri jalanan menuju restoran Moreno. Ia masih was-was, khawatir jika orang-orang bersenjata akan mengepungnya lagi.
Restoran sudah tutup ketika Sanubari sampai. Namun, Moreno sudah menunggu kedatangan Sanubari di dalam restoran yang tak lagi berpengunjung. Moreno duduk di salah satu kursi. Ia menyuruh Sanubari duduk di hadapannya.
"Scusa, Sanubari. Non posso più ospitarti in casa mia. Non posso neanche più assumerti. Spero che questo basti per darti un posto dove vivere e un nuovo lavoro."
(Maaf, Sanubari. Aku tidak lagi bisa menampungmu di rumahku. Aku juga tidak bisa memperkerjakanmu lagi. Kuharap dengan ini kau bisa menemukan tempat tinggal dan pekerjaan baru.)
Moreno menyodorkan amplop putih di atas meja. Tas Sanubari juga ada di sana. Sanubari terkejut mendengarnya.
"Questo significa che sono stato licenziato? È stato perché me ne sono andato senza permesso? Per favore, dammi una seconda possibilità, zio! Non volevo essere assente.
(Apa ini artinya aku dipecat? Apakah ini gara-gara tadi aku meninggalkan pekerjaan tanpa izin? Kumohon beri aku kesempatan kedua, Paman! Aku tidak bermaksud membolos. Tadi aku ....)
"Lo so. È perché so che non posso più aiutarti. Se ti lascio stare con noi, potrebbe essere che le nostre prossime vite saranno in pericolo. So che tipo di persone ti stavano cercando prima. Spero puoi capire la mia posizione."
(Aku tahu. Justru karena aku tahu, maka aku tidak bisa lagi membantumu. Jika aku membiarkanmu tetap di sekitar kami, maka nyawa kami yang berikutnya bisa jadi terancam. Aku tahu orang-orang seperti apa yang mencarimu tadi. Kuharap kau bisa mengerti posisiku.)
Sanubari tidak bisa membantah kalimat-kalimat Moreno. Ia sadar diri, keberadaannya mungkin memang bisa membahayakan penolongnya. Dengan sangat terpaksa, ia meninggalkan restoran Moreno.
Amplop langsung dimasukkannya ke tas tanpa melihat isinya. Mukanya tertekuk lesu, langkahnya terasa sangat berat seakan tubuhnya sedang memikul beban besar, tetapi itu memang kenyataan yang harus dijalani Sanubari.
Baru saja ia mendapatkan kebahagiaan kecil, sebuah kesulitan kembali melanda. Ia kehilangan pekerjaan, tempat tinggal pun entah harus mencari kemana. Hidup ini benar-benar suka sekali mempermainkan dirinya. Sanubari hanya bisa menggerutu dalam hati sambil berjalan tak tentu arah.
Ia memeluk dirinya sendiri yang hanya memakai kemeja. Kemeja yang tidak cukup untuk menghangatkan tubuh di hari-hari menjelang berakhirnya musim dingin. Begitu dalam Sanubari terjatuh dalam lamunan, sampai ia tak menyadari seseorang yang mengikuti dan mendadak membekapnya. Aroma yang menguar dari saputangan membuat Sanubari kehilangan kesadaran secara instan.
__ADS_1