
Cukup lama mereka mengobrol. Teh dalam cangkir Aljunaidi pun sampai kandas. Padahal ia meminum seseruput demi seseruput di sela pembicaraan, tidak terasa seseruput itu telah menjadi secangkir. Hanya teh Sanubari saja yang belum tersentuh.
"Ngomong-ngomong, sampai kapan kau mau memakai itu, Sanu? Di sini sudah aman. Tidak perlu lagi berpenampilan seperti itu, kan?" Aljunaidi tersenyum memandang Sanubari.
Seketika Sanubari memperhatikan penampilannya sendiri. Ia sangat malu. Cadar dan jilbab super besar belum dilepasnya sejak masuk ruma. Pembicaraan serius membuatnya lupa akan penampilannya. Dengan segera, Sanubari pun melepas semuanya. Tepat saat itu, azan berkumandang dari jam digital rumah Abrizar.
"Ini ditaruh mana, ya?" tanya Sanubari sambil memegangi barang-barang yang dipinjamkan padanya.
"Taruh saja dulu di meja dan habiskan tehmu!" perintah Abrizar yang sontak saja membuat Sanubari memandang heran pada teh di hadapannya.
"Kakak ini sebenarnya tuna netra betulan atau abal-abal sih? Kok tau tehnya belum kuminum?" selidik Sanubari yang lantas menenggak tehnya dalam sekali tarikan napas.
"Hanya menebak. Bukankah Abi barusan mengatakan bahwa kau belum melepas hijabmu? Itu petunjuk yang cukup untuk menerka. Tidakkah kau merasa merepotkan jika harus minum dengan cadar terpasang?" Jabar Abrizar sambil tersenyum.
"Astagfirullah halazim, ini ada Azan, bukannya diam sebentar, malah ngobrol terus." Aljunaidi geleng-geleng sambil memutar tasbih.
"Aku mendengar dan menjawab azan kok. Dalam hati," balas Abrizar masih dengan senyuman yang sama.
Tidak lama kemudian, azan pun berlalu. Aljunaidi mengajak para pemuda untuk berjamaah salat Isya. Sanubari nampak kebingungan.
Dengan malu-malu Sanubari mengaku, "Aku memang muslim, tetapi aku tidak tahu bagaimana caranya salat."
Sanubari memainkan jari jemarinya canggung. Waktu masih kecil, dirinya memang pernah belajar praktik salat. Namun, peristiwa demi peristiwa membuatnya semakin jauh dari ibadah yang menjadi tiang agama umat Islam itu. Apa lagi dirinya selama ini tinggal bersama orang-orang yang notabene bukan muslim. Alhasil, Sanubari tidak pernah salat.
__ADS_1
Ia bahkan hampir lupa bahwa dirinya adalah seorang muslim. Selama ini, tidak ada yang mengingatkannya untuk salat. Peringatan terakhir yang ia dengar adalah ketika ibunya masih hidup. Hari ini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Sanubari kembali mendengar ajakan salat.
"Tidak masalah bisa atau tidak. Sekarang, Sanu mau ikut kami salat?" tanya Aljunaidi.
Sanubari bergeming. Dibilang seperti itu pun tetap saja Sanubari bingung. Ingin bilang mau, tetapi tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ingin bilang tidak, ia merasa kurang enak hati.
"Salat itu kewajiban kita sebagai umat muslim. Saya di sini hanya mengingatkan, tetapi tidak akan memaksa. Tidak masalah jika kau belum ingin, tidak perlu memaksakan diri untuk menutupi rasa sungkan," tutur Aljunaidi yang kemudian berdiri dan mengajak Abrizar beranjak.
Sanubari merasa tersindir. Perkataan Aljunaidi tidak ada yang salah. Akan tetapi, sisi lain dari diri Sanubari merasa kesal, hatinya panas.
"Siapa yang bilang tidak mau? Aku bilang 'kan tidak bisa salat. Kok kesannya Abi ini seperti sedang mengolok-olok aku, ya? Dasar sok tahu, huh!" batin Sanubari menahan rasa jengkel.
Sanubari merasa dirinya sangat aneh. Ia tidak menyangkal sama sekali pernyataan Aljunaidi, tetapi entah mengapa hatinya tetap saja mendongkol. Seolah ada dua jiwa di dalam sana, sisi lain dari hati Sanubari mencoba mendamaikan suasana kalbunya. Kemudian, ia segera menyusul Abrizar dan Aljunaidi.
Mulai hari ini Sanubari tinggal bersama Abrizar, bersembunyi untuk sementara waktu dari kejaran para mafioso. Abrizar dan Aljunaidi berjanji untuk membantu Sanubari, meskipun mereka tidak saling mengenal.
Pernah sekali ia bertanya kepada keduanya kenapa mau repot-repot membantunya. Namun, mereka berdua memberikan jawaban yang serupa—tidak perlu alasan untuk menolong orang lain. Begitulah inti dari jawaban panjang Abrizar dan Aljunaidi. Sanubari banyak belajar hal baru selama bersama Abrizar dan Aljunaidi. Khususnya ilmu agama serta caranya mendewasakan hati.
Di kota yang berbeda, Aeneas nampak kurang fokus dengan rapat yang sedang berlangsung. Seprofesional apa pun dirinya dalam urusan pekerjaan, Aeneas tetap tidak bisa mengabaikan badai yang melanda keluarganya. Ia menciptakan kedamaian di Talia demi keluarganya. Lalu, untuk apa ia melanjutkan semua ini jika keluarganya tetap tidak bisa hidup dengan tenang.
Selalu ada saja oknum-oknum yang berusaha mengganggu keluarganya. Satu demi per satu dari serangga pengganggu telah dibasmi. Namun, serangga baru lainnya datang untuk mengusik. Rapat pengembangan Aifka berlalu begitu saja tanpa ada yang masuk ke kepala AEneas.
Pikirannya masih tercurah pada keluarga. Ibu serta anak-anaknya yang lain aman bersama Elfata. Aeneas tidak bisa bertemu dengan mereka untuk sementara waktu. Demi menjaga keamanan, itu terpaksa dilakukan.
__ADS_1
Sedangkan Sanubari, sudah hampir dua Minggu anak itu kabur dari rumah Kelana. Anak buahnya kehilangan jejak di sekitar bangunan yang disebut masjid.
Sejak hari itu, pengawasan di sekitar sana diperketat. Beberapa hari awal para anak buahnya tidak bisa menemukan keberadaan Sanubari. Sampai akhirnya, Embara memberitahu Kelana bahwa Sanubari baik-baik saja bersama seorang ustaz dan lelaki buta.
Empat pengejar Sanubari waktu itu pun siaga di sekitar masjid. Salah seorang di antara mereka mengikuti ustaz dan pria buta sampai ke rumah. Mengingat Sanubari akan kabur jika didekati, mereka hanya mengawasi rumah Abrizar dari jauh sesuai instruksi.
"Tuan, Tuan Aeneas!" Kelana mengulang panggilannya karena tidak kunjung mendapatkan respons.
Orang-orang mulai membubarkan diri. Satu per satu meninggalkan ruangan. Tanpa Aeneas sadari, pemandandangan di depan matanya sudah berubah. Ia sepertinya sama sekali tidak fokus. Tanpa menjawab, Aeneas ikut bangkit dan meninggalkan ruangan.
Kelana menghela napas lalu mengikuti jejak bosnya. Ia paham bahwa Aeneas sedang tidak bisa diajak berdiskusi tentang urusan pekerjaan dalam kondisi seperti ini.
Tiba-tiba saja Aeneas bertanya, "Kau sudah mendapatkan kabar darinya?"
"Rumah kedua orang asing itu masih dalam pemantauan. Sepertinya tuan muda suka berpenampilan seperti orang buta ketika keluar rumah. Itu laporan yang saya dapat. Em juga sering berkomunikasi dengan tuan muda. Anda bisa menitipkan pesan kepada Em jika ada yang ingin disampaikan."
Kelana sendiri sedikit heran dengan laporan yang masuk. Bisa-bisanya Sanubari berpenampilan seperti itu. Mungkin wajar jika Sanubari memakai kacamata hitam dan masker untuk menyembunyikan wajah, tetapi remaja itu sampai membawa tongkat juga. Totalitas sekali.
Sedangkan pria yang katanya tuna netra itu malah terlihat seperti orang biasa. Kelana ingin melihat secara langsung untuk membuktikan kebenaran ucapan putrinya dan para pengintai. Namun, ia belum memiliki kesempatan.
Sebenarnya, bukan kabar tentang Sanubari yang ingin Aeneas ketahui. Akan tetapi, Aeneas senang mendengar kabar bahwa Sanubari baik-baik saja. Oleh karena itu, Aeneas sama sekali tidak menyela Kelana.
Aeneas kembali bertanya, "Lalu, bagaimana dengan LC?"
__ADS_1
"Oh, iya. Katanya dia sudah mengirimkan satu orang. Orang itu akan tiba besok.""