Santri Famiglia

Santri Famiglia
Vampir Pedalaman di Zaman Modern


__ADS_3

Jubah merah yang menutupi tubuh ramping Tendei sedikit tersingkap ketika pria itu mengulurkan tangan. Bekas gigitan lama terlihat di lengan gelap atau lebih tepat disebut kemerahan. Warna kulit itu seolah menyala ketika terkena sinar matahari.


Sanubari terheran-heran. Belum pernah sebelumnya dia melihat warna kulit seperti itu. Mereka saling berkenalan.


Beberapa saat kemudian, Fanon kembali dengan panci-panci besar. Dia meletakkan semua ke tanah.


"Kau harus berhenti menangkap bongo, Tendei! Mereka itu satwa yang dilindungi. Singa juga!"


"Populasi bongo sudah meningkat pesat. Tidak apa-apa memburu satu sesekali, kan? Anggap saja aku ini sedang membantu mengendalikan jumlah bongo supaya tidak berlebih. Lagipula, tidak banyak yang bisa dimakan di belantara ini."


Tendei tertawa. Dia melepas jubah merah, melemparnya ke kursi. Tubuh Tendei tampak kekar dengan kaos tanpa lengan. Dia memakai celana dan sepatu tentara. Di pinggangnya, tersemat pisau dan tombak setengah panjang.


Tangkai tombak sepertinya patah hingga menyisakan sepertiga panjang, lalu diperbaiki tanpa mengganti tangkai supayya tetap bisa digunakan. Tendei meletakkan tombak pendek itu ke tanah. Mengambil pisau, dia berjongkok di sebelah bongo.


"Kalian makan daging singa juga?"


Perhatian Sanubari tertuju pada singa yang tergeletak. Tidak terbayang bagaimana rasa binatang buas.


"Hanya bongo yang akan kita makan. Singa itu bukti kedewasaanku. Empat tahun ini aku memburunya. Setelah kegagalan demi kegagalan, akhirnya, bisa menangkap satu juga," jawab Tendei sambil menguliti bongo.


"Terserah kau saja! Tapi, aku tidak akan membantu jika polisi sampai menangkapmu."


Selesai berkata demikian, Fanon pergi lagi. Sementara Tendei hanya tersenyum. Dia melanjutkan menyayat-nyayat, memisahkan kulit dengan daging. Gerakannya cukup cepat dan akurat. Kulit terpotong rapi tanpa ada robekan acak.


"Apa hubungannya dewasa dan singa?" tanya Sanubari menutup hidung.


Bau anyir menguar kuat di tempat itu. Abrizar dan Fukai ikut menutup hidung. Ketiganya tidak pernah terlibat langsung dalam prosesi penjagalan seperti itu.


"Itu tradisi bagi suku Maasai sepertiku. Untuk membuktikan kedewasaan, kami harus memburu satu singa dan membawa pulang kepalanya ketika memasuki usia lima belas.


"Selama belum berhasil, kami Maasai muda tidak diperbolehkan pulang. Biasanya, para pemuda berburu secara berkelompok. Tapi, karena ibuku berasal dari suku Fang dan meninggalkan ayah dengan alasan tidak jelas, orang-orang mengecualikanku.


"Aku tidak tahu alasan pastinya karena masih bayi waktu itu. Tapi, gara-gara itu, aku harus berangkat berburu sendirian dan hampir dimakan lycaon. Fanon menyelamatkanku. Sejak saat itu, aku sering ke mari saat gagal mendapatkan makanan dari belantara.

__ADS_1


"Aku juga bertemu penjelajah hutan lain di lain waktu. Mereka memberiku pakaian ini. Pakaian lamaku sudah tidak muat."


Saat Tendei menyelesaikan cerita, Fanon telah tiba dengan dua ember air. Tendei mencuci tangan setelah menancapkan pisau ke daging. Dia mengambil pisau bersih dalam panci.


"Wah, berat juga kehidupanmu, ya?"


Sanubari mengiba. Empat tahun hidup di alam liar dengan binatang buas pastilah sangat menguras mental. Tiada hari tanpa dibayang-bayangi ketakutan.


"Empat tahun. Berarti usiamu sekarang sembilan belas tahun?" lanjutnya.


"Ya"


Dengan hati-hati, Tendei berusaha mengumpulkan darah ke gelas kecil yang ada dalam panci. Begitu penuh, dia meletakkan daging. Dia juga menampung darah ke wadah lain, lalu meminum yang terkumpul di gelas.


Seketika itu juga, Sanubari muntah-muntah. Membayangkan rasa anyir darah yang melewati kerongkongan membuatnya mual.


"Ka–kau, bagaimana bisa kau minum darah segar?"


Selesai bertanya, Sanubari muntah lagi. Rasa mual enggan meninggalkannya.


Tendei malah mengisi gelas lagi dan menyodorkan pada Sanubari. Sanubari menggeleng.


Sementara Abrizar menjawab, "Tidak, terima kasih. Dalam kepercayaan kami, darah terlarang untuk dikonsumsi. Jadi, kami tidak bisa ...."


Fukai menambahkan, "Meski aku tidak menganut kepercayaan kalian, tetapi larangan itu kurasa bisa dibenarkan. Pencernaan manusia tidak dibekali sesuatu untuk mencerna darah. Pada kadar tertentu, darah bisa menjadi racun bagi tubuh manusia. Sebaiknya, kau menghentikan kebiasaan itu Tendei."


"Aku hanya sesekali minum untuk meningkatkan vitalitas dan tidak banyak."


Tendei meletakkan gelas. Dia melanjutkan pemotongan daging.


Tanpa diduga-duga, batang raksasa di dekat mereka kulitnya bergerak. Sanubari terbelalak. Dia menatap kulit pohon yang bergeser tanpa berkedip.


Tampak mobil jip dan tronton di tengah Batang. Itu pemandangan yang sangat mencengangkan. Kedua mobil itu diam dengan mesin menyala.

__ADS_1


"Ada orang di sana. Bagaimana ini?" tanya sopir jip.


"Tidak mungkin kembali mundur, kan? Mereka juga terlanjur melihat kita," kata pria di sebelah sopir.


"Ini salahmu, Sison!" tukas perempuan yang duduk di belakang.


Dia menatap lurus ke tempat Sanubari berkumpul bersama yang lain. Semua orang di mobil jip dan tronton tegang. Mereka belum pernah keluar dari markas ketika banyak orang berkeliaran di sekitar pohon raksasa.


Mereka juga tidak bisa menghakimi orang awam atau mereka yang tanpa sengaja memasuki area terlarang ini. Itu akan bertentangan dengan prinsip asosiasi.


"Hei, ini sudah rutinitas kita. Setiap tanggal ini adalah hari panen. Kita sama sekali tidak menyimpang. Jadi, apa salahku?"


Sison yang memegang kemudi membela diri. Selama ini, mereka tidak pernah tersandung masalah dengan mengikuti jadwal yang ada.


Walaupun Sison melontarkan pembelaan seperti itu, Afra tetap menyudutkannya, "Kau yang biasanya berkomunikasi dengan Fanon. Jadi, seharusnya kau yang lebih paham kapan kita harus keluar dan tidak, kan?"


"Fanon tidak mengirimkan apa-apa padaku. Mana aku tahu kalau bakal ada orang seperti ini." Sison mengambil ponsel, tetapi benda itu tidak mau menyala. "Oh, sial! Ponselku mati."


"Makanya, jangan main game melulu!" Afra memukul kepala Sison.


"Ini bukan salahku sepenuhnya. Kenapa kalian juga tidak melakukan pengintaian dulu sebelum kita keluar? Kalian juga lalai, mengabaikan kebiasaan ketika Fanon tidak ada di sini," serang balik Sison.


Dia tidak ingin disalahkan sendiri andaikan nanti terkena tilang. Mereka keluar bersama. Jadi, menanggung sanksi pun harus bersama.


Abravo yang duduk di sebelah Afra melakukan perbesaran penglihatan dengan goggles, lalu menunjuk ke depan. Dia berseru, "Hei, lihat! Fanon berjalan ke mari!"


"Ah, benar. Itu Fanon," Kata Sasin yang duduk di sebelah kemudi setelah menurunkan gogglesnya. Kacamata itu sebelumnya berada di kepala seperti bandana.


Fanon memang berjalan ke arah mereka sebelum berlari kecil. Jarak berkumpulnya orang-orang dan mereka kurang lebih seratus meter.


Abravo menyampaikan kesimpulannya, "Kalau dia juga ada di sini dan menyambut kita, itu artinya tidak masalah untuk muncul, kan?"


Sopir tronton tidak berani maju. Mereka juga tahu aturan untuk tidak keluar ketika ada orang di luar asosiasi. Mereka bisa saja menutup kembali pintu. Namun, yang memegang kunci saat ini adalah Sison. Keputusan ada di tangan sopir jip terbuka itu.

__ADS_1


"Benar, mari hampiri saja dia! Jangan biarkan dia kelelahan hanya untuk menghampiri kita. Sison tancap gas.


__ADS_2