Santri Famiglia

Santri Famiglia
Semua Bergerak


__ADS_3

Berita kaburnya Eiji tidak hanya disampaikan pada penjaga kamar Jong Hyun. Para Mafioso yang ditempatkan di depan kamar Shima Pun turut menerima kabar tersebut.


Sama halnya dengan pasukan yang ada di depan kamar Jong Hyun, kelompok mereka juga dibagi menjadi dua. Mereka yang masih tinggal berusaha menghubungi Shima.


Kamar Shima adalah tipe ruangan kedap suara, sehingga mustahil hanya mengetuk pintu. Beberapa deringan, telepon tidak juga diangkat.


Dalam kamarnya, Shima kesal dengan telepon yang terus berbunyi. Dengan enggan, dia pun mengangkatnya.


"Ada apa?"


"Shiragami kabur, Tuan!"


Mendengar itu, Shima malah terbahak. "Jangan bercanda! Kau membangunkan aku jam lima pagi hanya untuk ini? Mana mungkin Eiji bisa keluar. Dia saja tertangkap saat mencoba membuka pintu kemarin. Sekali lagi kau mengganggu jam istirahatku untuk hal tidak penting, maka kau harus bekerja tanpa bayaran selamanya."


"Ini serius. Ada yang melihatnya bersama orang lain di kamar gadis itu."


"Orang lain?" Shima tiba-tiba teringat kegagalannya menangkap Anki beberapa hari sebelumnya.


Orang-orang elitenya dengan mudahnya ditumbangkan. Belum lagi dengan adanya laporan anak rekrutan baru yang terlibat di dalamnya, membuat dahi Shima kian berkerut.


Pernah sekali Shima mendengar dari Eiji, "Kita mendapat anggota potensial baru. Dia sangat payah dalam berbagai bidang. Hampir seluruh nilai ujiannya nol. Bahkan, menulis nama sendiri saja tidak bisa. Tetapi, ujian fisiknya bagus. Nilai IT-nya juga sempurna. Dia bahkan bisa mengatasi pengkodean dari Kimbab yang dulu sulit kupecahkan."


Kalimat itu membayangi Shima yang terduduk sekarang, mengantarkan ketakutan yang merambat ke kepalanya. Eiji memang Mekatronika jenius Onyoudan. Dia bisa dengan cepat mempelajari segala jenis sistem.


Namun, dalam penciptaan, Eiji masih kalah dari insinyur andalan BGA. Tak jarang, Onyoudan harus membeli produk BGA untuk dipelajari, lalu ditiru. Dalam pemrograman pun kemampuan Eiji masih di bawah Kimbab.


"Hubungi keamanan! Jangan biarkan seorang pun keluar dari gedung ini!" perintah Shima kemudian.


Bila ada yang bisa membobol kombinasi sistem keamanan Eiji dan Kimbab, maka dapat dipastikan kemampuan orang itu lebih tinggi dari Kimbab. Itulah dugaan Shima setelah memikirkan semua ini.

__ADS_1


Di lain pihak, Jong Hyun sama gusarnya dengan Shima. Dia keluar hanya dengan jubah tidurnya.


"Sial! Mungkinkah Frosty Sky ikut andil dalam kekacauan ini? Tetapi, apa hubungannya dengan gadis itu? Ah, Frosty Sky sialan! Bedebah itu suka sekali merecoki urusanku," gerutu Jong Hyun dalam hati.


Tidak ada nama lain yang terlintas dalam pikiran Jong Hyun. Selama ini, hanya Frosty Sky yang mampu bertarung imbang melawan Hyun Jo. Jika sistem tambahan dari Hyun Jo bisa diterobos, Jong Hyun yakin seratus persen pelakunya pasti Frosty Sky.


Jong Hyun mengepalkan tangan erat. Musuh bebuyutannya itu baru saja membuatnya menderita kerugian sangat besar, dan sekarang akan merugikannya lagi dengan membuatnya kehilangan seorang gadis paling sempurna yang pernah dia temukan.


Petang menjelang pagi yang seharusnya mengantarkan kesegaran bagi setiap insan yang baru terbangun, kini malah mengembuskan angin panas yang mendidihkan emosi. Jauh di suatu tempat, sebuah ambulans terparkir. Kepulan asap keluar dari jendela kemudi, meliuk-liuk terbawa kesejukan fajar.


"Nikki, aku siap kapan pun kau datang!" ucap sosok berpakaian perawat dengan suara dibuat-buat.


Dia tampak sangat santai menatap kelengangan. Bibirnya sesekali menghisap rokok yang masih setengah jalan.


Ketua keamanan mengumpulkan seluruh satpam jaga malam yang hendak pulang dan beberapa satpam jaga pagi yang baru saja datang. Panggilan itu tentunya membuat beberapa staf kebingungan.


"Anatatachi, kaeru na!" Larangan tegas untuk pulang itu diucapkan kepala keamanan. Shitteru toori, yuube wa teiden datta ...."


Mereka harus memblokir pintu-pintu keluar dan menjaga beberapa titik. Monitor pengawas difokuskan pada lantai tiga puluh sembilan dan tiga puluh delapan di mana peristiwa katanya sedang berlangsung.


"Fushigi da na ...." Satpam yang menatap monitor itu mengangkat sebelah alis.


Kamera pengawas tambahan memang dipasang tepat di depan kamar Eiji dan Anki, sehingga mereka bisa melihat keadaan di sekitar kamar-kamar itu dengan lebih jelas. Namun, apa yang dilihatnya sama sekali tidak sesuai dengan laporan yang diterimanya.


Penasaran dengan apa yang disebut aneh, kepala keamanan pun mendekat dan bertanya, "Nan da?"


"Kore mite!" Satpam itu menunjuk monitor. Sekali lagi, dia mengundurkan dan mempercepat laju video dari waktu pemadaman hingga terkini. Mereka menontonnya bersama-sama.


"Ano doa wa aita hazu desshou ne?" Satpam itu merasa heran. Karena pintu kamar Eiji yang seharusnya terbuka, tampak tertutup sampai sekarang. Orang pun tidak terlihat lalu lalang. Pun dengan kamar Anki. Kamar itu masih terlihat aman. Tidak ada siapa pun yang menyentuhnya atau sekedar mendekat.

__ADS_1


Kepala keamanan itu ikut bingung. Awalnya, dia mengira kamera macet. Namun, penunjuk waktu terus berjalan normal, memperlihatkan tiada kerusakan pada kamera.


Hasil rekaman tidak menunjukkan peristiwa sesungguhnya. Itulah yang sedang terjadi. Kamera pengawas telah dimanipulasi sejak Sanubari turun dari mobil.


Pintu kamar-kamar khusus itu sekarang terbuka lebar. Di ruangan Anki, Eiji mengedarkan pandangan. Dia mengembuskan napas lega saat mendapati ruangan masih seperti sedia kala. Sanubari berhasil memotong semua mata rantai. Remaja itu melepas jas dan memberikannya pada Anki.


"Di luar mungkin dingin. Pakailah! Maaf bila bau."


"Terima kasih." Anki memakai jas itu.


Anki pun turun dari ranjang. Eiji berjalan sambil merangkul Anki. Sementara Sanubari mengekor di belakang. Namun, seseorang menghadang ketika mereka mencapai gawang pintu.


"Kembali ke dalam!" todong seorang pria.


Eiji menoleh. Ujung laras menempel pada pelipis sang adik. Gadis itu bisa merasakan sensasi dingin yang menyentuh kulitnya. Dia pun berdiri kaku dengan jantung berdebar tak terkontrol.


Sanubari yang berada di belakang tidak tinggal diam. Dia menjorokkan Anki, membuat Eiji ikut terdorong. Secepat kilat, pemuda itu mencengkram tangan yang menggenggam pistol, mengarahkan moncongnya ke atas, menarik tangan, lalu menyodokkan lutut ke perut pria itu. Sanubari juga memukul tengkuk pria itu sampai pingsan dan merebut pistol.


"Lari!" Eiji tidak menyia-nyiakan kesempatan yang dibuat Sanubari. Dia menarik Anki menjauh.


Usai melumpuhkan musuh, Sanubari menyusul Anki dan Eiji yang lari terlebih dahulu. Kakak beradik itu saling bergandengan tangan.


Saat mendekati elevator yang terbuka, tiba-tiba pria bermasker muncul. Eiji tidak tahu apakah orang itu musuh atau hanya seorang penghuni hotel biasa. Tak ingin mengambil resiko, Eiji pun mengambil keputusan cepat.


"Ke kiri!"


Anki mengikuti ke mana pun sang kakak menyeretnya. Namun, pria bermasker itu menarik Anki ke dalam elevator ketika gadis itu melintas. Secara refleks, Anki mengeratkan gandengan, membuat Eiji mau tak mau terseret bersamanya.


"Kak Eiji, Anki!" teriak Sanubari melebarkan mata ketika menyaksikan itu.

__ADS_1


"Berhenti di sana!" Sebuah teriakan lain saling tumpang tindih dengan suara Sanubari.


Lorong kian ramai dengan derap langkah. Ketika menoleh ke belakang, Sanubari mendapati beberapa orang mengejarnya. Saat kembali menghadap ke depan, pintu elevator mulai menutup.


__ADS_2