
"Aku penggemar berat kak Eiji dan aku ingin bekerja sama dengannya," cetus asal Sanubari.
"Penggemar?"
Sanubari mengangguk, mata melirik ke kiri atas mencari alasan tanpa berani bersitatap dengan Anki. Susah payah dia menjaga suara supaya tidak terpengaruh jantung yang tak terkontrol.
"Aku pernah membaca tentang kak Eiji di sebuah majalah," kata lisan Sanubari yang dilanjutkan dalam hati, "lebih tepatnya laptop sih, tapi anggap saja itu majalah digital."
"Onyoudan?" selidik Anki.
"Bagaimana gadis ini bisa tahu?" batin Abrizar terperanjat, "apakah semua keluarga Shiragami terlibat dengan Onyoudan?"
Abrizar mengingat-ingat data tentang Shiragami Eiji yang dikumpulkannya. Eiji menjadi yatim piatu sejak usia delapan tahun.
Berdasarkan berita, orang tua Eiji meninggal akibat kecelakaan. Sejak saat itu, Eiji dan Anki diasuh kakeknya. Dari Chiba, mereka diajak pindah ke Nagoya.
__ADS_1
Sejak kecil, Eiji terkenal dengan kejeniusannya. Ada beberapa kali kasus penculikan yang melibatkan Anji dan Eiji. Namun, selalu bisa digagalkan. Kasus ini berhenti ketika Eiji berusia tiga belas tahun.
Di usia itu pula dia mulai bergabung dengan Onyoudan, menjadi anggota termuda. Meskipun sangat belia, tetapi perkembangan mentalnya melebihi usianya. Sang kakek hanyalah seorang pendeta, sedangkan Anki juga gadis biasa yang tidak terikat pada asosiasi mana pun.
Sanubari sama terkejutnya. Tidak disangka, gadis ini akan menyebut Onyoudan. Sanubari sampai tergagap.
"Kok tahu?"
"Kakak memang sering muncul di majalah Onyoudan. Memang sih, identitas kakak dirahasiakan di majalah-majalah yang dijual di toko-toko buku dan toserba. Tapi, jika kalian membeli majalah eksklusif yang harganya tidak masuk akal itu, maka tidak mustahil jika kalian bisa tahu identitas sebenarnya kakak," ungkap Anki.
Dia pun bisa mengetahui Eiji merupakan anggota Onyoudan karena sahabatnya. Sahabat Anki itu sangat mengagumi aksi heroik Eiji saat terjun ke lapangan langsung. Buku-buku karya Eiji pun sangat bagus. Bahkan buku tentang IT garapan Eiji juga mudah dipahami. Banyak kalangan yang menjadikannya literatur.
Anki menghela napas panjang. "Temanku saja saking menggemarinya sampai mengumpulkan poster kakak tanpa topeng yang memang dijadikan bonus majalah Onyoudan edisi ekslusif. Jika kalian bisa sampai sini, itu artinya kalian juga sudah membeli majalah eksklusif itu."
"Iya," jawab Sanubari asal lagi. Dia saja tidak pernah tahu siapa itu Eiji jika bukan karena Abrizar.
__ADS_1
Setelah mendengar penjelasan Anki, tanda tanya besar muncul di kepala Sanubari. Apa sebenarnya Onyoudan ini, mengapa ada majalahnya, mengapa pula ada yang menganggapnya sebagai pahlawan, Sanubari bingung dibuatnya.
"Oh, kupikir dia mengetahui rencana kami untuk menyelundupkan Sanubari ke Onyoudan. Ternyata majalah Onyoudan. Hm," batin Abrizar.
"Kalau kalian ingin memintanya keluar dari Onyoudan untuk bekerja sama dengan kalian, sebaiknya urungkan! Dia tidak akan mau melakukannya."
"Kami tidak akan menyerah. Bekerja sama dengan idola adalah cita-citaku. Betapa senangnya hati ini andai berhasil membangun perusahaan singkong bersama kak Eiji." Lagi-lagi, Sanubari memberi tanggapan ngawur.
Otaknya sedang penuh, tidak ada bilik tersisa untuk berpikir lebih realistis. Yang jelas, untuk sekarang dia tidak boleh menyinggung tentang mafia. Satu hal yang Sanubari yakini, masyarakat pasti menganggap mafia itu buruk. Dia tidak ingin Anki menjauhinya karena itu.
Tawa Anki pecah. Bisa-bisanya ada seseorang yang mendekati sang kakak hanya karena ubi batang. "Kalian tidak perlu jauh-jauh kemari dan mengajak kakak bekerja sama jika hanya ingin alat budidaya singkong, bukan? Tinggal beli saja kok sampai mau repot-repot menemuinya?"
"Aku maunya dia menciptakan alat-alat eksklusif. Jadi, aku bisa mendirikan cabang-cabang singkong keju tak tertandingi di seluruh dunia," tutur Sanubari mantap.
Anki tersenyum. Dia berpikir mungkin sang kakak akan lebih baik jika keluar dari Onyoudan, lalu bersama dua orang di hadapannya ini. "Baiklah, aku tidak akan menghalangi niat kalian. Lalu, bagaimana dengan yang kalian maksud Islam tadi sore?""Oh, itu. Kamu bisa berguru pada kak Abri. Dia ini santrinya abi Jun," balas Sanubari menunjuk Abrizar di sebelahnya.
__ADS_1
"Abri?" Anki memandang pria berkacamata.
"Oh iya, kita belum kenalan, ya? Ini kak Abri dan aku Sanubari. Salam kenal lagi. Kamu bisa memanggilku Sanu."