
Keesokan paginya, pasien dadakan Canda yang tidak lain adalah Sanubari dipindahkan ke kamar sebelah. Kamar yang lebih nyaman, wangi dan segar. Zunta kecil berlarian di kamar luas tersebut. Ia menyibak gorden biru di seberang pintu.
Pemandangan alam yang mempesona memanjakan mata tatkala gorden terbuka sempurna. Nampak beberapa air terjun dan pepohonan hijau terbentang sejauh mata memandang. Zunta kecil pun bergumam,
(Howah, ini keren!)
Rumah yang dari luar terlihat seperti satu lantai itu sebenarnya memiliki tiga lantai. Dua lantai lain dibangun di bawah tanah. Rumah kayu kakek Canda didirikan di dekat tebing. Rumah yang nampak di permukaan memang berada agak jauh dari pinggiran tebing.
Akan tetapi, dua lantai di bawah tanah diperluas hingga tepi tebing terjal. Bebatuan disekitar dinding kaca menyamarkan keberadaan rumah yang menempel pada tebing tersebut. Dinding kaca pada lantai tengah memang tidak bisa dibuka. Tidak pula disertai pintu.
Lain halnya dengan lantai dasar, pada lantai paling bawah terdapat pintu kaca yang bisa digeser untuk menuju area beranda yang menggantung di tengah-tengah tebing. Selain itu, dibangun pula tangga yang menempel pada tebing untuk turun ke bawah. Dilihat dari konstruksinya, rumah mereka tentunya dibangun oleh bukan sembarang orang. Ada arsitek dan kontraktor hebat yang berperan di baliknya.
Canda memeriksa kondisi Sanubari. Ia memasukkan suatu cairan ke tubuh Sanubari melalui infus yang tertanam pada Vena. Ia juga membersihkan dang mengoleskan salep penghilang bekas luka yang cepat mengering. Posisi tidur Sanubari masih dimiringkan ke kanan. Sebab, luka pasca operasi belum benar-benar pulih. Hal ini dilakukan supaya bagian yang terluka tidak tertindih. Dengan begitu, aliran darah pada bagian yang terluka pun bisa lebih lancar untuk mempercepat penyembuhan. Punggung Sanubari diganjal dengan bantal dan guling untuk mempertahankan posisinya.
Selesai melakukan perawatan, Canda memanggil cucunya. "Zunta!"
Gadis kecil itu berbalik badan. Rambut kuncir duanya bergoyang karena pergerakannya. Ia berlari kecil sambil menjawab.
"¡Sí, abuelo!"
__ADS_1
(Iya, Kek!)
"Cuida a este niño, ¿de acuerdo? El abuelo quiere salir primero."
(Kamu jaga anak ini, ya? Kakek mau keluar sebentar.)
"¡Seguir!"
(Ikut!)
“Si vienes, ¿quién se ocupará de él más tarde? Es una pena que se despierte en un lugar extraño pero no haya nadie que lo acompañe."
Benar kata kakeknya itu. Zunta memandang Sanubari dan Canda secara bergantian. Sebenarnya jika dipikir-pikir, Zunta lebih memilih ikut kakeknya. Toh menunggu di sini pun sama saja dengan sendirian karena Sanubari belum sadar. Di sisi lain, dia juga tidak tega membiarkan Sanubari sendirian.
"¡Quédate aquí, no vayas a ningún lado! Si tienes hambre, abre la nevera allí. El abuelo ya la ha llenado. ¡Oh, sí! ¡Recuerda una cosa! ¡No le des comida ni bebida cuando se despierte! Aún no puedes darle nada aunque te lo suplicara."
(Kamu jangan kemana-mana! Kalau lapar atau haus tinggal buka kulkas di sana saja! Kakek sudah mengisinya. Oh, iya. Ingatlah satu hal! Jika nanti dia siuman, jangan sekali-sekali memberinya makanan atau minuman! Sekalipun dia memohon, kau tetap tidak boleh memberikan apa pun.)
"¿Por qué? Eso se llama tortura."
__ADS_1
(Kenapa? Itu namanya penyiksaan.)
"Entonces podría morir. ¿Zunta quería ser un asesino?"
(Nanti dia bisa meninggal. Memangnya Zunta mau jadi pembunuh?)
"No no."
(Enggak-enggak.)
"¡Así que espera a que el abuelo vuelva a casa! Más tarde, el abuelo comprobará si se le permite comer y beber o no."
(Makanya tunggu kakek pulang! Nanti kakek periksa dulu apakah dia sudah boleh makan dan minum atau belum.)
Setelah memberi pengertian kepada Zunta, Canda pergi untuk mengurus dua mayat yang belum sempat diurus. Mereka dikuburkan tidak jauh dari ladang semangka. Sementara bangkai mobilnya ia cacah supaya dapat dipindahkan. Kegiatan tersebut cukup menyita waktu.
Selepas itu Canda kembali pulang untuk mengontrol keadaan Sanubari dan menyuntikkan cairan lain. Tiga hari berlalu tetapi Sanubari belum sadar juga. Zunta masih setia menungguinya dengan sebuah lolipop melon dan cerita random yang ia celotehkan.
"Tidak ... mamak ... papa ...."
__ADS_1
Kepala dan bibir Sanubari bergerak-gerak. Suaranya sangat lirih tetapi Zunta bisa mendengarnya. Matanya membulat, mulutnya pun berhenti mendongeng ketika mendengar Sanubari.