Santri Famiglia

Santri Famiglia
Menyelinap


__ADS_3

Pria berambut hitam memperkenalkan diri sebagai Kelana, sementara yang bersamanya adalah sang bos yang bernama Gafrillo. Itu adalah Aeneas Baldovino Gafrillo. Kelana tidak menyebutkan nama lengkap pria itu. Sudah kebiasaan baginya memanggil dan memperkenalkan Aeneas hanya dengan nama Gafrillo ketika di luar. Mereka mencari Fang.


"Maaf, tapi Tuan Fang tidak sedang di rumah. Beliau sedang ke peternakan," kata tukang kebun.


"Bisa tolong panggilkan beliau untuk kami? Katakan bahwa Tuan Gafrillo mencarinya!" ucap Kelana.


"Tentu, Tuan." Tukang kebun mengangguk. "Tapi, boleh saya meminta sedikit bantuan pada Tuan-tuan?"


"Selagi bisa, kami pasti akan membantu," balas Kelana.


Damiyan memperhatikan dari jauh. Mulutnya tidak berhenti mengunyah. Ketika satu pohon habis buahnya, dia pindah ke pohon lain yang buahnya masih lebat.


"Bisakah Tuan-tuan menjaga anak itu selagi saya pergi?" Tukang kebun menunjuk Damiyan.


Dua tamunya menoleh. Seorang anak kecil berdiri di tengah-tengah rimbunnya bonsai yang tingginya hanya setengah meter. Mereka saling tatap.


"Tuan Fang menugaskan saya untuk mengawasinya. Tidak akan ada lagi yang mengawasinya kalau saya pergi."


"Sama sekali tidak masalah. Dia lebih besar dari anak-anak saya. Akan lebih mudah mennjaganya daripada dua anak empat tahunan," kata Kelana tersenyum.


"Kalau begitu, saya mohon undur diri sebentar! Saya akan segera kembali bersama Tuan Fang."


Tukang kebun mengambil sepeda. Dia memberi salam hormat lagi ketika melihat Aeneas dan Kelana. Kelana mengajak Aeneas duduk di kursi di bawah pohon sakura. Damiyan terus memandangi mereka sambil makan buah.


"Hei, Nak, kemarilah! Duduk bersama kami!" Kelana melambaikan tangan pada Damiyan.


Namun, Damiyan hanya memandangnya tanpa berpindah tempat. Dia meraih buah yang berada dalam jangkauan. Kelana tampak sangat ramah, sedangkan Aeneas bermuka datar.


"Kau pasti cucu Kakek Fang, kan?" Kelana terus saja mengajak Damiyan berbicara.


"Bukan."


"Oh, kupikir kau cucunya. Jadi, siapa namamu?"

__ADS_1


"Damiyan," kata Damiyan.


Anak itu memetik beberapa buah. Dia membawanya ke tempat Aeneas dan Kelana. Damiyan memiliki ide kecil.


"Ini makanlah!" Damiyan menarub jeruk, apel, dan anggur merah ke meja, "paman tadi sungguh tidak sopan, meninggalkan tamu tanpa suguhan."


Aeneas memang terlihat sama sekali tidak ramah. Akan tetapi, Kelana tampak seperti orang yang bisa diajak diskusi.Damian ingin beramah tamah dengan Kelana.


Itu dia lakukan untuk melancarkan idenya. Siapa tahu, pria dewasa itu bisa memberinya tumpangan ke penginapan. Sudah cukup bagi Damiyan tinggal bersama Fang selama beberapa hari. Dia harus mencari keluarganya.


"Terima kasih. Aku Kelana. Ini bosku Gafrillo." Kelana memakan jeruk untuk menghargai Damiyan. Jeruk-jeruk kecil tersebut tidak berbiji.


"Paman-paman ini apanya Kakek Fang?" tanya Damiyan. Dia duduk di salah satu kursi.


"Hanya kenalan." Kelana dengan telaten menanggapi Damiyan.


Berbeda sekali dengan Aeneas yang sama sekali tidak terlibat dalam percakapan. Itu tidak masalah bagi Damiyan. Salah satunya saja sudah cukup. Damiyan tidak pernah menduga pertemuan pertama mereka itu akan berpengaruh pada masa depannya.


Tidak lama kemudian, tukang kebun datang bersama Fang. Mereka mengendarai sepeda memasuki halaman. Fang dengan tergesa memarkir sepeda lalu menghampiri aeneas dan Kelana


"Kami hanya ingin sedikit informasi dari Anda, Kakek Fang. Perkenalkan! Saya Kelana. Mungkin kita belum pernah bertemu selama ini. Tapi, saya adalah asisten Tuan Gafrillo."


"Kalian kelihatan seumuran."


"Bisa dibilang, Kami memang tumbuh bersama. Sejak kecil hingga dewasa, kami bermain dan belajar bersama. Bahkan, kuliah pun bersama."


"Kalau begitu, bukankah kalian itu sudah seperti sahabat. Kenapa masih memanggilnya tuan?" Fang memandang Kelana dan Aeneas bergantian.


"Saya hanya ingin menghormati Tuan Gafrillo. Walau kami lebih dekat dari sahabat sekalipun, Tuan Gafrillo tetaplah tuan saya."


"Gafrillo Muda, kau rupanya masih sependiam dulu. Jangan terlalu kaku seperti itu! Nanti kau susah mendapatkan perempuan.." Fang beralih memperhatikan Aeneas.


Bukannya menanggapi, Aeneas malah bertanya, "Di mana kau menyimpan cip itu?"

__ADS_1


"Mari masuk ke rumah dan bicarakan ini di dalam!" ajak Fang. Dia tampak resah.


"Katakan saja di sini! Tempat ini sepi. Tidak akan ada yang mendengarnya."


"Di sini ada anak kecil. Sebaiknya, kita bicarakan urusan orang dewasa ini di tempat lain," kata Fang melirik Damiyan sekilas.


Aeneas memandang Damiyan. Ekspresinya lebih masam dari jeruk menurut Damiyan. Rambut kuning Aeneas entah mengapa membuat Damiyan menyamakannya dengan jeruk. Damiyan berpikir demikian seolah tidak sadar bahwa dirinya sendiri memiliki rambut yang berbeda dari orang pada umumnya. Meski Damiyan masih kecil, rambutnya berwarna putih merata dari akar sampai ujung. Warnanya bahkan lebih cerah dari uban Kakek Fang. Selain itu, kulitnya juga lebih pucat dibandingkan mereka bertiga. Hanya iris matanya dan bibir yang tampak sangat kontras dan berwarna.


"Damiyan, jangan ke mana-mana! Lanjutkan latihan meniup jarummu!" perintah Fang, lalu mengajak Aeneas, "ayo Gafrillo Muda!"


Damiyan melihat tiga pria itu masuk rumah. Alih-alih melanjutkan seperti yang diperintahkan, Damiyan malah diam-diam menyusul. Dia mencari tempat persembunyian untuk mencuri dengar. Jiwa penasarannya meminta dipuaskan.


"Aku tidak tahu lagi setelah pindah ke tangan Vladimir. Kalian lihat sendiri, bukan? Sekarang, aku hanya ingin menikmati masa pensiun dengan tenang, tidak ingin lagi terlibat dengan urusan semacam itu."


"Jadi, hanya Kakek Vladimir yang tahu Di mana benda dan orang itu?" tanya Kelana.


"Iya. Sayangnya, aku tidak yakin kalian akan memperoleh informasi yang kalian inginkan. Vladimir satu-satunya pemegang rahasia yang hidup."


"Apa maksudnya itu? Kakek Vladimir sudah meninggal?" Kelana menuntut penjelasan.


"Bukan. Lebih tepatnya, aku kurang tahu bagaimana kondisi pastinya. Dia menitipkan cucunya padaku. Anak yang kalian lihat di luar tadi cucu Vladimir. Sudah beberapa hari ini, Vladimir tidak kembali ke sini."


"Memangnya, di mana Kakek Vladimir?" tanya Kelana lagi.


"Terakhir kali, dia bilang ingin menyelamatkan anak dan menantunya yang disekap Labucona. Mungkin, dia masih berada di sarang para perempuan itu."


Damiyan tidak mendengarkan percakapan sampai selesai. Dia mengira-ngira arah pembicaraan dari sebagian percakapan.


Aeneas dan Kelana membutuhkan sesuatu dari Vladimir. Damiyan yakin mereka pasti akan mencari kakeknya. Ini kesempatan emas bagi Damiyan.


Bocah itu berjalan cepat ke mobil Kelana dan Aeneas. Dia celingukan. Tukang kebun sedang tidak berada di sekitar sana. Tangan kecilnya terulur ke gagang pintu.


"Tidak terkunci," batinnya tersenyum.

__ADS_1


Damiyan masuk mobil melalui pintu depan. Dengan hati-hati, dia menutup pintu. Namun, pintu tidak sampai tertutup rapat supaya tidak menimbulkan bunyi.


Dari jok depan, Damiyan merangkak ke belakang. Dia melangkahi jok tengah. Kemudian, bocah itu meringkuk di jok paling belakang, menanti Aeneas dan Kelana kembali.


__ADS_2