
Mereka terus berlari, menerjang Padang rumput setinggi panggul. Namun, para lycaon tidak menyerah. Mereka cekakan. Seolah memanggil rekan lain, jumlah lycaon yang mengejar bertambah.
Ketiganya terengah-engah. Adrenalin terpacu kian tinggi.
Keributan membuat bongo-bongo yang bersantai di tengah rimbunnya rerumputan terkejut. Mereka panik. Binatang-binatang berkulit merah kecokelatan dengan garis-garis vertikal putih dan tanduk putih tersebut berlarian.
"Argh!"
Sanubari menjerit. Seekor bongo yang memiliki fisik seperti rusa itu berlari ke arahnya dan tanpa sengaja menyeruduknya. Tubuh Sanubari terpental, tersungkur tiga meter dari tempatnya semula.
Beruntung, para antelop lain menjauhi manusia dan gerombolan lycaon. Jika tidak, tubuh Sanubari mungkin akan terinjak-injak. Herbivora-herbivora itu memang cenderung menghindari manusia. Satu yang menyeruduk Sanubari hanya kehilangan arah di tengah kepanikan.
Lycaon cekikikan, seakan-akan menertawakan apa yang terjadi pada Sanubari. Kawanan terbagi dua. Sebagian berbelok ke tempat Sanubari tersungkur.
Menyadari itu, Abrizar berlari ke arah yang sama. Dia berdiri di dekat Sanubari yang merintih.
"Aku tidak tahu, membunuh mereka pilihan yang bijak atau bukan. Tapi, kalau jumlah mereka tidak dikurangi ...," pikir Abrizar dilanda dilema.
Membunuh akan membuatnya seperti pemburu liar. Dia tahu itu bukan hal yang baik. Terlebih lagi, bila mereka ternyata adalah satwa langka yang harus dilindungi dari kepunahan.
Di sisi lain, dia tidak tahu bagaimana caranya mengusir mereka. Para lycaon ini tampak ingin menjadikan dia dan rekan-rekannya sebagai santapan. Terlihat dari kegigihan mereka mengejar.
Dia mengeratkan genggaman pada tongkat. Sementara ponsel sudah disimpan ke saku sejak tadi.
Fukai berdebar-debar. Dia tidak menyangka akan mendadak muncul binatang berkaki empat setinggi satu setengah meter berlari tepat di hadapannya, lalu menabrak Sanubari hingga pemuda itu terpental.
"Aku tidak ingin menjelajah hutan lagi untuk kedua kalinya," batin Fukai merasa kapok dengan pengalaman ini.
Sejauh mata memandang, hanya ada rumput. Ada pohon kelapa, tetapi tidak bisa dipanjat karena tidak bertitian. Mereka telah jauh dari pepohonan lebat. Beberapa meter di arah yang mereka tuju, ada pagar besi membentang.
Sanubari tidak terlihat. Akan tetapi, dari rumput yang rebah dan posisi Abrizar, Fukai tahu di mana Sanubari.
Fukai menunduk ketika seekor lycaon terlempar ke arahnya, lalu kembali berdiri. Dia berlari sambil menoleh sesekali ke bentangan besi vertikal.
Jarak antara besi satu dan lainnya cukup lebar, sepertinya bisa dilewati manusia dengan berjalan menyamping. Saat sedang berpikir demikian, lagi-lagi, seekor lycaon dibuang ke arahnya.
"Uh!"
Fukai jatuh. Lycaon menindih badannya.
__ADS_1
"Sialan Abrizar! Dia seenaknya main lempar tanpa memikirkanku!" gerutunya.
Gara-gara Abrizar, Fukai terpaksa bergulat dengan lycaon. Bukan hanya satu, tetapi beberapa sekaligus. Di belakang punggungnya juga ada lycaon tertindih, mengaing aneh.
Tiga lycaon mengerumuni Fukai. Dia memegang moncong lycaon yang menindih dan kedua kaki depannya, lalu mengangkat tubuh binatang itu untuk memukul kaki dan mulut lycaon yang mengeroyok.
"Berat juga rupanya kalian."
Fukai bangkit. Terus berbaring akan merugikannya. Seekor lycaon merobek ranselnya.
Permen, roti, dan beberapa suntikan terjatuh. Melihat tabung suntikan berisi cairan, Fukai terinspirasi. Dia melempar sekuat tenaga lycaon di tangan.
Dia meninju, menendang lycaon yang menghadang, lalu dengan cepat menyambar tiga suntikan. Dibukanya salah satu segel. Setiap kali ada lycaon yang mendekat, dia menusukkan jarum dan menyuntikkan beberapa mililiter cairan.
"Kuharap ini bekerja."
Lycaon mundur terhuyung. Fukai terus melakukannya. Beberapa lycaon mendadak lemas dan tumbang.
Fukai tersenyum. Itu hanyalah bius yang dibawanya untuk berjaga-jaga ketika Sanubari kambuh dan pemuda itu tidak bisa menahannya. Siapa sangka, itu bisa berguna untuk hal lain.
Sayang, tiga suntikan itu hanya bisa dipakainya untuk sembilan lycaon. Masih ada sepuluh lebih yang mengeroyok Abrizar.
"Seharusnya ada lima. Ke mana yang satunya lagi?"
Fukai mengernyit. Melihat barangnya yang tercecer, satu itu mungkin tersembunyi di antara rerumputan.
"Masa bodoh!"
Fukai kembali menyandang tas dan menerjang maju. Dia menyuntikkan sedikit demi sedikit supaya cukup untuk lima lycaon.
Sementara itu, Abrizar menyetrum para lycaon. Mereka yang terkena bius tumbang lebih cepat. Dua yang tersisa melarikan diri karena rekan-rekannya tidak ada lagi yang berdiri.
Sementara itu, Sanubari berbaring memunggungi Abrizar sambil memejamkan mata. Saat berusaha bergerak, rasa sakit taktertahankan mendadak menyergap.
Panas, perih, ngilu seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum menjalar ke sekujur tubuh. Pada akhirnya, Sanubari hanya bisa berdiam diri, berharap rasa sakit tidak makin menjadi.
Dia mengatupkan bibir rapat-rapat. Persimpangan alisnya mengkerut hebat. Sementara urat-urat di sekitar pelipis tampak menonjol.
"Mamak, aku tidak tahan lagi," keluh Sanubari dalam hati.
__ADS_1
Tubuhnya bergetar. Kulit yang putih pun kian memutih. Bibirnya yang biasanya merah muda alami mendadak memucat. Ditubruk binatang berbobot lebih dari empat ratus kilogram dalam kondisi fisiknya saat ini sungguh menyakitkan.
Masih lebih baik ketika tubuhnya mati rasa. Sanubari mungkin tidak akan merasa setersiksa ini. Namun, dia juga tidak ingin kehilangan rasa selamanya. Dia ingin normal. Dia ingin sembuh.
Dada Sanubari sesak. Keringat bercucuran. Pun dengan air mata.
Abrizar dan Fukai pun berkeringat deras. Abrizar menyimak suara alam dengan seksama. Derap langkah binatang besar berlarian terdengar menjauh. Hanya saja, ada beberapa ular mendesis di sekitar mereka.
Jaraknya cukup jauh. Mereka sedikit beruntung tidak tanpa sengaja menginjak para melata itu ketika bertarung dengan lycaon.
Fukai berjongkok di dekat Sanubari. Dengan lembut, dia bertanya, "Sanu, apa yang kau rasakan?"
"Sakit," respons Sanubari sangat lemah.
Suaranya bahkan lebih tepat disebut *******. Terdengar sekali bahwa Sanubari memaksakan diri untuk membuka mulut.
"Tunggu sebentar!"
Fukai kembali mengubek-ubek tasnya. Dia tetap tidak bisa menemukan satu suntikan yang tersisa. Dia menelusuri jejaknya sambil memungut bekas suntikan dan barang-barangnya yang berserak, tetap tidak ketemu.
"Ayo pergi sebelum kawanan binatang liar datang lagi!" ajak Abrizar.
Fukai berlari ke tempat keduanya, memasukkan kembali barang-barang ke dalam bagian tas yang tidak koyak dan membungkusnya memakai kantung plastik. Dia berpikir akan membuangnya setelah keluar dari hutan.
Fukai mengarahkan, "Arah jam sembilan. Sepertinya di sana cukup aman untuk istirahat sejenak. Sanu butuh istirahat. Kalau dari posisimu, kau cukup berbalik badan seratus delapan puluh derajat."
Abrizar mengikuti saran Fukai, lalu membuka ponsel. Itu memang arah yang mereka tuju sejak awal.
"Sanu, apa kau bisa bertahan sebentar?"
Pertanyaan Fukai itu ditanggapi dengan anggukan lemah dari Sanubari, meski rasa sakit luar biasa menyiksanya. Kedua korneanya sampai ikut merah.
Kemudian, Fukai melanjutkan, "Bisa bergerak sendiri?"
Sanubari menggeleng. Fukai memindah ranselnya ke depan.
"Bri, bantu aku menaikkan Sanu ke pundakku! Sanu, tahan rasa sakitmu sebentar lagi, oke!"
Abrizar berjongkok. Dia membenarkan posisi Sanubari di punggung Fukai. Meski menyakitkan, Sanubari berusaha untuk tidak berteriak. Dia tidak ingin menjadi benalu yang bisa saja mengundang makhluk buas lain mendekat gara-gara jeritan dan akan lebih menyusahkan teman-temannya lagi.
__ADS_1
"Ikuti di belakangku tepat! Di sini sepertinya banyak ular berbisa," ucap Abrizar sambil berdiri, berjalan memimpin.