
Ribut-ribut terdengar dari luar ketika Kelana baru saja menerima nama pemilik pisau aifka di boneka Sanubari. Dia menyimpan kembali pisau, lalu keluar. Segerombolan polisi telah ada di depan pintu.
"Ada apa ini?" tanya Kelana keheranan.
Kedatangan polisi di luar dugaannya. Dia pikir, mereka telah masuk tanpa memicu sistem keamanan. Siapa sangka, polisi tetap datang tanpa tanda-tanda.
"Menyerah dan buanglah senjata kalian!" todong salah satu dari polisi.
Sementara yang lain bertarung melawan satu bawahan Kelana. Lelaki itu tidak banyak bicara. Dia mengambil dompet, lalu membuka lipatannya di hadapan mereka.
"Itu ...," sang polisi tergagap, tetapi masih sedikit ragu untuk menurunkan senjata.
"Turunkan senjata kalian! Sudah kubilang kami ini bukan pencuri," ucap bawahan Kelana.
"Kartu pengenal ini asli. Aku bisa menelepon bos besar sekarang juga jika kalian masih tidak percaya," ujar Kelana dengan tenang.
Polisi itu menurunkan senjatanya. Dia mengenali tanda keramat itu. Jika memang benar itu asli, maka berakhirlah sudah hak hidupnya di Italia bila berani menyinggung orang-orang ini.
Dia pun memerintahkan, "Kalian semua, berhenti dan simpan kembali senjata masing-masing!"
"Tapi Komandan, bagaimana bila mereka ini penipu?" Salah seorang dari mereka masih enggan menurunkan senjata.
"Itu asli," balas sang komandan yang langsung meminta maaf kepada Kelana dan menjelaskan, "Tadi ada yang menghubungi kami bahwa ada pencurian di sini. Kami tidak tahu jika itu Anda."
"Tidak apa-apa," balaz singkat Kelana yang langsung memasukkan dompet kembali.
"Tetapi, apa yang Anda lakukan di sini? Apakah Anda membeli rumah ini?"
"Tidak, kami hanya memastikan sesuatu. Urusan kami sudah selesai. Kami akan segera mengembalikan kuncian seperti sedia kala." Kelana tersenyum di akhir kalimatnya.
Namun, pemimpin polisi itu mengerti maksud tersiratnya. Dia pun membawa pasukannya meninggalkan Kelana. Tak lama setelah itu, Kelana dan yang lain juga pergi dari sana.
Siang harinya, rapat diadakan di kantor BGA cabang Verona. Yang hadir dalam rapat tersebut adalah tiga perwakilan Insanu (Intelijen Sanubari)—nama tim khusus yang ditugaskan untuk menyelidiki kasus-kasus berkaitan dengan Sanubari dan Sanum.
Kelana dan Aenneas juga hadir di sana. Karena Aeneas ingin segera menuntaskan permasalahan ini, rapat pun digelar satu bulan sekali. Semua orang paham bahwa mereka harus bekerja ekstra keras setelah mendengar itu.
"Sesuai keterangan pegawai hotel palsu delapan tahun silam, bayarannya memang jatuh dari langit. Kami mengetahui kebenaran ini setelah mendapatkan rekaman kamera pengintai yang dipasang diam-diam oleh seorang polisi."
Pria dengan rambut Pompade menayangkan sebuah video. Dia memperbesar video hingga menunjukkan pintu sebuah rumah. Suasana sunyi selama beberapa detik. Kemudian, sebuah bingkisan cokelat jatuh begitu saja di depan pintu.
Pria Pompade itu memperlambat laju jatuhnya bingkisan. Dari arah mana pun, sama sekali tidak ada gambar kaki mendekat. Video pun diperkecil kembali, hingga memperlihatkan jalanan di depan dan sekitar rumah. Sama sekali tidak ada orang lalu lalang.
"Mungkinkah bingkisan itu dibawa dengan aifka?" Hanya itu yang terlintas dalam dugaan Kelana.
__ADS_1
Pria berkumis menggeleng. "Kami sudah memeriksa area penggunaan semua seri aifkw sekitar tahun itu. Hasilnya, sama sekali tidak ada aifka yang melintas di wilayah tersebut."
"Bagaimana dengan helikopter?" tanya Kelana lagi.
"Tidak ada. Selama delapan tahun ini, kami juga melakukan tracking dengan sangat teliti," balas pria beriris biru.
Satu masalah itu selalu berada di titik buntu. Hal tersebut membuat Aeneas khawatir. Dia tidak bisa memaafkan orang yang pernah melukai Sanum.
Karena orang itu, Aeneas hampir kehilangan Sanum dan UKA. Meskipun keduanya kini telah tiada, tetap saja Aeneas takut penjahat bebas di luar sana akan menyentuh Sanubari.
Pria berkumis tampak ragum. Namun, setelah saling bertukar pandang dengan rekan satu timnya, dia tetap mengatakan, "Nyonya Sanum sudah meninggal. Pergerakan orang itu juga tidak ada. Apa sebaiknya kita hentikan saja penyelidikan ini?"
"Lanjutkan!"
Satu titah tegas dari Aeneas itu cukup mengatakan maksud keseluruhan. Bagaimanapun caranya, mereka harus menemukan dalang peracunan delapan tahun silam. Ketiga Insanu itu hanya menunduk patuh, meski mereka tidak tahu lagi harus menelusuri jejak dari mana lagi.
"Lalu, bagaimana dengan yang kusuruh menyelidiki semalam?" tanya Kelana.
Selepas menggeledah rumah Abrizar, Kelana mengembalikan kotak berisi belati ke tempat semula. Kemudian, dia mengirim gambar belati aifka, data Kim Jong Hyun, serta pengakuan Sanubari pada pemimpin Insanu. Dia meminta mereka menyelidiki keterkaitan Kim Jong Hyun dengan Sanubari.
Tidak ada petunjuk berarti yang bisa Kelana temukan di rumah Abrizar. Kecuali, fakta bahwa Abrizar merupakan seorang magister informatika. Identitas yang lumayan luar biasa untuk seorang tuna netra menurut Kelana. Dia menemukan beberapa piagam penghargaan tersimpan rapi dalam almari Abrizar.
Salah satunya merupakan piagam paralimpiade cabang olahraga silat, karate, dan taekwondo. Tumpukan kertas yang membuat Kelana seakan tidak ingin percaya. Namun, keterangan 'paralimpiade' sudah cukup menegaskan bahwa tidak ada tipuan dengan kondisi fisik Abrizar.
"Abrizar Ascanius—putra dari Aradia Ascanius. Tidak diketahui siapa ayah kandungnya karena SM meraup banyak untung dengan tubuh belia Aradia," jelas pria berkumis mulai membuka slide berisi data tentang lelaki yang kini bersama Sanubari.
Mereka sudah diminta menyelidiki tentang pria itu sejak Sanubari diketahui ada di rumahnya. Jadi, ada banyak informasi yang bisa mereka peroleh.
"Ibunya—Aradia merupakan warga negara Italia. Ditawan dan dijadikan budak SM sejak usia tujuh belas tahun. Abrizar lahir dalam masa tawanan itu. Dia mengalami kebutaan sejak lahir. Saat usianya lima tahun, ibunya menikah dengan tentara Indonesia bernama Dana. Ayah sambungnya itu yang memfasilitasi pendidikannya."
Slide terus bergerak, menampilkan foto Abrizar sejak masa kanak-kanak hingga dewasa. Foto nama-nama orang yang disebut pun juga ditampilkan.
Aeneas memperhatikan foto-foto tersebut. Dia tak mengenal satu pun dari mereka. Hanya saja, usia ayah sambung Abrizar tak jauh berbeda dengannya.
"Dua tahun setelah tinggal bersamanya, kecerdasan Abrizar mulai terlihat. Dia selalu mengikuti program akselerasi. Hingga akhirnya, di usianya yang kesembilan belas, dia menyelesaikan pendidikan pasca sarjananya. Sampai saat ini dia bekerja sebagai programmer lepas. Banyak perusahaan besar yang menyewa jasanya," pungkas pria itu.
Setelahnya, pria pompade menyambung, "Tidak ada catatan masalah tentang pemuda itu dengan organisasi kita yang bisa kami temukan. Jadi, kami rasa, tuan muda aman bersamanya."
Sanubari memang akan aman bersama Abrizar selama mereka tidak melemparkan diri ke sarang predator. Sayangnya, kata aman itu sudah tidak berlaku karena keduanya terlanjur menantang kebuasan.
Hanya sampai sana saja informasi yang bisa mereka peroleh. Aeneas dan Kelana menyimak tanpa menyela. Para Insanu itu berhenti sejenak, menunggu tanggapan dari Kelana dan Aeneas.
Sebenarnya, Kelana ingin mendengar tentang Kim Jong Hyun. Namun, dia baru ingat bahwa dia juga meminta mereka untuk menggali lebih dalam tentang Abrizar dan mempresentasikannya.
__ADS_1
Karena Aeneas hanya diam, Kelana pun berkata, "Lanjutkan!"
"Terima kasih. Berkat petunjuk baru dari Anda, kami mendapatkan informasi baru berkaitan dengan tuan muda." Pria berkumis memindah tayangan ke slide berikutnya.
Terpampang profil Kim Jong Hyun. Aeneas berusaha keras untuk mengingat tentang pria itu. Profilnya tampak seperti data diri pada umumnya. Namun, ada angka sembilan puluh sembilan di pojok kanan bawah. Angkanya cukup besar.
"Ada apa dengan angka sembilan puluh sembilan itu?" tanya Kelana.
"Seperti yang Anda lihat, Kim Jong Hyun adalah pendiri SM. Dia pernah menjadi peserta lelang di Tel Afif. Dia pulalah yang bersaing ketat dengan tuan Aeneas untuk mendapatkan tuan muda pada acara lelang enam tahun silam. Sembilan puluh sembilan adalah nomornya. Sayangnya, dia hanya mampu menjadi penawar peringkat kedua setelah Anda, Tuan Aeneas."
"Kenapa dia menginginkan putraku?"
"Kami masih menyelidikinya. SM adalah mafia yang bergerak di bidang perdagangan budak dan organ. Kami belum tahu, apakah dia menginginkan tuan muda untuk dijadikan budak, atau ada alasan lain."
"Selain kasus pelelangan enam tahun silam, kami juga menemukan fakta lain dari data aifka milik Kim Jong Hyun. Orang yang membawa kabur tuan muda waktu itu ternyata peserta lelang nomor delapan puluh delapan. Pasangan bernama Marco dan Maria."
"Mereka membawa tuan muda Sanubari ke Chili. Aifka Kim Jony Hyun mengikuti sampai sana. Dua belati aifka sempat dilepaskan di sekitar ruta lima. Di sana pulalah kedua belati tersebut menghilang, dan itu adalah belati sama yang Anda kirimkan datanya dini hari tadi pada kami, Tuan Kelana."
Para Insanu menjelaskan secara bergantian. Aifka merupakan produk perusahaan mereka. Mudah bagi mereka untuk menemukan bagaimana animatronik tersebut digunakan. Itu rahasia perusahaan. Mereka tidak akan membocorkan informasi ke pihak ketiga yang bisa saja merugikan pihak kedua.
"Jadi, Kim Jong Hyun yang menyebabkan mobil tuan muda Sanubari kecelakaan enam tahun lalu?"
Kelana ingat, Sanubari pernah bercerita bahwa dirinya mengalami kecelakaan enam tahun lalu. Kemudian, dia diselamatkan Canda dan tinggal bersama lelaki tua itu selama masa penyembuhan.
"Sepertinya begitu. Kim Jong Hyun memasang penyadap nano pada tubuh tuan muda Sanu. Penyadap tersebut lenyap bersamaan dengan menghilangnya belati dari radar.
"Adakah informasi tambahan lain?" ucap Kelana.
"Belum."
"Bagaimana, Tuan Aeneas?" Kelana menoleh padanya.
"Selidiki lebih lanjut tentang motif orang Korea itu! Kalian boleh pergi," jawab lugas Aeneas.
Dia tidak ingin tergesa-gesa menyerang orang, yang pada akhirnya hanya akan menambah musuh untuknya. Sepuluh tahun hidupnya damai, tetapi mengapa musuh-musuh baru bermunculan setelah dia memutuskan untuk membawa anak dan istrinya pulang?
Takdir seakan mengatakan padanya bahwa dia harus hidup sendirian untuk memperoleh kedamaian. Empat bulan lalu, dia masih bisa merasakan hidup bersama anak-anak dan istri, meski putra pertamanya belum ditemukan.
Namun, pria blonde beriris hijau itu kini harus hidup sendirian lagi. Putra pertamanya menjauh setelah kembali sesaat. Sedangkan yang lain harus diungsikan demi keselamatan mereka. Sungguh, Aeneas ingin hidup normal dan tenang..
Satu per satu Insanu meninggalkan ruangan. Tersisa Aeneas dan Kelana. Tiba-tiba saja, Aeneas berkata setelah diam cukup lama, "Apa kau sudah menyiapkan hadiah dan memanggil Damiyan? Sebentar lagi tanggal lima Mei. Aku tidak ingin hadiah itu terlambat sampai padanya."
"Kebetulan sekali, ada laporan masuk dari Damiyan. Apakah Anda ingin melihatnya sekarang?"
__ADS_1