
Empat belas Yakuza tergeletak di halaman kuil. Mereka tak sadarkan diri. Keringat membanjiri tubuh empat pria yang masih berdiri.
Begitu basahnya pakaian mereka, hingga sekali embusan angin musim semi tak mampu mengeringkannya. Dua di antaranya menghampiri raga demi raga, mengumpulkan senjata yang dibawa serta atau disembunyikan di balik baju. Kimono yang dikenakan keduanya compang-camping, terkena sabetan katana dan sejenisnya dalam pertarungan sebelumnya.
"Lucuti semua senjata mereka, jangan sampai ada yang tertinggal!" ucap Mahiru memperingatkan.
Lelaki itu tidak lagi mengenakan zori. Alas kaki dari kulit itu telah putus, menyisakan tabi putih yang sudah buluk terkena debu.
Tak jauh darinya, pendeta muda sepantaran dengan Eiji mengesampingkan napas tersengalnya. Dia dengan sangat teliti menggeledah tubuh-tubuh yang tergolek dan menjawab, "Baik, Senpai!"
Sementara seorang lagi tengah tercekat. Bulir keringat dingin sebesar biji jagung menuruni pelipisnya dengan sangat cepat. Lehernya tercekik tongkat besi yang dipalangkan. Orang di belakangnya tak mau mengendurkan cekikan, meski dia sudah kesulitan bernapas.
"Bawa teman-temanmu menjauh dari sini jika tidak ingin kuhabisi!" Abrizar hanya menggertak. Dia tidak sungguh-sungguh ingin melakukan perbuatan kotor tersebut.
Pria yang disandera Abrizar pun dengan susah payah memberikan balasan, "Baik."
Suaranya terdengar patah-patah karena kerongkongan yang masih tertekan. Setelah melihat semua rekannya ditumbangkan, Yakuza itu kehilangan nyalinya.
"Baguslah kau mengerti bahasa Indonesia. Jadi, aku tidak butuh penerjemah." Abrizar menyeringai. Dia menurunkan tongkatnya, mendorong punggung pria itu, lalu lanjut berkata, "Cepat kerjakan tugasmu!"
Dengan lutut bergetar, yakuza tersebut berjalan mendekati salah satu rekannya. Namun, ketika dia hendak menyentuh tubuh salah satu dari mereka, Mahiru menghentikannya.
"Tunggu!"
Pendeta itu meletakkan senjata temuannya. Dia menyeret satu yang telah selesai digeledah, lalu diserahkan pada Yakuza yang setengah membungkuk.
"Bawa dia dulu!" lanjutnya menepuk-nepuk telapak tangan usai melempar raga.
Yakuza yang tidak siap itu terjatuh tertimpa tubuh kawannya. Dia lekas bangkit dan menyeret temannya itu. Sang pendeta tersenyum melihat kepergiannya.
"Ide bagus menyisakan satu orang untuk membereskan kekacauan ini." Mahiru memuji keputusan Abrizar.
"Jika tidak begitu, siapa yang akan mengurus orang-orang ini?" Abrizar mengetukkan tongkatnya ke permukaan.
__ADS_1
Napasnya terengah. Staminanya pun terkuras setelah menghadapi enam lawan tangguh sekaligus. Akan tetapi, dia tetap menggunakan kemampuan ekolokasinya guna mengantisipasi adanya seseorang yang diam-diam bersembunyi.
"Kau benar. Melawan mereka saja cukup melelahkan, apalagi harus memindahkan mereka keluar kuil." Mahiru tertawa.
Dalam hati, Abrizar berhitung, "Dua berdiri, satu berjongkok, tiga belas terbaring ...."
Itu termasuk dirinya sendiri. Dia memperluas jangkauannya dengan sekali lagi mengirimkan getaran. Dua orang duduk dalam ruangan. Abrizar yakin itu pasti Anki dan kakeknya.
Ada satu lagi di dekat gerbang masuk. Yakuza tadi sedang berbincang dengannya. Abrizar tidak mengerti isi percakapan mereka. Dia merasa ada yang kurang setelah menelitinya.
"Ngomong-ngomong, terima kasih sudah tidak melakukan pembunuhan di tempat sakral ini," tambah Mahiru sembari memperhatikan sekitar.
Ada bagian bangunan yang rusak. Juniornya sedang memunguti senjata yang tersisa. Beragam senjata itu ditumpuk pada satu tempat, membentuk gunungan kecil. Cahaya kejinggaan menyinari, membuat permukaan logam tersebut berkilau.
Rupanya, cukup lama waktu yang mereka habiskan untuk melumpuhkan semua orang itu. Tak terasa, jam berlalu begitu saja.
"Senpai, kita apakan benda-benda ini?" Junior itu berdiri sambil membopong beberapa revolver.
"Jual saja! Mungkin nanti uangnya bisa berguna."
Mahiru mengerti keraguan juniornya itu. Kondisi kuil saat ini memang lumayan berantakan. Dia pun lekas menyambung, "Sekarang, simpan saja semuanya ke gudang! Lakukan itu setelah membereskan kuil!"
"Mengerti." Junior itu mengangguk patuh.
"Maaf tidak bisa membantu. Aku harus melapor pada Raiden sama terlebih dahulu." Mahiru berpamitan setelah menyerahkan segala urusan pada juniornya. Dia mengajak Abrizar kembali ke ruangan sebelumnya.
Sebelum melangkah pergi, Abrizar melontarkan sebuah pertanyaan, "Paman, ada berapa orang yang pingsan?"
Mahiru kembali berbalik ke raga-raga yang berserak. Dia memperhatikan sejumlah raga yang tergeletak. "Tiga belas yang ada di sini. Ada apa?"
"Tidak apa-apa," jawab Abrizar menutupi kecurigaannya, tetapi batinnya bertanya-tanya, "Apa mungkin perhitunganku salah? Atau tadi sebagian hanya warga sekitar?"
Keganjilan itu menjadi pikiran Abrizar. Namun, dia mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya. Dia mengikuti Mahiru menuju ruangan Anki berada.
__ADS_1
Mahiru melaporkan semua yang terjadi tanpa terkecuali. Termasuk Sanubari dan Eiji yang berhasil ke rumah sakit. Kecemasan Anki berkurang setelah mendengar itu. Namun, ini semua belum berakhir.
"Apa yang dilakukan Eiji sampai semua ini bisa terjadi?" Raiden menghela napas kasar.
"Kakak tidak bersalah."
"Ini bukan karena Eiji. Ada pemimpin sindikat perdagangan manusia yang mengincar Anki. Kurasa, orang-orang itu ke mari untuk merebut Anki kembali atas perintahnya." Abrizar ikut memberikan pembelaan untuk Eiji.
"Bagaimana kau bisa tahu?" Pertanyaan Raiden itu mewakili semua yang ada dalam ruangan tersebut.
Perhatian semua orang langsung tertuju pada Abrizar. Anki sendiri saja sebagai korban belum tahu siapa dalang di balik penculikannya, bagaimana bisa orang yang tidak berada di lokasi kejadian bisa tahu sejauh itu?—pertanyaan semacam itu mengusik benak Anki.
"Aku terus berkomunikasi dengan Sanu ketika dia berusaha membebaskan Eiji dan Anki dari tawanan orang itu. Sedikitnya, aku tahu apa yang terjadi," alibi Abrizar yang belum ingin mengungkap jati dirinya.
"Sanu?" Anki ingat kakaknya datang bersama Sanubari untuk mengeluarkannya dari kamar itu tadi pagi. Dia berpikir, mungkin Eiji menghubungi Sanubari, lalu Sanubari memberi tahu Abrizar.
Namun, setelah berpikir ulang, pertanyaan baru muncul dalam benak Anki. Bagaimana kakaknya tahu bahwa dia ada di sana ketika dirinya sama sekali tidak berkomunikasi dengan lelaki itu? Urusan para pria ini memusingkannya.
"Bagaimana ini, Raiden sama? Mengingat orang-orang tadi tidak segan melakukan kerusuhan di kuil, aku khawatir mereka akan segera kembali. Tempat ini tidak aman lagi," Mahiru mengungkapkan kecemasannya.
Tiba-tiba, keributan kembali terjadi. Segalanya terjadi dalam tempo sangat tinggi. Ketika semua orang sedang terperangah dengan suara-suara perkelahian, dinding-dinding telah didobrak.
Pintu dibuka paksa. Seseorang tersungkur di tengah-tengah mereka, memuntahkan seteguk darah. Kayu-kayu patah, dinding kertas pun robek.
"Yato!" Mahiru berseru mendekati juniornya.
Orang yang baru saja menendang perut Yato mengamati Anki, sebelum akhirnya berteriak, "Minna, kanojo wa Koko ni iru zo!"
Pria itu memandang waspada pada Abrizar, Mahiru, dan Raiden. Rekannya sebelumnya sudah memperingatkannya. Dia harus berhati-hati dengan pria berkacamata hitam dan pendeta—mereka petarung tangguh.
Perasaan Abrizar tidak salah. Ternyata, memang ada anggota Yakuza yang meninggalkan area kuil terlebih dahulu. Orang itu memberitahukan kondisi pada Shima, lalu menyiapkan pasukan. Sehingga, gelombang kedua tiba lebih cepat.
Tak Lebih dari satu menit setelah Yakuza tadi berteriak, tempat itu terkepung sempurna. Bahkan, ada bagian dinding yang dibelah dengan pedang, menciptakan pintu baru. Mereka mengepung dari seluruh penjuuru.
__ADS_1
Abrizar, Anki, Raiden, dan Mahiru menegang. Tidak ada jalan keluar bagi mereka. Sementara Abrizar telah kehilangan sebagian besar tenaganya. Ditambah lagi, dia belum sempat makan akibat rangkaian peristiwa ini. Tubuhnya mulai lemas karena lapar. Entah dia sanggup menghadapi mereka sampai tuntas atau tidak setelah ini.
Lebih dari seratus Yakuza berkumpul. Mereka memenuhi area dalam kuil, sampai meluber ke badan jalan. Malam itu, untuk pertama kalinya, kuil ramai pada petang hari di luar hari-hari perayaan.