
Di sisi lain, keran air terbuka, mengucurkan air suam-suam kuku ke wastafel. Di bawahnya, dua telapak tangan menadah. Dari telangkupan itu Eiji minum, lalu mengguyur wajahnya. Dia tidak bisa tidur.
Selesai melepas dahaga, Eiji duduk bersandar pada dipan. Rasa lapar yang bergemuruh dalam lambungnya tidak seberapa dibandingkan kekhawatirannya pada sang adik.
Sejak siang, dia mencoba membobol sistem keamanan yang menguncinya. Namun, sampai detik ini, hanya kegagalan yang dia panen.
Lelaki itu kini hanya bisa memandang tak bergairah pada menara Kyoto. Menara yang membawa kenangan lama kembali hadir. Kenangan di gedung yang sama dengan tempatnya terkurung saat ini, tetapi berbeda lantai.
Kala itu, Eiji berusia empat belas tahun. Sesosok gadis cilik dengan semangat keluar dari elevator, berlari mendahuluinya. Rambut panjangnya yang dikuncir kuda bergoyang ke kiri dan ke kanan mengikuti ke mana pun kepala gadis cilik itu tertoleh antusias. Eiji tersenyum menyaksikannya.
"Woa! Aniki, Tokyo Tawa da! Koko kara mieru nante, suge!" Gadis itu berseru girang, menunjuk menara yang terlihat dari tempatnya, lalu bertepuk tangan.
"Mieru wake nai ndarou, Koko kara wa." Eiji tertawa, dia berjalan mendekat, kemudian mengusap kepala sang adik.
"Eh, sou Na no? Jaa, are wa Nani? Osaka Tawa?" Gadis cilik itu menunjuk lagi menara yang tampak seperti miniatur. Selama ini, hanya menara Tokyo saja yang dia tahu. Dia tidak menyangka bahwa Jepang memiliki banyak menara.
"Kyoto da."
"Kyoto ni mo tawa ga Aru?"
"Un."
"Ikitai! Asoko e ikou Yo, Aniki!"
"Muri da. Soro-soro kaeru jikan da. Osokute kaeruto, Jiichan ga okocchau kamo." Eiji mengerutkan dahi.
Dia sudah diam-diam membawa Anki pergi ke prefektur lain tanpa seizin sang kakek. Dia tidak ingin kakeknya marah karena terlambat memulangkan Anki.
Gadis cilik itu cemberut. Eiji pun turut sedih melihat adiknya seperti itu. Terlebih lagi, dirinya makin jarang pulang ke rumah. Adiknya pun mungkin juga merasakan hal yang sama.
Dia pun memegang bahu Anki, menghadapkan tubuh gadis itu padanya. Lantas, Eiji tersenyum mencolek hidung Anki.
"Nah, Anki, Indonesia go wo manande! Pera pera shabettara, tsugi wa asoo e issho ni ikou! Kongetsu demo, kotoshi demo."
Entah mengapa, ide menyuruh Anki mempelajari bahasa Indonesia itu tercetus begitu saja. Sejak dia bergabung dengan Onyoudan, Eiji harus bisa mengenali tokoh-tokoh besar dunia bawah. Dia pernah tanpa sengaja melihat sebuah blog.
__ADS_1
Dalam blog tersebut, pengunggah tanpa sengaja menampilkan gambar Gafrillo bercengkerama dengan seorang bocah dengan bahasa Indonesia. Itu adalah video jalan-jalan yang sering ditonton Anki kecil. Anki selalu berkata ingin jalan-jalan bersama Eiji.
Dari sekian video yang ditunjukkan gadis cilik itu, hanya satu video yang sukses menarik perhatian Eiji. Diam-diam dia menonton video itu berulang. Dia bahkan memperbesar video yang hanya sebagai latar itu. Beruntung, video yang diunggah berkualitas tinggi, sehingga tidak pecah ketika diperbesar.
Makin memperhatikannya, Eiji kian yakin bahwa pria pirang beriris hijau tersebut adalah Gafrillo. Lalu, bocah laki-laki dengan rambut hitam dan iris sama hijaunya itu rasa-rasanya tidak asing bagi Eiji sekarang bila diingat-ingat.
"Bocah itu ... bocah itu mirip sekali dengan ...." Mata Eiji melebar.
Dia tersentak tatkala bunyi gedebuk tiba-tiba terdengar. Sontak pria itu berdiri dan berbalik badan.
"Sanubari?" ucapnya ketika melihat pemuda tersungkur.
Pemuda itu mengaduh, cengengesan. "Ah, Hei, Kak Eiji!"
Suaranya sangat pelan. Dia hanya mengangkat kepala sejenak, lalu menunduk lagi. Raut mukanya seketika berubah.
"Apa ini laptop Kakak?" Sanubari mengangkat bangkai laptop yang telah patah dengan monitor retak.
Gara-gara kecerobohannya, dia sampai tersandung dan menimpa laptop Eiji. Padahal, dia sudah berusaha pelan untuk waspada.
Remaja itu mengusap keningnya yang ngilu, lalu lanjut berkata sambil sujud lagi, "Aku sungguh minta maaf! Seharusnya, aku melihat ke bawah. Terus-terusan mengangkat kepala membuatku lupa bahwa ada pula hal yang perlu diwaspadai di bawah."
Eiji tidak mempermasalahkan laptopnya yang rusak gara-gara Sanubari. Dia terpana dengan pintu yang sekarang terbuka. Tidak ada bunyi apa pun. Senjata-senjata pun tidak ada yang muncul. Ruangan itu tampak normal. Kemudian, Eiji menurunkan pandangan, menatap pada Sanubari yang masih duduk di Lantai.
"Kau, bagaimana bisa membuka pintu itu?"
Dia menunjuk jalan keluar. Lelaki itu cukup heran. Pasalnya, Sanubari pernah mengaku sama sekali tidak paham tentang peretasan.
"A, itu ada sedikit bantuan." Sanubari mengangkat kepala.
"Kau datang dengan seseorang?"
"Sendiri, tapi tadi aku mendapat tumpangan ke mari."
"Bagaimana kau bisa tahu aku ada di sini?"
__ADS_1
Hal ini yang seharusnya ditanyakan Eiji pertama kali. Dia kehilangan ponselnya, sehingga tidak bisa menghubungi siapa pun. Meskipun masih ada laptop di tangannya, tetapi dia terlalu sibuk mencari cara untuk membuka pintu.
"Ada sedikit bantuan." Lagi-lagi, hanya jawaban singkat itu yang Sanubari berikan.
Jika bukan karena Abrizar, Sanubari tidak akan pernah tahu bahwa Eiji dikurung di gedung yang sama dengan Anki. Kurang lebih tiga jam yang lalu, Abrizar berkata, "Eiji ada di lantai tiga puluh sembilan Abe no Harukas. Anki di bawahnya."
"Bagaimana Kakak bisa tahu?"
"Tentu saja dengan membajak kamera pengawas. Jangan tanya caranya bagaimana! Yang jelas, tadi siang Eiji datang untuk menyelamatkan Anki. Tapi sayang, dia tertangkap. Bebaskan dulu Eiji! Dengan begitu, kau akan lebih mudah keluar dari sana."
Saat memasuki gedung pun Sanubari tetap berkomunikasi dengan Abrizar supaya pergerakannya lebih efektif. Dia baru melepas headphone ketika berhasil membuka pintu kamar tempat Eiji disekap. Sanubari tidak bisa mengatakan semua itu. Setidaknya, sampai Eiji setuju bergabung dengannya.
Memikirkan hal itu, Sanubari teringat sesuatu. Akan tetapi, Eiji lebih dahulu mengatakan sesuatu sebelum dia membuka mulut lagi.
"Ayo pergi dari sini sebelum mereka menyadari ini!" Lelaki itu menyambar tas, lalu berjalan keluar sambil mengambil sesuatu yang ditancapkannya pada sistem di pintu.
"Eh?" Sanubari ikut berdiri, mengejar Eiji.
Ketika menyadari laptop patah masih di tangan, dia pun berucap, "Anu, ini laptop Kakak ...."
"Biarkan saja! Itu hanya benda mati." Eiji menekan tombol elevator turun.
"Akan kuganti setelah ini." Sanubari pun membuang rongsokan elektronik itu. Dia melangkah memasuki elevator bersama Eiji.
"Tidak perlu. Sanu!" Eiji menekan angka 38 pada dinding ruangan kotak tersebut.
"Ya."
"Kau bisa membuka pintu seperti tadi, kan?"
"Tentu. Itu mudah. Berapa kali pun, aku bisa mengulanginya."
Jawaban Sanubari sangat lugas membuat Eiji berpikir bahwa Sanubari menyembunyikan kemampuan sebenarnya selama ini. Entah apa tujuan Sanubari, tetapi Eiji bersyukur anggota barunya ini berkeahlian tinggi. Dia tersenyum bersamaan dengan terbukanya pintu.
"Kak Eiji, mari kita membangun keluarga bersama-sama!" celetuk Sanubari tiba-tiba ketika mereka berjalan cepat menyusuri koridor..
__ADS_1