Santri Famiglia

Santri Famiglia
Tidak Mau Rugi


__ADS_3

"Tuan Kim, mengapa Anda bersikeras ingin mendapatkan gadis itu? Kita sudah membuang banyak tenaga dan waktu karenanya. Bagaimana jika kita akhiri saja ini? Aku akan menyiapkan gadis-gadis berkualitas lain sebagai gantinya," Shima berusaha mengucapkannya setenang mungkin.


Pada diskusi sebelumnya, Jong Hyun menolak penawaran ini. Namun, Shima mencoba menegosiasinya lagi setelah kebobolan pagi ini. Lelaki itu tidak lagi menaruh harapan pada keuntungan yang tampak menjauh.


Dengan kedatangan Eiji hari sebelumnya saja, citra Shima di mata insinyur jenius Onyoudan itu pasti sudah jatuh. Dia memang memperlihatkan sikap memihak Eiji sebelum mengurungnya, tetapi kakak Anki itu tetap menyorotkan tatapan permusuhan.


Bila Shima gagal mempersembahkan Anki, bukan hanya imbalan besar dari Jong Hyun yang akan gagal diperoleh. Akan tetapi, Shima pun pasti akan kehilangan sumber daya seberharga Eiji. Dia berpikir, hubungannya dengan Eiji mungkin masih bisa diselamatkan jika berhasil menghentikan niat Jong Hyun.


"Bukankah ini sama halnya merugi?" tambahnya yang merasa ini sudah sangat berlebihan.


Onyoudan mengerahkan banyak tenaga hanya untuk mengejar satu gadis—itu konyol menurut Shima. Alokasi waktu dan dananya saja sudah tidak masuk akal. Padahal, ada cara lain untuk memenuhi keinginan Jong Hyun.


Jong Hyun menyeringai. "Sepuluh perempuan yang kau siapkan pun tidak akan bisa menyamai harganya."


"Kalau begitu, akan kusiapkan seratus." Shima menyeruput tehnya sebelum berbicara. Dia mendadak jadi gelisah.


Sayangnya, Jong Hyun tetap ulet dengan pendiriannya. Dia menggeleng. "Jika aku bisa mendapatkan satu yang setara dengan seribu, mengapa aku harus menerima yang seratus itu? Dia investasi jangka panjang yang berkali lipat lebih baik."


Bagaimanapun caranya, Jong Hyun harus mendapatkan Anki. Baru-baru ini, organisasinya mengalami kerugian besar. Saat melihat Anki, lelaki itu merasa solusi dari masalahnya ada di depan mata. Dia yakin bisa menutup kerugian dalam kurun waktu kurang dari satu tahun dengan memanfaatkan Anki.


Sementara itu, Shima tidak berkutik. Dia tidak menyangka Jong Hyun akan menghargai Anki setinggi itu. Dia pasrah dan hanya bisa berharap dalam hati, "Semoga aku tidak akan kehilangan keduanya."


"Ada apa? Mengapa mendadak berubah pikiran?"


"Ah, tidak. Aku hanya menyayangkan waktu Anda yang tersia-siakan karena perburuan sulit ini."


"Hm, baiklah. Kalaau begitu, kuterima tawaranmu."


"Benarkah?" Shima melebarkan mata. Harapannya terbit setelah mendengar jawaban tersebut.

__ADS_1


"Kuharap kau bisa mengirimkan seratus itu setelah berhasil menangkapnya kembali."


Lanjutan jawaban itu membuat harapan Shima Melayu. Dia terjebak dalam pilihan merepotkan. Dia menyesal telah membuka kembali diskusi. Pada akhirnya, mau tidak mau Shima harus menuruti keserakahan Tuan Diktator.


Nagoya, Honjin.


Anki yang selesai mengucapkan salam terakhir langsung merangkak mendekati Sanubari. Dia sangat mengkhawatirkannya. Dia masih ingat bagaimana tingginya suhu tubuh Sanubari serta darah yang menetes hingga mengenai kakinya sebelum ini.


"Kita harus membawanya ke rumah sakit!" Anki dengan panik menyarankan.


Namun, Eiji menolaknya, "Tidak! Rumah sakit bukan tempat yang aman sekarang."


"Mengapa? Sanubari butuh dokter. Kita tidak bisa membiarkannya seperti ini. Bagaimana jika terjadi apa-apa padanya karena terlambat ditangani? Dia sudah pingsan dua kali hari ini." Anki menuntut kebijaksanaan dari kakaknya.


"Masalah keamanan tidak perlu khawatir! Aku akan membawa beberapa anggota Onyoudan untuk berjaga," ucap Kouhei dengan bangga.


Namun, tawarannya itu juga berbuah penolakan dari Eiji. Tidak mungkin Eiji berlindung di bawah Onyoudan, sementara mereka saja baru saja melarikan diri dari kejaran Onyoudan itu sendiri.


Gadis itu mengedarkan pandangan. Matanya berkaca-kaca. Dalam kondisi yang kurang baik, Sanubari saja bisa menolongnya. Setidaknya, Anki juga ingin bisa membantu Sanubari, meski hanya hal sederhana sekalipun.


"Pakai saja milikku!" Abrizar menyerahkan ponselnya. Lelaki itu turut menyesal telah menjadi salah satu penyebab Sanubari memaksakan diri, sampai tubuhnya mencapai batas maksimal.


"Seharusnya aku bisa lebih peka," batin Abrizar pun turut merutuki kecerobohan dirinya sendiri. Dia telah bersikap bodoh. Hampir saja dia membahayakan nyawa rekannya sendiri hanya karena kebenciannya terhadap Kim Jong Hyun.


"Terima kasih." Anki menerima ponsel itu.


Namun, ketika dia hendak menggunakannya, Eiji merebutnya. Pria itu berkata, "Aku tahu harus meminta bantuan kepada siapa."


Sebelum melakukan itu, Eiji menoleh pada Kouhei. Dalam kondisi mendesak ini, Eiji dipaksa untuk bertaruh dengan keputusannya sendiri.

__ADS_1


"Tuan Muda Kou, mulai detik ini, aku keluar dari Onyoudan, kuharap Anda tidak menyulitkanku ke depannya," katanya kemudian.


"Tunggu dulu! Apa kau tidak puas dengan kepemimpinan Ayah? Kau tidak perlu sampai keluar hanya karena itu. Tetaplah di Onyoudan! Aku akan merommbak semua aturan setelah mengambil alih kekuasaan."


Bujuk rayu itu tidak mempan. Eiji menggeleng. "Keputusanku sudah bulat. Satu lagi, jika Anda ingin masih bisa berhubungan denganku di masa mendatang, maka rahasiakan keberadaanku dari siapa pun!"


Dengan berkata demikian, Eiji berharap Kouhei tidak akan terpengaruh kabar apa pun yang akan diterimanya dari Shima. Menurutnya, memperlakukan Kouhei sebagai Kolega jauh lebih baik daripada memanfaatkannya sebagai Sandra.


Kouhei berpikir sejenak. Tawaran Eiji itu membuatnya merasa diistimewakan. Kebanggaannya pun melambung dan pada akhirnya, dia menyetujui usulan Eiji.


"Ryokai!" Kouhei tersenyum puas. Siapa yang tidak ingin bisa menjalin kerjasama dengan tenaga kompeten seperti Eiji? Membiarkan Eiji keluar sekarang bukanlah kerugian.


Ketika ayahnya tidak bisa merekrut Eiji lagi, kesempatan perekrutan itu malah ada padanya. Itu peluang yang bagus bagi Kouhei.


Dalam hati, Anki senang. Akhirnya, sang kakak melepaskan diri dari organisasi itu. Gadis itu bersyukur, meski beberapa hari ini dia mengalami kejadian buruk, tetapi berkat itu ada hal baik di depan matanya.


"Lebih cepat!" Suara dari ponsel Abrizar ketika Eiji mencoba menggeser layar kunci ke atas.


Lelaki itu kesulitan. Dia belum pernah memakai ponsel bersuara seperti itu. Meski pekerjaannya berkutat dengan elektronika, tetapi dia tidak turut andil dalam pengembangan teknologi untuk tuna netra. Tentunya, dia butuh waktu untuk adaptasi.


Menyadari itu, Abrizar langsung mengatakan, "Pakai dua jari."


"Perangkat dibuka kuncinya. Peluncur sistem."


Suara itu kembali terdengar setelah Eiji mengikuti saran Abrizar. Setelah itu, dia berpamitan pergi sebentar dari sana. Eiji mencari tahu nomor telepon kuil melalui internet.


Dia kehilangan ponselnya dan tidak hafal nomor kakeknya. Hanya cara ini yang dia tahu. Dia langsung melakukan panggilan begitu kontak ditemukan.


Dalam dua deringan, telepon tersambung. Sayangnya, pendeta kuil yang mengangkatnya. Eiji buru-buru meminta supaya telepon diteruskan kepada kakeknya. Tak lama kemudian, suara tua yang familiar itu pun terdengar.

__ADS_1


"Moshi Moshi."


"Kakek, aku butuh bantuan. Ini darurat. Aku akan mendengarkan apa pun kata kakek nanti. Aku janji. Tetapi, kumohon, bisakah Kakek mengirimkan dokter kepercayaan ke sini? Temanku sedang sakit. Sekarang aku ada di ...."


__ADS_2