
Sanubari terbaring di atas ranjang super besar dengan mulut dilakban serta kaki dan tangan diikat di belakang. Kesadarannya mulai kembali setelah semalaman tertidur akibat obat bius. Lamat-lamat ia bisa mendengar percakapan beberapa orang.
"Non hai sbagliato, vero?"
(Kalian tidak salah tangkap, kan?)
"Abbiamo catturato un ragazzo secondo la foto.)
(Kami menangkap pemuda sesuai dengan foto.)
"Esatto. In fondo in Italia in questo momento c'è solo un giovane con gli occhi verdi ei capelli neri."
(Benar. Lagi pula di Italia saat ini hanya ada satu pemuda berambut hitam yang memiliki iris mata hijau.)
"L'abbiamo anche visto lavorare al ristorante di Moreno. Crediamo che sia stato lui. In caso di dubbio, la signora può controllare. Non è ancora sveglio."
(Kami juga melihatnya bekerja di restoran Moreno. Kami yakin itu dia. Jika ragu, Madam bisa memeriksanya sendiri. Dia masih belum siuman.)
"Mi fido di te. La signorina Sweeta sarà qui presto. Lascia che controlli."
(Aku percaya kalian. Sebentar lagi Nona Sweeta akan datang. Biar dia saja yang memeriksanya.)
"Sweeta ... jadi mereka orang-orang suruhan Tante itu?" batin Sanubari menyimpulkan. Mendadak ia teringat perkataan Noka.
"...Ma stai scappando dalle responsabilità. Specialmente da un cliente VVIP. Forse potrebbe essere un problema per te."
(.... Tapi kau lari dari tanggung jawab. Terlebih lagi kabur dari pelanggan VVIP. Mungkin itu bisa menjadi masalah bagimu ke depannya.)
Perkataan Noka waktu itu menjadi kenyataan. Sekarang Sanubari mengerti mengapa tiba-tiba ada orang yang memaksanya ikut dengan mereka. Ia menduga pelaku penyekapannya kali ini merupakan orang-orang yang menyerangnya sebelumnya.
"Infinity Heaven ... Huh ...," gumamnya dalam hati.
Sepertinya takdir Sanubari telah terikat dengan organisasi kecil yang menaungi klub malam tersebut. Ia sudah pergi jauh ke Milan, tetapi mereka tetap saja mengejarnya. Penjelasan Noka tentang Pegagon hari itu berputar dalam kepalanya. Ia mengutuki kecerobohannya.
Andaikan hari itu ia tidak jadi masuk ke tempat itu, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi. Jam dinding mungkin bisa diputar mundur, tetapi waktu tidak akan pernah ikut kembali mundur. Sia-sia saja berandai-andai.
"Aku tidak mau bertemu Tante itu lagi. Aku harus bisa kabur dari sini," monolog Sanubari dalam hatinya.
Ia berusaha menggerakkan tangan, tetapi ikatannya terlalu kuat. Sepenuh tenaga ia coba memutuskan tali dengan cara merenggangkan tangan. Namun, nihil. Yang ada, pergelangannya terasa sakit akibat tekanan tali.
Sanubari menggulingkan tubuhnya, diamatinya ruangan. Sama sekali tidak ada benda yang bisa membantunya melepas ikatan.
"Ah, benar juga! Aku 'kan membawa itu," batin Sanubari menyeringai.
Sanubari baru ingat ia mengantongi baksil di celananya. Tangannya memang diikat di belakang, tetapi masih cukup bebas untuk meraih benda itu dalam saku celananya.
"Dapat!" Sanubari berhasil meraih senjatanya yang hanya sebesar ponsel lipat, "kau memang cerdas, Sanu!"
Sanubari memuji dirinya sendiri. Ia memang selalu menyimpan baksil di sakunya kemana pun ia pergi untuk berjaga-jaga. Tidak sekarang, tidak di masa lalu, kasus penculikan semacam ini sudah cukup sering terjadi. Sebab itulah, Sanubari tidak pernah menjauhkan senjata pemberian kakek Canda.
Sanubari sukses memotong tali yang mengikatnya. Bersamaan dengan itu, Pintu kamar dibuka. Cepat-cepat Sanubari menenggelamkan mata silet kembali lalu menindindih benda itu dalam genggaman. Ia belum membuka ikatan kakinya. Untuk sementara waktu, Sanubari harus berpura-pura tidak melakukan apa-apa.
__ADS_1
Sweta berjalan mendekat, lalu duduk di pinggir ranjang. Kemudian, dibukanya lakban hitam yang menutupi bibir Sanubari. Senyuman terkembang tatkala wajah Sanubari terekspos secara keseluruhan. Pemuda itu memanglah lelaki yang ia cari. Pemuda yang berani mendorong dan meninggalkannya malam itu.
Sweeta sakit hati. Ia merasa harga dirinya telah diinjak-injak. Ia cukup senang Infinity Heaven memberikan pelayanan yang sangat bagus. Ia tidak perlu mengeluarkan uang tambahan untuk mendapatkan apa yang memang menjadi haknya.
"Ciao, figliolo! Ci rivediamo."
(Hai, Nak! Kita berjumpa lagi.)
"Perché zia ha fatto questo?"
(Untuk apa Tante melakukan semua ini?)
"Certo per chiedere i miei diritti."
(Tentu untuk meminta hakku.)
"Su quali basi la zia mi ha chiesto dei diritti? Non abbiamo alcuna relazione. Non ho alcun obbligo verso la zia."
(Atas dasar apa Tante meminta hak kepadaku? Kita sama sekali tidak memiliki hubungan apa pun. Tidak ada kewajiban yang harus kupenuhi kepada Tante.)
Sweeta tertawa mendengar pernyataan Sanubari. "Ricordi il nostro incontro all'Infinity Heaven quella notte?"
(Kau ingat pertemuan kita di Infinity Heaven malam itu?)
"Si."
(Ya.)
(Malam itu aku sudah membelimu. Kau milikku.)
"Non sono merce. Non mi vendo neanche io.
(Aku bukan barang dagangan. Aku juga tidak menjual diriku sendiri.)
"In effetti, hai dedicato la tua vita a Infinity Heaven. Ho pagato un prezzo pesante per averti. Non aspettarti che ti lasci andare!"
(Kenyataannya, kau sudah menggadaikan dirimu sendiri pada Infinity Heaven. Aku tidak akan pernah melepaskanmu begitu saja karena aku telah membayar mahal untuk memilikimu.)
"Se pensi che io sia un host in quel club, scusa. Non sono un host lì. È tutto un malinteso."
(Jika Tante mengira aku ini HOS di klub itu, maaf. Aku bukan host di sana. Ini semua salah paham.)
"Sono affari tuoi con loro. Non mi interessa. L'importante è che io possa..."
(Itu urusanmu dengan mereka. Aku tidak peduli. Yang penting kau ....)
Tiba-tiba keributan terdengar dari luar. Ada pria dewasa yang terdengar marah, mencaci maki siapa pun yang menghalanginya masuk kamar. Tak lama kemudian, pintu pun di dobrak. Beberapa orang berjas hitam memasuki kamar tempat Sanubari disekap. Sanubari dan Sweeta pun refleks memperhatikan orang-orang yang menginterupsi momen mereka berdua.
"Signorina Sweeta, ci scusiamo per il disagio. Ci auguriamo che possa dimenticare il giovane. È ancora minorenne".
(Nona Sweeta, kami mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Tetapi, kami harap Nona mau melupakan anak itu. Dia masih di bawah umur."
__ADS_1
Pada tahun-tahun sebelumnya, pemerintah memang melegalkan aktivitas dewasa untuk anak berusia empat belas tahun. Namun, pemerintah Italia telah merubahnya. Mereka baru dianggap cukup umur ketika berusia delapan belas tahun. Sedangkan Infinity Heaven sendiri menerapkan peraturan sekurang-kurangnya seorang host harus berusia dua puluh tahun.
Sweeta tentu tidak terima jika kontraknya dibatalkan sepihak. Ia masih bersikukuh untuk mendapatkan hak yang semestinya ia dapatkan. Sweeta terlanjur jatuh hati dengan Sanubari. Berapa pun usianya, ia sudah tidak peduli lagi.
"Ti ho pagato un sacco di soldi per questo bambino. Non c'è modo che l'accordo possa essere annullato così?"
(Aku sudah membayar mahal kepada kalian untuk anak ini. Tidak mungkin 'kan perjanjian dibatalkan begitu saja?)
"Fin dall'inizio, questo accordo era sbagliato. Non è sotto contratto con noi. Il che significa che non abbiamo l'autorità per costringerlo a servirti."
(Sejak awal, perjanjian ini sudah salah. Dia tidak terikat kontrak dengan kami. Yang artinya bukan wewenang kami untuk memaksanya melayani Anda.)
"Se è così, allora perché ha voluto servire un altro ospite VVIP quella notte?"
(Jika memang demikian, lalu mengapa malam itu dia hendak melayani tamu VVIP lain?)
Sweeta tersenyum menang sambil menunjuk Sanubari ketika mengatakan itu. Ia masih ingat bagaimana dirinya menawar kepada Belleza supaya bisa menukar Noka dengan Sanubari. Yang artinya, Sanubari memang ada hubungan dengan host klub tersebut.
Belleza juga ada di ruangan tersebut. Namun, ia hanya bisa tertunduk tanpa kata. Bagaimanapun juga, yang sedang berbicara dengan Sweeta adalah pemilik klub. Belleza tak memiliki keberanian sedikit pun untuk melawan. Posisinya hanyalah sebagai manajer, pemilik klub bisa memecatnya kapan pun jika ia menunjukkan sikap kurang baik.
Sebenarnya, keadaan ini sedikit aneh menurut Belleza. Pemilik klub sekaligus ketua Pegagon itu biasanya akan membiarkannya mengelola klub sesuka hati. Selama Belleza bisa mendatangkan keuntungan besar, pemilik tidak akan terlalu peduli dengan tindakannya.
Namun, kali ini berbeda. Padahal Belleza sudah memberitahukan berkali-kali lipat keuntungan yang bisa mereka peroleh dengan memperkerjakan Sanubari, tetapi pria itu malah murka dan menerobos masuk ke kamar yang dijaga. Kini Belleza berdiri penuh kecemasan, bertanya-tanya apakah kesalahannya hingga membuat pemilik klub turun langsung untuk menegurnya.
"Belleza lo riconosce erroneamente come una nuova voce host."
(Belleza salah mengenalinya sebagai host yang baru masuk.)
"Davvero? I soldi che ho pagato di meno? Nella misura in cui vieni da me. Oh, lo so! Tu vogliamo raccogliere tasse aggiuntive per la mia persistanza di cercarlo, giusto?"
(Benarkah? Apakah uang yang kubayarkan kurang? Sampai-sampai Anda mendatangiku? Oh, aku tahu. Anda pasti ingin meminta biaya tambahan atas permintaanku untuk mencarinya, kan?)
Pemilik klub memasang senyum palsu. Dengan tenang, ia berkata, "Signorina Sweeta, questa è la mia ultima offerta. Ti rispetto davvero come membro VVIP. Pertanto, chiederò allo staff di trovare il miglior sostituto caldo. Inoltre, ti farò un regalo speciale come espiazione. Tuttavia, io non esiterò ad aggiungerti alla lista. nero se lo vorrai comunque."
(Nona Sweeta, ini adalah penawaran terakhir dariku. Aku sangat menghormatimu sebagai anggota VVIP. Maka dari itu, aku akan meminta pegawai untuk mencarikan host pengganti terbaik. Selain itu, aku akan memberikan beberapa hadiah spesial sebagai penebus kesalahan. Tetapi, jika kau tetap menginginkan dia maka aku tidak akan segan untuk memasukkanmu ke daftar hitam.)
Ancamannya serius. Ia juga tidak ingin mengambil resiko dengan meladeni kekeras kepalaan Sweeta. Sweeta hanyalah seorang wanita. Ia bisa melenyapkannya bila mau. Lebih baik kehilangan satu pelanggan VVIP daripada kehilangan satu organisasi gara-gara menahan Sanubari.
"Lascialo andare e portalo fuori di qui!"
(Lepaskan dan bawa dia pergi dari sini!)
"Si Capo!"
(Siap, Bos!)
Anak buah pemilik klub langsung membukakan ikatan Sanubari. Mereka sempat keheranan saat menemukan tali yang mengikat tangan Sanubari telah terpotong. Namun, mereka memakluminya kemudian. Sweeta ada di kamar bersama Sanubari saat mereka masuk. Mungkin saja Sweeta yang memotongnya. Begitulah pikir mereka.
Setelah itu, Sanubari dibawa pergi dengan mobil. Di tengah jalan, Sanubari dipaksa keluar dan ditinggal begitu saja. Sanubari terbengong dengan peristiwa yang baru saja dialaminya. Dia tidak habis pikir, orang-orang dewasa itu menyerangnya, menculiknya dan kini mereka menelantarkannya.
Sanubari hanya bisa mengangkat sebelah alis memandang kepergian mereka. Ia tak mau memikirkan tujuan mereka menyekap yang menurutnya tidak jelas. Saat ini, yang terpenting adalah menemukan tempat tinggal dan pekerjaan baru.
__ADS_1
Pertama, Sanubari berencana mencari sarapan terlebih dahulu karena perutnya sudah lapar. Ia merasa tidak asing dengan tempat diturunkannya sehingga Sanubari mengandalkan ingatan samarnya untuk menemukan pertokoan. Tiba-tiba saja, seorang wanita muncul dari tikungan dengan berlari. Mereka pun bertabrakan.