Santri Famiglia

Santri Famiglia
Jawaban Lamaran


__ADS_3

Kelana berdehem lalu menyela pembicaraan mereka, "Apa yang kalian bicarakan? Sekolah saja belum lulus. Terlalu cepat membicarakan hal itu sekarang."


Embara menoleh pada ayahnya. Ia sedikit kesal karena belum mendapatkan jawaban dari Sanubari gara-gara ulah sang ayah. Dengan alis mengerut Embara membalas Kelana, "Papa, aku sudah tujuh belas tahun."


"Kau masih di bawah umur."


"Tapi aku tetap bisa menikah bila Papa mengizinkan."


"Sayangnya, papa hanya akan mengizinkan jika kau sudah cukup umur. Sekolah dulu yang benar, baru pikirkan itu nanti!" pungkas Kelana tersenyum menang, "sekarang, biarkan Sanubari istirahat dulu!"


Kelana mengajak Sanubari masuk rumah. Ia memberikan kamar sendiri di lantai dua. Awalnya, Kembara mengajak Sanubari untuk bermain anggar. Akan tetapi, Kelana tidak mengizinkan. Ia menjelaskan tentang kondisi Sanubari yang baru saja keluar dari rumah sakit.


Kelana pergi lagi setelah membawa Sanubari ke rumahnya. Tidak ada kegiatan apa pun yang dilakukan Sanubari hari ini. Ia hanya berbagi cerita dengan si kembar, makan, mandi lalu kembali ke kamarnya.


Malam ini begitu tenang. Sanubari memandang langit malam dari beranda kamar. Angin malam menyejukkan kulitnya, memberikan kedamaian sesaat sampai seseorang menyelinap ke kamarnya tanpa izin.


"Apa yang kau lihat? Tidak ada bulan dan bintang malam ini."


Suara gadis yang dikenali Sanubari terdengar sangat dekat, membuatnya menoleh pada sumber suara. Embara yang memakai baju tidur tiba-tiba sudah berada di sisinya, memandang langit yang sama.


"Em?"

__ADS_1


Sanubari sedikit salah tingkah. Ia tidak tahu harus bicara apa. Yang ia bisa hanya menggeser posisi berdirinya tiga langkah dari tempat semula.


Satu hembusan angin kemudian, bunyi notifikasi media sosial yang sangat familiar terdengar. Bunyi itu memancing Embara untuk memperhatikan benda pipih di tangan Sanubari. Embara pun merapatkan kembali jarak mereka berdua.


"Kau punya ponsel?" Embara menyelipkan rambut panjangnya yang tergerai ke telinga, "kenapa tidak bilang-bilang?"


Detik berikutnya, Embara menyambar ponsel itu tanpa permisi. Sekilas ia melihat notifikasi pesan pribadi. Untuk mengobati rasa penasaran, ia membuka pesan tersebut seenaknya.


"Zunta? Siapa Zunta?" tanya Embara ketika membaca nama pengirim pesan.


Dari isi pesannya, Sanubari nampak akrab dengan orang bernama Zunta ini. Embara tidak tahu dia perempuan atau lelaki. Foto profilnya hanya sebuah semangka. Embara membuka profil akun Sanubari. Hanya ada satu pengikut yang juga diikuti Sanubari.


Unggahan Sanubari pun hanya satu. Sebuah foto bersama. Ada rasa mengganggu bergejolak dalam dada ketika melihat Sanubari begitu dekat dengan gadis kecil berambut pirang dalam foto. Yang paling membuat Embara cemburu adalah keterangan pada unggahan, 'Tak akan terlupakan.'.


Sanubari menunjuk foto unggahan yang dilihat Embara. Hati Embara semakin tidak nyaman. Dalam foto, gadis itu memang masih kecil. Akan tetapi, sepuluh tahun lagi dia pasti juga akan terlihat lebih dewasa.


Embara merasa kalah. Ia hanya memiliki kesempatan mengenal Sanubari selama dua tahun. Itu pun tidak setiap hari mereka bisa bertemu karena ia harus sekolah.


Dengan gelisah, Embara berkata, "Oh, iya?? Apakah kau menyukainya? Karena itukah kalian saling mengikuti? Dan kau hanya mengunggah satu foto?"


Sanubari tidak menyangka akan diberondongi pertanyaan sebanyak itu. Ia pun menjelaskan bahwa ia tidak pernah membagikan akunnya pada siapa pun. Akun tersebut dibuatkan oleh Zunta. Unggahan pertama dan keterangannya pun dibuat oleh gadis kecil itu. Itulah sebabnya hanya ada satu pengikut, mengikuti dan unggahan.

__ADS_1


Sanubari menyukai Zunta sebagai seorang adik. Gadis kecil itu sangat menyenangkan dijadikan saudara. Mendengar itu, Embara merasa lega. Tidak ingin suatu saat didahului gadiz kecil itu, Embara mengulang pernyataannya tadi sore. Bagaimanapun juga Sanubari belum memberikan kepastian, bisa jadi orang lain akan mengisi kekosongan dalam hati Sanubari jika tidak ia ikat lebih dulu.


"Em, untuk saat ini aku belum memikirkan pernikahan. Rumah saja tidak punya." Sanubari tersenyum pahit.


"Kau 'kan punya rumah di dekat sini. Apa hubungannya punya rumah atau tidak dengan memikirkan pernikahan?"


Sanubari tersenyum memandang lurus. Ia menarik napas dalam, tak ingin mengungkapkan alasan sebenarnya enggan mengunjungi rumah lama. Dalam satu tarikan napas itu, Sanubari mempersiapkan jawaban.


"Itu rumah papa. Aku ingin memiliki rumah dan pekerjaan sendiri terlebih dahulu. Menikah tak sesederhana yang kau pikirkan, Em. Aku tidak ingin membuat keluarga kecilku di masa depan kekurangan kebahagiaan karena aku tidak bisa selalu bersama mereka. Membuat mereka sengsara dan kelaparan karena tidak memiliki pekerjaan yang bisa menyejahterakan mereka."


Sanubari teringat dengan kisahnya sendiri saat mengucapkan kata demi kata. Segalanya masih jelas terpatri dalam memori, tentang dirinya yang terpisah dari sang ayah selama sepuluh tahun, hidup dalam kemiskinan, tertindas, terkadang harus menyaksikan ibunya berjuang keras menahan lapar demi menjamin kenyangnya perut anak. Ia akui bahwa dirinya tidak kekurangan kasih sayang dari Sanum. Bahkan Sanubari bisa bahagia dalam kesederhanaan.


Akan tetapi, batin Sanubari cukup nelangsa melihat perjuangan sang ibu. Meskipun Sanum tak pernah mengeluh, nurani Sanubari bangkit dengan sendirinya. Hingga akhirnya Sanubari memiliki cita-cita untuk membahagiakan Sanum. Namun, wanita itu telah tiada sebelum Sanubari sempat mewujudkan cita-citanya.


Peristiwa-peristiwa itu menjadi renungan bagi Sanubari. Pertemuan dengan sang ayah yang Sanubari pikir bisa menjadi titik balik kesengsaraan, nyatanya tak seindah ekspektasinya. Kehidupannya memang membaik dan lebih damai. Namun, semua itu hanya di awal saja.


Pada akhirnya, Sanubari mengalami penculikan yang menyebabkan dirinya terpisah dari keluarga cukup lama. Setelah jauh dari keluarga pun masih ada beberapa orang yang mengincarnya. Sanubari ingin mencari tempat aman dan memastikan orang-orang seperti mereka tidak lagi datang padanya, barulah saat itu Sanubari mungkin akan memikirkan tentang pernikahan. Ia tak ingin apa yang terjadi padanya terulang pada keluarga masa depannya. Sayangnya, Sanubari belum tahu bagaimana caranya memperoleh kedamaian yang ia inginkan.


Embara mendengarkan Sanubari dengan seksama. Ia dan saudaranya sendiri tidak pernah menjalani cobaan seberat itu, tidak bisa Embara bayangkan andaikan dirinya sendiri mengalami hal yang serupa.


Sedikit pun Embara tidak menganggap kalimat-kalimat Sanubari sebagai penolakan secara halus. Gadis itu malah memeluk Sanubari dari samping. Seolah bisa merasakan perasaan Sanubari, air mata Embara menetes begitu saja.

__ADS_1


"Maaf, aku tidak tahu kau mengalami kehidupan yang sangat berat." Embara menenggelamkan wajahnya pada bahu Sanubari.


Sanubari bisa mendengar suara bergetar Embara yang menahan isakan. Ia pun menoleh pada gadis yang hanya setinggi bahunya lebih sedikit. Sanubari tersenyum. Padahal dulu Sanubari yang lebih pendek dari Embara, ia tak akan bisa melihat ubun-ubun gadis ini jika tidak berdiri di tempat yang lebih tinggi atau gadis ini merendahkan tubuh untuknya. Kini, keadaan itu berbalik.


__ADS_2