Santri Famiglia

Santri Famiglia
Karuta di Osu


__ADS_3

Lima puluh kartu berbaris di hadapan masing-masing pemain. Dua puluh lima berjajar di depan Anki yang tertata menjadi tiga lajur. Berjarak tiga centimeter, tersusun dua puluh lima lainnya di dekat lawan.


Itu adalah kartu-kartu torifuda—kartu yang akan diambil saat puisi dibacakan. Kartu hanya berisi bagian akhir dari puisi. Sementara kartu berisi puisi lengkap (yomifuda) dipegang pembaca puisi. Sepuluh menit untuk menghafal posisi kartu sendiri dan lawan lebih dari cukup bagi Anki. Dia juga sudah mengingat semua puisi dengan baik.


Baik Anki maupun Mitsuki memiliki persiapan yang cukup matang. Mereka juga sudah melakukan latih tanding. Seharusnya, tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Kendati demikian, Anki tetap merasa grogi, jantungnya berdentam liar.


Beberapa kali ia menjilati bibir, mengerjapkan mata, menarik dan membuang napas pelan, berharap kegugupan tidak akan mengacaukan ingatannya.


Puisi pembuka pun dibacakan.


Naniwazu ni


Saku ya Kono hana


Fuyu gomori


Ima wo harube to


Saku ya kono hana


Di Teluk Naniwa


Bunga ini mekar


Tertidur di musim dingin


Sekarang musim semi


Lagi, bunga ini mekar


Sanubari mendengarkannya dengan seksama. Lantunan nada pembaca puisi itu terdengar lucu di telinganya. Dia senyam-senyum merasa geli. Berbeda sekali dengan gaya baca puisi Indonesia. Dahulu, dia juga pernah mendapat pelajaran membaca puisi waktu SD dan itu tidak seperti ini.


Berpasang-pasang peserta duduk di area yang cukup luas. Namun, perhatian Sanubari hanya tertuju pada Anki. Puisi berikutnya pun dibacakan.


[Chihaya furu ....]


Sanubari terbeliak kagum. Baru dua kata, tetapi sebuah kartu telah di tangan Anki. Gerakannya sangat gesit. Secepat kilat, Anki mengambil kartu dari area lawan, dan juri mengkonfirmasi itu kartu berisi lanjutan puisi yang benar. Karenanya, gadis itu bisa memindah kartu di wilayahnya sendiri ke pihak lawan.


Tsuki mireba


Chiji ni mono koso

__ADS_1


Kanashikere


Ketika melihat bulan


Bahkan ribuan hal


Terasa menyedihkan


Puisi demi puisi terus dikumandangkan. Anki berhasil mengosongkan kartu di areanya sendiri tanpa membiarkan pihak lawan memperoleh kartu satu pun. Demikian pula dengan Mitsuki. Keduanya menang telak. Mereka maju ke babak berikutnya. Lagi-lagi, kemenangan mutlak berada di tangan keduanya.


Keduanya tertawa serta melakukan TOS begitu pertandingan berakhir. Pukul dua siang, pertandingan hari pertama pun usai. Babak berikutnya dilanjutkan lusa. Sanubari, Abrizar, Anki, dan Mitsuki meninggalkan area lomba.


"Kalian hebat! Bisa tahu baris berikutnya sebelum puisi selesai dibacakan. Gerakan kalian pun super syus syus syus!" puji Sanubari sambil menggerakkan tangannya seperti sedang berlatih silat.


Mitsuki tersenyum menanggapi, "Itu karena setiap hari kami mengulang hafalan menjelang perlombaan."


Anki ikut menimpali, "Ini hanya pertandingan regional. Mungkin tidak akan semudah ini bila kami maju ke tingkat nasional.


"Tetap saja kalian keren." Sanubari tetap memuji sambil berlari mendahului. Lalu, menoleh pada mereka dengan menunjuk stand makanan. "Ah, tunggu sebentar! Apa kalian mau itu juga?"


Anki sedikit mendongak, menatap Baner nama di atas antrean. "Okonomiyaki lagi?


Waktu istirahat setelah babak pertama, Sanubari sudah mencobanya. Dia bahkan menghabiskan tiga porsi untuk dirinya sendiri. Dia juga membeli takoyaki.


"Aku mau nambah. Habisnya enak." Sanubari menyengir, lantas menoleh sana-sini mencari stand yang ingin dikunjunginya lagi. "Aku juga mau itu, itu, lalu itu, hm ... itu sepertinya enak ...."


Kerakusan Sanubari itu membuat rombongan terpecah menjadi tiga untuk mengefisienkan waktu. Anki bersama Abrizar mengantri untuk Taiyaki, serta nikuman. Sementara Mitsuki membeli minuman dan gyoza. Sedangkan Sanubari sendiri beralih dari satu stand ke stand lain untuk mendapatkan uiro, koroke, dan beberapa makanan Jepang lain.


Begitu semua makanan telah didapat, keempatnya berjalan menuju Osu Kanon. Mitsuki memisahkan diri sejenak. Sanubari mengagumi keindahan kuil.


"Ini kuil yang terlihat dari kantor kak Eiji waktu itu," celetuk Anki berdiri di sebelah Sanubari.


Seketika itu, Sanubari mendongak. Memutar badan, dia mencari keberadaan gedung Onyoudan.


"Ah, benar." Gerakannya terhenti. Dia berhasil menemukan bangunan tersebut. Meskipun terlihat kecil, tetapi Sanubari bisa mengenali papan nama yang terletak di puncak gedung menjulang tinggi tersebut.


Beberapa saat kemudian, Mitsuki datang membawa seseorang. Dia menaburkan makanan burung. Merpati-merpati pun mendekat. Ketika telah cukup banyak terkumpul, dia menyuruh ketiganya berpose. Dengan satu gerakan, Mitsuki membuat seluruh burung berhamburan ke udara. Lalu, cepat-cepat menyusul ketiganya.


Orang bawaan Mitsuki menangkap momen yang tepat. Terabadikan lah sosok keempatnya dengan latar puluhan merpati yang mulai berterbangan secara acak. Mitsuki mengambil ponselnya kembali dan berterima kasih setelahnya.


"Bagus, kan?" Mitsuki menunjukkannya pada Anki dan Sanubari.

__ADS_1


"Kirimkan ini padaku!" pinta Anki.


"Tentu."


"Aku juga mau!" Sanubari mengangkat tangan kirinya karena yang sebelah kanan sibuk memegang nikuman.


Mereka pun saling bertukar kontak. Kemudian, mencari tempat nyaman untuk menghabiskan makanan yang telah dibeli.


Cahaya senja menyinari binar keingin tahuan pada wajah Sanubari. Sepasang netra berkilaunya memandang jajanan terlipat dengan isian telur dan nasi. Kini dia tahu mengapa makanan di tangannya disebut Tamago sen. Tamagosen akronim dari Tamago senbei yang artinya kerupuk telur.


Sanubari manggut-manggut menggigit lipatan kerupuk menyerupai crepes dengan isian telur tersebut. Dia mulai berkomentar lagi saat beralih mengunyah gyoza, "Apa bedanya siomai dengan gyoza."


"Bumbunya," balas Anki yang ikut menyantap gyouza.


"Itu benar. Bukankah di negaramu ini disebut juga pangsit?" timpal Mitsuki.


"Kupikir pangsit itu mie ayam tanpa ayam. Jadi, siomai juga bisa disebut pangsit?" jawab Sanubari diakhiri dengan nada tanya.


Mitsuki mengangguk tersenyum. "Kalau tidak salah ingat, siomai Indonesia itu sebutan untuk pangsit kukus. Sedangkan yang digoreng lebih dikenal dengan gorengan sebagai bagian dari batagor."


"Wah, Mitsuki tahu banyak," ucap Sanubari salut. Dirinya sebagai orang Indonesia saja sama sekali tidak tahu.


"Pernah pergi ke Indonesia?" tanya Anki seraya menatap Mitsuki.


Mitsuki mengangguk. "Aku pernah mencobanya. Secara umum, mereka itu sama. Di Jepang sendiri mau dikukus atau digoreng, namanya tetap gyoza."


"Makanan sama. Beda negara, beda pula nama dan rasa," tanggap Sanubari.


"Begitulah. Bagaimanapun juga semua negara itu saling mempengaruhi. Meskipun katanya siomai itu berasal dari Cina, tetapi kita tidak bisa menelusuri awal sesungguhnya pembuat pertama kalinya," tandas Mitsuki.


Jepang memang banyak dipengaruhi kebudayaan Cina sejak bangsa tersebut masuk. Baik dadi segi pakaian, bangunan, kebiasaan, dan aspek lainnya keduanya memiliki kemiripan. Namun, Mitsuki selalu memiliki pendapatnya sendiri. Dia berpikir lepas tanpa peduli siapa yang dipengaruhi dan mempengaruhi.


Obrolan tentang makanan terus berlanjut seiring berkurangnya persediaan. Hingga senja berganti petang, barulah mereka beranjak. Sengaja mereka pulang agak malam untuk menghindari kepadatan.


Sesuai perkiraan, mereka bisa mendapatkan tempat duduk dalam perjalanan pulang. Berhenti di stasiun Fushimi, beberapa penumpang turun. Tidak ada tambahan penumpang baru setelahnya.


Menatap pintu gerbong yang tidak juga tertutup, Sanubari berkata heran, "Tumben lama berhentinya."


"Mungkin ada kecelakaan di jalur berikutnya," terka Anki yang terbiasa dengan fenomena seperti ini.


Peristiwa semacam itu terkadang memang terjadi. Biasanya, keberangkatan kereta akan ditunda sampai evakuasi di tempat kejadian selesai. Pengumuman permintaan maaf dan pemberitahuan bisa atau tidaknya perjalanan dilanjutkan akan dikumandangkan kemudian

__ADS_1


Anehnya, lima menit berlalu, tidak ada konfirmasi apa pun dari pihak perkeretaan. Penumpang yang tersisa mulai berkasak-kusuk tentang ketenangan ini. Mereka menduga-duga seberapa parah kecelakaan yang terjadi. Tidak ada satu pun yang curiga bahwa ada hal lain sedang bergerak dari gerbong yang berbeda siap menyambut mereka.


Sesuatu itu bergerak kian dekat. Berpasang-pasang derap sepatu berbunyi nyaring, keluar masuk gerbong demi gerbong seperti sedang terburu.


__ADS_2