Santri Famiglia

Santri Famiglia
Paspor


__ADS_3

Sanubari, Zunta dan Canda duduk di dalam mobil. Di kursi tengah, Sanubari terus bersenda gurau dengan Zunta. Sesuai dugaan Canda, bentuk visual mobil sama sekali tidak mempengaruhi Sanubari. Lain halnya ketika mesin mobil mulai dinyalakan.


Brum.


Air muka Sanubari berubah seratus delapan puluh derajat. ia mulai panik. Sanubari mendorong-dorong pintu tetapi tidak mau terbuka.


"Buka pintunya! Keluarkan aku dari tempat ini!" teriak Sanubari sambil memukul-mukul kaca mobil.


Sanubari seperti orang sakit jiwa yang menggila. Otaknya tidak bisa berpikir jernih setiap kali deru mobil diperdengarkan. Bunyi itu merangsang sel-sel saraf otak Sanubari untuk berhalusinasi.


Bagi Sanubari, kini ia tidak lagi berada dalam mobil. Melainkan berada dalam mesin penyiksa. Ratusan benda tajam dan lancip seolah diarahkan padanya, siap menyerangnya kapan pun.


"Kumohon! Siapa pun, tolong keluarkan aku dari neraka ini!"


Sanubari histeris. Sekitarnya mendadak gelap gulita. Zunta dan Canda yang satu mobil dengannya tidak lagi nampak. Matanya hanya menangkap lesatan-lesatan benda tajam yang mulai menggores kulitnya. Ada pula yang mengarah ke matanya. Spontan Sanubari memejamkan mata dan semakin histeris.


"AAAAARGH!"


"SANu, ada apa? Tenanglah Sanu! Sekarang kita berada di mobil," kata Zunta menenangkan Sanubari sembari memeluknya.


"Zunta? Dimana?" Sanubari celingukan dengan jantung berdebar-debar. Jarum-jarum raksasa masih mengincarnya dalam kegelapan.


"Aku di sini, Sanu. Tenanglah! Tidak ada apa-apa di sini." Zunta semakin mengeratkan pelukannya.


Canda menghela napas. Ia mematikan mesin mobil. Terapinya berbulan-bulan sepertinya belum bisa mengobati Sanubari. Kendati demikian, ada sedikit perubahan pada Sanubari.

__ADS_1


Sanubari mendadak menjadi tenang kembali. Ia menatap linglung ke sekitarnya.


"Zunta, kenapa memelukku?" tanya Sanubari ketika menyadari Zunta memeluknya erat.


Ya, Sanubari akan melupakan segala ketakutannya saat bunyi mobil telah mati. Ia tidak akan ingat pernah berteriak-teriak sesaat yang lalu. Bagaikan sedang bermimpi kemudian terbangun tanpa secuil ingatan peristiwa dari alam mimpi, Sanubari akan bersikap biasa-biasa saja seolah tidak pernah terjadi apa pun.


"Aku rindu Sanu," jawab Zunta berbohong.


"Hahaha. Setiap hari 'kan kita bersama. Kok bisa rindu segala!"


"Sebentar lagi Sanu pulang. Jadi, aku cicil kerinduanku sekarang," jawab Zunta dengan polosnya.


Canda menoleh ke kursi belakang. Ia memberikan tas kertas kepada Sanubari. "SANu, ini untukmu. Ambillah!"


"Buka saja!"


"Um."


Sanubari membongkar isi tas. Ada dua kotak dengan ukuran berbeda. Satu kotak berisi ponsel pintar. Sementara satu lagi berisi headphone dengan kombinasi warna hitam dan biru.


"Kakek, ini ...."


"Mulai sekarang kau harus memakai headphone itu ketika naik mobil atau berjalan di tempat ramai kendaraan."


"Untuk apa?"

__ADS_1


"Sekarang kau mungkin tidak merasa. Tetapi sepertinya kau tidak bisa mendengar bunyi mobil. Pokoknya kau harus memakainya! Jangan pernah melepasnya sebelum sampai rumah atau sampai di tempat bebas kendaraan!"


"Baiklah." Sanubari memakai headphone.


Sanubari masih belum mengerti mengapa Canda menyuruhnya seperti itu. Akan tetapi, pikiran Sanubari mengatakan bahwa ia harus mengikuti saran Canda. Seketika suasana menjadi sunyi senyap begitu headphone terpasang. Sanubari sama sekali tidak bisa mendengar apa pun.


Itu adalah headphone khusus. Diciptakan spesial untuk Sanubari. Didesain supaya bisa meredam suara seratus persen sehingga Sanubari tidak mendadak kambuh ketika mendengar bunyi tak diinginkan.


Canda kembali menyalakan mesin. Sanubari tidak lagi histeris. Perjalanan menuju kantor kedutaan besar pun berjalan lancar.


Suasana kaku terasa begitu memasuki gedung perwakilan negara sahabat. Layaknya kantor-kantor formal pada umumnya, tidak ada satu pun pegawai yang bercanda ria selama jam kerja berlangsung. Semua staf kedutaan bekerja secara profesional.


Meskipun ini adalah kantor kedutaan tetapi ada saja dua, tiga warga yang datang untuk mengurus sesuatu. Sanubari duduk di sebelah Canda, menjawab setiap pertanyaannya guna melengkapi formulir pengajuan paspor kembali.


Dari loket yang belum didatangi pengunjung, seorang karyawan memperhatikan Sanubari. Sesekali ia memainkan jemarinya di layar interaktif. Pekerjaannya sangat senggang hingga ia memiliki kesempatan untuk memainkan gawai di balik meja kerjanya, bertukar pesan dengan orang di luar.


Selepas mengisi formulir, Sanubari masih harus menunggu beberapa saat. Mereka harus menunggu petugas selesai melakukan input data setelah Canda menyelesaikan semua administrasi.


Ketiganya langsung meninggalkan bagian imigrasi begitu paspor sudah ditangan. Sanubari kembali memakai headphone-nya karena mereka kembali ke tempat parkir mobil. Ia berjalan menggandeng Zunta.


Memakai headphone memang bisa mengatasi trauma Sanubari. Namun, Sanubari merasa tidak nyaman setelah memakainya sepanjang menuju Kedubes. Karena headphone,nya, ia tidak bisa berkomunikasi sepanjang perjalanan.


"Mungkin nanti sampai rumah aku harus mengatakannya pada kakek Canda," batin Sanubari.


Mereka masuk mobil, melaju ke tempat tujuan berikutnya. Sebuah mobil lain ikut keluar dari area kedutaan.

__ADS_1


__ADS_2