Santri Famiglia

Santri Famiglia
Kesempatan ke Dua


__ADS_3

"Sebagai seorang lelaki sebaiknya tidak mudah menangis. Kau sudah melakukan yang terbaik. Bukankah kalah dan menang itu sama saja?" tutur Kelana mengingatkan.


"Tapi ...." Sanubari masih tertunduk.


Dia mengerti apa yang dikatakan Kelana. Berkata-kata memang mudah tetapi mempraktikannya ternyata lebih sulit daripada berucap dengan hati dan lisan. Sekeras apa pun dia mencoba menenangkan pikirannya, tetap saja ada bagian dari dirinya yang menolak kekalahan ini.


"Tidak ada tapi! Gagal sekarang bukan berarti segalanya berakhir. Masih ada kesempatan ke dua. Bersemangatlah!"


"Paman benar. Mungkin aku harus berlatih lebih keras untuk olimpiade berikutnya."


"Untuk apa menunggu olimpiade berikutnya jika sekarang saja bisa?"


"Eh?" Sanubari mendongak. Dia memandang Kelana dengan tatapan tidak mengerti.


Kelana tersenyum lalu berkata, "Kauu ingat berapa orang yang lolos ke babak perempat final?"


"Lima."


"Benar. Itu artinya kau masih memiliki satu kesempatan tanding lagi untuk masuk babak semi final," jelas Kelana sambil mengangkat jari telunjuknya.


Mendengar masih ada kesempatan saja Sanubari sudah cukup senang. Dia bisa mencoba lagi meskipun belum tahu bagaimana hasilnya.


"Benarkah?"


"Iya. Tunggu saja duel mereka selesai dan namamu dipanggil lagi!"


"Asyik!"


"Tapi ingat satu hal! Menang dan kalah itu sama saja. Kalah atau menang, kau tetap Sanubari. Aku akan tetap menemanimu belajar. Tuan Aeneas, ibumu serta nyonya Asia akan tetap menyayangimu. Apa pun hasilnya, yang penting keluarkan kemampuan terbaikmu semaksimal mungkin!"


"Um!" Sanubari mengangguk.

__ADS_1


Benar kata Kelana. Juri mengujinya lagi dengan salah satu peserta yang masuk ke babak perempat final. Di percobaan ke dua ini, Sanubari bersungguh-sungguh. Dia juga mencoba mempraktikkan apa yang dia lihat dari peserta lain.


Keberuntungan mengikuti Sanubari. Poinnya dan lawan beda tipis tetapi dia berhasil maju ke babak semi final. Di babak semi final pun Sanubari hanya bisa mengungguli satu poin lawan dan maju ke babak final.


[Ladies and gentlemen, would you please welcome the atletes and officials for gold medal match of the boy individual novice foil!]


[Signore e signori, daresti il ​​benvenuti agli schermitori, arbitri e giudici per la partita fioretto del singolare maschile entry-level che si contenderanno la medaglia d'oro!]


[Hadirin sekalian, mari kita sambut para atlet dan petugas dalam pertandingan memperebutkan medali emas untuk foil tunggal putra tingkat pemula!]


Pembawa acara memberikan sambutan menggunakan bahasa Inggris dan Italia. Kedua pembawa acara berbicara saling bergantian. Para atlet dan para pihak yang bertugas memasuki arena.


Musik yang sangat energik mengiringi langkah mereka. Para penonton sangat bersemangat menyambut kedatangan mereka.


[Ladies and gentlemen, this is is the fencer from Indonesia, let's make some noise for Sanubari!]


[Signore e signori, questo è uno schermidore indonesiano, diamo il benvenuto a Sanubari con gioia!]


Sanubari tersenyum. Dia memberi salam kepada seluruh penonton dengan gestur tubuhnya. Seluruh penonton riuh. Mereka berteriak-teriak, bersiul, meniup terompet serta bertepuk tangan heboh.


Orang-orang yang sempat meremehkan Sanubari berbalik mendukung Sanubari seratus persen. Dengan bangga mereka meneriakkan nama Sanubari secara berulang.


[The next is fencer from South Korea—Kim Jae Hyun!]


[Il prossimo è l'schermadore della Corea del Sud, Kim Jae Hyun!]


[Berikutnya adalah atlet anggar dari Korea Selatan—Kim Jae Hyun!]


Kim Jae Hyun melakukan hal yang sama dengan Sanubari. Sambutan untuknya tidak kalah heboh. Ada pula pendukung yang berteriak dalam bahasa Korea memberi dukungan.


Kini dua bocah tampan alami itu bersiap untuk duel. Mereka membawa masker di tangan kiri. Kaki kanan kedua atlet dimajukan dari kaki kiri karena mereka sama-sama pengguna tangan kanan. Ujung pedang mereka arahkan ke bawah lalu mereka angkat pedang hingga ujungnya mengarah ke atas. Mereka saling memberi hormat. Dilanjutkan memberi hormat kepada para juri, wasit serta penonton.

__ADS_1


Berikutnya mereka memakai masker dan memasang kuda-kuda. Aba-aba dimulai. Sanubari dan Kim Jae Hyun bertanding dengan sengit. Derap kaki dan decitan akibat pergesekan alas sepatu dengan landasan anggar berbunyi keras. Mereka berdua terlihat sangat lincah.


Di menit pertama tidak ada yang bisa mencetak poin. Menit berikutnya mereka saling menyusul. Hingga pada detik terakhir kedudukan mereka seri. Waktu pun diperpanjang.


Sanubari melakukan gerakan tipuan. Namun, Kim Jae Hyun menyadari taktik Sanubari. Kim Jae Hyun berhasil menangkis serangan sungguhan Sanubari. Segera setelahnya, Kim Jae Hyun maju untuk meluncurkan serangan.


Sanubari melompat mundur. Namun, Kim Jae Hyun tetap mengejarnya. Sanubari menangkis bilah pedang Kim Jae Hyun dengan pedangnya.


Jantung Sanubari terpacu semakin cepat. Nyaris saja dia kalah. Untungnya dia berhasil menggagalkan serangan Kim Jae Hyun.


"Aku tidak boleh kalah. Aku harus menang. Aku harus menang. Sekali ini saja aku ingin membuat mamak bangga. Aku ingin berguna untuk mamak. Untuk negara. Untuk semua orang. Aku tidak ingin mamak dipermalukan dan hidup susah lagi gara-gara aku. Aku harus bisa mengalahkannya!" sugesti Sanubari kepada dirinya sendiri di dalam hati.


Dia selalu meniatkan segalanya untuk ibunya. Sanubari bisa melangkah sejauh ini pun berkat ibunya. Ibunya selalu membuatnya bahagia dalam kondisi apa pun. Kali ini Sanubari yang berbalik ingin menyenangkan Sanum.


Ibunya dan dirinya sudah cukup lama hidup sengsara gara-gara dirinya yang terlahir berbeda. Setelah bertemu ayahnya, kehidupan mereka berubah lebih mudah. Sanubari tidak ingin kehidupan tenangnya sekarang berubah menjadi neraka lagi hanya karena dia kalah dalam pertandingan.


Bukan hanya kedua atlet cilik itu yang tegang tetapi para penonton pun ikut semakin tegang. Keduanya sama-sama tangguh. Tidak ada yang bisa memprediksi siapa yang akan keluar sebagai pemenang. Semua serba tidak terduga. Suara-suara pun bermunculan.


"Gila! Ini hanyalah pertarungan antara dua anak kecil tetapi bisa jadi seseru ini."


"Wow, aku tidak percaya si Anak Mami Pengecut itu bisa berubah sedrastis ini."


"Ini tidak bisa ditebak."


"Sulit dipercaya. Sanubari tadi saja kalah telak dari Andrean Montano. Tapi sekarang bisa mengimbangi Kim Jae Hyun yang mengalahkan Andrean Montano. Menakjubkan!"


"Sanubari! Siapa pun kau, mulai sekarang aku jadi penggemarmu!"


Para penonton tidak lelah terus-terusan berteriak dari awal. Suara-suara yang meneriakkan nama Sanubari dan Kim Jae Hyun saling bersaing. Mereka ingin menyalurkan semangat kepada para atlet yang sedang berjuang.


Di arena, Sanubari dan Kim Jae Hyun bersaing ketat. Suasana pertandingan semakin memanas. Keduanya dengan gesit saling menyerang dan bertahan. Belum ada yang bisa menembus pertahanan masing-masing. Sampai akhirnya keduanya mengarahkan hunusan pedang ke area torso lawan masing-masing dan bunyi pip terdengar.

__ADS_1


Para penonton dan pelatih membelalakkan mata. Mereka memasang telinga baik-baik. Siapa yang berhasil mencetak poin kali ini sudah dapat dipastikan sebagai pemenang.


__ADS_2