Santri Famiglia

Santri Famiglia
Tenggelam


__ADS_3

Sanubari menuruni anak tangga menuju lantai bawah tanah. Derap sepatu bergema di lorong sepi. Sesaat, Sanubari berjalan cepat dengan langkah ringan supaya tidak berisik. Namun, bunyi tapak kaki terdengar lebih banyak dari belakang.


Sontak Sanubari menoleh. Tidak ada siapa pun. Akan tetapi, bunyi-bunyi itu terdengar kian dekat. Sanubari gelisah.


Dia kembali berlari, tidak lagi peduli dengan bunyi tapak kaki yang ditimbulkan sepatunya sendiri. Tiba-tiba, seseorang muncul dari balik dinding sekitar sepuluh meter dari Sanubari.


Lelaki itu memberondongi Sanubari dengan peluru. Remaja itu menggunakan koper sebagai tameng sambil terus berlari. Secepat kilat, dia menerbangkan silet.


Benda pipih tersebut menyerempet kepala penembak. Lelaki itu pun tumbang. Sanubari melompat, melewati raga pria itu.


Sebuah tembakan langsung menyambutnya. Timah panah mengenai kacamata kiri Sanubari. Dia terbelalak. Jantungnya terpacu liar. Lensa kiri retak. Beruntung, lensa tersebut tak sampai pecah dan mengenai korneanya.


Dengan lincah, Sanubari berkelit dari peluru-peluru yang diarahkan padanya. Sejurus kemudian, dia melesatkan dua silet hampir bersamaan.


Silet-silet mengenai leher mereka, menyebabkan keduanya tak sadarkan diri. Buru-buru, Sanubari berlari kecil mendekati pintu. Dia menempelkan kartu pada pemindai. Dengingan terdengar bersamaan dengan letupan senjata api. Sebuah peluru menyentuh rambut Sanubari, melesak pada pintu, menciptakan ceruk kecil.


Sanubari berjongkok. Cepat-cepat, digesernya pintu. Dia menyelinap masuk, lalu segera menutup kembali. Tembakan-tembakan bersarang pada daun pintu sebelum akhirnya berhenti.


"Mengapa makin tidak terkendali seperti ini? Aku tidak mau matj di sini. Kalau tahu bakal jadi begini, aku tidak akan memenuhi panggilan itu. Ah, tapi bagaimana caraku memperoleh kepercayaan kak Eiji kalau aku menolak misi darinya?" Sanubari menangis dalam hati.


Tubuhnya berkeringat dingin. Napas pun tersengal-sengal akibat aksi tadi dan terlalu panik. Dia amat tertekan saat ini.


Dia berdiri di balik pintu, memejamkan mata, menahannya dari orang-orang yang berusaha mendobrak. Mendadak, pintu tidak lagi terasa didorong.


"Yamete!" Pemimpin dari pasukan penyergap menyuruh anak buahnya berhenti.


Mereka pun bergerak mundur, sedikit menjauh dari daun pintu. Salah satu dari mereka berkata, "Demo aitsu wa ...."


Sebelum lelaki itu sempat menyelesaikan kalimatnya, sang ketua mengucapkan, "Kare wo tojikomete, Hoka no houhou de basshhou!"


Para anak buahnya pun memberi jalan. Lelaki itu maju, mengunci pintu dengan keamanan gada supaya Sanubari tidak bisa keluar. Kemudian, dia menghubungi seseorang sebelum akhirnya menyuruh anak buahnya mundur agak jauh.


Di dalam ruangan.

__ADS_1


"Apa yang terjadi? Kenapa mereka tidak lagi mencoba masuk?" Sanubari membuka mata.


Dia bisa melihat seorang lelaki sedang didudukan dan diikat dengan rantai di kursi. Mulutnya pun ditutup dengan kain. Sosok yang luput dari perhatiannya saat pertama kali masuk ruangan.


Sebuah hologram muncul di hadapan Sanubari, menampilkan tulisan di sebelah pria itu. "Akamizu Kouhei sama ga mitsukarimashita."


"Tuan Akamizu Kouhei ditemukan," Sanubari membaca ulang dalam versi terjemahan.


Dia mengerjakan mata berulang, memperhatikan pria yang terikat. Mata mereka saling berserobok.


"Jadi orang ini yang harus kuselamatkan?" Sanubari memandangnya lekat, "sepertinya aku harus melepaskan ikatannya, tapi ...."


Dia urung untuk melangkah maju, khawatir kalau-kalau pintu akan dibuka ketika dia menjauh. Sanubari pun berbalik badan. Dia menempelkan telinga ke pintu.


"Tidak terdengar apa pun."


Sanubari menjauhkan telinganya. Satu menit, dia memandangi pintu. Tidak terjadi apa-apa.


Sanubari mengaktifkan fitur tembus pandang. Begitu banyak garis-garis melintang secara acak. Orang-orang bersenjata berkumpul di tempat yang agak jauh.


Sanubari berjalan mundur. Baru empat langkah, tiba-tiba bunyi gerajakan air terdengar. Sanubari terperanjat.


"Apa-apaan ini? Mengapa bisa ada hujan dalam ruangan?" tanya Sanubari terbata-bata.


"Itu sistem pemadaman otomatis. Akan menyala saat mendeteksi api atau kebakaran. Semua bangunan Jepang dilengkapi sistem semacam itu. Sirene Pum akan berbunyi dengan sendiri begitu tanda-tanda kebakaran terdeteksi," jelas Eiji melalui earphone.


Sanubari mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Dia baru tahu ada sistem air semacam itu. Dia mendongak, di langit-langit memang ada sesuatu yang menyemprotkan air seperti shower.


Namun, tetap saja ini terasa ganjil. Di dua sudut terdalam ruangan terdapat air terjun berdebit cukup besar. Belum ada lima menit, ketinggian air sudah menenggelamkan lutut Sanubari.


"Apa air terjun dadakan itu termasuk dalam sistem pemadam kebakaran otomatis?" Sanubari menunjuknya.


Jauh di mobil, Eiji mengernyit. Jelas itu lebih dari sekadar pemadam kebakaran. Seolah tahu siapa yang akan dihadapi, pihak lawan sengaja menyalakan sistem tanpa jaringan internet.

__ADS_1


Generator pembangkit listrik cadangan sudah diperkirakan Eiji. Sisanya, benar-benar di luar dugaan. Misi ini serba dadakan. Tidak ada persiapan sama sekali sebelumnya.


"Sial! Aku tidak tahu gedung mereka memiliki sistem seperti ini. Seharusnya, aku membekali Sanubari dengan peralatan yang lebih lengkap. Andai saja tuan muda tidak berulah ...," gerutu Eiji dalam hati.


Misi kali ini dilaksanakan atas desakan pimpinan tertinggi Onyoudan. Putranya—Akamizu Kouhei berselisih dengan organisasi Meiwa di hari sebelumnya. Dikatakan bahwa Kouhei berbuat onar di wilayah Meiwa. Alhasil, lelaki itu pun ditangkap dan disekap.


Meiwa adalah musuh bebuyutan Onyoudan. Sejak lama, Meiwa ingin menggulingkan kekuasaan Onyoudan. Meiwa memanfaatkan kesempatan ini untuk mengancam pimpinan tertinggi Onyoudan.


Onyoudan harus hengkang dari Jepang dan menyerahkan seluruh barang yang akan masuk ke Jepang secara ilegal kepada Meiwa. Jika tidak, Kouhei akan dibunuh.


Sebagai pemula, tentunya Sanubari tidak dibiarkan sendiri. Dua agen lapangan turut memantau kinerja nya dari jauh. Sayangnya, mereka berdua tertahan prajurit bantuan. Sementara setengah sisanya mengejar Sanubari.


Baku tembak terus terdengar dari frekuensi dua agen pembantu begitu Eiji beralih saluran. Sanubari terkunci di ruangan tertutup bersama Kouhei. Dia membutuhkan pertolongan secepatnya. Air akan menenggelamkan mereka berdua jika terlambat.


Walaupun bisa menebak kondisi dari bunyi-bunyi yang terdengar, Eiji tetap berusaha menghubungi kedua rekannya, "Sai, Renji, bagaimana kondisi kalian?"


"Gawat! Pasukan terus berdatangan. Aku sampai kehabisan amunisi dan terpaksa menukar dengan senjata lawan," lapor Renji dari tempat persembunyiannya.


"Di sini pun sama," sahut Sai.


"Senang mendengarmu masih hidup, Sai," ucap Renji.


"Bisakah kalian mempercepat eksekusi di sana dan menyusul bocah pemula tadi? Kalian harus menghancurkan jebakan di depan pintu. Tuan muda terkurung bersama bocah itu dalam ruangan yang terus dialiri air."


"Akan kuusahakan," jawab serempak Sai dan Renji.


Eiji kembali mengganti frekuensi dan mengalihkan pandangan pada monitor. Tampak Sanubari telah berhasil memutuskan rantai dan borgol besi. Mereka berjalan ke arah pintu.


Lekas, Eiji memberikan teguran, "Kau tidak bisa melewati pintu itu lagi. Sinar-sinar laser akan membelah tubuh kalian, dan tembak otomatis akan menghujani kalian dengan peluru. Sayangnya, aku tidak bisa mendeaktifkannya. Carilah jalan lain!"


Air sudah mencapai pusar Sanubari. Dia mengaktifkan mode tembus pandang sekali lagi. Berapa kali pun dilihat, tetap saja ruangan itu dikelilingi air. Bangunan tersebut seperti dibangun di dasar laut.


Satu-satunya yang tidak berada di tengah air adalah pintu masuk yang dilewati. Termasuk atap satu meter dari dinding pintu. Mereka sama sekali tidak memiliki jalan keluar. Eiji bisa melihat semua yang diproyeksikan kacamata buatannya.

__ADS_1


__ADS_2