
"Ka–kalian, lawan dia! Kita menang jumlah di sini. Angkat senjata, tidak perlu takut! Tidak perlu lagi bersikap hormat padanya!"
Meskipun diri sendiri ketakutan, Wongso mengompori semua orang. Tidak ada harapan lagi. Mereka harus bangkit dan bersatu jika ingin hidup.
"Kitalah penyelamat bagi nyawa kita sendiri. Bantai, kalahkan Jin keparat itu!" lanjutnya.
Umpatan dan sumpah serapah memenuhi ruangan. Mereka mengambil senjata masing-masing. Meskipun begitu, tidak seorang pun mampu menumbangkan Jin.
Wongso memanfaatkan kekacauan untuk kabur melalui pintu belakang. Dia buru-buru mengunci dan menggrendel pintu dengan tangan bergetar, lalu berlari terjungkal-jungkal.
Lorong itu menghubungkan ruangan dengan kediaman pribadi. Jaraknya hanya sepuluh meter, tetapi terasa berkilo-kilometer jauhnya. Dia sampai merangkak karena kaki mendadak lemas. Sering kali, Wongso menoleh ke belakang. Di balik pintu yang tertutup rapat, ada iblis yang sedang mengamuk.
"Aku harus pergi dari sini. Aku harus mengungsi."
Suara Wongso bergetar. Dia memaksakan diri untuk bangkit dan berlari walau berulang kali terjungkal. Pria itu memasuki kamar sang putra.
"Din, Aldin, bangun!"
Diguncangnya dengan keras tubuh pemuda itu. Aldin tergeragap. Matanya mengerjap-ngerjap, menyesuaikan dengan cahaya yang menyilaukan. Seingatnya, lampu telah dimatikan sebelum tidur. Dia lebih heran lagi ketika mendapati sang ayah memanggil-manggil namanya dengan muka ketakutan.
"Bapak, ada apa sih?"
Aldin menguap. Matanya masih berat untuk dibuka. Aldin ingin kembali tidur, tetapi Wongso mencegah.
Dia mendesak, "Ambil barang penting! Kita harus segera keluar dari rumah ini untuk menyelamatkan diri."
"Menyelamatkan diri? Menyelamatkan diri dari apa?"
"Lakukan saja! Jangan banyak tanya! Matikan kembali lampu kalau sudah dan jangan menyalakan satu pun saat keluar nanti!"
Wongso kemudian bergegas membangunkan istri. Dia mengambil tas berisi uang. Hanya itu yang paling penting baginya saat ini.
Istri Wongso tampak bingung. Namun, dia tidak memiliki pilihan selain mengikuti seretan Wongso. Keluar dari kamar, mereka bertemu Aldin. Anak mereka itu hanya memegang ponsel tanpa membawa apa-apa.
"Sudah siap, Din?" tanya Wongso gelisah.
"Siap untuk apa?"
__ADS_1
Aldin masih juga bersikap santai karena belum paham apa yang sedang terjadi. Yang dia pahami hanyalah sang ayah bersikap aneh tanpa alasan jelas. Dia ingin menuntut penjelasan lagi. Akan tetapi, Wongso lebih dahulu membuka mulut.
"Pokoknya ikut saja! Nanti kujelaskan kalau sudah aman."
Dia menyeret mereka menuju pintu utama. Ketika membuka pintu sedikit, Wongso melihat seorang pria berdiri menghadap pintu. Dia lekas mengunci kembali pintu.
"Kok tidak jadi?"
Aldin mengangkat sebelah alis melihat gelagat ayahnya. Wongso berbalik. Wajahnya semakin pucat. Kegelapan
"Kita tidak bisa lewat sini."
Wongso bergegas mengajak mereka berjalan cepat, menuju dapur. Ada sedikit cahaya remang kekuningan dari lampu malam yang dibiarkan menyala. Wongso mulai menyingkirkan palang dan memutar kunci. Lagi-lagi, ada pria yang menghadap pintu.
Dengan tangan gemetaran, dia mengembalikan kuncian. Rumah telah dikepung. Tiada jalan kabur bagi mereka. Dia menoleh pada Aldin.
"Din, ada orang yang berjaga di luar. Bisakah kau berkelahi dan mengalahkan mereka?"
Suara Wongso setengah berbisik. Hanya itu harapannya.
"Ssst! Pelankan suaramu! Rumah kita dikepung penjahat. Jika tidak bisa melarikan diri, kita akan terbunuh. Teman-teman bapak sedang berusaha menahan yang lain di depan sana,, tapi sebagian sudah gugur."
"Kita harus minta bantuan. Bapak harus menyuruh anggota paguyuban untuk ke mari membantu kita," saran Aldin.
"Ini sudah malam."
"Coba saja, Pak! Barangkali ada yang begadang dan siap meluncur," desak Aldin.
Dia bisa berkelahi. Meskipun begitu, melawan banyak orang sekaligus terlalu berisiko bila dilakukan sendiri. Selain itu, Aldin belum pernah berhadapan satu lawan satu kecuali dalam pertandingan. Dia berlari ke dinding di mana berbagai senjata tajam tersemat. Aldin mengambil golok untuk berjaga-jaga.
Tangan Wongso Tremor parah sehingga tiddak bisa mengetik dengan benar. Dia beralih memakai pesan suara dengan pesan teks singkat satu kata.
Bunyi tapak kaki dan saklar yang dinyalakan membuat Wongso tersentak sampai menjatuhkan ponsel. Jantungnya berdetak semakin tidak karuan.
Istri Wongso jatuh pingsan. Wanita itu dibiarkan tergeletak begitu saja. Bunyi gedubrak yang ditimbulkan membuat Wongso kian panik. Dia celingukan, mencari tempat persembunyian.
Aldin bersiaga di sebelah pintu penghubung ruang tengah dan dapur. Kedua tangannya menggenggam erat gagang golok. Dia berniat akan menikam siapa pun yang melewati pintu. Keringat dingin merembes dari pori-pori.
__ADS_1
Bunyi berisik di dapur tidak membuat derap langkah itu terburu-buru. Itu membuat Aldin semakin berdebar. Dia bertanya-tanya apa yang diincar para penjahat.
Darah menetes ke lantai. Langkah Jin tetap tenang dan santai. Dia memeriksa setiap ruangan dengan cermat, mengabaikan keberisikan dari ruangan lain, menganggapnya hanya kucing atau tikus.
Semua orang di depan sudah dibereskannya. Dia tinggal mencari satu buruan terakhir. Wongso tidak akan bisa keluar dari rumah. Orang yang berjaga di luar akan memaksa Wongso kembali ke dalam bila berusaha keluar. Jin sudah berpesan untuk tidak berbuat apa-apa pada Wongso.
Sementara itu di dapur, setiap tarikan napas terasa berat bagi Aldin. Detik berjalan sangat lambat seakan malam senang mencekam penghuni rumah dalam ketakutan. Dia ingin malam segera berlalu. Dengan begitu, orang-orang ini mungkin akan pergi atau ada warga yang menyadari, lalu mereka terselamatkan.
Lampu tengah dinyalakan. Bias cahayanya jatuh di lantai depan Aldin, membentuk persegi. Bunyi langkah itu akhirnya mendekat dan semakin dekat hingga sesosok pria muncul. Aldin mengayunkan golok.
Namun, serangan dengan tangkas ditangkis. Dua logam berdentang. Bau anyir masuk ke hidung Aldin seiring datangnya tangkisan. Cahaya remang yang menyorot wajah sosok itu cukup untuk membuat Aldin bisa mengenali.
"Kak Jin?"
Aldin mundur. Dia melonggarkan penjagaan. Jin bukanlah orang yang harus dia musuhi. Kedatangannya bisa jadi sebagai penolong. Begitu pikir Aldin.
"Maaf, kupikir Kakak tadi rampok," lanjutnya menurunkan senjata.
"Di mana Wongso?" tanya Jin datar.
Wongso yang bersembunyi ketar-ketir. Dia tidak habis pikir, bisa-bisanya Aldin mengobrol sesantai itu dengan Jin.
"Oh, Bapak. Bapak sembunyi di balik lemari itu."
Aldin menunjuk almari jati di sudut ruangan. Wongso mengumpati kebodohan sang putra. Dia harus segera keluar dari persembunyian. Tempat sempit itu hanya akan menyudutkannya.
Terdengar langkah kaki mendekat. Dengan sedikit taruhan, Wongso berlari kencang. Dia bersembunyi di balik punggung Aldin.
"Tolong Bapak, Nak!"
Aldin semakin bingung mendengar Wongso. Dapat dirasakannya napas Wongso di belakang tengkuk.
"Tolong dari apa? Kita sudah aman. Kak Jin ada di sini."
"Kembalilah tidur, Din! Aku ada sedikit urusan dengan Wongso." Jin tersenyum.
Wongso menelan ludah. Dia lekas berteriak, "Jangan! Iblis itu—Jin itu mau membunuh Bapak. Tolong Bapak, Din!"
__ADS_1