
"Pasti pelakunya si Hudi tuh! Dia ngotot banget menyalahkan Mas Muktar—ah, maksudku Mas Akbar seperti itu," terka Sanubari asal-asalan.
Lima bungkus keripik kentang habis sudah. Sepanjang itu pula cerita Akbar. Sanubari membuka satu bungkus besar lagi.
"Itu mustahil. Kami tidak bermusuhan. Jadi, tidak ada alasan baginya untuk memfitnah saya," kata Akbar.
"Yang lebih mencurigakan jelas si Kyai, Sanu!" sahut Abrizar. Dia sudah mempertimbangkan segala kemungkinann. Perlakuan Kyai Samad terlalu kentara.
"Mana mungkin bisa begitu! Kyai Samad sangat lemah lembut. Lebih-lebih, beliau seorang ahli agama. Mustahil beliau melakukan perbuatan yang jelas dosa besar," sanggah Akbar sedikit meninggikan intonasi.
Dia tidak terima dengan tuduhan Abrizar. Itu seperti penghinaan terhadap pemuka agama. Dan sebagai umat yang taat, Akbar tersinggung ketika orang yang seharusnya dihormati malah direndahkan.
"Benar kata Mas Akbar. Mana mungkin seorang kyai bermaksiat." Sanubari manggut-manggut.
"Aku hanya menyimpulkan dari cerita Akbar. Di zaman sekarang, banyak orang yang memiliki gelar sekadar tempelan saja. Bahkan, tidak sedikit yang hanya memanfaatkan gelar untuk keuntungan pribadi tanpa memahami esensinya," tutur Abrizar.
__ADS_1
"Kurasa, aku mengerti apa yang dimaksud Abri. Jika kalian menyimak cerita baik-baik, kalian pasti menyadari sesuatu. Alat yang digunakan untuk membunuh adalah golok. Sebelum pembunuhan terjadi, golok itu digunakan Akbar untuk membelah kelapa. Kemungkinan, si tersangka menyimpan golok itu sampai waktu yang ditentukan supaya bisa mengkambinghitamkan Akbar. Itulah mengapa sidik jari Akbar ada di sana."
"Aku sepemikiran dengan Eiji sempai," ucap Sai.
"Jadi, ini adalah pembunuhan berencana?" Sanubari menoleh pada Eiji.
Abrizar dan Eiji dengan kompak menjawab, "Benar."
"Tapi, apa motifnya?"
Akbar masih kesulitan mempercayai spekulasi yang mereka utarakan. Bagaimanapun, Kyai Samad adalah sosok yang memiliki welas asih tinggi. Lelaki itu pula yang memberikan beasiswa pada Aini karena keluarga gadis itu tergolong warga kurang mampu.
"Bagaimana caranya?" tanya Akbar.
"Renji, Sanu, kalian pergi ke tempat kyai itu, kumpulkan banyak informasi!"
__ADS_1
"Jangan Ren! Sai saja! Kalau masalah ketenangan, Sai lebih bisa diandalkan. Dia juga lebih kritis dalam pengamatan," sela Eiji.
"Hei-hei, kenapa kau meremehkan ku seperti itu? Bertahun-tahun kita bekerja bersama, tapi kau seolah tutup mata pada kemampuanku. Apakah dedikasiku selama ini tidak cukup untuk mendapatkan pengakuanmu? Sungguh keterlaluan."
Renji berbicara sangat cepat. Sebagai yang tertua di antara Eiji dan Sai, seharusnya dia dihargai. Akan tetapi, faktanya, penghormatan itu tidak pernah Renji peroleh. Keluar dari Onyoudan pun perlakuan mereka sama. Renji kesal saat mengingatnya. Dia yang lebih dahulu mengenal Eiji, tetapi selalu Sai yang mendapatkan pengakuan lebih dahulu.
"Bukannya begitu. Kau dan Sanu sama-sama blak-blakan. Kalau kalian bergerak bersama, aku khawatir kesempatan yang kita peroleh akan sia-sia karena kecerobohan kalian," tutur Eiji.
"Bagaimana dengan siletnya?" tanya Sai. Tanggung jawab itu tidak dia lupakan.
"Kita tidak sedang buru-buru. Itu bisa kita lanjutkan setelah penyelidikan ini selesai. Renji akan lebih berguna bila bersamaku sekarang. Proyek otomotif itu harus kita segerakan," ungkap Eiji.
Kebanggaan Renji melambung setelah mendengarnya. Perasaan dibutuhkan orang lain itu membuatnya senang. Dia terkekeh.
"Akan kupastikan, produk kita berkualitas tinggi. Dan kita tidak akan mengalami permasalahan ekonomi."
__ADS_1
"Anu, tapi, masalahnya, mana ada penjahat yang mau ngaku kalau ditanya."
Sanubari berpikir keras sebelum menanyakan hal tersebut. Pengalamannya diinterogasi polisi begitu membekas. Jika ingin memperoleh keterangan, maka dia harus bertindak layaknya polisi. Kendati demikian, jawaban yang akan diperoleh belum tentu kejujuran.