Santri Famiglia

Santri Famiglia
Peti Senapan


__ADS_3

Sanubari dengan sigap menggeser posisi moncong senapan. Misil-misil meleset, menghantam dinding di belakangnya. Hanya satu yang menyerempet lengan kirinya, menimbulkan sedikit rasa perih.


Bersamaan dengan itu, Sanubari mengacungkan tangan kanan. Sebuah silet menembus dada pria itu. Penjaga itu pun seketika tumbang setelah sebuah dentingan.


Sang remaja terpaku. Segalanya serba spontanitas. Sanubari tidak sempat berpikir area mana yang harus dibidik. Insting untuk bertahan hidup menggerakkan tubuhnya begitu saja.


"Tidak ... tidak mungkin aku ...."


Suaranya bergetar. Rasa syok menjalar ke seluruh tubuh remaja beriris mata hijau itu. Hatinya dilanda ketidak tenangan.


Cukup lama Sanubari terpekur memperhatikan raga yang tergeletak. Pikiran menyuruhnya untuk memeriksa keadaan pria yang dadanya baru dia lubanggi dengan sebuah silet. Saat hendak melepas sarung tangan, tiba-tiba terdengar suara teguran.


"Apa yang kau lakukan?"


Itu dari Eiji. Pria itu terus memantau pergerakan Sanubari dari dalam mobil. Kacamata Sanubari dilengkapi dengan kamera. Eiji bisa dengan mudah mengetahui setiap tindakan Sanubari.


"Hebat juga dia. Bisa melumpuhkan tiga orang dalam waktu sesingkat itu. Sayang, mentalnya belum terlatih. Tapi, apa yang dia pakai untuk menyerang mereka? Kurasa dia tidak melempar pisau. Hanya satu pisau yang dibawanya, dan aku yakin itu belum digunakan," batin Eiji sambil terus memperhatikan monitor.


"Aku hanya ingin memastikan orang ini masih hidup atau tidak."


"Jangan buka sarung tanganmu!" Eiji memusatkan atensi pada tangan kanan Sanubari. Pemuda itu seperti menggenggam sesuatu.


"Tapi ...."


"Kau aman. Seluruh kamera pengawas sudah kumatikan. Tinggalkan saja orang itu! Waktu kita tidak banyak. Ini sudah menjelang pagi," desak Eiji supaya Sanubari mau segera melanjutkan perjalanan.


Sanubari masih enggan beranjak. Kondisi pria di hadapan menjadi momok baginya. Berulang kali dia menunduk dan melempar pandangan pada pintu.


"Tunggu apa lagi? Cepatlah! Jangan pikirkan orang-orang itu! Nanti akan ada yang mengurusnya. Pergilah sebelum makin banyak orang berdatangan!"


"Makin banyak?" Sanubari merinding membayangkannya.


Dia tak mempunyai pilihan lain. Selama ini, Sanubari selalu memilih untuk kabur ketika dihadapkan dengan banyak penjahat. Dia tidak yakin siap atau belum dirinya bila harus melawan lebih dari dua orang sekaligus.

__ADS_1


Buru-buru, Sanubari berlari ke arah pintu. Mendorong, menggeser, menarik sudah Sanubari lakukan. Namun, pintunya tidak tergerak sedikit pun.


"Pintunya dikunci," ucap Sanubari menyerah. Papan baja itu terlalu kokoh.


"Cari kartu di salah satu badan mereka!" perintah Eiji.


Pintu tersebut menggunakan sistem pemindaian khusus tanpa jaringan. Mustahil membukanya dengan peretasan, kecuali Eiji meletakkan secara langsung media perantara pada pintu. Sayangnya, Sanubari tidak dibekali alat semacam itu. Remaja itu harus membuka pintu sendiri secara manual.


Sanubari bergegas menggeledah orang paling dekat. Dia menemukan banyak kartu dari saku dan dompet penjaga itu. Dia menggaruk kepala bingung.


"Kartunya yang mana, ya?"


"Tempelkan saja pada pemindai di bawah pegangan pintu! Nanti kau akan tahu." Eiji memberi arahan. Dia sengaja tidak memberi tahu kartu apa saja yang dipegang remaja itu. Agaknya dia ingin menguji intelek Sanubari.


Sang remaja mulai menempelkan kartu pertama, lalu mencoba membuka pintu. "Tetap tidak bisa."


Dia membalik sisi yang dipindai. Sanubari menggeleng. "Masih juga tidak bisa."


Dari kejauhan, Eiji terbahak dalam hati. "Kartu ATM, kredit, jaminan kesehatan, keanggotaan, rumah sakit, identitas, transportasi ... mana bisa menggunakan kartu-kartu semacam itu untuk membuka pintu. Dasar Bocah!"


Tersisa satu kartu di tangan kiri Sanubari. Dia berharap pintu bisa dibuka dengan kartu itu. Pintu berdenging sekali begitu Sanubari menempelkan kartu. Lekas digesernya pintu.


"Bisa!"


Sanubari mengembuskan napas lega. Dia berjongkok. Dengan sangat berhati-hati mengembalikan kartu-kartu pada tempatnya. Sanubari tercenung sesaat saat hendak memasukkan kartu terakhir.


Dia menyimpan kartu itu untuk dirinya sendiri, berjaga-jaga bila kartu semacam itu dibutuhkan lagi. Kemudian, dia mengatupkan kedua telapak tangan di depan wajah.


"Maafkan aku, Paman! Maaf sudah membuat Paman-paman pingsan. Aku minta satu kartu. Mohon diikhlaskan, ya! Karena aku tidak yakin bisa mengembalikannya!"


Selesai mengatakan itu, Sanubari menoleh pada pria yang terbaring agak jauh. Dia takut satu orang itu tidak akan pernah bangun selamanya. Namun, Sanubari harus mengesampingkan perasaan itu.


Dirinya sendiri sedang bertaruh nyawa di sini. Prioritasnya adalah memasuki ruangan. Lagi-lagi garis itu membimbing Sanubari pada pintu yang terkunci.

__ADS_1


Dia bersyukur tidak ada penjaga seperti sebelumnya. Sanubari langsung menggunakan kartu yang diambil sebelumnya. Kartu tersebut bekerja sangat baik. Sanubari bisa masuk dengan mudah.


Begitu banyak peti bertumpuk dalam ruangan. Garis biru mengarah pada peti di tumpukan terbawah di sudut ruangan. Sanubari mengerahkan seluruh tenaga untuk memindahkan peti-peti yang amat berat karena ternyata garis itu mengarah pada peti tengah yang dikelilingi peti lain.


Kacamata yang dipakainya sangat luar biasa. Benda padat tertutup pun bisa dilihat isinya. Untuk kesekian kalinya Sanubari berdecak kagum terhadap kecanggihan teknologi.


Keringat bercucuran. Peti yang dicari akhirnya terlihat juga. Dari kacamata, Sanubari bisa melihat lingkaran biru di permukaan peti. Dia memotong bagian atas peti dengan pisau.


Pelan-pelan, Sanubari memindahkan bagian atas peti yang telah dipotong. Tumpukan senjata baru menyambut mata Sanubari. Dia membongkar senjata Laras panjang yang dikelilingi gabus. Di tengah-tengah, Sanubari menemukan sebuah koper.


Sanubari terbelalak. Dia bisa melihat tembus pandang ke dalam koper. Koper hitam tersebut berisi sejenis senjata Laras panjang yang belum dirangkai. Yang lebih mengejutkan adalah senjata api tersebut berwarna emas.


Tertulis keterangan bahwa itu adalah emas murni. Berlian yang menghiasi badan senjata pun asli.


"Ini pasti mahal," batin Sanubari sembari mengangkat koper tersebut.


"Buka kopernya! Kita harus memastikan isinya," perintah Eiji melalui earphone.


Meskipun kacamata ciptaannya bisa menembus benda apa pun, Eiji lebih puas menyaksikan sesuatu dengan mata telanjang. Sanubari mengotak-atik bagian yang dianggapnya kunci.


"Aku tidak bisa."


"Bawa saja benda itu kalau begitu! Tidak perlu merapikan tempat itu. Langsung saja ke tujuan berikutnya! Ingat waktu kita terbatas!"


Eiji khawatir Sanubari akan membuang waktu untuk menata peti seperti semula bila tidak diperingatkan seperti itu. Mengingat Sanubari mengembalikan kartu pada tempatnya sebelumnya, tidak menutup kemungkinan remaja itu akan melakukan hal serupa lagi.


"Seharusnya aku mem-briefing-nya dengan lebih detail," gumam Eiji yang berada di mobil.


Sementara itu, Sanubari teringat sesuatu. Dia meletakkan koper ke lantai. Sanubari mengambil benda menyerupai ponsel lipat dari saku. Dia mematahkan setengah bagian, meletakkan potongan tersebut ke lantai. Kemudian, Sanubari memasukkan setengah bagian lagi ke saku, menyambar koper, lalu lari.


"Apa yang baru saja dia lakukan?" gumam Eiji dalam hati penasaran.


Dia bisa melihat gerak-gerik Sanubari, tetapi tetap saja kacamata tersebut memiliki titik buta. Karena kacamata tersebut berperan layaknya mata Sanubari, Eiji tidak bisa memutar kamera untuk mengamati benda yang ditinggalkan remaja itu.

__ADS_1


__ADS_2