Santri Famiglia

Santri Famiglia
Kilas Balik Muktar 2


__ADS_3

Libur semester genap baru akan berakhir tiga hari lagi. Banyak santri yang pulang ke rumah masing-masing. Tidak lebih dari sepuluh yang menetap di asrama baik putra maupun putri.


Pagi itu, Muktar tidak ada kerjaan. Dia memutuskan untuk ke rumah kyai setelah mengirimkan surat lamaran WFH. Di perjalanan, dia bertemu dengan santriwati yang berjalan dari arah hutan menuju rumah kyai. Muktar menyapa.


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


Gadis itu menjawabnya sambil menunduk, kemudian berlalu begitu saja. Muktar berpikir gadis itu mungkin saja santriwati yang menjadi abdi dalem, lalu melanjutkan perjalanan.


"Assalamualaikum, Pak Kyai!" sapanya ketika melihat pria sepantaran ayahnya.


Pria itu berdiri memunggungi, menata pot-pot bunga pada papan bertingkat. Dia menjawab salam, lalu menoleh dan berkata, "Oh, ustaz Muktar, ada apa?"


Muktar menunduk malu. Padahal, dia baru saja diterima kemarin, tetapi sudah mendapatkan panggilan itu dari sang kyai.


"Saya ini belum menjadi ustaz. Rasanya belum pantas dipanggil demikian."


"Kamu sudah resmi menjadi pengajar. Mau dipanggil ustaz sekarang atau besok sama saja, bukan?"


Kyaai Samad tersenyum simpul. Tutur katanya sangat lembut, mengingatkan Muktar pada mendiang ayah Kyai Samad—pendiri pondok pesantren.


"Anu, Pak Kyai, saya ke mari sebenarnya untuk mengabdi. Barangkali ada yang bisa saya bantu di sela-sela waktu senggang?"


Seketika setelah Muktar selesai berbicara, sebuah pot dari tanah liat menghantam pelipis Muktar. Dia spontan berteriak. Kepalanya nyut-nyutan. Sementara matanya kelilipan sampai berair.


Pot pecah berkeping-keping. Tanah ambyar, sebagian mengotori pundak Muktar.


Kyai Samad langsung melotot. Dia menghardik keras, "Irsyad, kamu tidak boleh melakukan itu!"


Kyai Samad lantas menyeret Irsyad. Putra sulung Kyai Samad itu meronta-ronta. Namun, Kyai Samad menahan sambil terus menyuruhnya berjalan.


"Tidak boleh! Tidak boleh! Tidak boleh! Pergi!"


Irsyad terus mengulangnya. Dia meracau-racau. Sampai dalam rumah pun teriakannya masih terdengar dari luar. Hingga akhirnya, teriakan berangsur memelan.


Muktar merasa tidak enak hati. Dia telah menyaksikan pemandangan yang tidak seharusnya dilihat. Dahulu, Irsyad tidak seperti itu. Muktar samar-samar ingat ketika mereka menjadi teman sepermainan meski berbeda lima tahun.


Hatinya mengiba mengetahui kondisi Irsyad. Muktar membersihkan tanah dari pakaian dan leher. Dia mengalirkan air keran untuk merambah mata. Itu cukup melegakan.


Berdiri sendirian di halaman, dia tidak tahu harus apa. Dia bimbang, haruskah dia pergi atau tetap di sana. Muktar merasa serba salah.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Kyai Samad keluar lagi. Dia menghampiri Muktar. "Maaf, kamu tidak apa-apa?"


"Alhamdulillah."


"Syukurlah. Aini pasti lupa mengunci pintu setelah mengantar sarapan tadi, makanya Irsyad bisa keluar seperti itu."


Keterangan Kyai Samad menimbulkan tanya dalam benak Muktar. Banyak hal telah berubah selama keabsenannya dari kampung halaman. Sesuatu sepertinya telah terjadi pada keluarga Kyai yang dahulu Muktar lihat sebagai keluarga sempurna idaman setiap orang.


"Kalau boleh tahu, mengapa Mas Irsyad harus dikurung? Maaf bila saya lancang," kata Muktar canggung.


Kyai Samad tetap dalam ketenangannya. Dia berjongkok, memindah pot-pot yang berada di tempat teduh ke tempat terpapar sinar matahari.


"Saya bantu, Pak Kyai!" tambah Muktar sigapp.


"Terima kasih."


Mereka berdua memindah bersama. Sambil bekerja, Kyai Samad bercerita.


"Sejak dituntut cerai istrinya, dia menjadi seperti itu. Kalau dibiarkan berkeliaran, saya khawatir dia akan melukai orang seperti yang dilakukannya padamu tadi. Saya sendiri tidak tahu apa sebab perceraian mereka. Irsyad tidak pernah bercerita. Setiap kali saya tanya, dia selalu bungkam."


Terdengar helaan pelan di tengah cerita. Kyai Samad memalingkan muka. Dia kembali menyibukkan diri dengan tanaman.


"Nanti, bantu saya mengantar makanan pada Irsyad setiap hari, ya!"


"Baik, Pak Kyai." Muktar mengangguk sembari mengangkat pot kecil lain.


"Saya tidak tahu mengapa, tapi Irsyad tidak pernah mau menyentuh makanan kalau saya yang antar. Biasanya si Fahri yang mengantar. Berhubung dia sedang pulang kampung, Aini yang menggantikannya. Sebenarnya, kasihan dia. Tapi, saya tidak tahu lagi harus minta bantuan pada siapa."


"Kalau sama Bu Nyai, apa juga tidak mau?"


Kyai Samad berhenti sejenak sebelum menjawab, "Kami sudah berpisah. Dia tidak tinggal di sini lagi."


Muktar merasa tambah sungkan. Dia tidak bertanya lagi. Keesokan harinya, usai salat isra, Muktar pergi lagi ke rumah Kyai Samad. Benar perkiraannya, gadis yang berpapasan dengannya hari sebelumnya ada di dapur. Perempuan itu sedang memasak.


"Assalamualaikum, Ukhti!" sapa Muktar.


"Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh," jawabnya menoleh sejenak, lalu kembali mengalihkan pandangan ke wajan. Tangannya sedang menumis bumbu.


"Saya Muktar. Saya yang akan menjalankan amanah Pak Kyai untuk membawa makanan pada Mas Iersyad."


"Oh, pasti yang mengantar makan malam kemarin itu Masnya, ya? Waktu saya datang membawa makanan ke kamar Mas Irsyad, ternyata beliau sedang makan. Saya sempat heran."

__ADS_1


"Iya, saya buru-buru keluar setelahnya karena Pak Kyai memanggil."


"Saya Aini. Langsung panggil nama saja! Tidak usah pakai mbak, ukhti, atau sematan lain!"


"Baiklah. Jadi, mana yang harus saya antar?" Muktar mengedarkan pandangan. Terdapat tempe yang masih direndam bumbu, daun pepaya yang ditiriskan, lalu panci dengan bunyi gemelegak.


"Wah, belum matang makanannya, Mas. Tunggu sebentar lagi, ya!"


"Kalau begitu, saya menguras kolam ikan dulu. Nanti kalau sudah siap, panggil saya, ya!"


"Sip!" Aini mengacungkan jempol.


Muktar keluar dapur setelah mengucapkan salam. Kolam ikan ada di depan dapur. Jadi, dia mudah ditemukan kapan pun dibutuhkan. Muktar melinting celana, lalu melepaskan jam tangan. Diletakkannya jam tangan itu ke meja dekat kolam. Kemudian, dia mulai memindahkan ikan.


"Kamu pengertian sekali, Ustaz Muhtar."


Mendengar itu, Muktar melongok. Kyai Samad telah duduk di kursi dari gelondongan kayu jati. Dia memegang arloji Muktar.


"Pak Kyai!"


"Saya memang berniat membersihkan kolam itu, tapi banyak pekerjaan lain yang harus diprioritaskan. Jadi, belum sempat-sempat. Tapi, Alhamdulillah mendapatkan bantuan darimu pagi ini meski tanpa saya minta."


"Kebetulan, waktu lewat tadi, saya lihat kolamnya kotor. Pikiran saya tergerak begitu saja untuk membersihkannya." Muktar tertawa.


"Beruntung orang yang memiliki putra rajin sepertimu, Ustaz Muktar."


"Ah, tidak. Saya belum bisa berbakti dengan baik pada orang tua. Selama ini, saya jauh dari mereka. Pekerjaan pun baru dapat sekarang. Saya belum bisa memberikan apa pun untuk mereka."


"Bakti itu bisa dilakukan dalam berbagai bentuk. Jika tidak bisa memberikan uang, maka lakukan dengan perlakuan fisik! Pun sebaliknya. Jika tidak bisa keduanya, maka lakukan dengan doa! Mendoakan orang tua merupakan bentuk berbakti terbaik yang mudah dilakukan kapan pun."


Nasihat itu disimak Muktar. Dia sampai berhenti menyikat lantai.


"Ngomong-ngomong, apa arloji ini milikmu?"


"Iya, Pak Kyai."


"Tidak seharusnya benda semahal ini diletakkan sembarangan."


"Pak Kyai tahu?"


"Teman saya kolektor jam tangan antik dan langka. Akhir-akhir ini, dia sering membahas tentang arloji seperti ini. Jadi, saya bisa langsung mengenali ketika melihatnya tergeletak di sini tadi."

__ADS_1


__ADS_2