Santri Famiglia

Santri Famiglia
Ketergesaan


__ADS_3

Administrasi sudah diselesaikan Petahana sesaat sebelum kembali ke kamar Sanubari. Dia juga mengajukan pemulangan paksa bagaimana pun kondisi Sanubari. Dokter hanya datang untuk melakukan pemeriksaan akhir dan melepas infus.


Petahana bahkan tidak repot-repot antri untuk mengambil salinan rekap medis. Kabar yang baru diterima mengharuskannya serba terburu. Perempuan itu lekas menyuruh Sanubari mengganti baju.


Terus melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan, Petahana gelisah menunggu Sanubari selesai berganti pakaian di luar kamar. Hanya beberapa menit, tetapi menjadi sangat mendebarkan dalam situasi seperti itu. Begitu para lelaki keluar, dia langsung mengajak mereka pergi.


"waktu kita tidak banyak. Percepat langkah kalian!"


Petahana setengah berlari menyusuri koridor. Kabar itu sungguh mengejutkannya. Kondisi Pemba memang tidak baik-baik saja empat bulan belakangan ini.


Pulau terbagi menjadi dua wilayah karena sengketa politik. Entah apa yang terjadi sampai konflik berkembang ke arah yang lebih gelap.


Mata-mata di salah satu kubu menyampaikan bahwa mereka akan melakukan pengeboman dari udara ke wilayah musuh. Celakanya, Petahana berada di zona merah itu.


"Ada apa sebenarnya?"


Fukai menuntut jawaban. Sedari tadi, Petahana belum memberi tahu mereka. Tanda tanya besar itu tidak bisa Fukai usir dari benak begitu saja.


"Yang jelas, kita harus keluar dari pulau ini sebelum jam setengah dua belas."


"Tapi kenapa?"


Fukai masih menuntut penjelasan. Mengikuti desakan orang lain tanpa tahu apa-apa terasa aneh bagi Fukai. Meskipun begitu, otaknya tetap tersugesti untuk menurut.


Tak berselang lama, mereka sampai di tempat parkir. Petahana menyuruh mereka segera naik ke mobil jip.


Perempuan itu menyetir sepeti orang gila, melajukan kecepatan di atas rata-rata. Kegilaannya itu menuai kejaran dari polisi lalu lintas yang bertugas.


Sirene meraung-raung di siang yang cerah. Namun, Petahana tidak peduli tentang itu. Sanubari sesekali menoleh ke belakang.


"Kakak, kau membuat mobil polisi itu mengejar kita," ucap Sanubari. Jantungnya berdesir ngeri.


"Hana, pelankan lajunya!" pinta Fukai. Tidak bisa dipungkiri, dia juga merasa ngeri dengan gaya menyetir Petahana yang ugal-ugalan.


"Tidak bisa. Kita hanya memiliki waktu sepuluh menit."

__ADS_1


Petahana berkonsentrasi dengan jalan yang diambil, memastikan dirinya tidak berbelok di tikungan yang salah. Sebab, satu kesalahan itu akan berakibat fatal. Dia terus mengabaikan panggilan yang menyuruhnya untuk berhenti.


"Sepuluh menit? Sepuluh menit untuk apa?" tanya Fukai.


"Untuk menyelamatkan nyawa kita," jawab singkat Petahana.


Suara pesawat mendengung di atas mereka. Jantung Petahana bertambah berdebar seiring mengerasnya bunyi itu. Dia menatap langit sekilas. Pesawat terbang mendekat. Kemudian, dia melirik jam. Pukul sebelas lebih sepuluh menit dan lima puluh tujuh detik.


"Ada sesuatu jatuh dari langit," ucap Sanubari yang tanpa sengaja melihat titik kecil jauh di belakang.


Titik itu bergerak cepat, terus turun, lalu terhalangi bangunan pada sisi jalan. Sanubari tidak lagi bisa melihatnya.


Ketika angka sepuluh berubah tepat menjadi sebelas, debuman menggelegar. Sanubari sampai berteriak dan menutup telinga. Tanah berguncang. Dari sepion, Petahana bisa melihat jalan di belakangnya retak dan runtuh. Mobil polisi terjatuh ke lubang yang menganga.


Petahana menginjak gas lebih dalam, meloloskan diri dari retakan yang menjalar. Asap membubung ke angkasa.


Sebagian bangunan dan hutan terbakar. Orang-orang dalam bangunan mendadak panik.


"Bom?"


Fukai bisa melihat aspal yang cuil dan retak. Kaca-kaca bergetar. Burung-burung berhamburan, menjauhi ledakan. Binatang hutan pun kocar-kacir seperti manusia.


Ponsel Petahana berbunyi, tetapi tidak punya waktu untuk mengangkat. Dia mengemudikan mobil ke parkiran atas hotel berlantai sepuluh. Mereka berhenti di sana. Perempuan itu menggiring ketiganya ke landasan helikopter.


"Hana, kupikir kau tidak akan datang. Para kalangan atas berotak busuk itu mempercepat rencananya. Benar-benar sialan."


Sison menyambut mereka. Mesin helikopter langsung dinyalakan begitu perempuan itu terlihat.


"Cepat naik! Tidak ada banyak waktu untuk berbincang!" perintah Sasin memperingatkan.


Sanubari yang melihat dua pria itu untuk kedua kalinya tampak kebingungan. Tidak disangka, dia akan melihat mereka lagi. Sison mendorong Sanubari yang terbengong.


Baru satu meter helikopter melayang, gedung yang mereka tinggalkan meledak. Pilot menaikkan ketinggian dan terbang menjauh.


"Otak-otak busuk itu tidak hanya menjatuhkan bom. Mereka juga mengirimkan beberapa orang yang telah dicuci otaknya untuk melakukan bom bunuh diri. Ledakan tadi adalah kodenya. Mereka yang berada di luar radius ledakan harus segera memulai aksinya. Terlambat saja satu menit, mungkin kami akan meninggalkanmu, Hana," ungkap Sison.

__ADS_1


"Kamu bilang ppengeboman akan dimulai pukul setengah dua belas. Ini bahkan belum ada setengah dua belas. Seharusnya, kamu memberi tahu tentang ini sejak kemarin. Kenapa mendadak begini?"


Petahana bersungut-sungut. Dia kesal, informasi sepenting itu disampaikan di waktu yang mepet. Mukanya tampak jutek memarahi Sison.


"Kami juga baru menerima berita itu. Tapi, baguslah. Laporan itu datang tepat waktu. Jadi, kami bisa membawa kalian keluar," balas Sison.


"Tepat waktu apanya? Kami hampir terdampak ledakan tadi," protes Petahana. Karena berita dadakan itu, dia harus kebut-kebutan di jalan.


Ada banyak pertanyaan dalam otak Sanubari. Namun, ada hal lain yang juga menarik perhatiannya. Selagi Petahana berdebat dengan Sison, dia diam, memfokuskan mata pada pemandangan yang terus bergerak.


Sanubari melihat ke bawah. Kawah cukup luas terbentuk di permukaan. Asap dan api menyebar di beberapa titik. Bangunan-bangunan luluh lantak. Hatinya terasa nyeri menyaksikan itu.


"Kenapa ada orang yang tega melakukan itu semua? Untuk apa?" batin Sanubari tidak mengerti.


Dia memeluk erat kayu dari Fanon. Batinnya geram melihat kekejaman yang tidak pandang bulu.


"Ke mana rasa kemanusiaan mereka?" pikirnya, "Seenaknya menyiksa dan menghilangkan nyawa orang lain."


Sanubari cemberut. Dia ingin menghilangkan orang-orang semacam itu. Jika bisa, orang-orang seperti itu tidak perlu dilahirkan.


Sementara itu, Fukai dan Abrizar menyimak pembicaraan Petahana. Kini, mereka paham alasan ketergesaan perempuan itu. Rumah sakit yang mereka tinggalkan mungkin telah hancur saat ini.


Tiba-tiba, Helikopter melakukan manuver tidak biasa. Posisinya agak miring. Sanubari sampai merasa hampir jatuh.


"Ada apa?" sentak Petahana.


"Ada yang mengejar dan menembakkan rudal ke arah kita," kata pilot yang terus melakukan manuver untuk menghindar.


"Sial! Sepertinya, mereka mengira kita sebagai musuh." Sison mengumpat.


"Apa mereka sudah gila? Jika itu dilakukan, bukankah pulau terdekat bisa terimbas andai amunisi mereka mendarat di tempat yang tidak semestinya?" ucap Petahana. Dahinya mengerut.


Saat helikopter mencapai di atas selat Pemba, helikopter berguncang. Sirene tanda bahaya berbunyi. Ekor belakang patah. Helikopter berputar-putar tidak terkendali.


"Darurat! Helikopter ini akan jatuh.

__ADS_1


__ADS_2