Santri Famiglia

Santri Famiglia
Wawancara


__ADS_3

"Jadi, apa yang bisa saya bantu?" tanya bapak itu.


Sang istri membawakan teh hangat dan setoples keripik talas. Dia mempersilakan makan dan minum, lalu bergabung di ruang tamu. Mereka keluarga pertama yang bersedia menerima Sanubari dan Sai.


"Jika Bapak berkenan, kami hanya ingin menanyakan beberapa hal," balas Sai.


Matanya mengamati ekspresi suami-istri. Keduanya saling pandang, menyiratkan keraguan. Si istri juga berbisik-bisik, menyerahkan segalanya pada sang suami.


"Silakan saja! Kami akan menjawab setahu kami," bapak itu berhenti sejenak sebelum akhirnya menoleh pada sang istri, "kamu panggilkan Raisha saja, Bun! Mungkin lebih baik bila mereka mendengar dari Raisha langsung. Kalau dari kita, faktanya bisa berubah karena bercampur pandangan subjektif."


Sanubari membenarkan itu. Dia berpikir bahwa mereka orang yang bijaksana. Berita dari orang pertama memang lebih akurat dari berita yang jatuh ke tangan kedua dan seterusnya. Penambahan dan pengurangan tidak terelakkan lagi setelah berpindah tangan.


"Tapi, bagaimana bila narasumber pertama adalah seorang pembohong?" Keraguan semacam itu hadir dalam benak Sanubari. Mereka tidak akan pernah memperoleh fakta bila itu terjadi.


Tidak lama kemudian, si ibu kembali bersama perempuan berjilbab. Gadis muda itu duduk di antara orang tuanya. Dia menunduk sambil memainkan ujung jilbab. Sai meminta izin untuk merekam isi pembicaraan sebelum mulai wawancara.


"Ini Raisha anak saya, salah satu korban kasus itu."


Bapak Raisha merangkul Raisha. Sai dan Sanubari memperkenalkan diri.


Kemudian, Sai mengajukan pertanyaan, "Raisha tidak sekolah?"


"Anak saya hanya nyantri di sana. Tapi, dia ambil libur untuk menenangkan diri. Denger-denger, sekolah juga memberi keringanan pada siswi yang menjadi korban. Mereka bisa sekolah dari rumah supaya tidak ketinggalan. Dan bagi yang mentalnya kurang siap, sekolah juga memberi kelonggaran cuti sampai sembuh dari trauma."


"Bijak sekali pihak sekolah, ya Pak," kata Sai.


"Begitulah. Kyai Samad sampai berkunjung seminggu sekali untuk meminta maaf," balas si bapak.


"Adakah ganti rugi lain yang diberikan pihak sekolah?"


"Kyai Samad membawa sembako dan sejumlah uang. Meski semua itu bisa mencukupi kebutuhan kami tanpa harus bekerja, tapi itu tidak bisa mengembalikan kehormatan putri saya dan menghapus kenangan buruk darinya."


"Jadi, Raisha masih ingat tentang Ustaz Muktar?" tanya Sai.


Raisha diam sejenak, lalu mengangguk pelan. Gerakannya terlihat ragu. Sai mengamatinya.

__ADS_1


"Kami pernah berbicara dengan Ustaz Muktar dan menyaksikan sidangnya. Beliau selalu mengingkari bahwa itu perbuatannya. Apa Anda melihat sendiri bahwa Ustaz Muktar melakukan perbuatan asusila?"


Pertanyaan Sai begitu tajam. Raisha terdiam. Sementara sang ayah tersinggung setelah mendengarnya.


"Kalian ini bagaimana? Sudah jelas anak saya ini korban. Yo pasti tahu siapa tersangkanya, to? Kok malah keterangan tersangka yang lebih kalian percaya? Tukang kibul itu pasti cuma ngarang untuk membela diri."


Ayah Raisha berapi-api. Sementara Raisha masih terdiam.


"Mari kita dengar jawaban dari Raisha! Saya hanya ingin tahu fakta dari mulut Raisha. Apakah Raisha melihat wajah pelaku dengan jelas atau tidak?" tutur Sai.


Sanubari kagum dengan Sai. Dalam kesehariannya, Sai tampak seperti orang yang sangat pendiam. Tetapi ketika berada dalam kondisi seperti ini, dia seperti orang yang public speaking-nya terlatih. Segalanya mengalir dalam ketenangan yang teratur. Itu sungguh di luar dugaan Sanubari.


Raisha menjawab lirih, "Tidak."


"Bisa tolong diperjelas!" pinta Sai.


"Beliau memang melepas pakaian, tapi penutup wajah tidak pernah dilepas saat melakukan itu," kata Raisha sangat pelan.


Sanubari tidak paham bagaimana tindakan asusila dilakukan. Bagaimanapun, dia tidak pernah sekolah lebih dari SD dan belum pernah menonton film dewasa. Pengetahuannya di bidang itu masih sangat terbatas. Akan tetapi, keterangan Raisha membuatnya merasa ganjil. Dia tahu apa itu yang disebut melepas pakaian.


"Iya." Raisha mengangguk.


Sanubari tiba-tiba menyahut keras, "Yang benar saja! Masak kau tidak mengenali postur tubuhnya? Misalnya, otot lengan atau perut. Pasti ada perbedaan ciri fisik, kan? Seperti ini misalnya."


Sanubari secara spontan mengangkat kaos sendiri. Kemeja Sai juga diangkat. Sai langsung memukul tangan Sanubari dan menyingkirkannya.


"Memalukan," batin Sai, sedangkan lisannya berkata, "Hentikan tindakan tidak sopanmu, Sanu!"


Kelakuan Sanubari mengejutkan semua orang. Mereka jadi bertambah canggung. Raisha yang sempat menatap ke depan pun menunduk lagi. Sanubari meminta maaf.


"Tidakkah Raisha berpikir bahwa itu mungkin saja orang lain?" kejar Sai.


"Kalau wajahnya tidak terlihat sih bisa-bisa saja," ujar bapak Raisha menyetujui Sai. Perkiraan itu menyadarkannya.


Namun, Raisha kembali membisu. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu. Jarinya terus menggulung ujung jilbab.

__ADS_1


"Adakah bukti lain yang meyakinkan Raisha bahwa itu adalah Ustaz Muktar?" cecar Sai.


"Sudah jelas sidik jari Ustaz Muktar ditemukan dalam kasus pembunuhan itu. Dia juga sudah dieksekusi mati. Kalian bisa minta data penyelidikan ke kantor polisi. Untuk apa menanyakan hal serupa pada putri saya setelah kasus ini ditutup?" sela ibu Raisha.


"Justru itu, kami ingin menguak fakta yang belum diungkap polisi. Bagaimana bila tersangkanya ternyata memang bukan Ustaz Muktar?" ucap Sai.


"Benar, " Sanubari mengangguk mantap, "Keadilan harus ditegakkan. Walau orangnya sudah meninggal, jika memang tidak bersalah, maka kita perlu mengklarifikasinya."


"Apa lagi yang perlu diklarifikasi? Polisi sendiri yang menyelidiki. Kalian hanya murid akademi, bukan polisi yang terbukti kemampuannya. Teori kalian itu pasti tidak lebih dari imajinasi," sergah ibu Raisha.


Dia semakin risih dengan pertanyaan yang dilontarkan. Wanita itu mencemaskan putrinya. Suasana pun kian keruh. Bapak Raisha pun mengusir mereka secara halus.


Sai dan Sanubari selanjutnya pergi ke rumah Aini. Tidak banyak informasi yang mereka peroleh karena Aini jarang bercerita tentang keadaannya pada kedua orang tuanya. Hanya saja, mereka memperoleh satu kesamaan. Keluarga Aini memperoleh santunan lebih besar dari keluarga Raisha. Rumah reyot mereka dibangun oleh Kyai Samad. Mereka juga memperoleh sebidang tanah dan sawah.


"Kaya juga, ya, si Kyai Samad itu. Semuanya disantuni. Rutin pula," komentar Sanubari setelah pergi dari rumah Aini.


Sai hanya diam. Dia fokus menyetir ke tujuan berikutnya. Sanubari melirik.


"Kak Sai kembali ke mode pendiam," begitu pikirnya.


Sanubari menyangga kepala dengan tangan kiri. Hingga akhirnya, mobil yang mereka menepi di pinggir jalan raya.


"Kenapa berhenti?" tanya Sanubari.


"Depan itu sepertinya rumah si kyai."


Sai menunjuk ke depan. Seseorang membuka gerbang. Sebuah mobil keluar. Pria itu masuk ke mobil setelah menutup gerbang kembali.


"Itu tadi si Kyai, kan?" tanya Sanubari.


Dia sampai membuka ponsel untuk memastikan tidak salah mengenali. Berulang kali, dia membandingkan. Namun, waktunya terlalu singkat. Sanubari tidak terlalu yakin.


"Yah, kita telat hari ini Kak Sai. Sepertinya, kita harus kembali ke sini besok."


Namun, respons Sai di luar dugaan Sanubari. Dia mengatakan, "Sanu, terbangkan serangga mata-mata!"

__ADS_1


Sai menginjak pedal gas. Dia melaju dalam kecepatan yang bisa dibilang cukup untuk mengimbangi mobil kyai. Mereka menjaga jarak.


__ADS_2