
Kelana merasa ada sesuatu yang melilit lehernya. Masih dengan memejamkan mata, dia meraba. Sesuatu yang terasa licin itu membuatnya panik.
"U-ular?" batinnya tercekat. Seperti ada banyak ular melingkari lehernya.
Ular besar yang dilihat sebelumnya membuat Kelana berpikir demikian. Di sekitar sana, bisa jadi ada anak-anak ular itu. Untumgnya, si ular besar sudah pergi ketika kepiting mulai menghantamkan tubuh ke kaca. Jika tidak, mereka pasti sudah tewas tersetrum.
"Tidak apa-apa."
Mendengar itu, Kelana terkejut. "Bagaimana mungkin bisa berbicara dalam air?"
Tangannya dijaugkan dari leher oleh Gafrillo. Tubuhnya masih terasa terendam air. Kelana membuka mata untu memastikan perasaannya tidak salah.
Pemandangan temaram di mata Kelana sebelumnya seketika terang benderang. Padahal, lampu-lampu telah padam, menyisakan satwa-satwa sebagai sumber penerangan. Dia menoleh sambil mendongak, mengintip Gafrillo yang memeluknya.
"Ini ubur-ubur oksigen. Dengan memakainya, kita bisa bernapas di air seperti memakai tabung oksigen. Binatang ini juga tidak akan mencekik manusia karena karbondioksida merupakan salah satu makanan favoritnya," jelas Gafrillo.
__ADS_1
"Wah, benar."
Kelana bisa menghirup udara lebih leluasa. Dia menyentuh bundaran yang menggelembung, membungkus kepalanya. Itu seperti helm kaca, tapi teksturnya kenyal seperti balon. Meski sejenis ikan, udara di dalamnya sama sekali tidak amis. Sebaliknya, itu malah sangat menyegarkan, seperti agar-agar melon. Kelana tertawa mengingat nama ubur-ubur. Pantaslah binatang air tersebut dinamakan ikan jeli.
Selain itu, lapisan tubuh ubur-ubur memperjelas penglihatan. Mereka seperti melihat pemandangan di bawah langit siang. Segalanya tampak terang benderang.
"Ini luar biasa!" Kelana tertawa kagum. Namun, tawanya segera luntur ketika menyadari buaya masih di sana.
Aeneas melihat mereka. Sejak tubuhnya terdorong dan diombang-ambingkan debit air, lalu Gafrillo meraih dua ubur-ubur, memasangkannya ke kepala Kelana, Aeneas tidak melepaskan pandangan dari mereka barang sedetik pun. Dia menirukan yang dilakukan ayahnya. Aeneas menyambar seekor ubur-ubur yang melintas dekat. Sebelum memakainya, Aeneas membersihkan wajah dari sisa-sisa darah, daging, serta lendir.
Kepiting raksasa menjadi rebutan dua buaya. Cangkangnya dipecah. Daging dikoyak-koyak. Pekikannya sangat mengganggu. Kelana ingin menutup telinga. Namun, helm ubur-ubur menghalanginya.
Tiba-tiba, kegelapan menelan mereka semua. Kelana dan Gafrillo terbeliak. Mereka tidak bisa melihat satu sama lain, kecuali hitam pekat.
"Paman, ada apa ini? Kenapa mendadak gelap gulita? Apa hewan ini kehabisan baterai?" Kelana kebingungan. Jantungnya terpacu lebih cepat lagi.
__ADS_1
Otaknya membayangkan yang seram-seram. Dua buaya masih di dekat mereka. Dalam gelap yang membutakan, dua predator tersebut bisa saja berenang mendekat tanpa sepengetahuan mereka.
"Hewan ini bukan benda elektronik yang bisa kehilangan cahaya karena kehabisan daya. Mereka akan terus bersinar sampai mati." Gafrillo juga heran.
Segala yang ada di sekitar mereka sungguh lenyap dari pandangan. Mereka bahkan tidak bisa melihat tubuh sendiri. Meskipun begitu, suara-suara air dan raungan masih bisa mereka dengar.
Hanya Aeneas seorang yang masih bisa melihat dengan jelas. Cairan hitam pekat menyembur dari balik reruntuhan. Dengan cepat, cairan tersebut menyebar layaknya kabut atau pewarna, mengkontaminasi kejernihan air.
Binatang-binatang saling tabrak sesekali, lalu mengeluarkan suara erangan. Tempat itu menjadi bertambah berisik. Reruntuhan bergerak. Bunyi gemuruhnya menambah nuansa mencekam.
Dua tentakel melesat kilat, menyambar Kelana dan Gafrillo. Ujung-ujungnya melilit mereka hingga tidak terlihat.
"Ular! Ular! Paman, tolong!" Kelana berteriak parau. Kenyil-kenyil yang membungkus sekujur tubuh membuatnya syok.
Gafrillo sendiri tidak bisa berbuat apa-apa. Dia mencoba meregangkan sesuatu yang menghimpit. Namun, sia-sia.
__ADS_1
Aeneas menyaksikan semua. Tentakel-tentakel ditarik mundur, menghilang di balik reruntuhan bersama Kelana dan Gafrillo. Aeneas mengeratkan pegangan pada tulang ikan yang sudah seperti pedang baginya. Tatapannya lurus, menelisik apa yang sebenarnya ada di balik reruntuhan.