
Tempias air terbang bersusulan. Batu-batu kecil tercemplung, mencipta kecipak menyegarkan. Hangat matahari menyengat kulit Eurasia bermuka kusut. Berjam-jam sudah, dia bersila menyangga kepala, sementara tangan kanannya terus saja mengambil bebatuan sekenanya.
"Bagaimana kalau ternyata Kak Sai tewas dalam ledakan? Apa yang harus kukatakan pada yang lain?"
Hatinya sangat heboh. Kalimat-kalimat itu dia serukan dalam hati. Kendati demikian, dari luar, dia tetap tenang dengan muka masam.
Semakin lama merenung, kekhawatiran malah semakin menumpuk. Dia mulai membayangkan yang tidak-tidak. Tangannya gemetar sampai tidak bisa menggenggam kerikil.
"Maaf, Sanu. Kurasa, aku tidak bisa melanjutkan ini denganmu."
"Tapi, Kak Abri sudah janji. Semua syarat sudah kupenuhi dan kita baru mulai semua ini. Mengapa harus diakhiri secepat ini?"
"Awalnya, kupikir dengan mengumpulkan anggota berkompeten seperti Eiji dan Fanon saja cukup. Tapi, lihatlah dirimu! Kau berulang kali jatuh sakit, menghilang dari kami, lalu muncul lagi dengan kelemahan yang sama. Cepat atau lambat, organisasi ini juga akan runtuh dengan dirimu yang seperti itu."
"Andai bisa memilih, aku juga tidak ingin sakit-sakitan. Aku juga tidak ingin menghilang tanpa kabar dari kalian."
"Sudahlah, Sanu! Banyak hal penting yang harus kuurus. Itu lebih baik daripada hanya bermain-main denganmu. Sampai Jumpa!"
"Kak Abri, tunggu!"
Namun, Abrizar mengabaikannya. Pria itu terus pergi hingga lenyap dari pandangan Sanubari. Kemudian, suara Eiji terdengar dari belakang.
"Sama seperti Abri, aku juga tidak bisa melanjutkan ini. Aku tidak bisa bekerja dengan orang yang tidak bisa apa-apa."
Sanubari menoleh. Eiji duduk menunduk di sofa. Mereka baru saja berkabung atas kepergian Sai. Sanubari sungguh tidak menyangka kehilangan Sai akan mengubah suasana grup begitu drastis.
Mereka semua tampak kecewa. Tak satu pun tersenyum.
"Aku tidak bisa selamanya mendanaimu. Lebih baik kita mulai jalan masing-masing!"
Eeiji pergi. Dan lagi-lagi, Sanubari tidak bisa mencegah. Suara lain lekas mengisi kekosongan.
"Ah, aku rindu tim kita yang dulu. Belum apa-apa, tapi kita sudah kehilangan satu anggota. Payah! Sai adalah rekan yang sangat baik. Tapi, sekarang kita kehilangan dia gara-gara kau lemah, Sanu! Selamat tinggal!"
"Kak Ren!"
"Aku akan mencari pekerjaan yang lebih menyenangkan dan menguntungkan. Jadi, jangan lagi mencariku!"
Semua orang benar-benar meninggalkannya satu demi satu. Teman-teman yang dikumpulkannya menjauh hanya karena satu peristiwa. Itu memantik pertanyaan dalam benak.
__ADS_1
Sejak kapan dirinya memiliki teman? Apakah mereka benar-benar telah menjadi temannya? Ada kerumpangan dalam memori Sanubari yang membuat semua itu menjadi kabur.
Akibatnya, dia terbengong di pinggir sungai. Tangannya berhenti melempar batu. Lemah, payah, tidak berguna—semua itu terngiang di telinga Sanubari. Imajinasinya terus memburuk, memperparah stress yang menyerang.
"Argh!"
Sanubari sekonyong-konyong berdiri. Dia menggeleng-geleng.
"Tidak, tidak, tidak! Mereka bukan orang seperti itu. Mereka pasti tidak akan pernah melakukan itu. Oke, tenang! Ini hanya imajinasiku. Tidak akan menjadi kenyataan. Tenang ... tenang ... tenang ...."
Saat Sanubari sedang berkonsentrasi menarik napas panjang, tiba-tiba, dari belakang, seorang bocah berlari. Dia melompat, menempel pada punggung Sanubari. Tangannya terlingkar ke leher Sanubari.
Karena tidak siap, Sanubari pun terhuyung ke depan. Keduanya menjerit bersamaan. Mereka terjebur ke sungai.
"Payah! Begitu saja jatuh. Kau benar-benar lemah, Sanu!" Shawn melepaskan diri dari Sanubari.
Pakaiannya basah kuyup. Demikian pula Sanubari.
Mendengar kalimat shawn, Sanubari merasa seolah batu besar ditambahkan ke punggungnya. Batu besar dan berat, yang akan tetap membuatnya tenggelam ke dasar sungai.
"Sa-sanu ...."
Menyadari Sanubari yang tak kunjung keluar dari air, Shawn menjadi panik. Ar sungai sangat jernih sehingga dasarnya terlihat. Sanubari berbaring di dasar, tak bergerak.
Shawn buru-buru menghirup udara banyak-banyak. Air setinggi pundaknya. Dia harus memiliki pasokan udara yang cukup untuk menyelam dan menarik tubuh Sanubari.
Namun, ketika Shawn menyentuh lengan Sanubari, Sanubari dengan sendirinya bangun. Dia berdiri.
"Aku tidak tenggelam, Bocah Nakal!"
"Hah, kalau tidak tenggelam, lalu apa yang tadi?" Shawn mengusap wajah. Dia mentas dari sungai, mengikuti Sanubari.
"Hanya ingin mendinginkan kepala. Ternyata menyegarkan juga. Terima kasih." Sanubari menyugar.
Shawn mengernyit melihat Sanubari yang tersenyum. Itu tampak aneh di matanya.
"Kau ternyata bukan hanya payah, lemah, tapi juga gila."
"Hei! Aku sudah mengabaikan penghinaan pertamamu! Jadi, jangan lagi menyebutku seperti itu! Apalagi menambahkan gila."
__ADS_1
Rasa sakit yang baru dihanyutkan aliran sungai, mendadak kambuh lagi gara-gara pengulangan Shawn. Bukan hanya Sai dan yang lain, kemudian Fang, si bocah pun ikut-ikutan merundung mentalnya. Sanubari memang pernah memiliki riwayat sakit mental, tapi itu tidak ada dalam ingatannya. Dan dia jelas tidak terima dikatai gila.
"Kenyataannya memang begitu kok. Menggendongku saja sampai oleng ke sungai."
"Itu karena aku belum siap. Kau seenaknya melompat ke punggung orang. Siapa yang tidak akan jatuh kalau seperti itu?"
Akan tetapi, Shawn agaknya meremehkan pembelaan Sanubari. Dia tersenyum jahil, berjalan sedikit mendahului, lalu menandak-nandak sambil berlari dan sesekali menoleh ke belakang.
"Sanu lemah ... Sanu payah ... Sanu gila ... hahaha."
Shawn terus mengulang ejekan bernadanya. Sanubari mengejar.
"Kau perlu belajar etika, Anak Kecil! Tidak boleh bertindak tidak sopan pada orang yang lebih dewasa darimu seperti itu!"
"Aku mengatakan kenyataan kok. Hahaha." Shawn terus berlari sambil menandak.
Kekesalan Sanubari tidak bisa ditahan lagi. Dia menyungguhi larinya. Dalam waktu singkat, Shawn pun tertangkap.
"Kena kau, Bocah!" Sanubari terkekeh, "kau bilang aku lemah? Mari lihat apa kau bisa lepas dariku!"
Sanubari mengangkat tubuh Shawn ke atas kepala. Dia sengaja mengayun-mengayunkan sedikit untuk menakut-nakuti. Sambil melakukan itu, Sanubari berjalan santai dan bersiul.
"A-ampun! Jangan lempar aku! Kumohon! Turunkan! Turunkan! Turunkan!" Shawn merengek-rengek. Melihat ke bawah membuatnya merinding. Merasakan guncangan dan melihat langit yang bergoyang saja sudah membuat jantungnya berdesir. Shawn takut Sanubari akan benar-benar membantingnya.
"Tidak akan sampai kau berjanji akan memperbaiki sikap ...."
"Aku janji!"
"Dan tidak akan mengulangi perbuatan kurang baikmu tadi."
"Aku janji!" Shawn menjerit panjang, " aku janji! Aku janji! Oke, aku sudah berjanji. Jadi, turunkan aku!"
"Anak pintar!" Sanubari menurunkan Shawn. Dia tersenyum. "Jadi, Adik Kecil, adakah tujuanmu mencariku selain menjahiliku?"
Sanubari berlagak menjadi kakak. Dia sedikit canggung. Tapi, berusaha mengingat kenangan bersama Jin untuk mencari inspirasi. Dia lupa bagaimana bisa akrab dengan Zunta. Namun, kalau menjadi kakak, dia ingin terlihat sekeren Jin.
Sanubari tahu adik-adiknya sedang bertumbuh di suatu tempat entah di mana. Aeneas pernah memberitahunya. Namun, Aeneas tidak memberitahukan di mana persembunyian mereka. Sanubari bertekad untuk terus memperbaiki diri demi mereka juga. Dengan begitu, kelak bila waktu pertemuan itu tiba, dia bisa berdiri penuh wibawa di hadapan mereka.
"Ayo main berburu!" Shawn berdiri menghadap Sanubari. Dia mengangkat bambu kecil berdiameter sejari.
__ADS_1
Melihat benda itu, trauma Sanubari kambuh. Dia langsung menyilangkan tangan. "Tidak mau! Aku tidak ingin tanpa sengaja membunuh seekor kuda lagi."
Gara-gara benda itu, Sanubari terjerat utang seumur hidup. Kalau utangnya sampai bertambah lagi, bisa-bisa hidupnya sungguh akan berakhir menjadi budak pelunas utang sampai akhir hayat.