
Papan kayu menjadi jalan penghubung antara rumah pohon ke rumah pohon lainnya. Dinding kaca melindungi pijakan dari tempiyas air hujan. Di atap salah satu rumah, seekor kera kolumbus merah duduk sambil makan.
"I–itu?"
Sanubari menunjuk ke atas. Suasana di penginapan ini tidak hanya alami, tetapi lebih mendekati alam liar.
Staf penginapan ikut mendongak, lalu berkata dengan santai, "Oh, itu. Di sini memang sering terlihat satwa berkeliaran, tapi tidak perlu khawatir. Semua rumah pohon di sini dibangun dengan material yang kokoh, juga lapisan kedap suara. Jadi, kalian bisa istirahat dengan tenang. Jadi, kalian ingin naik lewat tangga atau elevator?"
"Aku ingin mencoba elevator," ucap Renji.
"Kalau begitu, mari ikuti saya!"
Hanya Sanubari, Fukai, dan Renji yang mengikuti staf itu. Pastinya, Fukai tidak ingin repot-repot mendaki tangga sambil membawa koper. Dia menjelaskan bagaimana elevator tersebut berfungsi. Sementara yang lain menaiki anak tangga.
"Jika ingin mendengarkan suara alam, kalian bisa menggeser ini."
Staf penginapan menjelaskan sambil menggeser salah satu dinding. Seketika itu juga, desir angin, debur ombak, kemerasak hujan terdengar. Dia berjalan ke beranda. Tempat itu juga bisa dibuka. Termasuk kaca pelindung bagian terluar bila ingin berinteraksi dengan binatang yang mampir.
Usai menjelaskan semuanya, staf itu pergi. Sanubari cukup lama berdiam diri di kamar mandi. Kemudian, dia keluar rumah pohon, berlarian menuruni anak tangga, masuk lagi, keluar lagi.
"Ada apa dengan anak itu?"
Renji yang melihatnya merasa pusing. Mereka semua berkumpul di lantai satu, sedang membagi siapa saja yang akan menempati lantai dasar dan atas.
"Tanyakan langsung saja ke anaknya!"
Eiji mengangkat bahu. Kelakuan Sanubari itu sudah dianggapnya normal. Setahunan bersama Sanubari sudah cukup untuk menghafal kebiasaannya. Anak itu memang tidak bisa diam, meski terkadang suka mengeluh ini/itu.
Tidak berapa lama, Sanubari muncul lagi. Baru saja satu langkah ke dalam, tubuhnya limbung. Bunyi gedebuk cukup keras membuat semua orang terperanjat. Sai dan Fukai langsung bangkit, menghampiri Sanubari.
"Tubuhku tidak bisa digerakkan," ucap Sanubari tersengal-sengal.
Tidak hanya itu, rasa sakit yang teramat menyiksanya kambuh. Keringat dingin bercucuran. Sekuat tenaga, dia menahannya.
Fukai dan Sai memapah Sanubari ke ranjang. Pemuda itu benar-benar lemas. Kakinya yang terseret bahkan membuat sandal ruangan yang dikenakannya terlepas. Mereka membaringkan Sanubari ke tempat tidur.
"Untuk apa kau naik/turun seperti tadi? Kurang kerjaan saja! Jadinya begini, kan?"
__ADS_1
Fukai melirik jam. Kurang sedikit lagi, tetapi dia memutuskan untuk mengambil obat Sanubari.
"Habisnya, aku penasaran dengan toilet, juga sumber listrik rumah pohon ini. Berapa kali pun aku mengamati, tetap saja tidak bisa menemukan pipa saluran pembuangan dan juntaian kabel. Lalu, ke mana semua kotoran dan air itu dibuang?"
Penjelasan Sanubari itu membuat semua orang memandangnya dengan ekspresi yang sulit dideskripsikan. Tinggal menempati saja, tetapi Sanubari mau-maunya memikirkan hal yang tidak penting.
"Ini pasti desain orang itu. Dia memang terkenal pandai meleburkan mekanisme dengan alam," jawab Abrizar yang sepertinya memahami maksud Sanubari.
"Rumah ini benar-benar seperti bagian dari pohon itu sendiri yang diberi rongga," ucap Sanubari.
Fukai kembali ke sisi Sanubari dengan membawa sandwich, obat, dan sebotol air mineral. Dia membantunya duduk dan bersandar ke pinggir dipan.
"Jangan lagi memikirkan hal yang tidak penting! Makan ini dan minum obatmu!"
Fukai menyuapi Sanubari dan membantunya minum obat. Dia juga memeriksa sekujur tubuh Sanubari, memastikan tidak ada luka baru akibat terjatuh. Sanubari menjerit setiap kali Fukai menggerakkan tubuhnya. Rasa itu kian menguat sampai di luar batas kemampuannya untuk menahan.
"Istirahat saja dulu!"
Fukai kembali membaringkan Sanubari. Eiji, Sai, dan Renji tertegun. Sedikitnya, mereka paham mengapa Sanubari berteriak-teriak di rumah waktu itu. Ternyata, itu memang bukan karena penyiksaan.
"Sanu, kau benar-benar menipuku. Kau bilang baik-baik saja. Tapi, faktanya, kondisimu jauh dari kata baik."
Keesokan paginya, Sanubari, Abrizar, dan Fukai naik feri. Mereka menyeberang ke pulau Zanzibar. Dibandingkan pulau Mafia, Zanzibar lebih ramai. Ketiganya langsung menuju Jozani.
Jajaran pohon kayu putih memenuhi lahan. Batangnya lurus-lurus menjulang ke langit. Berkilau warna-warni diterpa sinar matahari.
Hitam, putih, biru, merah muda—warna-warna itu sebagian berputar-putar di sekitar pohon. Sepasang sayap biru terbang merendah, hinggap di hidung Sanubari.
"Aku belum pernah melihat kupu-kupu sebanyak ini."
Teramat banyak sampai seluruh hutan seolah dipenuhi oleh serangga itu. Tiada pohon yang tidak dihinggapi kupu-kupu. Sanubari membiarkan si sayap biru dengan garis-garis dan ujung hitam itu bertengger di tempatnya. Dia tersenyum.
"Ini peternakan kupu-kupu yang sesungguhnya."
Ke mana pun Fukai memandang, selalu ada kupu-kupu hilir mudik atau hinggap pada bunga-bunga yang bermekaran. Mereka seperti sedang berkunjung ke rumah kupu-kupu.
"Kita harus masuk lebih dalam ke hutan ini," ajak Abrizar setelah memeriksa ponsel.
__ADS_1
"Apa itu diizinkan? Ini seperti kawasan hutan lindung," tanya Fukai mengamati sekitar, khawatir kalau-kalau ada yang mendengar mereka.
"Abaikan saja yang lain! Yang penting, tetap berjalan normal layaknya turis pada umumnya dan jangan merusak ekosistem!"
Abrizar tersenyum. Dia melangkah terlebih dahulu. Kupu-kupu di hidung Sanubari terbang ketika dia bersin. Pemuda itu lalu mengikuti Abrizar, disusul Fukai di belakangnya.
Sanubari menoleh ke kanan dan kiri. Makin ke dalam, flora dan fauna pun makin beragam. Kera-kera kolumbus berbulu hitam dan putih bergelantungan. Mereka seakan-akan mengawasi Sanubari dan yang lain.
Sanubari khawatir mereka akan mendadak menyerang. Namun, Abrizar tetap tenang berjalan memimpin, mengikuti navigasi pada ponsel.
Sepuluh menit berjalan, mereka tiba di kawasan agak terbuka. Belasan anjing liar Afrika atau serigala lukis menghadang. Kaki-kaki jenjang yang hanya berjari empat, bulu karamel pada sebagian spesies dan hitam sepenuhnya pada kawanan lain, suaranya yang lebih mirip tawa cekikikan atau kicauan—jelas sekali itu lycaon pictus meski penampakannya mirip hyena.
Abrizar, Sanubari, dan Fukai sontak berhenti. Para lycaon itu menatap mereka dengan intens. Suara mereka yang khas memenuhi gendang telinga para penjelajah itu.
"Ke–kenapa aku merasa ditertawakan oleh para makhluk aneh ini."
Sanubari agak bingung menyebutnya. Di matanya, itu seperti anjing, tetapi sedikit kurang cocok bila disandingkan dengan anjing yang diketahuinya. Kemudian, satu per satu dari lycaon bersin dengan suara uniknya.
"Berjalan perlahan ke area kosong lain!" instruksi Abrizar sambil pelan-pelan mundur dan berjalan seperti kepiting.
Dia tidak tahu seliar apa binatang-binatang bersuara menggelitik yang cukup mengerikan itu. Jadi, lebih baik menghindar daripada timbul hal yang tidak diinginkan.
Namun, belum sempat mereka menjauh, kawanan lycaon melompat ke arah mereka. Sanubari spontan berteriak dan terhenyak.
Abrizar dengan sigap mengangkat tongkat, memukul mundur lycaon yang hendak menerkam Sanubari. Dia terus menendang, mengayunkan tongkat untuk mengempaskan mereka yang berusaha mendekat.
"Sanu!"
Fukai mendekati Sanubari. Pemuda itu terduduk di atas tumpukan dedaunan kering yang lembab. Jantung Sanubari berdetak lebih liar. Nyaris saja, cakar seekor lycaon mengenai wajahnya.
Abrizar berubah pikiran. Dia segera berteriak, "Akan kubukakan jalan. Cepat maju dan lari sekencang-kencangnya!"
Para lycaon sangat tangguh. Mereka lekas berdiri sekalipun telah mendapat pukulan keras dari Abrizar. Jelas, kondisi itu tidak menguntungkan bagi Abrizar dan teman-temannya. Mereka harus melarikan diri dari kepungan anjing liar Afrika ini.
Fukai membantu Sanubari berdiri. Keduanya berlari meninggalkan Abrizar. Sial bagi pria tuna netra itu, seekor lycaon berhasil menggigit betis kanannya.
Abrizar menjengit. Dia menyetrum lycaon dengan tegangan sedang. Lycaon mengaing aneh. Beberapa lycaon mengejar Sanubari dan Fukai.
__ADS_1
Abrizar bergegas menyusul setelah lycaon melepaskannya. Dia memukul setiap lycaon yang menghalangi jalan. Darah merembes dari celana panjangnya. Meski menyakitkan, dia berusaha menyusul yang lain sambil menghajar para lycaon.