Santri Famiglia

Santri Famiglia
Peran


__ADS_3

Matahari terus merangkak naik. Langit keemasan telah terkikis sepenuhnya, tersapu kebiruan yang mengungkungi daratan negeri Sakura.


Ambulans berjalan keluar dari rumah sakit. Sirene lantang berdengung mengiringi laju.


"Apakah kita tetap ke Nagoya sekarang?"


"Putar haluan ke Kobe saja.


"Yakin?"


"Um," pria itu mengangguk, matanya berbinar-binar kala menemukan apa yang ada dalam laci dashboard, "wow, ingat saja favoritku. Terima kasih, Nenek Lava!"


Lelaki itu lantas mengambil sebotol minuman dan tiga bungkus roti lapis. Dia sedikit menurunkan masker medis sampai ke bawah bibir.


"Hei, apa kau tidak lihat aku sedang berpenampilan seperti laki-laki? Kenapa masih memanggilku seperti itu?" Sosok yang dipanggil Lava itu memutar bola mata kesal. Dialah Lavatera.


"Aku tahu. Aku tahu. Suaramu juga mirip pria, Kakek Lava." Pria yang duduk di sebelahnya itu terkikik sambil memutar tutup botol.


"Cepat minum saja teh susumu, Bocah! Kau tambah menyebalkan saat lapar." Lavatera memangkas obrolan mereka.


Baru satu teguk melewati kerongkongan pria itu, dua Pengendara bermotor menyalip dan menghentikan mereka. Pria itu pun menutup botol teh susunya kembali dan menaikkan masker. Dia berdecih.


"Belum juga makan sepotong roti lapis, tapi sudah dihadang lagi," batinnya menggerutu.


Dia terpaksa meletakkan roti dan minuman ke atas dashboard karena pemandangan tak bersahabat di depan. Dua motor terparkir, empat pengendaranya turun. Salah satu dari mereka membawa basoka. Basoka tersebut diarahkan ke ambulans yang mereka tumpangi.


Lavatera bisa melihat dari spion, dua mobil memblokir jalan di belakang ambulans. Mereka benar-benar terkepung. Dua orang dari depan mendekati pintu kanan dan kiri.


"Turun!" perintah Yakuza itu.


Sopir dan rekannya pun menurut. Sementara di belakang, Yakuza lain keluar dari mobil. Dua di antara mereka mencoba membuka pintu belakang.


"Terkunci," ucapnya lantang supaya bisa terdengar sang rekan di depan.


Dua orang berseragam perawat pria kini sedang ditodong. Tiada satu pun dari keduanya yang melawan.

__ADS_1


Setelah mendengar satu kata dari rekannya, pria yang menodong sopir pun memerintahkan, "Kau, buka pintu belakang!"


"Ba-baik." Lavatera berpura-pura ketakutan. Dia kembali ke kemudi untuk membukakan kuncian. Permainan peran ini cukup menyenangkan baginya.


Selama ini, Lavatera hanya bergelut di dunia balik layar dalam panggung hiburan. Berakting langsung menciptakan sensasi berbeda menurutnya.


Begitu pintu terbuka, para Yakuza gabungan memeriksa bagian belakang mobil. Kursi-kursi kosong, brankar pun tak berpasir. Tidak ada tempat yang bisa digunakan untuk bersembunyi.


"Dare mo Inai."


"Arienai." Ketua pengejaran tidak mempercayai laporan anggotanya. Dia terus menatap layar ponsel dengan pencahayaan maksimal.


Di sana, terdapat bintik merah yang berhenti bergerak. Itu adalah penunjuk posisi pelacak yang dipasang pada gadis buruan mereka.


"Goran doori Koko ni wa oretachi shika inakatta no desu," ucap seorang yang berdiri di dekat pintu belakang mobil ambulans.


Ketua pengejaran itu sulit mempercayai ini. Dia mengangkat kepala, melihat ke dalam mobil. Seperti kata anggota timnya, ambulans tersebut tak berpenumpang. Hanya ada mereka sendiri dan dua petugas ambulans di area tersebut.


Ketua pengejaran pun kembali menatap ponselnya. Titik itu masih tidak bergerak. Dia pun memutuskan untuk memeriksa mobil sekali lagi sendiri. Navigasi di ponselnya menggiringnya sampai ke bawah jok. Dia menemukan potongan besi yang bereaksi dengan aplikasi pelacak di ponselnya.


"Kuso!" umpatnya merasa kesal telah ditipu, "Byouin e modorou!"


"Dasar bodoh! Tidak kusangka mereka bisa tertipu semudah itu." Melepaskan rambut palsu hitam dari kepala, pria itu terbahak setelah memasang sabuk pengaman.


Dia menyugar rambut kemerahannya ke belakang. Warna sintesis itu berkilau terkena paparan sinar matahari yang menembus kaca.


"Kenapa kau lepas wig itu? Perjalanan kita belum selesai," hardik Lavatera seraya menyalakan mesin.


"Tidak akan ketahuan," balas pria yang langsung menyambar sebuah roti segitiga.


"Percaya diri sekali kau, Nikki. " Lavatera melajukan mobil kembali. Dia juga beralih memakai suara aslinya. Suara anggun, khas wanita dua puluhan tahun.


"Kau tahu sendiri, kan? Di bawah kepemimpinanku, misi kita tidak pernah gagal," Nikki menjawabnya dengan acuh tak acuh sambil mengunyah roti isi sayuran.


"Bullshit! Kali ini berbeda. Untuk pertama kalinya, kita melakukannya di siang bolong."

__ADS_1


"Ini masih pagi, bukan siang," ralan Nikki.


"Ya ya ya. Oh, God! Kau harus bertanggung jawab jika kita tertangkap. Bila itu terjadi, kau harus menyerahkan jabatanmu padaku."


"Tidak akan pernah." Nikki menyeringai.


Walaupun Nikki adalah yang termuda di antara anggota timnya, dia tidak mau tunduk begitu saja dengan yang lebih tua. Itu prinsipnya. Sampai kapan pun tidak akan berubah.


"Kau ini konyol, Nikki! Kenapa kau mau bertindak sejauh ini karena gadis itu?" Lavatera menghela napas.


Sejak pertama kali mengenal Nikki, Lavatera tahu lebih dari sekali Nikki berkorban untuk gadis yang sama. Nikki bahkan rela melakukan sesuatu yang bertentangan dengan aturan organisasi mereka sendiri.


"Kau tidak akan mengerti, Nenek." Nikki memalingkan muka. Netranya memandang jajaran sakura mekar sempurna yang seolah berjalan. Sementara batinnya berkata, "Semoga kau baik-baik saja, Anki."


Kalau bukan karena ide Nikki, Anki mungkin akan benar-benar tertangkap sekarang. Kira-kira satu jam yang lalu, mereka berhenti di rumah sakit. Eiji dengan buru-buru, tetapi hati-hati memotong borgol yang tersisa.


"Apa langkah berikutnya yang harus kita ambil, Tuan Berkacamata? Berdiam di sini akan membuat kita tertangkap cepat atau lambat," ucap Lavatera.


Nikki kebingungan juga untuk mengolah rencana. Kendati demikian, dengan mantap, dia memutuskan, "Berpencar."


"Apa kita juga akan meminjam ambulans rumah sakit ini?" Lavatera meminta kepastian.


"Itu bukan ide bagus. Mereka mungkin akan langsung menghadang bila melihat ambulans yang melintas."


Nikki sudah memikirkan segala macam resiko. Dia memperhatikan logam yang satu per satu terlepas dari tubuh Anki.


Eiji kemudian memeriksa pakaian adiknya dari ujung ke ujung. Termasuk depan dan belakang.


"Sudah tidak ada." Lelaki itu merapikan kembali jas yang dipakai Anki, lalu menyahut obrolan Nikki dan Lavatera, "Kami bisa mencoba mencari transportasi umum untuk ke Nagoya. Terima kasih atas bantuannya sejauh ini."


Tepat saat itu, suara teriakan terdengar. "Apa? Nagoya?"


Seruan itu bukan berasal dari salah satu di antara mereka. Keempat orang yang duduk di belakang pun tersentak. Mereka menoleh dan mendapati pria berambut putih berdiri tidak jauh dari ambulans sambil menelepon.


"Oke-oke, aku akan segera ke sana. Rumah sakit Nagoya, kan? Nagoya apa? Oke, aku paham."

__ADS_1


Lima orang dalam mobil bisa mendengar itu. Meskipun berdiri memunggungi, tetapi Sanubari mengenali pemilik rambut putih alami dan jaket jin berlogo LC itu.


"Kak Damiyan!"


__ADS_2