Santri Famiglia

Santri Famiglia
Terlepas dari Pesawat Perampok


__ADS_3

"Bukan aku yang berkata kau mesum. Kau sendiri yang menambahkannya, bukan?" kilah pria berwajah sangar sambil menggerak-gerakkan gelas minuman ke arah Mikki.


"Percuma saja berbicara dengan seorang bocah, Kakak. Si Bodoh ini ujian masuk universitas Tokyo saja tidak lulus. Mana bisa membedakan aneh dan mesum." Wanita berambut merah alami itu menertawakan Mikki.


"Anehnya dia menjadi pemimpin kita," timpal pria berseragam pilot.


"Aku tidak gagal, tetapi sengaja menggagalkan diri demi seseorang." Mikki menyangga kepala malas.


Dia bisa saja lulus dengan nilai sempurna jika ingin. Namun, ia lebih memilih tidak mengisi sama sekali atau menukar hasil asli tes daripada tanpa sengaja melukai hati seseorang. Mikki tersenyum kecut di balik topengnya. Mungkin rekannya itu memang benar. Sematan bodoh itu mungkin memang cocok untuk Mikki. Siapa lagi yang dengan suka rela menjadi bodoh Demi orang lain kalau bukan Mikki.


"Sebaiknya Paman-paman dan Bibi tidak terlalu banyak minum. Kita masih dalam penerbangan," kata Mikki memperingatkan.


"Aku tahu batasanku. Tidak perlu kau dikte seperti itu!" Wanita itu mendongakkan kepala dengan lidah terjulur, berusaha menuangkan tetesan terakhir dari botol ke sana.


"Dasar Bibi Pecandu!" Mikki memutar mata malas.


"Tapi kau ini memang aneh, Mikki," kata pria berbaju pilot.


"Ya, hanya kau pencuri yang beraksi sebulan sekali. Kau juga hanya menyuruh kami melakukannya saat bulan tidak terlihat saja. Padahal kita bisa beraksi kapan pun."


"Benar. Sekalinya dua kali sebulan, itu pasti waktu ada badai atau mendung."


"Aku jadi curiga. Jangan-jangan kau ini alergi sinar rembulan."


"Kasihan sekali tidak bisa menikmati dunia malam. Michan yang malang! Sini peluk!"


"Kalian semua salah! Kurasa dia ini manusia serigala yang tidak bisa mengendalikan kekuatannya. Dia takut kehilangan kontrol lalu dengan mudah tertangkap."


Semua orang tertawa. Mereka terus-terusan menjadikan Mikki sebagai bahan candaan. Mikki menghela napas.


"Apa bedanya Kita dengan pencuri biasa jika beraksi sembarangan? Itu hanya akan membuat kita kehilangan identitas, kehilangan esensi dari nama organisasi kita."

__ADS_1


Damiyan serius menyimak kata-kata Mikki. Setelah itu, obrolan semakin kacau. Mikki juga meninggalkan kursinya. Damiyan mulai bosan menetap. Ia mengikuti arah Mikki berjalan.


Pria bertopeng itu menuju ke ruang kokpit, menyuruh copilot pindah. Ia menempati kursi copilot lalu mengobrol dengan pilot. Dari obrolan mereka, Damiyan bisa tahu bahwa tujuan mereka hanyalah menjarah pesawat dan barang penumpang. Mereka akan membawa kabur pesawat setelah menurunkan penumpang sampai tujuan.


"Kalau aku perampoknya, pasti kujual sekalian penumpangnya. Lumayan juga jika bisa meminta tebusan mahal ke pihak keluarga," gumam Damiyan tersenyum.


Ia menerbangkan Mosan kembali menuju tempat Abrizar dan Sanubari. Seperti sebelumnya, Mosan yang dikenali sebagai Penjaga Perkasa oleh Sanubari terbang di antara telinga mereka berdua, menyuruh mendekatkan telinga.


"Jika kalian ingin sok jadi pahlawan melumpuhkan mereka, sebaiknya urungkan! Kecuali, ada yang bisa mengendalikan pesawat di antara kalian. Semua awak pesawat di sini satu komplotan, tetapi kalian tidak perlu khawatir! Kalian akan baik-baik saja selama duduk manis. Ingat untuk tidak berbuat godoh!"


Selesai mengatakan semua itu, Mosan mendarat di kepala Sanubari.


Biarpun dibilang seperti itu, Sanubari tidak bisa tidur dengan tenang. Ia terjaga beberapa jam berikutnya. Saat makanan kembali disuguhkan pun ia tidak terlalu berselera. Pun semua orang.


Pemandangan indah dari luar tidak bisa menenangkan hati gelisah Sanubari. Pukul setengah enam pagi waktu setempat, pesawat mendarat di Haneda. Pramugari tersenyum di pintu keluar. Jantung Sanubari makin tidak teratur, mengingat dirinya membawa larangan para perompak.


Sanubari merapat pada Abrizar ketakutan. Ia tidak berani mengangkat kepala begitu berpapasan dengan pramugari. Keduanya berjalan cepat menuju penerbangan berikutnya. Sanubari baru bisa sedikit lega saat duduk di ruang tunggu.


"Baru begitu saja sudah ketakutan. Bagaimana kau bisa membangun mafia?" bisik Abrizar tertawa kecil.


Ia harus bisa menyembunyikan ketakutannya supaya Abrizar tidak berubah pikiran. Tekadnya sudah bulat. Sesulit apa pun rintangan yang akan menghadang, Sanubari tidak boleh goyah. Perompakan yang baru dialami membuat Sanubari makin yakin. Mafia berakhlak mulia harus didirikan. Dengan begitu, perompakan seperti tadi bisa ia babat habis.


Sanubari geram sendiri saat mengingatnya. Di sana terjadi kriminalitas, tetapi ia hanya bisa meringkuk ketakutan tanpa berbuat apa-apa karena kalah jumlah dan keahlian. Sanubari jadi berpikir sepertinya ia butuh orang yang bisa menyetir pesawat jika ingin melakukan penyelamatan udara seperti tadi.


Tak lama kemudian, pengumuman untuk segera masuk pesawat pun terdengar. Sanubari dan Abrizar bergegas masuk, mencari tempat duduk.


"Semoga kejadian mengerikan seperti tadi tidak terulang.," harap Sanubari.


"Tidak akan. Dari kantou ke Chubu hanya sekitar satu jam."


"Assalamu'alaikum," sapa pria asing yang duduk di sebelah Abrizar.

__ADS_1


"Waalaikum salam," jawab serempak Abrizar dan Sanubari.


Sanubari sedikit terkejut. "Aisatsu dekita?"


Sapaan yang tiba-tiba membuat remaja Eurasia itu heran, ada yang menyapa mereka dengan salam Islami dalam penerbangan lokal. Lelaki di sebelah Abrizar tersenyum. Sanubari baru ingat, penerbangan sebelumnya didominasi penumpang manca negara, mungkin orang ini juga salah satu dari mereka yang transit. Dari bahasa Jepang, Sanubari beralih bahasa Inggris.


"Where are you from? Are you a moslem too?" tanya Sanubari memastikan asal lelaki itu. Pikirnya, hanya umat muslim yang paham salam seperti itu.


"Nihon kara kimashita. Hyaku pasento nihonjin Desi Yo! Seikyou to ieba, Shinto kamoshiremasen."


Lelaki itu mengakui dirinya orang Jepang tulen dan berasal dari Jepang. Kemudian, dia tertawa, tidak yakin dirinya pemeluk kepercayaan Shinto.


"Demo, isuramu kei aisatsu ga dekite, doukyou da to Motta," ucap Sanubari yang mengira lelaki itu beragama Islam karena bisa salam ala orang Islam.


"Maa, saikin Isuramukyō wa dandan Nihonde wa ippantekina shūkyō ni natte imasu. Ōku no nihonjin wa Isuramu kyōtodesu. Isuramukyō o ukeirete inakute mo, Isuramukyō ni tsuite manabitai to omotte iru nihonjin mo takusan imasu."


Lelaki itu menjelaskan bahwa agama Islam berkembang semakin pesat di Jepang. Keberadaannya pun sudah menjadi hal yang lumrah. Orang Jepang yang memeluk agama Islam pun makin bertambah. Bahkan banyak orang Jepang tertarik mempelajari agama Islam, meskipun tidak menganutnya.


"Sou KA?" respons Sanubari merasa kagum.


"Un, mosuku toka, hararu tabemono Toka, Isuramukyōu no hitobito no tame ni iro iro na mono ga daitai kakumachi ni arimasu Yo!" terang lelaki itu mengungkapkan bahwa di setiap kota mudah ditemukan masjid dan makanan halal sekarang.


"Hontou?" Sanubari terbelalak seakan tidak percaya.


"Nagoya de mo arimasu Yo. Honjin ni. Moshi anatatachi Nagoya e ittara, go annai shimashou ka?" Lelaki itu menawarkan diri untuk menjadi pemandu jika mereka ingin mencari tempat ibadah atau makanan halal di Nagoya.


Kebetulan di Honjin ada masjid dan lelaki itu juga ada sedikit urusan di sekitar sana. Jadi bisa sekalian jalan.


"Choudou ii Na." Sanubari merasa senang. Ini kebetulan yang pas sekali.


Mereka bisa menemukan tempat ibadah lebih cepat dengan bantuan penduduk lokal. Sanubari tidak perlu lagi berusaha membaca huruf yang seperti mie instan belum direbus untuk mencari petunjuk arah.

__ADS_1


Abrizar hanya diam duduk di antara mereka berdua. Dia tidak bisa berbahasa Jepang. Ada untungnya juga dia mengajak Sanubari ke Jepang. Dengan begini, tidak akan ada masalah komunikasi dengan Shiragami Eiji. Abrizar baru mengetahui kemampuan Sanubari.


Abrizar juga bersyukur Sanubari terus mengajak bicara lelaki di sebelahnya. Ia jadi bisa mendalami suara si lelaki. Entah mengapa, suara lelaki di sebelahnya ini seperti suara pramugara yang memberi pengumuman di pesawat sebelumnya.


__ADS_2