Santri Famiglia

Santri Famiglia
Ganti


__ADS_3

Sanubari terempas ke samping. Tubuhnya terbanting ke pasir, terseret hingga ke rumput sebelum berhenti total. Dia dalam kebingungan besar. Tetes-tetes air mengenai kulitnya. Dia pikir, itu gerimis.


Namun, cuaca terlampau cerah. Matahari masih menyengat secara terang-teran an. Bau anyir juga menyebar diudara.


"Adududuh." Sanubari mengerang. Tubuhnya berdenyut nyeri meski tidak tergores.


Dia muntah darah seketika kala mencoba duduk. Dadanya sangat ngilu, seolah ada yang menusuk organ dalamnya. Barangkali, rusuknya patah atau mungkin hancur, lalu serpihannya menancap di dalam walau dari luar terlihat baik-baik saja secara fisik, kecuali pakaiannya.


"Hah, pakaianku?" Sanubari meraba badan yang sudah bertelanjang dada. "Adududuh. Sakit."


Sanubari berhenti bergerak. Setiap kali bergerak, walau hanya sedikit, rasa sakit semakin menjadi. Sanubari sampai mengernyit. Untuk bernapas pun sesak dan seperti ditusuk-tusuk jutaan jarum.


Serpihan kain meliik-liuk, menyebar layaknya hujan. Celana panjang Sanubari pun raib. Untungnya, ********** masih terselamatkan meski robek dan terdapat bekas terbakar. Sepatunya pun tidak rupa sepatu lagi.


Fang, Milo, dan sang mekanik berlari tergopoh. Dari jauh, mereka bisa melihat aspal yang retakdan berkawah. Akan tetapi, mereka tidak bisa menemukan siapa pun, kecuali Sanubari yang bersila hampir tanpa busana sama sekali.


"Sanu!" Fang berseru panik.


"Jangan sentuh! Jangan ajak bicara! Sebentar saja! Aku akan bilang kalau sudah siap." Suara Sanubari setengah mengerang dan terengah. Hanya berbicara seperti itu, tapi dada da serta kepalanya kembali sakit luar biasa. Dia tidak ingin membuka mulut lagi. Dia juga tidak ingin bergerak meski malu dengan penampilannya.


Rasa malu itu, lebih dari rasa sakit yang dialaminya. Ditambah lagi, ada orang lain yang menyaksikan penampilan memalukannya. Harga diri Sanubari rasanya baru saja tercuil. Dia harap ledakan tadi tidak akan mengundang kerumunan. Setidaknya Sampai dia bisa mendapatkan baju ganti atau sudah pergi dari sana. Harga dirinya harus diselamatkan, tidak boleh hancur lebih dari ini.


Di sisi lain, Fang mencemaskan kondisi fisik Sanubari. Telinga pemuda itu mengalirkan darah. Bercak-bercak darah lain pun terdapat di lengan dan kaki Sanubari. Namun, semua itu bukan darah Sanubari, kecuali yang mengalir dari telinga dan sudut bibir.


Sanubari terdiam seperti orang sedang Samadi. Matanya terpejam. Dahinya masih sesekali mengernyit disela-sela tarikan napas panjang.


Selagi Sanubari menenangkan diri, Fang menoleh ke arah Milo dan sang mekanik. Dua pria itu berdiri di aspal rusak yang diduga sebagai titik ledakan.


"Sepertinya kita harus menelepon polisi," kata si mekanik sambil sesekali mendengkus. Bau taksedap mengganggu penciumannya.


mereka seperti berada di penjagalan. Anyir sangat pekat memenuhi udara, bercampur dengan bau daging terbakar. milo pun menutup hidung dengan tangan.


"Temukan Rosario dulu sebelum melakukan itu!"


"Tapi, sirkuit ini juga harus segera diperbaiki."


"Aku tahu. Keselamatan Rosario yang utama sekarang. Menunda laporan satu atau dua jam tidak masalah, kan?" Milo menoleh pada Sanubari.


Pelari itu masih bisa bangun meski penampilannya mengenaskan. Besar harapannya Sang Juara juga masih hidup, atau mungkin sedang memutari sirkuit.


Namun, tidak ada tanda-tanda kemunculannya kembali setelah 30 menit berlalu. Milo dan sang mekanik terus menyisir sekitar pusat ledakan. Hanya serpihan besi yang bisa mereka temukan. Saat mencoba mengambilnya, jari Milo tiba-tiba melepuh.


"Aku tidak bisa menemukannya di mana pun." Sang mekanik menunduk putus asa seraya menghampiri Milo.


"Mungkin dia berada di sisi lain sirkuit." Milo menatap jauh pada aspal yang meliuk panjang.

__ADS_1


"Kau tahu sendiri, bukan? Tidak butuh 10 menit untuk menyelesaikan satu putaran dengan kecepatan standard balapan."


"Kau benar." Milo kembali melihat jarinya. Itu terasa perih dan berdarah. Dahinya mengernyit. Dia tidak menyangka serpihan bisa melukainya sampai seperti itu. Padahal, Milo sudah mengelapnya, tapi lukanya tetap melebar. Sensasi terbakar juga tidak kunjung mereda. Dia bergegas berlari ke pit lane.


"Akhirnya, tubuhku nyaman lagi!" Sanubari berdiri.


"Senang melihatmu riang kembali, Sanu. Tapi, sepertinya kita perlu ke rumah sakit." Fang berdiri.


"Tidak perlu."


"Kondisimu mengenaskan seperti itu, masih bilang baik-baik saja?"


"Badanku lebih dari sehat. Yang kubutuhkan sekarang hanya pakaian. Bisa tolong belikan? Aku malu berjalan dengan penampilan seperti ini."


"Mari coba tanya Milo! Kau juga harus membersihkan badan," ajak Fang.


Mereka melangkah meninggalkan rerumputan. Sanubari menoleh pada ceruk tidak beraturan. Beberapa meter di sekitarnya, aspal tampak retak.


Adegan penyebab kawah kecil itu terbayang dalam benak Sanubari. Walau hanya dari samping, Sanubari bisa melihatnya dengan jelas. Itu membuatnya merinding.


"Di mana Milo?" tanya Faang. Dia pikir bisa menghirup udara segar setelah menjauhi titik ledakan. Namun, kehadiran Sanubari spontan membuat sang mekanik menutup hidung dengan sungkan.


Sanubari sadar itu. Memang ada bau tidak enak menyebar di sekitarnya dan itu berasal darinya. Saat mencoba mengendus tangan sendiri, bau teramat memualkan seakan menonjok perutnya.


"Tidak apa-apa. Aku yang akan melakukannya nanti. Kau sepertinya butuh perawatan. Ambulans akan segera tiba. Bertahanlah sebentar!" Si mekanik prihatin dengan kondisi Sanubari.


Dia menyesalkan tindakannya menunda pemanggilan ambulans. Karena terlalu fokus dengan yang harus dirahasiakan, dia jadi terpaksa mengikuti keputusan Milo dan melupakan adanya orang lain yang juga terluka parah. Dia tidak bisa melihat luka pada tubuh Sanuvbari, tapi sekujur tubuh pemuda itu berlumur darah.


"Di kamar mandi," jawab si mekanik. Dia duduk sendirian dalam ruangan penuh suku cadang.


"Aku tidak butuh ambulans."


"Oh, astaga, Sanu, kau bukan saja mencemari udara, tapi kau juga mengotori lantai sekarang. Cepat mandi sana!" ujar Fang.


"Tapi aku belum dapat baju ganti."


"Itu bisa menyusul. Yang penting, mandi dulu sana!" sergah Fang.


Sanubari mengalihkan pandangan pada si mekanik. "Oh, iya! Paman, apa kau membawa baju ganti?" sela Sanubari.


"Tidak, tapi ada seragam mekanik di sini. Tunggu sevbentar! Akan aku ambilkan. Semoga bisa bertahan sebentar lagi! Ambulans akan segera tiba" Si mekanik bergegas berlari.


Sanubari lekas meneriakinya. "Aku sehat-sehat saja, Paman! Aku hanya butuh pakaian. Tidak perlu ambulans."


"Sanu!"

__ADS_1


"Ng ...." Sanubari menoleh pada Milo yang baru kembali.


"Kau tahu apa yang terjadi pada Sang Juara saat ledakan tadi?"


"Aku melihatnya." Suara Sanuvbari terdengar sangat rendah.


"Di mana dia terjatuh?" selidik Milo antusias.


"Dia meledak."


"Aku tahu itu. Motornya mungkin meledak, tapi di mana tubuhnya terpental. Aku sudah menelepon ambulans. Tapi, mungkin akan lebih baik bila kita bisa menemukannya lebih dulu dan melarikannya ke rumah sakit." Milo sangat khawatir.


Sanubari menggeleng. "Dia tercecer bersama motornya."


Sanubari dicekam kengerian. Daging-daging yang koyak sungguh membuatnya mual. Dia tidak ingin menyaksikan pemandangan seperti itu."


"Ter ... ce ... ver ...?" Milo membelalakkan mata sulit percaya. Itu kabar terburuk yang tidak diharapkannya. "Apa maksudmu? Tidak ada potongan tubuh manusia di sana. Aku sudah memeriksa. Hanya ada serpihan motor."


"Aku tidak bohong. Aku tidak tahu bagaimana tubuhnya bisa lenyap sama sekali, tapi tubuhnya sungguh meledak. Darah yang menempel padaku mungkin sebagian adalah miliknya. Aku tepat berada di sebelahnya saat ledakan itu terjadi. Bagaimana mungkin aku salah mengenali kalau badannya meledak? Aku juga merasakan daya ledak yang sangat dahsyat darinya. Itu sangat menyakitkan. Organ dalamku sampai serasa remuk."


"Lalu, kenapa kau masih bisa berdiri?" Milo melihat Sanubari dari atas ke bawah.


"Itu ... aku juga tidak tahu." Sanubari mengangkat bahu.


"Ini pakaian untukmu, Sanu!" Si mekanik menyerahkan pakaian yang tetlipat rapi.


"Terima kasih, Pa ...." Tangan Sanubari terulur hendak menerima.


Namun, Fang menghentikannya dengan berseru, "Jangan sentuh pakaian itu!"


Sanubari tersentak. Dia memandang Fang penuh kebingungan. "Ke ... kenapa?"


"Kalian juga jangan dekat-dekat dekat dengan Sanu, apalagi menyentuhnya!"


Kalimat Fang itu membuat Milo dan si mekanik ikut bingung. Sedangkan Sanubari marah.


"Kakek ini apa-apaan? Kenapa tiba-tiba memperlakukanku seolah aku ini sumber penyakit atau mayat hidup yang akan memakan kalian? Aku ini masih berstatus manusia hidup, tahu! Belum menjadi mayat."


"Lihatlah lantai yang kau injak, Sanu!" sergah Fang.


"Lan ... tai ...?" Sanubari tidak mengerti apa hubungan lantai dengan menjauhinya. Akan tetapi, dia menurunkan pandangan. Sontak, Sanubari berteriak, "Aaargh!"


Bukan karena apa yang ada di lantai, melainkan karena satu-satunya kain yang menempel di tubuhnya entah bagaimana telah luruh. Serat-seratnya terurai, menyisakan perca yang jatuh ke lantai. Sanubari sangat malu. "Sejak kapan ini terjadi?"


Sementara itu, Milo dan si mekanik terpaku melihat area sekitar telapak kaki Sanubari. Permukaan keramik retak. Sebagian menjadi debu layaknya batu melapuk karena air. Milo menggerakkan mata ke jejak langkah Sanubari. Darah mencap telapak kaki sepanjang jalan. Milo mendekatinya. Dia berjongkok di salah satunya dan mengamatinya. Lantai yang seharusnya dalam kondisi bagus, tampak rapuh seperti lantai purba yang baru digali arkeolog, sangat kusam, dan bisa hancur dengan entakan ringan.

__ADS_1


__ADS_2